
Arne pun meninggalkan Anderson untuk menemui temannya. Setelah menghubungi Lisa, akhirnya Arne pun menemukan meja mereka. Arne langsung menghampiri mereka dan menyapanya. Tak lupa Arne mengucapkan selamat ulang tahun pada Lisa.
"Selamat ulang tahun Lisa." ucap Arne.
"Ya, terimakasih Arne." ucap Lisa.
"Maaf ya sedikit terlambat karena ada urusan sebentar." ucap Arne.
"Tak masalah jangan dipikirkan." ucap Lisa.
"Santai saja Arne.." balas yg lain.
Mereka pun merayakan ulang tahun Lisa sederhan dengan hanya mengundang beberapa teman yg masih menemani Lisa. Lalu Lisa juga membahas mengenai masalahnya tentang berita bohong kalau dirinya simpanan om-om.
Lisa bercerita kalau ayah kandungnya membelanya dan mengatakan kalau berita itu tak benar. Bahkan ayah kandungnya mengakui Lisa sebagai putrinya. Seketika berita tersebut pun mereda dan Lisa bisa kembali mencari nafkah.
"Aku senang jika masalahmu sudah selesai." ucap Arne.
"Ya Arne, terimakasih juga semuanya.. Kalian masih bersama denganku setelah semua yg terjadi." ucap Lisa.
"Tentu saja.. Memangnya apa salahmu pada kami."
"Benar, kau ini jangan terlalu serius."
"Benar kata mereka.. Kau tak salah pada kami." balas Arne.
"Ya.. Kecuali satu orang sih.."
"Benar, dan katanya dia sedang sakit.. Arne dia dirawat di rumah sakit tempatmu bekerja kan?" tanya Lisa.
"Ya.. Nasibnya cukup tragis, Aini keguguran." ucap Arne lalu menceritakan kondisi Aini.
"Wah, sepertinya dia habis berbuat dosa besar sampai dihukum begitu."
"Sudahlah teman-teman, tak ada gunanya membicarakannya. Cukup tahu saja." ucap Lisa.
"Ya.. Kita kesini untuk merayakan ulang tahun Lisa kan.."
"Benar, mari kita bersenang-senang."
Arne pun bersenang-senang dengan teman-temannya. Mereka bercengkrama dan makan bersama. Lalu bercanda ria ditambah lagi mereka jarang sekali bisa berkumpul.
Setelah itu, Arne pun pergi ke toilet sebentar dan tanpa sadar bertemu dengan Maria disana.
"Nyonya Maria." sapa Arne.
"Hmm.. apa kau benar-benar kekasih Anderson?" tanya Maria.
"Haruskah anda bertanya begitu setelah putra anda sendiri memperkenalkannya?" balas Arne.
"Dia bukan putraku." ucap Maria.
__ADS_1
"Maaf kalau begitu.. Tapi sepertinya ada yg ingin anda katakan." ucap Arne sambil mencuci tangannya.
"Apa kau benar-benar kekasihnya? Sejak kapan? Dimana kalian bertemu dan berkenalan?" tanya Maria kesal.
"Wah, apa anda sungguh mencintai suami anda?" balas Arne.
"Apa maksudmu? Bukankah itu sudah jelas." ucap Maria.
"Lalu kenapa anda sangat posesif pada putra tiri anda? Bukankah itu aneh?" tanya Arne.
"Cih.. Dasar gadis tidak sopan." ucap Maria.
"Bukankah anda yg tidak sopan, mencampuri kehidupan percintaan putra tiri anda sendiri.." balas Arne.
"Jadi kalian benar-benar sepasang kekasih."ucap Maria.
"Benar, dan kami bertemu di sebuah rumah sakit tempat kami bekerja.. Apa itu sudah cukup membuatmu puas nyonya Maria?" tanya Arne.
"Ya.. Terimakasih jawabannya." ucap Maria.
"Sebagai seorang dokter, aku menyarankan anda jangan terlalu mempermasalahkan hal kecil, nanti kehamilan anda akan terganggu jika anda sampai stres." ucap Arne lalu meninggalkan Maria.
"Cih.. Sok pintar sekali dia." gumam Maria.
Maria pun semakin merasa tersaingi oleh Arne. Apalagi Arne juga seorang dokter sama seperti Anderson. Pastinya dirinya juga sangat dekat karena bekerja di tempat yg sama. Hal itu membuat Maria menyesali semua keputusannya meninggalkan Anderson.
