Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.165 : Pendekatan


__ADS_3

Kenzi pun menunggu sampai sahabatnya bisa dijenguk, dan begitu juga dengan Axel yg senantiasa standby ada disana. Keluarga Arne dan Anderson pun juga sudah menunggu-nunggu ingin berjumpa dengan Arne dan kedua bayinya.


Ketika bayinya sudah boleh dijenguk, semuanya pun bergantian datang dan melihatnya di ruangan bayi.


"Wah lucunya." ucap kenzi saat Jeny menggendongnya salah satunya.


"Iya.. Bayi-bayi ini sangat lucu." ucap Jeny.


Dan Anderson menggendong yg satunya lagi.


"Kau beruntung Anderson, langsung dapat dua sekaligus." ucap Sammy.


"Ya.. Aku hebat kan?" balas Anderson.


"Ya lumayan." balas Sammy.


"Ck.. Kau itu niat memuji tidak sih." balas Anderson.


Sementara Kenzi dan Jeny pun tertawa mendengar keduanya kerap beradu argumen. Dan Kenzi sangat senang melihat kedua bayi itu tampak sehat. Dirinya lalu mengunjungi Arne yg sedang dalam masa istirahatnya.


"Selamat ya Arne, kedua bayimu sehat." ucap Kenzi.


"Terimakasih Kenzi." ucap Arne.


Lalu datanglah Nino menjenguk Arne.


"Permisi Arne." ucap Nino.


"Oh Nino, masuklah." ucap Arne.


"Selamat ya Arne, maaf aku tak membawa apapun." ucap Nino.


"Ya tak masalah, kau sendiri bagaimana dengan Susi.?" tanya Arne.


"Dia sudah melahirkan beberapa minggu lalu." ucap Nino.


"Selamat ya Nino, maaf aku tak menjenguk bayimu." ucap Arne.


"Maaf aku juga takkan mungkin menjenguknya demi kenyamanan." ucap Kenzi.


"Ya tak masalah." ucap Nino hanya tersenyum.


"Sepertinya aku harus kembali, Arne kau harus banyak istirahat agar cepat pulih." ucap Nino.


"Iya, terimakasih Nino." ucap Arne.


Nino pun pergi dari ruangan Arne, dan ucapan selamat dari teman-temannya justru membuatnya terluka mengingat kalau bayi itu bukan anak kandungnya.


"Selamat apanya, aku bahkan bukan ayahnya." gumam Nino dalam hati.


Bahkan tanpa sadar Nino meneteskan air mata, iri melihat kebahagiaan Arne yg melahirkan kedua anaknya sementara dirinya ditipu habis-habisan oleh istrinya.


Lalu Axel pun menatapnya tajam saat Nini keluar.


"Pastikan istrimu tidak mengganggu Kenzi lagi." ancam Axel.


"Ya.. Aku mengerti." ucap Nino.


"Tapi kenapa kau semarah ini? Kau siapanya Kenzi?" tanya Nino.


"Aku hanya simpati pada wanita yg mencoba menerima nasib pernikahannya tapi malah dicurangi oleh pria bodoh sepertimu." ucap Axel.


"Kau menyukainya?" tanya Nino.


"Bukan urusanmu, bukankah kau sibuk? Kembalilah bekerja." ucap Axel.


"Ck.. Baguslah jika tidak menyukainya." balas Nino.


Axel pun mengepal geram pada Nino, entah kenapa ucapannya membuatnya kesal. Dalam hatinya Axel tak terima saat Nino bilang dirinya tak menyukai Kenzi. Lalu dirinya mulai berpikir apakah dirinya menyukai Kenzi??


"Kurasa ini hanya perasaan simpati saja." gumam Axel dalam hati.


Sementara itu, Kenzi pun keluar dari ruangan Arne dan tampak ingin pulang.


"Aku duluan ya.. " ucap Kenzi.


"Kau mau kemana?" tanya Axel.


