
Anderson pun meminta Susi bercerita kejadian yg pernah menimpanya dulu. Jika mungkin Anderson meminta Susi untuk mengumpulkan bukti yg ia punya. Susi pun masih takut melawan Rafli.
"Tunggu, jika kau ingin aku bersaksi.. apa hubunganmu dengan kasus ini?" tanya Susi.
"Mendiang adikku juga korbannya." ucap Anderson seketika Nino pun terkejut mendengarnya.
"Adik?" ucap Nino.
"Siapa namanya?" tanya Susi.
"Namanya Liliana, dia seorang dokter." ucap Anderson.
"Tidak mungkin.." ucap Susi menutup mulutnya.
"Kau tahu sesuatu?" tanya Anderson.
"D-dia orang yg melindungi kami para korban.." ucap Susi.
"Maksudmu?" tanya Anderson.
"Dia punya banyak bukti kejahatan Rafli dan ingin menghentikannya.. tapi justru malah menjadi boomerang bagi tuan Chandra.. dan semua orang menuduhnya." ucap Susi.
"Dan Chandra adalah ayahku." ucap Nino.
"Tak kusangka dunia sangat sempit." ucap Anderson.
"Apa dokter Lili benar-benar meninggal?" tanya Susi.
"Iya.. dia mengakhiri hidupnya dengan meminum racun.." ucap Anderson.
"Tidak.. dia orang yg paling berjasa membantu kami.. dia juga yg membuat perjanjian damai agar nama baik tuan Chandra dan kami semua dibebaskan." ucap Susi.
"Walaupun si pelaku tetap tak di hukum? begitu maksudnya kak?" tanya Nino.
"Ya.. kami tak ada pilihan, dokter Lili punya kelemahan Rafli.. dan dia menekannya sampai pria itu menyerah." ucap Susi.
"Jadi begitu rupanya.." ucap Anderson.
"Dan setelah masalah itu usai, tuan Chandra mengalami kecelakaan dan tewas." ucap Susi.
"Jadi ayahku dan adik dari profesor, mereka yg menekan Rafli begitu kak?" tanya Nino.
"Benar, dokter Lili bisa sejauh ini karena dukungan ayahmu.." ucap Susi.
"Dasar bre***kk..!!" umpat Anderson.
"Aku turut berduka prof atas kematian dokter Lili.. kami semua bisa bebas karenanya.. walau si baj**an itu masih bebas berkeliaran." ucap Susi.
"Untuk itu, jika kau dan para korban berhutang padanya bisakah kau membantuku mengungkap segalanya." ucap Anderson.
"Tapi kasus itu telah lama berlalu." ucap Susi.
__ADS_1
"Korbannya terus ada setiap tahunnya, aku sudah menyelidikinya." ucap Anderason.
"Tidak mungkin.. jadi apa yg dibicarakan Nino benar." ucap Susi.
"Kak aku tak pernah berbohong padamu." ucap Nino.
"Lalu bagaimana caranya prof, semua bukti lama kami sudah kami serahkan pada Rafli demi kebebasan kami." ucap Susi.
"Sepertinya adikku tak sebodoh itu, dia masih menyimpan banyak buktinya." ucap Anderson kemudian membuka laptopnya dan memperlihatkan semua buktinya.
Susi pun tahu kalau semua bukti itu adalah bukti para korban yg diserahkan pada Rafli. Dan Susi merasa bersalah karena Lili harus menanggung semuanya sendirian.
"Aku bersedia membantu kalian.." ucap Susi.
"Itu bagus.." ucap Anderson.
"Kak.. terimakasih banyak." ucap Nino.
"Aku akan berusaha mengumpulkan orang-orang yg bisa kuhubungi." ucap Susi.
"Terimakasih atas bantuanmu Susi." ucap Anderson.
"Tapi, aku harus menyembunyikan keluargaku." ucap Susi.
"Aku akan mengaturnya.. nanti aku carikan mereka tempat yg jauh dari jangkauan mereka." ucap Anderson.
"Tolong prof, jaga keselamatan mereka.." ucap Susi.
"Aku akan menangkap baj**an itu dan membuatnya sedikit tersiksa." ucap Nino.
"Apa kau punya bukti soal insiden ayahmu?" tanya Anderson.
"Aku hanya punya rekaman kamera dari mobil kami, walau tak begitu jelas wajahnya." ucap Nino.
"HH.. kita butuh bukti akurat jika ingin menangkapnya." ucap Anderson.
"Tak masalah asalkan dia bisa dihukum dengan cara apapun.." ucap Nino.
