Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.62 Hukuman tanpa ampun


__ADS_3

Richard pun mengikuti istrinya ke kantor polisi. Dirinya cukup terkejut dengan sederet kasus yg dilakukan oleh istrinya. Dan semuanya bertumpuk membuatnya harus memanggil pengacara guna menyelesaikan hal ini.


Tapi semua pengacara yg menangani kasus Martha semuanya menolak dan meminta Martha agar mengakui semua perbuatannya setelah sejumlah bukti kuat ditayangkan. Belum lagi kasus yg menjeratnya lebih dari satu, dan lebih dari satu orang pula yg mengugatnya pastilah Martha takkan menang.


"Maaf tuan, nyonya.. semuanya sia-sia dengan bukti-bukti ini." ucap salah seorang pengacara.


"Kumohon lakukan sesuatu agar setidaknya hukuman istriku ringan." pinta Richard.


"Maaf tuan, tapi hakim bukanlah orang bodoh setelah melihat barang bukti ini.. Satu-satunya cara adalah dengan mengakuinya, karena mungkin hakim akan mengurangi hukumannya." ucap pengacara tersebut lalu permisi.


"Sayang bagaimana ini?" tanya Martha menangis.


"Ck.. Makanya kau itu jaga sikap, sifatmu yg gampang emosian itu yg membuatmu ada disini." ucap Richard.


"Maafkan aku.. Aku tak mungkin hidup disini lebih lama.. Tempatnya dingin, dan makanannya pasti tak enak." ucap Martha.


"Memang apa yg kau harapkan dari penjara? Sadarlah Martha ini penjara bukan hotel bintang 5." ucap Richard yg sudah pusing.


Richard pun pusing, satu sisi Aini masih kritis, satu sisi lagi istrinya masuk penjara. Ini juga adalah salahnya karena ikut menuduh Arne tanpa membicarakannya baik-baik. Ditambah lagi Richard tak menahan tindakan Martha sama sekali. Semuanya adalah salah Richard yg tak bisa mengendalikan sikap Martha.


"Sayang, pergilah ke rumah ayah dan minta bantuannya." ucap Martha dengan entengnya.


"Kau lupa kalau ayah tak menyukaimu, ditambah lagi ini menyangkut Arne.. Jangan kan kau, aku yg putranya saja bisa tak dianggap anak." ucap Richard.


"Kita takkan tahu sebelum mencobanya.. Dan kau juga harus membujuk Arne agar mencabut gugatannya." ucap Martha.


"Yang menggugatmu bukan hanya Arne tapi pihak rumah sakit termasuk tuan Tony, kau masih belum sadar juga seberapa besar masalah ini??" tanya Richard kesal.


"Lalu bagaimana denganku?" tanyanya menangis.


"Bertahanlah sampai kita menemukan solusi." ucap Richard yg sudah pusing.


"Sayang.. Sayang jangan tinggalkan aku." ucap Martha menangis.


"Bersabarlah, aku akan berusaha semampuku." ucap Richard.


.


.


Richard pun pergi dari kantor polisi, hidupnya kacau sekali saat ini. Semuanya jauh berbeda saat Jeny masih menjadi istrinya, semuanya aman terkendali. Putrinya Arne adalah putri yg penurut dan anak yg baik, lalu Jeny adalah istri yg pintar dalam menyelesaikan masalah dan serba bisa.


Richard pun frustasi akan kondisinya saat ini, sampai-sampai dirinya pergi ke sebuah bar untuk minum sepuasnya. Tapi disana justru dirinya bertemu dengan Tony.


"Tony, kau disini juga rupanya." ucap Richard.


"Richard, apa kau sudah sadar kesalahanmu pada putrimu?" tanya Tony.


"Ya aku tahu dan aku sadar kesalahanku." ucap Richard.

__ADS_1


"Tapi kau terus mengulanginya, aku merasa tak beruntung dijodohkan olehmu bukan tuan Jakson." ucap Tony.


"Ya kau sangat tak beruntung, jadi itu bukan salahku juga.." ucap Richard.


"Cih, dengar Richard aku takkan mencabut gugatanku atas tuduhan pada istrimu.. Kalian sudah merusak citra rumah sakitku." ucap Tony.


"Ya terserah, aku kemari hanya ingin minum sepuasnya." ucap Richard.


"Tapi wajahmu membuatku kesal, karena Arne menolakku karenamu tapi menerima Anderson karena kakeknya." ucap Tony.


"Diam.. Aku hanya ingin minum, kalau tak suka kau saja yg pergi." ucap Richard.


"Ck.. Baiklah aku yg akan pergi." ucap Tony.


Tony pun pergi dan Richard minum sendirian, lalu dirinya didekati oleh gadis-gadis muda yg menawarkan jasa esek-esek. Richard pun menolaknya, tapi ada seorang gadis yg terus menggodanya. Dengan kondisi yg mabuk berat, Richard pun tak sadarkan diri dan kondisi itu dimanfaatkan oleh gadis tersebut untuk membawanya ke hotel.


Pagi harinya, Richard pun terbangun dengan kondisi yg berantakan dan tanpa busana bersama seorang gadis.


"Astaga, siapa dirimu?" tanya Richard terkejut.


