
Akhirnya, hari yg ditunggu Arne pun telah tiba dimana dirinya bisa kembali ke resto tempatnya memperoleh kupon voucher makan disana. Arne pun senang bukan main, meski harus kesana dengan Anderson. Bukannya tak suka, tapi pria itu mulai cerewet belakangan ini.
"Akhirnya, aku bisa kesana juga." gumam Arne.
"Hayo mau kemana?" tanya Kenzi.
"Ke KUA daftar nikah." jawab Arne.
"Arne, kau serius??" tanya Kenzi.
"Hahaha.. Tentu saja tidak, tidur saja masih kurang mau sibuk mikirin nikah. Mana sempat." ucap Arne tertawa.
"Itu tidak lucu, cepat katakan kau mau kemana?" tanya Kenzi.
"Aku akan pergi ke resto Xx.. Kebetulan aku dapat voucher makan disana." ucap Arne.
"Kau tidak mengajakku? Apa aku bukan temanmu lagi??" tanya Kenzi.
"Masalahnya aku mendaparkan voucher itu bersama prof Anderson saat kencan terakhir. Maaf ya Kenzi." ucap Arne lesu.
"Sepertinya hubungan kalian membaik.. sudah soal itu aku hanya bercanda." ucap Kenzi.
"Ya.. Begitulah, tiba-tiba semuanya membaik." ucap Arne.
"Apa kau berubah pikiran?" tanya Kenzi.
"Tidak, aku masih ragu soal pernikahan. Apalagi dia juga tak menginginkannya." ucap Arne.
"Oh begitu, yasudah tapi kau nanti jangan menyesal ya." ucap Kenzi.
"Tidak akan." balas Arne.
Sementara Anderson menguping di balik pintu dengan perasaan yg tak menentu. Jawaban Arne tadi membuatnya gelisah dan menyesali kata-katanya dahulu yg tak ingin menikah dengan Arne. Bahkan Anderson terang-terangan membahas soal masalalunya bersama Maria dan tak bisa menerima siapapun.
Anderson pun memilih pergi dari sana dan hanya mengirimkan pesan pada residen lainnya untuk perintah selanjutnya. Dan Anderson pun duduk di taman yg sepi untuk menenangkan pikirannya.
"Penyesalan memang munculnya di belakang." gumam Anderson dalam hati.
Sementara itu, Tony pun mengirim pesan pada Arne untuk mengajaknya bertemu di taman. Tony pun berpikir akan lebih baik kalau dirinya memberikan tas tersebut langsung pada Arne. Tapi sayangnya ponsel Arne kehabisan batterai dan sedang di charge.
Hingga Tony pun menunggu cukup lama di taman tanpa kehadiran Arne disana. Anderson pun melihatnya sendirian dengan memegang paperbag. Anderson pun tahu pasti Tony sedang menunggu Arne.
"Apa kau sedang menunggunya tuan?" tanya Anderson.
"Kalau iya, apa urusannya denganmu?" balas Tony.
"Tentu saja ada, karena Arne sedang menyiapkan operasi pasienku.. Dia harus fokus agar tak terjadi kesalahan." ucap Anderson tersenyum lalu pergi meninggalkan Tony.
"Ck.. sial." umpat Tony.
Anderson pun tersenyum karena memang Arne sedang ia tugaskan untuk menyiapkan persiapan operasi pasiennya. Dan hal itu mampu mencegah Tony menemui Arne, Anderson merasa sudah maju satu langkah dari Tony.
Setelah itu Anderson pergi ke ruang operasi untuk melakukan tugasnya karena Arne dan yg lainnya sudah selesai persiapannya. Anderson pun masuk ke ruangan operasi sambil tersenyum membuat juniornya dan perawat lainnya bingung. Bagaimana bisa seorang Anderson yg terkenal dingin dan tegas masuk ruang operasi sambil tersenyum???
Tapi semuanya tetap dijalani Anderson dengan baik tanpa adanya kesalahan sedikitpun. Dirinya pun sampai menyelesaikan operasinya lebih cepat. Semua orang pun lega sekaligus senang setelah operasinya berjalan lancar.
Setelah itu Anderson pun menghampiri Arne yg sedang beristirahat.
__ADS_1
"Arne.."
"Ada apa prof?" tanya Arne serius.
"Ini." ucap Anderson memberinya minuman.
"Terimakasih." balas Arne.
"Kau tidak lupa kan acara nanti malam?" tanya Anderson.
"Tentu saja, aku sudah menantinya ." ucap Arne.
"Bagus, setelah bekerja kita langsung kesana agar kau tak pulang terlalu malam." ucap Anderson.
"Baiklah." ucap Arne yg lelah.
