
Lisa dan teman-teman lainnya pun menemui Aini di kafe tersebut. Dan Aini sudah tiba disana dalam kondisi yg habis menangis. Lisa dan yg lainnya pun mendekatinya.
"Hai Aini.. ada apa?" tanya Lisa.
"Akhirnya kalian datang juga.. aku butuh teman untuk curhat.." ucap Aini.
"Ya.. katakanlah apa masalahmu.." ucap Lisa memancing Aini bicara.
Aini pun mulai bicara masalah rumah tangganya, dimana Boy mulai tak tertarik lagi padanya. Terlebih semenjak hamil, tubuh Aini mulai kelihatan gemuk dan berisi. Dan kakinya mulai agak bengkak, membuat semua pakaiannya tak muat. Hingga Aini berkata kalau Boy malu mengajaknya keluar.
"Hiks..hiks.. kenapa Boy sejahat itu padaku.. padahal aku kan sedang hamil anaknya." ucap Aini menangis.
"Tenangkan dirimu Aini."
"Iya.. jangan menangis karena menangis tak membuat masalahmu usai."
"Lalu apa yg akan kau lakukan pada Boy? mau mengadu pada ibumu?" tanya Lisa.
"Kalau aku mengadu ibuku akan berbuat kekacauan di rumah mertuaku.." ucap Aini.
"Lalu kau itu maunya apa? kami tak mungkin menceramahi Boy.."
"Aku yg ingin bertanya pada kalian, aku harus bagaimana?" tanya Aini menangis.
"Hh.. Aini sudah kubilang berhenti menangis dan berpikir saat kondisimu sudah tenang." ucap Lisa.
"Bagaimana aku bisa tenang saat ini??" tanya Aini dengan nada kesal.
"Itukan masalahmu bukan masalahku, kenapa kau yg kesal?" balas Lisa sedikit emosi.
"Kenapa kau tidak peduli padaku? kita teman kan?" tanya Aini.
"Aku hanya menyuruhmu tenang lalu berpikir, kalau aku tak peduli, aku takkan datang kemari.." ucap Lisa.
"Itu benar, kalau bukan Lisa kami juga takkan kemari." ucap yg lainnya.
"Maafkan aku.." ucap Aini menangis.
"Apa yg terjadi pada Boy mungkin yg dinamakan 'Bosan'.. "
"Bosan??" tanya Aini.
"Ya.. dia mungkin banyak bertemu wanita diluar sana yg cantik dengan kemolekan tubuhnya."
"Aku juga tak mau begini.. tapi aku mengandung anaknya." ucap Aini.
"Ya kau juga tak salah Aini.. karena sebagian wanita akan begitu saat mengandung.." ucap Lisa.
__ADS_1
"Lalu aku harus apa?" tanya Aini.
"Lebih baik kau bicara pada Boy.. dan jujur satu sama lain.. jika dia memang bosan ya kau harus bisa mengatasi bosannya."
"Bagaimana caraku mengatasinya?" tanya Aini.
"Aku tak tahu, Boy kan suamimu.."
"Jadi kau yg harus menyelesaikannya dengan bicara.. karena seperti yg kau tahu kami belum menikah dan tak punya pengalaman apapun soal rumah tangga." ucap Lisa.
"Baiklah akan kucoba.. " ucap Aini.
"Tapi mungkinkah ini karena Arne?" tanya Aini.
"Arne? memangnya kenapa dengannya?" tanya Lisa.
"Dia kan pernah berhubungan dengan Boy." balas Aini.
"Bukankah itu di masalalu.."
"Dan Arne terlihat sangat bahagia sekarang meski tanpa Boy.. kami melihatnya di sebuah cafeshop dia sedang istirahat dengan teman-temannya."
"Tapi, bisa saja dia mendekati Boy lagi." ucap Aini.
"Kau punya bukti Aini? jangan hanya opini dan ketakutanmu saja, kasihan Arne jika tuduhanmu salah." ucap Lisa.
"Benar, dia sudah hidup dengan tenang padahal tak mudah berpisah dari seseorang yg sudah lama bersama."
"Pikirkan saja kesehatanmu dan bayimu.. dan coba bicara pada suamimu."
"Berhentilah menyalahkan Arne, dan cari tahu masalah rumah tanggamu sendiri." ucap Lisa.
"Tapi hal itu bisa saja kan?" tanua Aini ngotot.
