Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.96 Pertemuan


__ADS_3

Setelah 3 bulan lamanya Anderson berada di negara asing, kini sudah waktunya dirinya kembali. Dan semuanya di Indonesia nampak aman terkendali. Dirinya pun berbohong soal kedatangannya untuk memberi kejutan pada Arne.


Hari itu Anderson terbang menuju ke Indonesia, dan tidak ada satupun yg ia beritahu soal kedatangannya. Hal itu sengaja ia lakukan untuk memantau situasi sekitar Arne.


"Beberapa jam lagi aku akan tiba di Jakarta." gumam Anderson dalam hati.


.


.


Sementara Arne dirinya pun bekerja seperti biasanya. Dan Tony tak lagi menunjukkan batang hidungnya, bak hilang ditelan bumi. Tapi semua pekerjaannya terkendali dan ia kerjakan dari rumahnya. Untuk sementara dirinya perlu menenangkan diri agar tak lepas kendali dan berakhir mempermalukan dirinya sendiri.


Dan saat ini, Arne tengah menangani beberapa pasiennya bersama seniornya Vivi. Lagi-lagi pasien bernama Cindy datang kesana untuk melakukan pengobatan. Cindy pun dialihkan ke profesor yg ahli dibidangnya. Dan Arne sempat bertemu dengannya.


"Kau kemari lagi, bagaimana keadaanmu?" tanya Arne.


"Jauh lebih baik. Dan kini aku akan fokus pada pengobatan." ucap Cindy.


"Baguslah, silahkan tunggu sebentar." ucap Arne.


"Terimakasih dokter." ucap Cindy.


Tak berapa lama Cindy pun melakukan pemeriksaan dan berbicara panjang lebar dengan profesor tersebut. Arne pun tak tahu pastinya karena Cindy ditangani oleh profesor lain yg ahli di bidang tersebut.


Hingga akhirnya mereka bertemu lagi saat Cindy hendak pergi meninggalkan rumah sakit.


"Sepertinya konsultasinya berjalan lancar." ucap Arne.


"Berkatmu dok." ucap Cindy.


"Berkatku? Bukan aku yg menanganimu." ucap Arne.


"Berkat ucapanmu untuk kembali ke jalan yg benar, aku sedang berusaha menjalaninya." ucap Cindy.


"Baguslah, semangat ya.." ucap Arne.


"Iya dok, terimakasih.. Aku permisi." ucap Cindy.


"Silahkan." ucap Arne.


Arne pun bekerja seharian, dan tak memikirkan apapun termasuk Anderson yg sudah tiba di Indonesia. Kesibukannya sebagai dokter residen benar-benar menyita waktu, tenaga dan pikirannya.


Hingga saat dirinya pulang, Arne pun menuju ke mobilnya dengan langkah gontai. Seorang pria pun berada di depan mobilnya dan membuat Arne memerhatikannya.


"Permisi, maaf tuan mobilku mau keluar." ucap Arne.


"Tidak boleh." ucap pria itu lalu berbalik.


Anderson pun membalikkan badannya dan membuat Arne terkejut. Arne pun tersenyum melihat Anderson kekasihnya telah kembali.


"Kau.." ucap Arne.


"Kejutan.." ucapnya datar.


"He.. Kejutan biasanya penuh dengan ekspresi, kenapa jadi sedatar ini coba ulangi.." pinta Arne.


"Kejutan." ucap Anderson masih dengan nada datarnya.


"Sudahlah, memang setelan pabriknya begini." ucap Arne.


"Arne.. Kau ini memang ya suka sekali mengejekku." ucap Anderson kesal.


Arne pun hanya tertawa melihat Anderson kesal, lalu mereka pergi dari rumah sakit. Mereka pun menuju ke sebuah resto yg cukup ramai baru-baru ini.


"Huh, ramai sekali." ucap Anderson mengeluh.


"Disini makanannya sedang viral." ucap Arne.

__ADS_1


"Memangnya kau akan dapat tempat jika seramai ini?" tanya Anderson.


"Kalau tidak dicoba ya belum tahu kan." ucap Arne lalu mengajak Anderson turun.


Mereka pun masuk resto, namun benar tebakan Anderson kalau semua kursinya sudah penuh. Hingga Arne harus pergi dari tempat tersebut.


"Benar kan penuh.. Kita bahkan tak dapat tempat." ucap Anderson.


"Padahal aku ingin makan disana." ucap Arne kecewa.


"Bagaimana kalau di tempat lain, tempatnya klasik sih, Sammy yg memberitahuku.. Tapi makanannya cukup otentik dan lezat." ucap Anderson.


"Benarkah? Aku jadi penasaran. Tunjukan tempatnya." pinta Arne.


Mereka pun ke resto tersebut dan Arne sangat penasaran setelah mendengar cerita dari Anderson soal resto yg berdiri sejak lama tersebut. Setelah tiba, mereka pun langsung masuk ke dalam.


Tempatnya sangat klasik tapi juga nyaman. Dan Arne memesan beberapa menu terlaris disana. Mereka pun akhirnya bisa makan dengan nyaman tanpa harus antri apalagi merasakan keramaian.


"Aku suka tempat ini.." ucap Arne.


"Selera Sammy boleh juga." ucap Anderson.


"Kurasa dia memang pria yg hangat." ucap Arne.


"Apa maksudmu?" tanya Anderson cemburu.


"Ya, lihat tempat ini santai, nyaman, makanannya pun lezat. Tempatnya juga berkelas." ucap Arne.