"Namaku Cindy, om jangan terkejut begitu, semalam om puas kan?" tanya Cindy sambil memainkan mata.


"Ya Tuhan.. apa yg sudah kulakukan?? Masa aku bermain dengan gadis yg seusia putriku." gumam Richard lalu bergegas memakai pakaiannya.


"Om, jangan malu jaman sekarang banyak kok lelaki seperti om." ucap Cindy.


"Aku mau sepuluh juta." ucap Cindy.


"Baiklah, kirim nomor rekeningmu." ucap Richard dan langsung mentransfernya.


"Wah, sudah masuk.. Om kapan-kapan kita bisa main lagi.." ucap Cindy.


"Tak ada kapan-kapan.. Aku juga punya putri seusia denganmu." ucap Richard merinding dengan apa yg terjadi semalam.


"Ayolah om, ini nomorku.. " ucap Cindy memberikan nomornya.


"Yasudah, aku harus pergi ingat ini rahasia klienmu." ucap Richard.


"Siap om." ucap Cindy.


Richard pun keluar dari kamar hotel dan masih tak percaya pada apa yg terjadi padanya semalam. Dirinya bisa-bisanya tidur dengan gadis yg seusia putrinya. Padahal saat ini putrinya sedang dirawat dan istrinya masuk penjara.


Richard akhirnya memutuskan pulang ke rumah dan menjernihkan pikirannya. Dirinya hanya bertanya pada Boy soal kondisi Aini yg masih sama seperti kemarin. Richard pun membersihkan diri, kemudian ke rumah sakit untuk melihat kondisi Aini. Richard pun bolos bekerja hari ini karena pikirannya sedang kacau.


.


.


Setibanya di rumah sakit, Boy pun menghampirinya dan meminta Richard untuk mendonorkan darahnya pada Aini. Tapi kondisi Richard tak memungkinkan untuk itu, hingga kini mereka sedang mencari stok darah dari rumah sakit lain.

__ADS_1


Lalu Richard pun mendatangi Arne dan mengajaknya bicara.


"Ada apa papa?" tanya Arne.


"Arne, maafkan papa sudah menuduhmu." ucap Richard.


"Ya.. Ini bukan yg pertama kalinya." balas Arne.


"Tak bisakah kau memaafkan Martha, dia juga ibumu." ucap Richard.


"Aku bisa memaafkannya, tapi tidak dengan hukumannya." ucap Arne langsung to the point.


"Arne, saat ini semuanya buruk untuk papa." ucap Richard.


"Bagaimana rasanya pa? Sesak bukan? Itu yg kurasakam dulu saat tahu papa membawa istri papa dan anak kesayangan papa ke rumah lalu mengusirku dan mama." ucap Arne.


"Arne maafkan sikap papa selama ini.." ucap Richard.


"Aku selalu memaafkan papa, tapi untuk hukuman Martha tidak akan.. Karna dia aku hampir jadi napi." ucap Arne.


"Baiklah.. Tapi bisakah kau mendonorkan darahmu pada Aini?" tanya Richard.


"Kalian memang selalu menyusahkan ya.. " ucap Arne kesal lalu meninggalkan Richard.


Arne pun meminta bantuan Anderson dan ibunya untuk mencari darah untuk Aini. Semua karena Arne terlalu jijik mendonorkan darahnya pada orang yg hampir membuatnya masuk penjara. Untungnya Jeny memiliki koneksi di bank darah dan Arne menghubungi dokter yg menangani Aini untuk meminta stok darah dari rekomendasi Jeny.


.


Richard pun mendapatkan kabar kalau sudah menemukan beberapa kantong darah untuk Aini dari rekomendasi Arne. Dan Richard langsung lega setelah mendengarnya. Richard pun menghampiri Arne lagi.


"Aku sudah memberi informasi soal stok darah tersebut, aku hanya bisa membantu itu.. Sisanya takkan ada ampunan baik untuk Martha, Aini ataupun papa." ucap Arne.


"Sebegitu jijiknya kau pada Martha, Aini dan papa?" tanya Richard.


"Ya.. Itu benar. Bagus jika papa sadar." ucap Arne.


"Baiklah, papa takkan minta bantuanmu atau pengampunanmu lagi atas Martha." ucap Richard.


"Kalau papa punya hati nurani, setidaknya papa menengahi keadaan bukan menyudutkanku terus." ucap Arne lalu pergi.


.


.


Lalu Richard pun pergi ke rumah Jakson dan meminta sedikit bantuannya pada Martha. Tapi Jakson bahkan tak meladeninya dan meninggalkannya pergi.


"Cih, jika kau memintaku untuk meringankan atau mencabut gugatan Martha maka jawabannya adalah TIDAK. Lebih baik kau urus perusahaan dengan baik sebelum aku memecatmu." ucap Jakson lalu meninggalkan Richard.


Richard pun sudah berada di ujung tanduk dan tak bisa lagi meminta bantuan siapapun. Nampaknya memang tak ada jalan lain bagi Martha untuk bebas karena memang Arne, Tony ataupun Jakson takkan mencabut gugatannya. Takkan ada ampunan bagi Martha setelah istrinya itu terus berulah dan membuat orang-orang marah padanya.

__ADS_1


__ADS_2