
Anderson pun menghampiri Romeo untuk jadwal kencan selanjutnya. Dirinya juga menyebutkan akan mempercepat kencan ke-empat dan kelima supaya semua terlaksana sebelum dirinya dikirim ke luar negeri. Dan Anderson juga menceritakan tugas barunya sebagai dokter relawan.
"Ck.. Tak kusangka si Tony si**an itu berani macam-macam padamu." ucap Romeo.
"Dia hanya ingin aku dan Arne terpisah jarak. Selebihnya dia tak lebih dari pecundang." ucap Anderson.
"Kau bawa saja Arne ke sana, pasti kalian bergerak dalam tim kan?" tanya Romeo.
"Ya, tapi itu tidak mungkin kek.. " ucap Anderson.
"Kenapa?" tanya Romeo penasaran.
"Karena situasi dan kondisinya tak mendukung di tengah negara berkonflik tersebut. Kakeknya Arne pasti takkan setuju bahkan aku pun tak bisa mengijinkannya ada ditempat seberbahaya itu." ucap Anderson.
"Kau benar, wanita tak baik ada di negara tersebut makanya rata-rata laki-laki yg dikirim." ucap Romeo.
"Setidaknya atur 2 kencan terakhir." ucap Anderson.
"Nak, jangan sampai kau mati disana." ucap Romeo.
"Apa kau mulai khawatir kakek tua?" tanya Anderson.
Brakk.. !!!! Romeo pun menggebrak meja.
"Memangnya siapa yg akan mengkhawatirkanmu kecuali aku?? Haa? Aku sudah membesarkanmu sampai sejauh ini, mengijinkanmu menjadi dokter yg hebat padahal aku butuh penerus." ucap Romeo.
"Aku mengerti kek.. Aku akan berhati-hati." ucap Anderson.
"Baiklah, kabari aku jika butuh sesuatu." ucap Romeo.
"Tentu." ucap Anderson lalu pergi meninggalkan kakeknya.
Romeo pun terdiam setelah mendengar tugas yg akan diberikan kepada Anderson. Tapi dirinya juga tak mau ikut campur karena mereka berdua memiliki harga diri yg tinggi untuk bertahan dan berani menghadapi segala masalah.
Romeo akhirnya menghubungi Jakson dan menceritakan segalanya. Lalu mereka mengatur kencan selanjutnya agar semuanya terlaksana sebelum Anderson pergi. Romeo pun merasa kalau ini adalah strategi Anderson jika dirinya ditolak oleh Arne.
"Bocah itu.. Benar-benar pandai memanfaatkan situasi." gumam Romeo dalam hati.
Sementara Jakson pun mengatur kencan cucunya dengan segera. Jakson berharap dua kencan terakhir mampu membuat keduanya bersatu dan setuju pada perjodohan ini. Dan Jakson menyesali ucapannya yg memercayai Tony yg ternyata sosok yg sangat licik. Tony bahkan menghalalkan segala cara agar bisa memisahkan Anderson dan Arne.
.
.
Kencan keempat pun akan terjadi nanti malam. Baik Arne maupun Anderson bersiap untuk kencan tersebut. Keduanya mempersiapkan segalanya dengan baik. Hingga Arne menyadari kenapa dirinya harus bersiap sebaik mungkin??
Malam pun tiba, dan Anderson menjemput Arne di apartemennya. Arne pun sudah siap dengan segala persiapannya. Lalu mereka berangkat menuju ke tempat tersebut. Disisi lain, Jeny menyadari ada yg berbeda dari keduanya. Dan Jeny yakin salah satu dari keduanya sudah mulai tertarik terlihat dari cara mereka bicara dan memandang.
"Apa Arne sudah berubah pikiran? Atau Anderson yg sudah menyukai putriku?" gumamnya tersenyum.
.
.
Tibalah keduanya di sebuah resto terkenal dengan hidangan Italia. Dan Arne memesan banyak menu yg menarik baginya. Anderson pun seperti biasa memerhatikan segala tingkah Arne. Apalagi wanita itu punya minat pada makanan. Tapi anehnya Arne sama sekali tak terlihat gemuk meski hobi makan.
"Resto kali ini juga menarik." ucap Arne.
"Benarkah?" tanya Anderson.
"Ya, siapa kira-kira yg menentukan?" tanya Arne.
__ADS_1
"Tak peduli siapa yg menentukan, asalkan makanannya enak bukankah sudah cukup?" balas Anderson.
"Kau benar." ucap Arne tersenyum.
Mereka pun memesan makanan dan tak lama makanan pun datang. Arne pun semakin bersemangat melihatnya dan selalu memotretnya. Lalu Arne ingin agar Anderson memotretnya bersama makanan tersebut.
"Prof, tolong foto aku." ucap Arne.
"Sekarang aku jadi tukang foto." gerutu Anderson.
"Tolonglah,.. Kau kan seniorku yg paling bisa diandalkan." ucap Arne.
Anderson pun memotret Arne dengan foto terbaiknya. Bahkan Anderson sampai terdiam melihat hasil jepretannya. Arne nampak sangat cantik saat tersenyum bahagia. Dan Anderson segera mengirim foto tersebut ke ponselnya.
Arne pun melihatnya dan tahu kalau Anderson mengirim fotonya ke ponselnya.
"Prof, kau itu mulai ngefans kah?" tanya Arne.
