Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.86 Hasil


__ADS_3

Anderson akhirnya dihubungi oleh kenalannya yg memeriksa jarum suntik temuan Arne. Dan tentu saja Anderson segera kesana untuk mengetahui apa yg sebenarnya terjadi. Anderson pun kesana seorang diri dan tak ingin melibatkan Arne.


Saat tiba disana, Anderson pun langsung menghampiri kenalannya. Dan dirinya terkejut mengenai hasil pemeriksaan barang tersebut.


"Jadi apa itu sebenarnya?" tanya Anderson.


"Kau dapat ini dari mana?" balas Rudi kenalannya.


"Temanku yg menemukannya. Yang aku takutkan ini adalah bekas barang.. yah kau tahu kan maksudku." ucap Anderson.


"Memang benar, didalamnya ada kandungannya.. Tapi ini termasuk jenis obat."


"Obat? Kira-kira untuk penyakit apa?" tanya Anderson.


"Biasanya yg mengalami penyakit tertentu, seperti kesulitan mengontrol emosinya." ucap Rudi.


"Jadi begitu.. aku pernah mendengarnya, tapi tak tahu kalau obatnya semacam ini. Jadi fungsinya seperti obat penenang." ucap Anderson.


"Benar, dan pemiliknya bukan orang harus kalian khawatirkan." ucap Rudi.


"Terimakasih Rudi informasinya." ucap Anderson.


"Ya sama-sama, senang bisa membantumu." ucap Rudi.


Kemudian, Anderson pun pergi dari lab Rudi. Hari ini kebetulan adalah jadwal kencannya dengan Arne. Dan Anderson harus segera menjemputnya. Dalam perjalanan, Anderson pun memikirkan penyakit yg kira-kira diderita Tony hingga selama ini dirinya menyembunyikan diri.


Dan semuanya jadi masuk akal, alasan mengapa Tony sangat misterius dan bahkan sulit dicari informasi tentangnya. Kini Anderson paham situasinya dan hal ini adalah kelemahan Tony yg dapat digunakan jika berani macam-macam pada Arne saat dirinya tak ada. Siapa yg menyangka keisengan Arne akan membuat peluang bagi dirinya untuk melindungi diri.


"Ternyata dia lebih menyedihkan dari yg kuduga." gumam Anderson dalam hati.


Tibalah di apartemen Arne dan Anderson menjemputnya seperti biasanya. Arne pun berpamitan pada Jeny lalu pergi bersamanya. Mereka pun menuju ke resto yg telah ditentukan. Setelah tiba di tempat, Anderson pun meminta Arne memesan makanan terlebih dahulu. Lalu Anderson menyampaikan sesuatu mengenai hasil temuannya.


"Arne, hasilnya sudah keluar." ucap Anderson.


"Bagus, lalu hasilnya apakah seperti yg kita perkirakan?" tanya Arne.


"Kau baca saja ini dulu." ucap Anderson memberikan secarik kertas pada Arne.


"Baiklah." ucap Arne.


Arne pun membaca dengan seksama, dan dirinya mengerutkan dahinya dengan penjelasan tersebut.


"Jadi dia sakit..?" tanya Arne.


"Begitulah, dan itu memang harus durahasiakan." ucap Anderson.


"Aku juga tidak sejahat itu.." ucap Arne.


"Penyakitnya sepertinya membutuhkan dosis tertentu sebagai penenang, dan di dalamnya memang ada sedikit kandungan bahan tersebut. Obat ini pasti diresepkan dokter tak mungkin dijual bebas." ucap Anderson.


"Baiklah aku mengerti." ucap Arne.


"Aku dan kakekmu sudah menekannya, kurasa akan sulit baginya jika mengganggumu lagi. Jadi gunakan alasan ini saat benar-benar terdesak." ucap Anderson.


"Baiklah prof." ucap Arne.


"Dan kita tak tahu emosinya akan semeledak apa, kuharap kau berhati-hati padanya." ucap Anderson.


"Iya, aku tahu." ucap Arne.


"Mengenai keputusanmu aku takkan membantahnya, sekalipun aku ditolak." ucap Anderson langsung to the point.


"Aku bahkan tak tahu harus bicara apa." balas Arne.


"Kau belum memutuskannya?" tanya Anderson.


"Belum, aku masih belum menentukan." ucap Arne.

__ADS_1


"Kau yakin? Karena setelah ini aku akan pergi selama 3 bulan." ucap Anderson.


"Ya aku belum bisa mengatakan apapun." ucap Arne.


Anderson pun menarik nafas, dipikirannya hari ini segalanya akan usai tetapi ternyata belum.


"Kenapa? Kau kecewa?" tanya Arne.


"Ya.. Lakukan saja sesukamu." ucap Anderson.


Tak berapa lama, pelayan pun datang mengantarkan makan malam mereka. Dan Arne pun senang bisa makan makanan dari berbagai negara. Kegiatan memfoto makanan pun masih jadi agendanya.


Mereka pun makan dengan tenang, dan saat mencapai hidangan terakhir ponsel Arne berdering.


"Ck, siapa malam-malam menelponku.." gumamnya.


Arne pun mengangkatnya dihadapan Anderson.


"Ada apa pa?" ucap Arne di telepon.


"Kau dimana?" tanya Richard.


"Di resto Xx, aku sedang kencan.." ucap Arne blak-blakan.


