Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.41 Pembelaan


__ADS_3

Arne pun duduk di sebuah kursi dan melihat acara demi acara berlangsung. Apalagi saat pengumuman gender bayi Aini, semua orang nampak penasaran terutama keluarga dari Boy.


Arne pun dihampiri oleh kakeknya.


"Arne, maaf kakek terlambat." ucap Jakson.


"Tak apa kek.. lagipula ini acara puncaknya baru dimulai." ucap Arne.


"Baguslah, walau aku tak peduli dengan anak dari Aini." ucap Jakson.


"Kenapa kakek bilang begitu?" tanya Arne.


"Karena dia selalu jahat padamu, kakek jadi tak menyukai Aini." ucap Jakson.


"Sepertinya sulit menyembunyikan fakta dari kakek." ucap Arne tersenyum.


"Lihat acaranya segera dimulai." ucap Jakson.


Mereka berdua pun melihat proses pengumuman gender bayi tersebut. Dan calon anak Aini dan Boy berjenis kelamin perempuan. Seketika balon-balon beewarna pink pun muncup saat sebuah kotak besar dibuka.


Semua orang bertepuk tangan, begitu juga dengan Arne dan Jakson.


"Acara sudah usai kan? ayo kita pergi." ajak Jakson.


"Ya kurasa begitu kek." ucap Arne.


Arne pun berpamitan pada Richard karena malas bicara dengan Aini. Tapi Martha ibu tirinya mengatakan hal yg tak mengenakkan.


"Papa.. aku mau pulang dengan kakek." ucap Arne.


"Baiklah, terimakasih sudah hadir." ucap Richard.


"Kau tak menemui Aini..?" tanya Richard.


"Sepertinya dia sibuk dengan teman-temannya, aku juga sudah menemuinya tadi." ucap Arne.


"Baiklah." ucap Richard.


"Arne.. aku turut sedih mendengar pelecehan yg terjadi padamu.." ucap Martha dengan nada tinggi.


"Martha.." ucap Richard menyuruhnya diam.


"Sepertinya anda tidak mendengar berita lengkapnya ya.. padahal kejadian pelecehan itu gagal karena aku berteriak meminta tolong.." ucap Arne.


"Oh jadi begitu.. kau yakin mengingat semuanya? atau kau dalam pengaruh obat?" tanya Martha.


"Bagaimana mungkin seorang dokter bekerja dalam pengaruh obat?? aku dalam kondisi sadar sepenuhnya dan melawan mereka agar bebas." ucap Arne.


"Oh iya, kalau tidak salah Aini baru menikah 6 bulan lalu tapi kandungannya sudah sebesar itu." balas Arne.


"Ya.. dia sepertiku kalau hamil perutnya sangat besar." ucap Martha.


"Atau alasannya karena ada banyak rahasia yg harus kalian simpan.." ucap Arne tersenyum.


"Cukup hentikan..!" ucap Richard.


"Aku juga sudah mau pergi kok pa.. oh iya bukan aku yg memulai perdebatan ini." balas Arne.


"Richard..! kau benar-benar membiarkan anakmu dibicarakan dengan buruk.." ucap Jakson kesal.

__ADS_1


"Dan kau Martha, info darimana kau kalau Arne mengalami pelecehan?? kejadian itu tak pernah terjadi.. haruskah aku tunjukkan bukti visumnya?" tanya Jakson dengan suara tingginya.


"Maaf ayah." ucap Martha menunduk.


"Ck.. selalu saja membuatku kesal, untung aku tak tinggal dengan Richard." ucap Jakson.


"Maaf ayah." ucap Richard.


"Ayo Arne." ucap Jakson.


Arne pun berjalan bersama kakeknya yg selalu mendukungnya selama ini. Bahkan kakeknya mampu membuat Richard dan Martha terdiam.


Kemudian Arne pun dipanggil salah seorang teman SMA nya yg juga teman Aini yg hadir dalam pesta tersebut.


"Arne.. kau Arne kan..?"


"Iya benar.. ada apa Lisa?" tanya Arne.


"Kau masih mengingatku rupanya." ucap Lisa.


"Kemarilah sebentar, teman-teman sekelas sedang berkumpul." ucap Lisa.


Arne pun menatap pada kakeknya, dan Jakson pun hanya membiarkannya bertemu temannya sebentar lalu menunggu di mobil.


"Arne kudengar kau bekerja di rumah sakit Xx.." ucap Lisa.


"Benar, kau sendiri?" tanya Arne.


"Aku cuma selebgram dengan 200 ribu followers.." ucap Lisa.


"Oh begitu." balas Arne.


