
Arne pun membiarkan Angel duduk sebelum wanita itu berdrama ria dan mencari simpati pengunjung lainnya. Namun, Arne tidak sebodoh itu membiarkan Angel duduk dengan tenang.
Arne pun tersenyum memandangi Angel yg sibuk memandangi Anderson dan mengajaknya bicara. Tapi Anderson tak bergeming bahkan tak menganggapnya ada.
"Anderson bagaimana project kita?" tanya Angel.
"Anderson kau dengar aku tidak?" tanya Angel lagi.
"Aku sedang berlibur bersama istriku, jika membahas pekerjaan bukankah sudah ada laporannya, atau stafmu memang tak kompeten?" balas Anderson pedas.
Arne pun hanya tersenyum mendengar ucapan pedas Anderson.
"Ck, kau senang?" tanya Angel.
"Iya, ini hiburan baruku pagi ini." balas Arne sambil asik menikmati sarapannya.
"Sepertinya kalian sedang bersenang-senang di negara ini." ucap Angel.
"Tentu saja, itulah gunanya liburan.. Apalagi ini honeymoon kami." ucap Arne memanas-manasi Angel.
"Oh kau ingin pamer kebahagian?" balas Angel.
"Tentu saja, memangnya dirimu pamer kemalangan.. Liburan kok sendirian, minimal ya ajaklah seorang teman." ucap Arne.
"Kau berani kurang ajar padaku.." ucap Angel menahan emosinya.
"Atau kau memang tak punya teman?" balas Arne lagi.
Bahkan Anderson sampai tertawa kecil mendengar istrinya me-roasting Angel.
"Anderson bahkan kau tertawa?" tanyanya.
"Bukankah memang benar?" balas Anderson langsung dingin padanya.
"Kalian benar-benar ya.." ucap Angel.
"Ya kami memang benar-benar pasangan yg serasi, kenapa kau iri? " balas Arne.
"Ck.. Jangan senang dulu." ucap Angel.
"Apa urusanmu, inikan liburan kami. Daripada dirimu datang hanya untuk menjadi pengganggu." balas Arne to the point.
"Arne, kau sudah kelewatan.." ucap Angel tanpa sadar menyenggol gelas kopinya dan tumpah ke pakaiannya.
Bahkan kopi tersebut masih hangat hingga membuat Angel merasakannya.
"Akh.." ucap Angel lalu bangkit.
"Makanya punya mata dipakai." ucap Arne lagi tak kalah pedas.
"Awas kau ya.." ucap Angel lalu pergi ke toilet.
Anderson pun hanya tersenyum.
"Ternyata istriku lebih pintar dalam hal ini." ucap Anderson.
"Ya, jika kau memakai cara yg dingin dan tegas, maka aku memakai cara ini selain santai tapi kata-kata menusuk akan membuatnya semakin kesal.." ucap Arne tersenyum.
Lalu Arne pun bangkit dan pergi ke tempat makan untuk mengambil makanan. Arne pun mengambil saus sambal yg pedas bersama sepiring nasi goreng.
Arne pun kembali ke mejanya. Angel belum juga muncul. Dan dengan cepat Arne mengambil piring roti Angel.
"Sayang.. ?" tanya Anderson.
__ADS_1
"Sssttt.." ucap Arne lalu berkedip.
Anderson pun mengerti dan melihat situasinya. Sementara Arne menaruh saus sambal yg pedas itu di dalam roti milik Angel. Arne ingin sekalian mengerjai wanita gila itu yg terus mengejar-ngejar suaminya.
"Rasakan ini Angel.." gumam Arne dalam hati.
Setelah itu, Arne menaruhnya di tempat semula. Dan Arne juga menaruh kembali botol saus ke tempatnya untuk menghilangkan jejak.
Tak lama, Angel pun kembali. Nampaknya wanita itu sampai buru-buru mengganti pakaiannya agar terlihat sempurna di hadapan Anderson. Dengan dress mini yg ketat dan pendek memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Angel pun duduk di meja mereka kembali, dan memilih menikmati sarapannya. Arne dan Anderson pun sibuk masing-masing dan hampir menyelesaikan sarapannya.
"Sayang aku sudah selesai." ucap Anderson.
"Sebentar ya sayang, aku juga sebentar lagi selesai." ucap Arne.
"Ya santai saja makanlah makananmu perlahan." ucap Anderson.
Arne pun menikmati nasi gorengnya dan Angel yg kesal mendengar panggilan mesra mereka memilih menggigit rotinya. Tapi baru saja satu gigitan, dirinya merasakan pedas yg amat sangat. Apalagi Angel tak bisa makan makanan pedas.
"Pedas.." ucapnya.
Arne pun santai saja dan tetap makan, begitu juga dengan Anderson yg sibuk memandangi istrinya. Angel pun meminta air pada pelayan dan marah-marah karena rotinya pedas sekali. Belum lagi saat meminum kopinya, suhunya masih panas karena baru saja diantarkan yg baru.
Tentunya Angel yg kesal pun marah-marah, dan melampiaskannya pada pelayan tersebut.