"Ck, kau tidak menyukainya kan?" tanya Anderson lagi.


"Kau cemburu?" goda Arne.


"Kalau iya kenapa?" balasnya dengan tatapan tajam.


"Aku menyukainya sebagai juniornya, seperti rasa kagum pada seniornya." ucap Arne.


"Tidak, dia terlalu tua untukku." ucap Arne.


"Bagus."


"Lalu bagaimana kabarmu?? Kenapa tiba-tiba kembali tanpa memberi kabar?" tanya Arne.


"Seperti yg kau lihat aku baik-baik saja.. Dan aku hanya ingin memberimu kejutan." ucap Anderson.


"Kau sendiri? Apa ada baj***an lain yg mengganggumu?" tanya Anderson.


"Semuanya aman terkendali." ucap Arne.


"Kau yakin?" tanya Anderson.


"Ya.. Begitulah."


"Lalu Tony?" tanya Anderson.


"Dia menghilang bak ditelan bumi, hanya kadang asistennya yg datang ke rumah sakit." ucap Arne.


"Baguslah, mulai sekarang dia takkan berani mengganggumu." ucap Anderson.


"Memangnya kau habis melakukan apa? Kau tidak mengancam akan membunuhnya kan?" tanya Arne.


"Ide yg bagus Arne, mungkin aku akan melakukannya jika dia macam-macam lagi." ucap Anderson.


"Cih, malah mengalihkan." balas Arne.


"Pokoknya kakekmu melakukannya dengan sangat baik." ucap Anderson.


"Ya aku tak heran kalau soal kakek." balas Arne.

__ADS_1


Keduanya pun bicara santai dan menceritakan kisah mereka masing-masing selama 3 bulan terakhir ini. Dan mereka pun saling melemparkan senyum tanda keduanya bahagia atas pertemuan ini.


Banyak hal yg terjadi selama Anderson tak ada di rumah sakit, tapi semuanya tetap terkendali karena senior mereka melakukan yg terbaik pada kasus-kasus sulit. Dan Arne pun bertemu beberapa pasien yg menarik. Salah satunya adalah Cindy. Arne pun sedikit menceritakannya pada Anderson.


"Menurutku dia memang wanita malam." ucap Anderson.


"Katanya dia mau berubah, dan kembali ke jalan yg benar. Aku senang mendengarnya hari ini." ucap Arne.


"Ya.. Butuh sebuah peristiwa besar untuk membuat setiap orang bertaubat." ucap Anderson.


"Kau benar." ucap Arne tersenyum.


"Aku ke toilet sebentar ya." ucap Arne.


"Oke." balas Anderson


Arne pun pergi ke toilet yg tak jauh dari tempatnya. Saat Arne sedang mencuci tangannya, dirinya bertemu dengan Cindy lagi disana. Cindy pun menyapanya dengan ramah.


"Dokter." ucapnya.


"Eh, kau Cindy." ucap Arne tersenyum.


"Aku sedang makan disini juga dengan kakasihku." ucap Cindy.


"Kau masih bersamanya rupanya." ucap Arne.


"Iya bahkan kami akan menikah." ucap Cindy.


"Selamat ya.. Aku turut bahagia mendengarnya." ucap Arne.


"Dokter sendiri kesini dengan siapa?" tanya Cindy.


"Dengan kekasihku.. dia baru kembali dari tugasnya di luar negeri." ucap Arne.


"Oh, aku mengerti.. Selamat menikmati kencannya dok." ucap Cindy.


"Ya kau juga." ucap Arne.


Arne pun keluar dari toilet dan berjalan menuju ke mejanya. Anderson pun melihatnya dari kejauhan dan Arne hanya tersenyum. Dan ditengah jalan, Arne melihat seseorang yg ia kenal. Orang itu adalah Jeny, ibunya sendiri. Tapi dengan siapa Jeny malam ini? Nampak seperti seorang pria, apakah mamanya sedang kencan??


Arne pun mengirim pesan kalau ia ingin bertemu seseorang di resto tersebut. Dan Anderson yg menerimanya cukup kesal karena mengira Arne akan bertemu teman prianya.


"Ck.. Aku diabaikan." gerutu Anderson.


Anderson pun langsung membayar bil tagihannya dan mendekati Arne.


Sementara Arne, dirinya menghampiri Jeny yg tengah makan dengan Sammy. Pembicaraan keduanya pun nampak serius dan Arne seperti mendengar sebuah pengakuan dari Sammy.


"Jeny, aku masih mencintaimu dan selalu mencintaimu." ucap Sammy.


"Tapi.. Apa yg harus aku katakan pada Arne." balas Jeny.


"Mama tak perlu mengatakan apapun padaku."ucap Arne.


"Arne.." ucap keduanya.


"Prof, kau ini diam-diam mendekati ibuku." ucap Arne.


"Aku sudah menunggunya 20 tahun lebih dan ini kesempatanku." ucap Sammy.


"Apa jawaban mama?" tanya Arne.


"Emm.. Itu.." ucap Jeny.


"Ayolah ma.. Masa pria seperti ini ditolak? Tampan, mapan, sukses, dan punya masa depan." ucap Arne membantu Sammy.


"Arne, kau sedang apa disin.." ucap Anderson seketika merasa kaku.

__ADS_1


Anderson pun melihat Jeny tengah makan malam dengan Sammy, dan wajah Sammy seketika menjadi merah karena malu pernyataan cintanya didengar oleh Arne dan Anderson.


__ADS_2