Disanalah mereka bertemu satu sama lain dengan teman lama. Dan tentunya ada Aini beserta Boy.


"Uuuhh.. Arne kau datang juga, padahal kan Boy.."


"Sstt.. kau itu tak sopan."


"Sudahlah, itu masalalu.. benar kan Arne." ucap Lisa.


"Ya.. untuk itu aku datang kemari." ucap Arne.


"Boy.. kau menatap Arne terus menerus, kau tak menyesal kan?" tanya Lisa.


"Tidak, aku hanya menatap ke arah sana." ucap Boy bohong.


"Jadi, kalian berkumpul disini.. kukira aku takkan dianggap makanya aku tak mendekat." ucap Arne to the point.


"Arne, kami hanya mengkhawatirkanmu." ucap Aini.


"Soal apa?" tanya Arne.


"Bukankah kau habis mendapatkan pelecehan di tempatmu bekerja, kau baik-baik saja.?" tanya Aini.


"Aku juga dengar ceritanya dari Aini dan temanku yg bekerja disana.. apa itu benar Arne.?" tanya Lisa dan temannya yg lain.


"Tak sepenuhnya benar.. " ucap Arne.


"Lalu apa yg sebenarnya terjadi.?" tanya yg lain.

__ADS_1


"Tentu saja aku takkan tinggal diam dan melawan sekuat tenaga, aku sampai memecahkan kaca jendela untuk meminta tolong.. " ucap Arne.


"Lalu??"


"Temanku datang dan membantuku.. pelecehan itu tak terjadi padaku.. jadi siapa yg berkata kalau aku telah dilecehkan?? haruskah aku tunjukkan bukti visumnya.?" tanya Arne.


"Itu Aini.." ucap salah seorang.


"Aini pasti khawatir pada Arne, begitukan sayang..?" ucap Boy.


"Ya kalian berdua kan sangat dekat.." ucap Lisa.


"Terimakasih atas perhatiannya, tapi harusnya kau bertanya langsung padaku agar tak salah informasi.." ucap Arne.


"Lalu pelecehan yg terjadi di rumah sakit itu?" tanya salah seorang.


"Itu terjadi di masalalu, dan aku hampir jadi korban baru. " ucap Arne.


"Oh iya, sebagai dokter aku menyarankan agar kalian hati-hati dalam menyampaikan hal ini pada pelaku, karena tak semua korban punya mental yg kuat." ucap Arne.


"Maafkan kami Arne.. kami hanya mendengar berita sepenggal saja.. " ucap Lisa mewakili yg lainnya.


"Ya.. saat ini kondisiku mentalku baik-baik saja.. tapi tidak untuk korban lainnya, jadi kuharap kalian tak bertanya soal itu pada korban pelecehan." ucap Arne.


"Baiklah, aku mengerti.. maaf ya Arne." ucap salah seorang.


"Tak masalah, kalau begitu aku harus pulang.. sampai jumpa." ucap Arne.


"Ya.. hati-hatti di jalan." ucap teman-temannya.


Setelah Arne pergi, Aini pun memanas-manasi keadaan.


"Kalian lihat kan Arne sangat sombong.." ucap Aini.


"Kurasa tak begitu, Arne hanya sedikit kesal karena infonya salah." ucap Lisa.


"Aku kalau jadi Arne juga kesal dapat info begitu." balas yg lainnya.


"Jadi Aini, darimana kau dapat info itu..?"


"Itu dari kenalanku di rumah sakitnya." jawab Aini.


"Harusnya kau memeriksa ulang, untungnya Arne tak tersinggung." ucap Boy.


"Aku pun akan kesal kalau dibilang sudah dilecehkan padahal tidak.. lain kali kau hati-hati Aini."


"Maaf.." ucap Aini.


"Tapi lihat kan dia berubah.." ucap Aini.


"Itu benar, karena kau menikah dengan Boy.. makanya Arne menjaga perasaan kalian berdua." ucap Lisa.


"Tak mudah bagi Arne berhubungan dengan kalian berdua."


"Benar, kau harusnya bersyukur karena Arne masih berhubungan baik dengan kalian."


"I-iya." ucap Aini.


"Sudahlah, kalian jangan menyudutkan Aini.. dia tengah hamil." ucap Boy membela Aini.

__ADS_1


Semuanya pun diam, tapi mengetahui kalau Arne sangat berusaha bersabar menghadapi Aini. Dan info yg mereka terima dari Aini adalah salah, hingga mereka merasa bersalah pada Arne. Mereka pun mulai meragukan Aini karena terlihat selalu berusaha menjatuhkan Arne.


__ADS_2