Ditambah lagi informasi dari Anderson kalau Arne berasal dari keluarga terpandang, membuat Maria semakin iri padanya. Sementara Maria, dirinya menikahi pria kaya yg tak lagi muda usianya. Meski mempunyai segalanya tapi nyatanya Maria tak mencintai Thompson. Maria hanya menyukai hartanya saja.
Sementara Arne, mulai merasa aneh pada Maria. Jika mencintai Anderson kenapa harus menikahi ayahnya?? Apakah tak ada pria lain lagi??Minimal jika memang ingin melupakan Anderson, Maria harusnya menjauhinya bukan malah menjadi anggota keluarganya. Sungguh hal itu membuat Arne tak habis pikir dan memilih cepat-cepat pergi dari tempat tersebut.
"Arnetha ya.. Siapa kira-kira gadis itu?? Aku harus menyelidikinya." gumam Thompson dalam hati.
.
.
Keesokannya, Arne pun bekerja seperti biasanya dan dirinya mendapat giliran jaga malam. Dan jadwalnya selalu sama dengan Anderson. Arne pun ingin menyampaikan apa yg ia dengar dari Maria.
"Prof.. Kita harus bicara." ucap Arne.
"Baiklah ayo kesana, disana sepi." ucap Anderson.
"Cie.. Mau mojok ya.." goda Nino.
"Nino, kau mau aku siksa?" tanya Anderson.
"Ampun prof.." ucap Nino lalu kabur.
"Hhh.. Ada-ada saja, ini semua karena mulutmu itu prof." ucap Arne.
"Ck.. Aku tahu aku yg salah, sudah berhenti menyalahkanku." ucap Anderson.
__ADS_1
"Jadi ada apa?" tanya Anderson.
"Kemarin saat aku masih di resto, aku bertemu dengan Maria di toilet.." ucap Arne.
"Cukup, hentikan jika itu tentang dia." ucap Anderson.
"Aku merasa sedikit terancam karena dia begitu penasaran soal hubungan kita. Sebagai ibu tiri dia terlalu posesif padamu." ucap Arne.
"Jadi dia penasaran soal dirimu." ucap Anderson.
"Begitulah, semoga dia tak melabrakku tiba-tiba." ucap Arne.
"Dia takkan berani melakukan itu." ucap Anderson.
"Tapi bukannya tak mungkin kan?" tanya Arne.
"Ayahku akan menjaganya dengan ketat, apalagi jika berhubungan denganku." ucap Anderson.
"Aku heran pada kalian, ayah dan anak kenapa harus menyukai wanita yg sama." ucap Arne bingung.
"Kau tenang saja, tapi tetap katakan jika terjadi sesuatu." ucap Anderson.
"Tentu saja, apalagi kau terang-terangan begitu padanya." ucap Arne.
"Lagipula aku sudah bertekad melupakan wanita itu." ucap Anderson.
"Itu bagus, jangan membuatku malu sebagai juniormu.. Masa menyukai ibu tiri sendiri." ucap Arne.
"Ckk.. Kau ini lama-lama suka sekali mengejekku ya.." ucap Anderson.
"Hehe.. Soalnya seru.. " balas Arne.
"Yasudah, kembali bekerja jangan sampai membuat kesalahan." ucap Anderson.
"Oke." balas Arne kembali masuk ke dalam.
Lalu Anderson pun dihampiri oleh Tony.
"Anderson kau punya waktu??" tanya Tony.
"Tentu tuan, ada apa?" tanya Anderson.
"Apa kau benar-benar menyukai Arne?" tanya Tony.
"Hhh.. Kenapa kau tak suka aku bersamanya?" tanya Anderson.
"Aku hanya ingin tahu, jika kau tak serius padanya maka aku yg akan merebutnya.." ucap Tony.
"Aku belum memutuskannya.. " ucap Anderson.
"Baiklah, katakan jika kau ingin melepaskannya maka aku dengan senang hati akan menerimanya." ucap Tony lalu pergi.
__ADS_1
"Ck.. Dia mengancamku." gumam Anderson tersenyum.
Anderson pun masuk ke dalam dan kembali bekerja. Meski dirinya masih mengingat dengan jelas ucapan Tony. Dan pria itu nampaknya menyukai Arne, meski Anderson tak sepenuhnya mempercayainya. Bisa saja pria itu mempermainkan Arne. Untuk itu Anderson akan terus waspada padanya dan mengawasi Arne.