Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.64 Karma buruk


__ADS_3

Operasi Aini pun berlangsung hari ini. Semua keluarganya juga sedang menunggu diluar. Banyak drama yg terjadi mulai dari kekurangan darah hingga pengangkatan rahim yg harus terjadi hari ini. Semua orang pun merasa sedih dan kecewa akan hal ini. Dan Aini masih belum sadarkan diri yg tentunya takkan tahu sebuah fakta kalau rahimnya sudah diangkat nanti.


Boy pun kini dalam kondisi kacau, tak tahu harus mengatakan apa lagi. Calon anaknya sudah tiada, kini ditambah lagi dengan fakta kalau Aini takkan bisa hamil lagi setelah ini. Bahkan Aini belum sadar sama sekali dan tak ada yg tahu apa yg menimpanya di tangga darurat hingga harus berakhir seperti ini.


Detik demi detik pun berlalu dengan cepat. Kecemasan orang-orang pun meningkat, mengingat kritisnya kondisi Aini saat ini. Richard pun hanya bisa terdiam melihat kondisi putrinya saat ini. Leni juga tak bisa berkomentar apa-apa dan hanya menunggu kabar dari dokter.


Arne pun melintasi ruangan operasi dan melihat ketegangan yg terjadi disana. Ingin rasanya memiliki simpati pada Aini, tapi dirinya teringat akan kejadian beberapa hari yg lalu dimana Arne yg berniat membantu malah dijadikan tersangka penyerangan.


Richard pun melihat Arne yg melintas di hadapannya dan memanggilnya.


"Arne bisa kita bicara sebentar?" ucap Richard membuat Boy dan Leni menatap keduanya.


"Baik, tapi jangan disini." ucap Arne.


Mereka pun pergi ke sebuah taman yg sepi dan Arne manatap pada ayah kandungnya tersebut.


"Ada apa pa?" tanya Arne.


"Maaf." ucap Richard.


"Sudah berapa kali papa minta maaf?? Bahkan kini hampir setiap hari." ucap Arne.


"Hanya itu yg bisa papa katakan padamu." ucap Richard.


"Ya.. Memang hanya itu tak lebih, mama dan aku juga cukup terluka, jadi semuanya impas tak ada yg sempurna hidupnya." ucap Arne.


"Papa juga akan meminta maaf pada Jeny.." ucap Richard.


"Ya papa sangat berdosa pada mama.. Dan satu hal lagi, aku tak mau dekat-dekat dengan Aini karena tak ingin terjadi masalah lagi atau dibandingkan lagi." ucap Arne.


"Ya papa memgerti, papa akan kembali ke dalam." ucap Richard pergi meniggalkan Arne.


Arne pun terdiam di taman tersebut mengingat penderitaannya dulu bersama mamanya. Tapi kini keduanya sudah terbiasa dan merasa baik-baik saja menjalani hidupnya. Tiba-tiba Tony muncul entah dari mana.


"Nampaknya Richard sudah tertekan sampai berkata begitu." ucap Tony.


"Sepertinya begitu tuan." ucap Arne menoleh padanya.


"Apa semuanya sekarang baik-baik saja?" tanya Tony.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, semua masalah tuntutan hukum sudah selesai.. Kini tinggal pengadilan saja yg menentukan hukuman bagi pelakunya." ucap Arne.


"Kuharap kau tak memaafkannya, karena ini juga menyangkut nama baik rumah sakit ini." ucap Tony.


"Aku tak semurah hati itu tuan, dan sudah waktunya bagi wanita itu mendapatkan hukuman atas perbuatannya." ucap Arne.


"Kau lebih tegas dari dugaanku.. tapi itu bagus, yg bersalah memang harus dihukum." ucap Tony.


"Ya.. Kebenaran tak pernah pudar meski di depan uang sekalipun." ucap Arne.


"Katakan saja jika masih ada yg mengganjal di hatimu, saat ini semua orang bebas mengajukan kritik dan saran demi kesejahteraan bersama." ucap Tony.


"Tentu tuan, tapi untuk saat ini aku rasa cukup." ucap Arne.


"Baiklah, kuharap tak ada masalah hukum lagi setelah ini." ucap Tony.


"Ya tuan." ucap Arne.


"Arne, jika kau tahu sesuatu yg mencurigakan kau bisa langsung melaporkannya pada Sammy, aku sudah bicara padanya." ucap Tony.


"Baik tuan." ucap Arne.