"Mau kemana lagi kalau tidak pulang, nanti malam aku ada pekerjaan." ucap Kenzi.


"Baiklah, hati-hati di jalan." ucap Axel.

__ADS_1


"Ya .. Jaga sahabatku dengan baik, kabari jika butuh sesuatu." ucap Kenzi.


"Ya." balas Axel.


Kenzi pun pulang ke apartemennya naik taksi, tapi dirinya berpapasan dengan Nino.


"Kenzi, kau sudah mau pulang?" tanya Nino.


"Iya, begitulah nanti malam aku harus bekerja." ucap Kenzi.


"Sampai jumpa." ucap Nino.


"Iya." ucap Kenzi.


"Tapi, aku mau bertanya padamu." ucap Nino.


"Soal apa?" tanya Kenzi.


"Apa kau menyukai pengawal Arne?" tanya Nino.


"Hubungannya denganmu? Bukankah kau sudah bahagia, jadi tak perlu memikirkan aku. Aku saat ini baik-baik saja." balas Kenzi.


"Aku akan berpisah dengan Susi." ucap Nino membuat Kenzi terdiam sejenak.


"Ya.. Apapun masalahmu itu urusanmu dan kuharap kau baik-baik saja." ucap Kenzi lalu pergi meninggalkan Nino.


Nino pun mendengar respons Kenzi yg sangat santai walau dirinya sedikit terkejut. Bukan tanpa alasan, tapi Nino yakin Kenzi tak mau dilibatkan dalam perceraian keduanya. Dan Kenzi tak penasaran sedikitpun soal perceraian keduanya.


....


Sementara Arne dan Anderson tengah berbahagia, dan Arne kini bisa menggendong salah satu bayinya. Keduanya melihat kedua bayi mungil itu tertidur saat digendong Arne dan Anderson.


"Mereka bayi yg sangat tenang." ucap Anderson.


"Sepertinya begitu." ucap Arne.


"Kedua kakek heboh sekali sampai mereka diusir dari ruangan bayi." ucap Anderson.


"Mereka selalu bersikap kekanakan." ucap Arne tertawa kecil.


"Benar, kadang aku lupa kalau mereka sudah punya dua cicit." ucap Anderson.


"Kedua orangtuaku juga senang atas kelahiran anak ini.. Tapi.." ucap Arne.


"Siapa namanya..? kau sudah memikirkannya." ucap Arne.


"Sudah.." ucap Anderson.


"Siapa namanya.. Kenapa tak memberitahuku." ucap Arne.


"Alan dan Alena." ucap Anderson.


"Wah, bagus juga namanya." ucap Arne.


"Alan, kau jangan nakal ya.." ucap Anderson.


"Alena, kau sangat cantik." ucap Arne.


"Aku akan menyiapkan pengasuh dan ART baru untuk membantumu.. Kau tidak keberatan kan?" tanya Anderson.


"Ingat jangan pakai anak muda lagi aku trauma." ucap Arne.


"Kali ini ibu-ibu.. Dan mereka semua sudah menikah." ucap Anderson.


"Bagus.. Aku lelah jika mereka membuat masalah." ucap Arne.


Begitulah Anderson mengatur segalanya di rumah untuk menyambut Arne dan bayinya. Serta mempersiapkan pengasuh untuk merawat kedua bayinya karena Arne dalam masa pemulihan pasca operasi. Pastinya berat jika harus mengurus kedua bayinya.


....


Sementara itu esok paginya, Kenzi pulang dari rumah sakit dalam keadaan mengantuk. Lalu dirinya bertemu dengan Axel di depan unit apartemennya.


"Ada apa?" tanya Kenzi.


"Kau baru pulang?" tanya Axel.


"Tentu saja." balas Kenzi sambil menguap.


"Bukankah berbahaya menyetir dalam kondisi ini.?" tanya Axel.


"Aku sudah terbiasa." ucap Kenzi.

