Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.48 Drama


__ADS_3

Arne pun pergi ke toilet untuk membersihkan pakaiannya yg tersiram minuman Aini. Dan semua orang yg ada disana menjadi saksi kalau Aini terlihat sengaja menyiram pakaian Arne. Sontak hal itu membuat Boy marah besar karena teman-temannya mengadukannya.


"Boy.. si Aini musuhan sama Arne?"


"Hubungan mereka memang kurang baik, karena memiliki satu ayah." ucap Boy.


"Jadi berita itu benar.. wah.."


"Sudahlah, memangnya kenapa kalian bertanya?" tanya Boy.


"Tadi di antrian makanan heboh, Aini menghampiri Arne dan menyiramnya dengan minuman."


"Apa?? tidak mungkin." ucap Boy.


"Boy, itu benar.. kata anak-anak disana semua gara-gara Lisa serta gengnya menjauhinya dan dekat dengan Arne. "


"Baiklah.. aku pergi dulu." ucap Boy meninggalkan teman-temannya.


Boy pun menghampiri Aini yg sedang cari teman diantara mereka anak-anak yg tak populer. Lalu Boy menarik tangan Aini dan mengajaknya bicara.


"Aini, ayo ikut aku sebentar." ucap Boy tersenyum dihadapan teman-teman Aini.


"Teman-teman sebentar ya.." ucap Aini.


Mereka pun menuju taman yg sepi, disana nampak Boy menoleh ke kanan dan kiri barulah bicara.


"Ada apa Boy?" tanya Aini.


"Ada apa denganmu dan Arne?" tanya Boy.


"Kau takut aku mencelakai mantan kekasihmu itu?" balas Aini.


"Hei, sudah kubilang jangan bikin ulah dan membuatku malu.. kau ini yg kenapa menyiram Arne dengan minumanmu?" tanya Boy.


"Sudah kubilang aku tak sengaja.. tanganku lemas" ucap Aini.


"Tak sengaja? lalu kau ngapain disana dan tak ikut antrian?" tanya Boy menunjukkan video dari temannya yg tak sengaja merekam Aini.


"Aaa.. itu aku ingin lihat menunya.. " ucap Aini panik.


"Mejanya ada disana, kenapa kau malah menemui Arne..?" tanya Boy.


"Boy.. kenapa sih aku kan ingin menyapa Lisa.." ucap Aini.


"Tapi kau membuat kehebohan dan aku malu jadi bahan pembicaraan yg lain karena menjadi suamimu..!" ucap Boy kesal.


"Bisa tidak sih, tidak usah berbuat hal aneh? lagipula Arne tidak mengganggumu begitu juga dengan Lisa. " ucap Boy.


"Maafkan aku.. aku hanya kesal pada Lisa yg menjauhiku dan menjadi teman Arne." ucap Aini menangis mengeluarkan senjatanya.


"Ck.. kau itu sudah bukan anak-anak lagi.. bahkan sebentar lagi jadi ibu tapi bersikap dewasa saja tidak bisa." ucap Boy kecewa.


"Aku tak tahan melihat Lisa yg terlihat membicarakanku dibelakang." ucap Aini.


"Terserah, kita pulang sekarang.. aku tunggu di mobil." ucap Boy kesal.


"Boy.. tunggu aku.." ucap Aini.


Boy pun berjalan ke arah mejanya untuk mengambil tasnya dan berpamitan pada yg lainnya. Dan Aini tak mampu mengikuti kecepatan Boy berjalan.


"Akh.." ucapnya lalu perutnya terasa sakit.


Aini pun duduk sebentar di taman lalu ke toilet.


Sementara Boy berpamitan pada temannya.


"Cabut duluan ya.." ucap Boy.

__ADS_1


"Wih buru-buru amat Boy."


"Iya.. nih acara masih lama.."


"Aini perutnya sudah besar, kasian kalau lama-lama nanti dia capek." ucap Boy.


"Oke.. ati-ati yak pak.."


"Ya.. sampai jumpa lagi." balas Boy.


Boy pun menuju ke mobilnya tapi Aini tak berada disana. Dan Boy menunggu di dalam karena mungkin Aini ke toilet.


Sementara di toilet, Aini bertemu Arne yg sedang mencuci tangan sendirian.


"Haha.. kasihan sekali ya pakaiannya basah." ucap Aini.


"Kekanakan sekali perbuatanmu.. " balas Arne.


"Aku suka melihatmu begini, jadi mirip pembantuku di rumah yg pakaiannya basah karena mencuci baju.. upps.." ucap Aini.


"Benarkah?" tanya Arne malas.


"Benar, kau itu cocok juga jadi pembantu." balas Aini.


"Setidaknya kalau aku jadi pembantu bayarannya pasti tak murah.. karena aku punya lisensi dokter, lalu aku juga punya sertifikat bahasa asing, aku juga punya sertifikat lainnya.." ucap Arne.


"Akh, aku baru ingat.. kakek pernah bilang kalau ibumu juga pernah bekerja di rumah kakek sebagai.. hmm haruskah aku mengatakannya?" tanya Arne.


"Itu bohong..!" ucap Aini tak terima.


"Kau tak percaya? kakek sendiri lho yg bilang kalau ibumu rajin bersih-bersih rumah.." sindir Arne.


"Kau..!!" ucap Aini.


Lalu salah satu pintu toilet terbuka. Krekk..