Arne pun masih tak melihat ponselnya sampai pulang kerja. Dan pastinya pesan dari Tony tak ia baca sama sekali. Tony pun merasa kecewa akan hal itu, tapi tak mau menyerah. Dirinya mengikuti rencana Boby dari awal untuk menaruhnya saja di meja Arne.
Tapi sampai Arne pulang pun, Arne tak tahu kalau ada hadiah di mejanya. Arne hanya mengambil tasnya lalu pergi karena Anderson sudah menunggunya.
Kali ini Anderson lagi dan lagi memintanya naik mobilnya saja dan tak usah mengemudi. Arne pun menurutinya karena memang dirinya lelah mengemudi. Mereka pun langsung pergi ke resto tersebut sepulang bekerja. Dan Tony yg hendak pulang melihat Arne dan Anderson jalan bersama, sontak membuatnya semakin pesimis.
"Sepertinya nasibku memang tak beruntung." gumam Tony dalam hati.
"Anda baik-baik saja tuan?" tanya Boby.
"Iya, aku baik-baik saja Bob." balas Tony.
.
.
"Ayo kita duduk disana." ucap Anderson sambil menunjuk suatu meja.
"Bukankah meja itu sudah direservasi?" tanya Arne.
"Iya aku yg mereservasinya." ucap Anderson.
"Bukankah kita akan menggunakan voucher makan hadiah itu?" tanya Arne.
"Kenapa ada masalah?" tanya Anderson.
"Ti-tidak prof." ucap Arne.
"Bisakah kau kalau diluar rumah sakit jangan panggil aku profesor?" tanya Anderson.
"Lalu aku harus panggil apa? Mas, Bang, Uda, atau Oppa?" tanya Arne.
"Panggil namaku saja, apa susahnya sih?" balas Anderson.
"Oke. Ann." ucap Arne.
"Singkat sekali." protes Anderson.
"Baiklah Anderson." ucap Arne tersenyum.
Senyum Arne yg mampu membuat Anderson terdiam sesaat. Sementara Arne langsung meraih buku menu dan memilih makanannya. Tak berapa lama, makanan pesanannya pun datang dan Arne pun terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
"Apakah kau sesenang itu melihat makanan ini?" tanya Anderson.
"Tentu saja, ini bagaikan hiburan untukku." ucap Arne.
"Padahal kau bisa pergi kapan saja kemari." ucap Anderson.
"Tapi makan sendirian itu tak enak." ucap Arne sibuk memfoto makanannya.
"Yasudah, silahkan dinikmati." ucap Anderson.
Mereka pun makan malam di resto tersebut dengan leluasa. Apalagi Arne sudah biasa makan malam bersama Anderson dan sudah terbiasa juga mendengar ocehannya.
Dan setelah makan malam, Anderson pun mengambil kesempatan untuk memberikan Arne kalung yg sudah ia beli tempo hari.
"Arne, aku punya sesuatu." ucap Anderson.
"Lalu?" balas Arne tak mengerti.
"Ini." ucap Anderson sambil memberikan kotak yg berisi kalung tersebut.
Arne pun membukanya dan melihat kalung yg ia pilihkan tempo hari.
"Bagus, lalu akan diberikan untuk siapa?" tanya Arne masih belum paham situasinya.
"Untukmu." ucap Anderson malu-malu.
"Ha.." ucap Arne tak percaya.
"Iya itu untukmu.. " ucap Anderson singkat menahan rasa gugupnya.
"Ini sungguh untukku?? Tapi kenapa?" tanya Arne tak mengerti.
"Pokoknya untukmu." ucap Anderson.
"Kukira ini untuk Maria." ucap Arne.
"Kau tak suka? Sini kembalikan." ucap Anderson.
"Hehe.. Suka kok, terimakasih prof, eh.. Anderson." ucap Arne tersenyum.
"Biar aku bantu pakaikan." ucap Anderson.
"O-oke." balas Arne gugup tiba-tiba Anderson menawarkan diri memakaikan kalung tersebut.
Setelah itu, Arne menatap kalung cantik tersebut.
"Prof, ini dalam rangka apa? Aku tak sedang berulangtahun lho saat ini." ucap Arne.
"Bukti kesungguhan." ucap Anderson.
"Kesungguhan?" tanya Arne.
"Iya.. Aku takkan mundur dari perjodohan kita." ucap Anderson.
"Eeeehh.. " ucap Arne terkejut.
Begitulah Anderson yg kaku mengutarakan isi hatinya dengan kata-kata yg ambigu. Hingga Arne kesulitan mencerna kata-katanya yg berkebalikan dengan kebiasaannya.
__ADS_1