__ADS_1


"Ck.. Jangan sepelekan nyawamu." ucap Axel.


"Baiklah aku mengerti." ucap Kenzi.


"Naik taksi saja, jangan mengemudi." ucap Axel.


"Baik." ucap Kenzi.


"Ini.. Sarapan untukmu." ucap Axel memberinya sesuatu dalam sebuah tas.


"Roti? Kau perhatian sekali, ada apa? Kau butuh bantuanku?" tanya Kenzi curiga.


"Saat orang membantumu, kau harusnya berterimakasih." ucap Axel.


"Terimakasih Axel.. Jika butuh sesuatu katakan saja jangan pakai basa-basi." ucap Kenzi.


"Ck.. Masuk dan istirahatlah, aku memang butuh bantuanmu." ucap Axel.


"Baiklah, nanti aku akan membantumu." ucap Kenzi.


Kenzi pun masuk ke unit apartemennya, dan dirinya menatap pada roti yg diberikan oleh Axel.


"Roti ya? Apa ini salah satu bentuk perhatian? Atau dia memang butuh bantuanku?" gumamnya.


Kenzi pun memakan sebuah roti, lalu memilih tidur. Dan pada jam 12 siang, dirinya terbangun karena ada sebuah panggilan dari Axel.


"Ada apa?" tanya Kenzi setengah sadar.


"Buka pintunya." ucap Axel.


"Ada-ada saja, aku masih ngantuk." ucap Kenzi.


"Cepat buka atau aku dobrak." ucap Axel.


"Kasar sekali, tunggu sebentar." ucap Kenzi.


Kenzi pun mencuci mukanya agar sadar dan membuka pintunya.


"Ada apa Axel? Kau tahu kan aku mengantuk." tanya Kenzi.


"Ayo makan siang bersama." ucapnya membawakan beberapa porsi makanan.


"Apa aku tak salah dengar?" tanya Kenzi.


"Tidak, telingamu masih bagus." ucap Axel.


Mau tak mau Kenzi pun membiarkan Axel masuk rumahnya. Dan anehnya pria itu malah membawakannya makanan lagi. Setelah tadi pagi roti, sekarang Axel membawakan makan siang dan membuat Kenzi curiga.


"Terimakasih makanannya." ucap Kenzi lalu keduanya makan bersama.


"Ya.. Karena aku bosan makan sendirian." ucap Axel.


"Ya.. Makanlah." ucap Kenzi.


Keduanya pun menikmati makan siang, dan setelah makan, Kenzi pun semakin penasaran pada pria dihadapannya.


"Kau butuh bantuan apa?" tanya Kenzi.


"Temani aku datang pada acara pernikahan sepupuku." ucap Axel.


"Baiklah, kapan itu?" tanya Kenzi.


"Minggu depan, apa jadwalmu tak masalah?" tanya Axel.


"Sepertinya bisa.. Baiklah aku akan menemanimu." ucap Kenzi.


"Terimakasih." ucap Axel.


"Tapi kau tak harus sampai seperhatian ini.. Jika aku wanita lain pasti akan langsung salah paham." ucap Kenzi.


"Salah paham?"


"Iya, perhatian yg kau berikan seperti bukti kalau kau sedang mendekati seorang wanita." ucap Kenzi.


"Baguslah kalau kau menyadarinya." ucap Axel.


"Menyadari apa?" tanya Kenzi.


"Jangan dipikirkan. Pokoknya kau harus membantuku." ucap Axel.


"Ya.. Aku akan membantumu." ucap Kenzi.

__ADS_1


Axel pun senang Kenzi mau membantunya, dan ini juga adalah bagian dari rencananya mendekati Kenzi. Dirinya sedikit resah saat mendengar pembicaraan Kenzi dengan Nino hari itu, dimana Nino akan bercerai dengan istrinya tanpa sebab yg belum diketahui. Keresahan itulah yg membuatnya menyadari kalau dirinya menyukai Kenzi.


__ADS_2