"Kalian ini tidak bisa kerja ya?? Masa rotiku pedas..?" tanya Angel.
"Maaf nona, bukankah rotinya anda sendiri yg memberi selainya." balas pelayan tersebut.
Seketika Angel pun terdiam malu, ditambah lagi lidahnya sudah terkena saus pedas kini ditambah kopi panas. Pastilah rasanya sungguh tidak enak. Saat Angel kembali ke mejanya, Arne dan Anderson pun sudah menghilang karena dirinya sibuk memarahi pelayan.
"Ck.. Aku sial sekali pagi ini.." umpat Angel.
Sementara Arne pun masih tertawa mengingat ekspresi Angel yg kepedasan dan marah-marah.
"Sayang kau senang sekali menjahilinya." ucap Anderson.
"Ya.. Rasanya menjahilinya adalah hobi baruku." ucap Arne.
"Sejujurnya aku pun merasa senang melihatnya menderita." balas Anderson tersenyum.
"Lagian dia juga aneh, sudah tahu pedas malah minum kopi panas.." ucap Arne tersenyum menahan tawa.
"Tapi sampai kapan dia akan disini.?" tanya Anderson.
"Apa kita cari hotel lain?" tanya Arne.
"Ide bagus sayang." ucap Anderson.
"Tapi pasti melelahkan membawa koper kita yg banyak." ucap Arne.
"Kau yakin tak masalah tetap di hotel itu?" tanya Anderson.
"Sudahlah, besok kita sudah kembali kan?" balas Arne.
"Baiklah, jika kau bicara begitu. Tapi kau harus hati-hati pada Angel. " ucap Anderson.
"Tentu." balas Arne.
Mereka pun melanjutkan liburannya mengunjungi tempat-tempat lain. Dan tentunya Angel mengikuti mereka karena mata-matanya mengawasi pergerakan keduanya. Dengan pakaian yg seksi, membuat Angel jadi pusat perhatian.
Arne pun merasa ada yg aneh, karena Angel bisa tahu lokasi mereka. Anderson pun merasa demikian sama seperti istrinya.
__ADS_1
"Apa kau tahu yg aku pikirkan.?" tanya Arne.
"Ya.. Dia tahu dimana kita berada.. Pasti.." ucap Anderson.
"Pasti apa?"
"Pasti dia sangat berusaha keras." ucap Anderson.
"Ck, kukira apa, itu mah sudah jelas bahkan sampai pergi ke nagara ini." ucap Arne.
"Sayang, duduklah disini aku mau membeli es krim.. Disana antriannya panjang nanti kau lelah." ucap Anderson.
"Benarkah? Baiklah, cuaca siang hari memang paling enak makan es krim." ucap Arne.
"Ya tunggulah disini dan jangan kemana-mana." ucap Anderson pergi meninggalkannya.
Arne pun duduk sambil memainkan ponselnya dan memotret sekitar sebagai kenangan. Lalu Angel menghampirinya.
"Apa suamimu meninggalkanmu?" tanya Angel.
"Kau itu seperti jelangkung saja." ucap Arne.
"Apa itu istilah baru?" tanya Angel.
"Ya.. Kau datang tak dijemput dan pulang tak diantar." balas Arne.
"Cih,. lihat dirimu ditinggalkan Anderson." ucap Angel.
"Dia hanya pergi membeli es krim." balas Arne.
"Siapa yg tahu dia menggoda wanita cantik disana." ucap Angel.
"Ya bisa jadi.. Tapi memangnya Anderson bodoh?" balas Arne.
"Siapa yg tahu.. sifat pria itu dimana-mana sama saja." ucap Angel berupaya memanas-manasi Arne.
"Benarkah? Lalu aku harus mempercayai wanita sinting sepertimu? Sepertinya itu hanya akan menurunkan levelku." ucap Arne.
"Kau itu sombong sekali, tanpa Anderson kau itu bukan apa-apa." ucap Angel.
"Berpikirlah sesuka hatimu, aku tak akan mempercayai ucapan bodohmu." ucap Arne santai.
"Cih, lihat saja kau akan menangis jika ditinggalkan." ucap Angel.
"Daripada dirimu, mengejar-ngejar suami orang alias pelakor." ucap Arne.
Angel yg kesal pun bangkit dari tempat duduknya dan Arne pun tertawa melihat sesuatu menempel di dressnya.
"Kenapa kau tertawa.?" tanyanya.
"Kau coba memghadap ke arah sana." pinta Arne lalu memotret.
"Kau pasti iri kan dengan dress mahalku ini??" balas Angel.
"Tidak, tapi lihatlah ini.." tunjuk Arne pada ponselnya.
Angel pun melihat dress mahalnya terdapat bekas permen karet yg menempel. Antara jijik dan tak tahu bagaimana melapasnya, Angel pun berteriak histeris.
"Aaaa.. Dres mahalku terkena permen karet." ucap Angel.
"Lebih baik pergilah ke toilet dan bersihkan dengan air." ucap Arne.
Angel pun pergi lagi dengan sendirinya. Dan setiap kali dirinya ingin mengganggu Arne dan Anderson selalu saja bernasib sial.
__ADS_1