"Cepat ke rumah papa, ini penting." ucap Richard.


"Penting? sepenting apa? Apa papa sakit?" tanya Arne.


"Papa baik-baik saja nak, pulanglah dulu." ucap Richard.


Lalu Arne mendengar teriakan Aini di ponselnya.


"Papa.. Suruh ja**ng itu kesini..!! Dia sudah menghancurkan rumah tanggaku.." teriak Aini.


"Aini..! Jaga bicaramu.!" balas Richard tegas.


"Sudah diam dulu..!" bentak Richard.


"Maaf Arne, situasi papa sedang tak kondusif, kau tahu kan Martha masih di tahanan." ucap Richard.


"Ya.. Aku akan datang satu jam lagi." balas Arne lalu mematikan teleponnya.


"Ck.. Mengganggu saja." gerutu Arne.


"Ada apa dengan Richard?" tanya Anderson.


"Lagi-lagi putri kesayangannya bermasalah, nampaknya Aini sudah tahu soal orang ketiga itu." ucap Arne.


"Kita punya bukti kuatnya kan?" tanya Anderson.


"Tentu saja, enak saja mau menuduhku." ucap Arne.


"Ayo kita kesana." ajak Anderson.


"No.. Aku ingin makan pencuci mulut dulu.." ucap Arne.


"Ya baiklah." balas Anderson mengalah.


Setelah mereka selesai, Anderson pun mengantar Arne ke rumah Richard. Dan Anderson takkan membiarkan Arne terus dituduh yg tidak-tidak. Belum lagi jika Arne diserang oleh Aini, pastilah Richard takkan membelanya.


Sepanjang jalan, Arne pun menyiapkan bahan-bahan untuk melawan argumen Aini dan Richard. Dirinya tak mau ikut disalahkan, apalagi kini dirinya membawa Anderson sebagai bukti kalau mereka benar berhubungan dan tak ada hubungannya dengan Boy dan Aini.


"Prof, maaf untuk kejadian yg mungkin akan kau dengar habis ini." ucap Arne.


"Kalau begitu, berhentilah memanggilku prof diluar rumah sakit." ucap Anderson.


"Baiklah Anderson." ucap Arne tersenyum.

__ADS_1


Saat tiba, Arne pun turun bersama Anderson. Beberapa pelayan pun menunggu diluar sambil ketakutan.


"Nona.."


"Ada apa? Kalian kenapa? seperti melihat hantu saja." tanya Arne.


"Arne lihat ada yg terluka." ucap Anderson mendekat dan memeriksa lukanya.


"Siapa yg melakukan ini?" tanya Arne tegas.


"Nona Aini." balas mereka.


"Cih, memangnya kalian ini budaknya bisa seenaknya begini.. Kalau kalian mau kalian laporkan saja tindakannya atau berhenti bekerja disini." ucap Arne kesal.


"Tapi nona." ucapnya.


"Sudah ambil kotak obat." ucap Arne.


"Apa yg terjadi pada luka ini?" tanya Arne.


"Dia terkena lemparan vas bunga nona." ucap yg lain.


"Jadi Aini melampiaskan semuanya pada barang dan kalian.. Dia sudah tidak waras." ucap Arne.


"Apa kalian ada yg terluka lagi?" tanya Anderson.


Mereka semua pun terdiam, dan Arne mengecek tangan mereka yg ternyata ada luka lebam disana. Dan pelakunya adalah Aini, yg melampiaskan segalanya pada mereka.


"Kalian pergilah ke kantor polisi ini sudah tidak benar." ucap Arne.


"Itu benar, pekerjaan bukan hanya disini ada banyak pekerjaan di dunia ini." ucap Anderson.


Mereka pun tetap terdiam dan tak berani menyahut.


"Mereka pasti sudah diancam.." bisik Arne.


"Begitu rupanya." balas Anderson.


Arne pun memasuki rumah ayahnya dan melihat rumah tersebut berantakan. Dan disana terlihat Richard sedang duduk termenung dengan semua barang yg berantakan tersebut.


"Papa.. Ada apa?" tanya Arne.


"Arne.. Dan Anderson." ucap Richard.


"Karena kondisinya tak memungkinkan untuk keselamatan Arne jika dirinya masuk sendirian." ucap Anderson dengan melihat semua yg berantakan.


"Jadi, ini masalah Aini.. " ucap Richard.


"Aku tahu, Boy selingkuh darinya bukan?" tanya Arne.


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Richard.


"Kalau Boy bisa selingkuh dariku karena kesibukanku dulu, pastinya dia akan melakukan itu lagi jika Aini memiliki kekurangan." ucap Arne.


"Kami melihatnya makan malam dengan seorang wanita dan mereka tampak mesra." ucap Anderson.


"Kau juga tahu." ucap Richard.


"Karena saat itu kami sedang kencan, seperti malam ini yg harus terganggu oleh tingkah Aini." ucap Arne.


Tak berapa lama, Aini pun keluar kamar dan dengan tampang menyeramkan dirinya menuruni tangga hendak menghampiri Arne.


"Kau tampak menyeramkan.. Aku punya sesuatu untukmu." ucap Arne kemudian mengirimkan foto-foto makan malam Boy dengan wanita lain.


"Diam kau ja**ang..!" ucap Aini.


"Lihat saja dulu, itu cukup menarik." ucap Arne.

__ADS_1


__ADS_2