"Aku suka gambar makanannya." balas Anderson berbohong.
"Bohong.." ucap Arne.
"Aku hanya tinggal crop wajahmu saja." ucap Anderson menatap hasil fotonya tadi.
"Ck.. Jahat sekali." ucap Arne.
"Tapi tunggu.." ucap Anderson menangkap sesuatu dari foto tersebut.
"Ada apa?" tanya Arne.
"Bukankah dia mantanmu?" tanya Anderson memperlihatkan gambar Boy yg tak sengaja terfoto di belakang Arne.
Arne pun melihat Boy bersama wanita lain bukan dengan Aini. Lalu dirinya tersenyum jahat dan meminta Anderson memfoto dirinya berkali-kali sampai mendapat gambar Boy dengan jelas bersama wanita lain.
"Tolong ya Anderson, ini adalah informasi bagus agar aku terhindar dari fitnah." ucap Arne.
"Tentu saja, mana mungkin kau menyukai suami orang." ucap Anderson memfoto Arne berkali-kali hingga mendapatkan gambar wajah Boy dan wanita lain dengan jelas.
"Huft.. Akhirnya selesai." ucap Anderson.
"Kerja bagus Anderson.. Kau memang bisa diandalkan." ucap Arne.
"Ya.. Sekarang kita bisa makan sebelum makanannya jadi dingin." ucap Anderson.
Arne dan Anderson pun makan dengan tenang. Dan Anderson sesekali melihat Arne yg begitu bahagia menikmati makananya. Setelah makan mereka pun berbicara sebentar.
"Arne, ada hal yg ingin aku sampaikan." ucap Anderson.
"Apa ini soal jawabanku?" tanya Arne.
"Bukan, bukan itu." ucap Anderson.
"Lalu apa?"
"Jadi aku akan dikirim sebagai dokter relawan di negara Xx." ucap Anderson.
"Kenapa mendadak?" tanya Arne terkejut.
"Aku juga tidak tau, makanya aku berniat akan menghabiskan kencan terakhir minggu depan." ucap Anderson.
"Tapi negara itu kan.." ucap Arne mengingat kalau negara itu sedang berkonflik.
__ADS_1
"Iya benar, itu negara berkonflik.." ucap Anderson.
"Siapa yg mengusulkan ini? Kenapa berani sekali mengirimmu? Dia tak sadar rumah sakit mengandalkanmu.?" tanya Arne kesal.
"Siapa lagi kalau bukan dia? Kau tahu kan.." balas Anderson.
"Tony.. Dia tak terima kutolak rupanya." ucap Arne.
"Benar, tapi tak ada yg perlu kau khawatirkan, dia hanyalah pecundang." ucap Anderson.
"Prof aku akan ikut denganmu.. Bawa aku bersama rombongan.." pinta Arne.
"Tidak bisa.. disana bukanlah tempat yg nyaman." ucap Anderson.
"Tapi.. " ucap Arne.
"Kau lupa kalau ototku yg kau sebut seksi itu berguna??" tanya Anderson.
"Berguna apanya." balas Arne.
"Aku cukup kuat jika harus menghajar orang-orang.. Tapi aku tak bisa asal menghajar orang." ucap Anderson.
"Tetap saja, ini tidak adil." ucap Arne.
"Arne, kau tahu kan aku bukan sosok yg lemah.. Untuk menghadapi pecundang sepertinya aku harus menghadapi ini." ucap Anderson.
"Berjanjilah untuk tidak mati." ucap Arne.
"Kenapa ?? kau berubah pikiran soal perjodohan ini?" tanya Anderson.
"Aku tak perduli soal perjodohannya, aku hanya peduli pada nyawamu." ucap Arne.
"Terimakasih soal itu, tapi aku bisa menjaga diri dengan baik.. Jangan cemaskan soal itu." ucap Anderson.
"Kau menangis?" tanya Anderson.
"Awas jika kau bohong dan mati disana." ucap Arne menghapus air matanya.
"Kau bebas mengutukku, tapi aku pergi bukan untuk berperang." ucap Anderson tersenyum.
"Daripada itu, kau harus bisa menjaga diri dari Tony.. Meski dia tak mungkin berbuat jahat padamu, tapi kita tak pernah tahu isi pikirannya." ucap Anderson.
"Aku rasanya ingin membedah isi kepalanya." ucap Arne.
"Haha.. Kau ini jangan bicara sembarangan." ucap Anderson tertawa.
"Kau tertawa?"
"Ya.. Kenapa? Aku juga kan manusia." balas Anderson.
"Pokoknya jaga dirimu dengan baik, aku juga akan menjaga diri dengan baik." ucap Arne.
"Ya.. Tentu saja, kau juga punya banyak teman disana yg bisa kau mintai tolong." ucap Anderson.
"Padahal kau ingin menolakku tapi kau bersedih saat tahu aku dikirim sebagai relawan." tambah Anderson.
"Aku tak tahu sejak kapan aku menganggap dirimu lebih dari sekedar teman atau senior." ucap Arne.
"Jadi begitu ya." ucap Anderson.
Setelah makan malam, Anderson pun mengantarkan Arne pulang ke apartemen. Dan Arne terlihat lebih banyak diam serta tak banyak bicara. Anderson pun merasa Arne sedikit kesal dengan keputusan Tony dan merasa bersalah karena dirinya berkata kalau perjodohan mereka akan tetap berlanjut.
__ADS_1