"Baiklah, mulai sekarang kalian jangan bergerak sendiri." ucap Anderson.
Anderson pun mengatur rencana agar kali ini Rafli bisa tertangkap. Lalu dirinya mencari tempat persembunyian yg aman bagi keluarga Susi. Dirinya mendapatkan sebuah desa terpencil yg aman dari jangkauan mereka. Anderson pun meminta Susi segera mengirim keluarganya kesana untuk sementara.
Setelah urusan keluarga Susi beres, Susi menghubungi beberapa korban lain yg bisa ia mintai tolong. Sebagian setuju membantu sebagian lagi menghilang bahkan ada yg berada di rumah sakit jiwa. Susi pun turut prihatin karena kondisi rekannya yg lain, begitu besar dampak yg ditimbulkan dari pelecehan tersebut.
Dan mereka masih belum tahu soal Kenzi yg juga sedang mengincar Rafli. Bahkan Kenzi pun sangat berani mengancam pria itu dengan terus mengiriminya bukti-bukti dan pengancaman agar Rafli mengakui perbuatannya.
.
.
Di tempat lainnya, Kenzi pun sedang melancarkan aksinya untuk menghancurkan mental Rafli dengan mengancam akan mengirim buktinya ke rumahnya. Hal itu cukup membuat Rafli ketar-ketir sampai tak berani masuk ke kantor demi mendapatkan paket yg berisi bukti kejahatannya.
__ADS_1
Dan saat paket tersebut ia terima, isinya hanyalah mainan badut yg memiliki pegas agar saat dibuka yg membuka paket itu terkejut.
"Aaakh.." ucap Rafli terkejut saat membuka paket tersebut ternyata isinya mainan badut yg muncul saat tutupnya dibuka.
"Sial.. aku ditipu..!" umpatnya.
Sementara Kenzi pun senyum-senyum di rumah sakit karena pasti Rafli sudah menerima paketnya.
"Ken.. kau ini kenapa senyum-senyum sendiri." ucap Arne.
"Tidak, aku teringat kejadian lucu." ucap Kenzi.
"Ck.. kukira apa, aku takut kau itu kesambet." ucap Arne.
"Mana ada Arne, kau itu jangan asal bicara." ucap Kenzi.
"Daripada itu, ayo kita makan di kantin aku lapar." ucap Arne.
"Baiklah.." ucap Kenzi tersenyum.
Sekali lagi Kenzi berhasil membuat Rafli olahraga jantung. Dan pastinya pria itu sedang kesal karena sudah mengira akan diincar. Sementara Kenzi tak mungkin sebodoh itu mengirimkan pesan ancaman. Karena sudah pasti akan dilaporkan oleh Rafli.
"Fufufu.. rasakan itu pria bre**kk.." gumam Kenzi dalam hati.
.
.
Esok harinya, Rafli pun masuk kerja dengan penuh percaya diri. Nampaknya prank dari Kenzi tak membuatnya takut lagi. Meski dirinya ketar-ketir karena takut keluarganya tahu keburukannya selama ini.
Rafli pun berkeliling melihat dokter-dokter residen dan mengecek kondisi rumah sakit.
"Semuanya aman terkendali.. bagus lanjutkan kinerja kalian." ucap Rafli.
"Baik tuan."
"Oh iya satu lagi, jangan percaya pada rumor apapun karena itu hanya tindakan seseorang untuk menjatuhkan citra rumah sakit kita." ucap Rafli.
"Jadi cerita itu bohong kan tuan?"
"Tentu saja, rumah sakit ini aman dan terjaga." ucap Rafli.
"Syukurlah, aku sudah takut."
"Sudah jangan takut, selama masih ada aku semuanya akan aman." ucap Rafli.
"Hmm.. aku belum melihat dokter Arne.." ucap Rafli.
"Arne mendapat giliran shift malam tuan."
"Oh begitu.. kudengar kinerjanya bagus, aku ingin bicara padanya tapi mungkin lain kali." ucap Rafli.
__ADS_1
Rafli pun pergi ke ruangannya karena tak menemukan Arne. Dirinya kini sudah tak takut lagi akan ancaman karena tak mungkin ada yg berani melakukan itu padanya. Dan kini Rafli bisa kembali mendekati Arne. Apalagi wanita itu berasal dari keluarga kaya pasti akan sangat membantunya. Belum lagi kalau bisa menikahinya pastilah kedudukannya dan levelnya akan naik. Rafli pun tak perduli sekalipun harus berpoligami. Dan pria bre***k itu menganggap dirinya paling tampan dan berkelas hingga pantas untuk Arne.