"Kalau begitu, coba kau cari buktinya.." tantang Lisa.
"Apakah kalian mau membantuku?" tanya Aini.
"Aini, maaf aku sibuk minggu depan karena ada jadwal pemotretan." ucap Lisa.
"Aku juga tak bisa absen dari kantor."
"Maaf Aini, tapi aku harus bekerja juga.."
"Apalagi aku.. aku hanya ada waktu saat weekend.. jadi maaf."
"Kenapa kalian tak bisa membantuku? kalian temanku kan.." tanya Lisa.
__ADS_1
"Teman ya.. kalau begitu kenapa kau egois padahal kami harus bekerja mencari nafkah.??" balas Lisa.
"Benar, kau sih enak dinafkahi.. kami kan harus mencari nafkah sendiri."
"Memangnya orangtua kalian tidak memberi uang?" tanya Aini.
"Memangnya orangtua kami akan hidup selamanya?? kami bukan anak yg mengandalkan harta warisan orang tua, ingat Aini bedakan antara meminta tolong dengan memaksa." ucap Lisa kesal.
"Kau jadi semakin egois semenjak hidup bersama ayahmu dan menikahi Boy."
"Jangan seenaknya sendiri, kami juga harus mencari nafkah.."
"Dan lagi mencari pekerjaan itu tidak mudah."
"Ck.. baru bertemu Arne kalian langsung berubah.. dasar miskin..!" ucap Aini.
"Kalau kau malu jangan pernah minta tolong kami lagi, kami juga takkan mau membantumu atau mengangkat panggilanmu."
"Ingat Aini.. roda terus berputar jangan sombong saat sedang di atas angin.!" ucap Lisa kesal.
Aini pun meninggalkan teman-temannya karena menganggap mereka telah membuangnya setelah mereka bertemu Arne. Dan Aini kembali berpikiran buruk pada Arne dan mengira kalau Arne memengaruhi teman-teman yg lain untuk menjauhinya.
"Ck.. dasar Arne kurang ajar.. dia sudah merebut teman-temanku.." gumam Aini dalam hati.
Aini pun pulang ke rumah dan mencoba mencari sesuatu yg mencurigakan di kamarnya. Karena mungkin saja Boy selingkuh dibelakangnya dengan Arne atau wanita lain. Dan Aini menemukan sebuah struk belanja yg berisi pembelian sebuah tas mahal. Aini pun mengepal geram dan penasaran kepada siapa Boy akan membelikan tas tersebut.
Aini pun sampai menelusuri di internet tas seperti apa yg dibeli oleh suaminya. Dengan emosi yg menggebu-gebu, Aini pun mencarinya dan menemukan sebuah tas cantik tersebut di sebuah laman internet.
Hancur sudah hatinya, melihat suaminya membelikan tas mahal untuk wanita lain. Apalagi kalau itu untuk Arne. Dan seketika perut Aini pun sangat sakit, hingga dirinya harus beristirahat.
Malam harinya, Aini pun menunggu Boy pulang. Dan sebagai istri dirinya harus tahu alasan Boy membeli tas tersebut.
Boy pun pulang dengan lelah ditubuhnya, tapi ketika masuk ke dalam kamar Boy melihat Aini menatapnua tajam.
"Ada apa? bisakah menatap suamimu dengan lebih hormat?" tanya Boy.
"Apa ini?" tunjuk Aini pada struk belanja yg ditemukannya di saku celana Boy.
"Itu? ya ampun kukira apa, itu hadiah ulangtahunku pada mom.." ucap Boy.
"Benarkah?" tanya Aini.
"Coba saja kau tanyakan pada mom.." balas Boy lalu meninggalkannya.
"Boy aku belum selesai bicara." ucap Aini.
"Iya nanti aku lelah.. aku mau mandi." ucap Boy.
__ADS_1
Aini pun mengepal geram, akan jawaban Boy dan dirinya harus menanyakannya langsung pada ibu mertuanya tersebut.
Setelah Boy selesai mandi dan makan, Aini pun mengajaknya bicara serius. Dan Boy menurutinya walau Boy malas dengan tingkah Aini yg begitu menyebalkan saat ini. Bahkan Boy merasa dirinya sudah salah menilai Aini yg ia kira lembut dan baik hati, berubah menjadi sombong dan egois. Bahkan Boy mulai dicurigai berselingkuh oleh Aini.