"Aku hanya ingin istirahat sejenek setelah bicara dengan ayahku, tapi sekarang aku harus kembali bekerja." ucap Arne.


"Ya.. Silahkan." ucap Tony.


Niat hati Tony ingin mengajak Arne minum kopi dan berbicara santai tapi malah Arne salah mengartikan dan menganggap Tony sedang menegurnya yg bersantai di taman. Hingga Arne masuk dan kembali bekerja.


.


.


Operasi Aini pun berhasil dan perlahan kondisi Aini membaik. Boy pun bersyukur akan hal itu begitu juga dengan Leni dan Richard. Sementara Martha dirinya tak terima dengan kondisi menyedihkan putrinya dan dirinya yg berada di penjara.


Beberapa hari kemudian, Aini sadarkan diri dan sudah berada di ruangan khusus. Dirinya merasakan sakit di area perutnya dan tubuhnya sangat lemah. Aini pun menyadari sesuatu yg berbeda dari dalam dirinya. Perutnya yg tadinya besar pun mengecil dan ada rasa nyeri disana.


"Akh.. Sakit." ucap Aini.


"Aini kau sudah sadar.." ucap Boy.

__ADS_1


"Sayang ini dimana?" tanya Aini.


"Kau masih di rumah sakit." ucap Boy.


"Apa yg terjadi kenapa perutku mengecil? Apa aku melahirkan lebih awal??" tanyanya.


"Kau benar-benar tak ingat apa yg terjadi kemarin?" tanya Boy.


Aini pun terdiam dan mencoba mengingatnya, lalu terlintas di benaknya ingatan dirinya bersama Ben di tangga darurat. Lalu dirinya pun menangis menyadari sesuatu.


"Bagaimana dengan anakku? Apa dia baik-baik saja?" tanya Aini.


"Aini, kita harus mengikhlaskannya." ucap Boy.


"Apa?? Jadi anak kita .." ucap Aini menangis.


Boy dan Richard pun berusaha menenangkannya, kemudian mereka masih merahasiakan soal operasi pengangkatan rahim Aini. Aini pun masih belum tahu karena kondisinya, dan dokter juga menyarankan mereka untuk memberitahunya perlahan-lahan demi kesembuhan Aini. Mendengar kabar anaknya tiada saja membuat mentalnya jatuh apalagi kalau dirinya tahu bahwa rahimnya sudah tiada lagi, pastilah Aini akan lebih buruk lagi kondisinya.


.


.


Beberapa hari kemudian, Aini sudah diperbolehkan pulang. Dan hari ini adalah persidangan ibunya Martha. Aini juga sudah memberikan kesaksian kalau yg menyerangnya adalah orang asing yg ingin memerasnya. Aini tak mengatakan kalau pria itu adalah Ben, bos dari mata-mata yg ia bayar untuk mengikuti Arne.


Di hari persidangan, Arne pun turut hadir sebagai korban. Dan Aini mengepal geram karena Arne sampai sejauh ini pada ibunya. Semuanya terjadi diluar perkiraannya dan kini menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


Penyerangan Ben atas dirinya berubah jadi fitnah yg dilakukan oleh ibunya pada Arne. Dan yg lebih mengejutkan lagi pihak rumah sakit ikut menuntut ibunya karena berulang kali berbuat kekacauan sampai membuat laporan pada dokter mereka.


Kini Aini pun tak punya kekuatan untuk melawan Arne dan pihak rumah sakit. Dirinya hanya berharap Martha bisa diringankan hukumannya. Tapi hakim yg menanganinya sangat tegas, dan memberi hukuman yg cukup lama pada Martha di balik jeruji besi. Meski sudah mengakuinya, dirinya hanya dapat sedikit keringanan.


"Papa.. Apa tak ada yang bisa kita lakukan pada mama?" tanya Aini.


"Maaf sayang, bahkan uang papa sekalipun takkan bisa membebaskan mama." ucap Richard sedih.


"Ini semua gara-gara Arne.." ucap Aini.


"Cukup..! Arne tak bersalah, justru dia yg menemukanmu di tangga darurat. Kalau dia tak menemukanmu saat itu mungkin kau takkan selamat." ucap Richard membuat Aini terdiam.


Aini pun tak bisa membalas lagi ucapan ayahnya dan pulang setelah menemui Martha. Dirinya merasa hal buruk terus mendatanginya, setelah kehilangan anaknya kini Aini juga harus menerima kalau ibunya ada di penjara.

__ADS_1


__ADS_2