"Lisa kau.." ucap Aini kesal.


"Sudahlah Lisa, dia hanyalah perempuan hamil yg hanya bisa bicara." ucap Arne mengajak Lisa keluar.


"Berhenti menghina orang lain, kau itu baru mendapatkan hidup yg lebih baik jangan sombong.!" ucap Lisa.


"Memangnya kenapa? Papaku kaya.. suamiku juga kaya.. memangnya kau miskin..!" ucap Aini.


"Ya.. yaa walaupun harus jadi anak simpanan dulu ya selama beberapa tahun.." balas Arne kesal.


"Sudah Lis.. kita keluar." ajak Arne.


"Awas kalian yah.." ucap Aini.


Aini pun menghampiri mereka dan menjambak rambut Arne dari belakang.


"Akh.. Aini lepas.." ucap Arne.


"Tidak, kau harus diberi pelajaran karena sudah menghinaku." ucap Aini.


"Lepas dan jangan salahkan aku jika aku membalas.." ucap Arne.


"Aini.. lepaskan Arne..!" teriak Lisa.


Beberapa perempuan pun ingin masuk ke toilet mendengar keributan dan segera masuk. Lalu mereka mendapati Aini menjambak rambut Arne di dalam.


"Apa yg terjadi?" tanya mereka.


"Aini cari masalah dari tadi, kalian panggil Boy suaminya.. " ucap Lisa.


"Kenapa harus Boy?" tanya mereka.

__ADS_1


"Kalau Arne melawan, nanti Aini kenapa-kenapa bahaya dia sedang hamil... sudah cepat.." pinta Lisa.


Sementara itu, Arne terlihat mulai melawan dan mencengkram tangan Lisa. Dengan kuku tajamnya Arne melukai tangan Lisa.


"Aakhh.." ucap Aini melepaskan rambut Arne.


Dan tibalah Boy di toilet wanita yg sudah ramai oleh anak-anak yg penasaran pada pertengkaran Aini dan Arne.


"Aini.. kau tak apa?" tanya Boy melihat tangan Aini lecet.


"Arne mencakarku Boy.. perih sekali." ucap Aini memulai dramanya.


"Memangnya apa yg terjadi?" tanya Boy.


"Dia menghina ibuku karena pernah jadi pelayan di rumah kakek." ucap Aini.


"Bukankah itu fakta? berarti bukan menghina.. yg menghina itu kau mengataiku seperti pembantu.." ucap Arne.


"Itu bohong.. dia menyerangku duluan." ucap Aini.


"Jelas-jelas kau yg menjambak rambutku dari belakang." ucap Arne.


"Bisakah kalian berkata yg sejujurnya?" tanya Boy.


"Mungkin ini sedikit membantu." ucap Lisa memutar rekaman percakapan awal dimana Aini datang dan menghina Arne.


Boy pun mengepal geram karena saat itu ditonton oleh banyak teman-teman mereka.


"Bagaimana? sudah percaya Boy?" tanya Lisa.


"Dan saat kami ingin meninggalkan Aini dia menjambakku dari belakang.." ucap Arne.


"Aini, minta maaf ke Arne." ucap Boy.


"Tidak mau dia juga sudah melukaiku dan menghinaku." ucap Aini.


"Anggap saja kita impas.. aku juga sudah tak nyaman ada disini." ucap Arne segera bangkit.


"Ck.. Aini kita juga pulang.." ucap Boy.


"Semuanya bubar.. jangan ada yg merekam, kalau kalian berani menyebarkannya di medsos aku akan melaporkan tindakan kalian..!" ucap Boy.


Boy pun marah besar dan merasa dipermalukan oleh Aini. Dirinya berjalan cepat ke arah mobilnya dan meninggalkan Aini di belakangnya yg tertinggal jauh karena tak mampu mengimbangi kecepatannya berjalan.


Lalu Boy melihat Arne yg diantarkan Lisa ke parkiran dan berpamitan pada Lisa.


"Maaf ya Lisa, aku harus pulang duluan." ucap Arne.


"Oke.. kami juga sepertinya juga mau pulang sebentar lagi." ucap Lisa.


"Oke.. sampai jumpa lagi ya.." ucap Arne.


"Ya.. hati-hati dijalan." ucap Lisa.


Arne pun mengendarai sebuah mobil berwarna biru yg terparkir di dekat mobil Boy. Dan Aini menatapnya melihat Arne pergi dengan mobil yg berbeda lagi. Dirinya pun mengepal geram, karena Arne selalu mempunyai hal-hal yg menurutnya tak mampu dibeli oleh Arne.


"Mobil baru lagi?? dasar tukang pamer." ucap Aini dalam hatinya.


"Cepat masuk.. !" ucap Boy melihat Aini mematung melihat Arne pergi dengan mobilnya.


"I-iya." ucap Aini masuk ke mobil Boy.


"Mulai sekarang aku takkan mengajakmu ke acara reuni lagi.. aku malu sekali." ucap Boy.


"Tapi Boy.." ucap Aini.


"Cukup Aini, jika kau belum memperbaiki sikapmu aku takkan mengajakmu kemana-mana.. aku juga akan absen sampai beberapa tahun karena ulahmu hari ini." ucap Boy kesal.

__ADS_1


"Maaf." ucap Aini tapi Boy tetap diam sampai mereka tiba di rumah.


__ADS_2