
Akhirnya tiba waktunya mereka membahas pertunangan Arne dan Anderson. Mereka pun sepakat untuk mengadakannya bulan depan. Dan pastinya keduanya harus mengajukan cuti minimal 1 hari. Dan semuanya akan diatur oleh kedua kakek tersebut.
"Untuk acaranya biar kami yg mengaturnya." ucap Jakson.
"Benar, kalian tinggal menjalaninya saja." ucap Romeo.
"Dan Anderson jangan lupakan cincin yg indah untuk Arne." ucap Romeo.
"Kau jangan khawatirkan itu pak tua.. " ucap Anderson.
"Kau memang sombong seperti biasanya." ucap Romeo.
"Lalu, pada pernikahan nanti.. Aku yg akan mengurus semuanya.. kalian jangan ada yg terlibat, itu pernikahan sekali seumur hidupku." ucap Anderson.
"Oh kau mulai bersikap dewasa rupanya." ucap Romeo.
"Romeo, bagaimana jika kita berikan mereka kesempatan untuk mengaturnya." ucap Jakson.
"Kau yakin?" tanya Romeo.
"Mereka punya selera masing-masing, aku percaya pada Arne cucuku." ucap Jakson.
"Baiklah." ucap Romeo.
"Tapi jangan jadi acara yg kaku dan membosankan ya.." ucap Romeo pada Anderson.
"Cih, memangnya aku ini tak tahu tren masa kini." ucap Anderson dengan entengnya.
"Sudahlah, kalau begitu.. Kita setuju kalau para kakek mengurus pertunangan sementara pernikahan akan kami urus sendiri." ucap Arne menengahi.
"Lagipula pernikahan kami masih sangat lama. Hihihi.." gumam Arne dalam hati.
Arne pun berpikir kalau pernikahan mereka masih lama, dan pastinya persiapannya akan cukup sembari dirinya selesai menjadi dokter residen. Arne pun paham menyiapkan pernikahan tidaklah mudah, dan pastinya memakan banyak waktu dan biaya yg tidak sedikit.
"Baiklah, kami menerima setiap keputusan kalian." ucap Jeny.
"Bagus, ayo Romeo kita buktikan pada dua anak muda ini selera kita." ucap Jakson.
"Tentu saja mereka akan terkejut melihat hasilnya." ucap Romeo.
"Baiklah kami serahkan urusan pertunangan pada kalian kek." ucap Arne.
"Awas kalau sampai acaranya norak.. Kami akan langsung pulang setelah acara utama." ucap Anderson.
"Kau mengancamku anak muda?" tanya Romeo.
"Kalau tidak diancam, biasanya akan aneh dan norak." ucap Anderson.
Begitulah cucu dan kakek sama saja, selain selalu berdebat sikap mereka cenderung mirip. Bedanya kalau Anderson dingin dan kaku, sementara Romeo cenderung lebih gila dan atraktif.
Tapi semuanya berakhir dengan baik, dan keputusan bisa diambil dengan kepala dingin. Hampir tak ada perdebatan serius dalam pembicaraan. Semuanya terselesaikan dengan baik.
Arne dan Anderson hanya akan bekerja seperti biasanya. Mungkin mereka hanya akan membeli cincin dan menyiapkan pakaian saja. Tentunya kedua hal itu hanya bisa mereka selesaikan sendiri.
Jeny dan Sammy pun hanya menerima keputusan mereka tanpa membantah atau mengatur. Mereka hanya akan membantu dan menyokong sekuat tenaga demi kebahagiaan Arne dan Anderson.
__ADS_1
.
.
Hari demi hari pun berlalu, beberapa orang terdekat mereka pun sudah tahu soal pertunangan mereka. Dan tak jarang mereka menerima doa dan candaan dari orang terdekat.
Seperti Kenzi dan Nino yg selalu menggoda Arne. Padahal mereka sudah tahu itu hanyalah pertunangan dan pernikahan akan dilaksanakan beberapa tahun kemudian.
"Makin ceria aja nih Arne." goda Kenzi.
"Kenzi.. kau ini benar-benar." ucap Arne.
"Jangan lupakan kami ya.." ucap Nino.
"Ck.. Aku hanya bertunangan bukan berperang apalagi berpergian." ucap Arne.
"Arne kau jangan terlalu serius.." ucap Kenzi.
"Habisnya kalian menggodaku terus." ucap Arne.
"Kau terlalu tegang belakangan ini." ucap Nino.
"Benarkah? Aku merasa sangat gugup." ucap Arne.
"Itu normal, tapi anggap saja seperti tak terjadi apa-apa." ucap Nino.
"Bukankah kau sudah mendapatkan cincin dari profesor.?? Harusnya acara pertunangan ini hanya formalitas." ucap Kenzi.
"Kalian benar juga.. Aku harus tenang." ucap Arne.
"Oke.. Sepertinya ide yg bagus." ucap Arne.
Begitulah Kenzi membantu Arne untuk sedikit menenangkan diri dan merilekskan tubuhnya. Terlebih Arne habis melakukan fitting gaun, dan bobot tubuhnya harus stabil agar gaunnya muat.
"Aku hanya takut, kalau gaunnya tidak muat." ucap Arne.
"Ck, memangnya kau itu bisa naik berapa kilo sih.. Santai saja Arne, tubuhmu relatif stabil." ucap Kenzi.
"Benarkah?" tanya Arne.
"Ya.. Sudah tenang dan jangan pikirkan apapun.. Makan saja seperti biasanya dan olahraga." ucap Kenzi.
"Baiklah, terimakasih Kenzi sarannya." ucap Arne.
"Tentu sahabatku." ucap Kenzi.
.
.
Tak terasa hari pun terus berganti dan hari pertunangan pun telah tiba. Keduanya pun sedang bersiap untuk menghadapi pertunangan mereka dihadapan banyak orang. Terutama Anderson yg sangat gugup. Jika dihadapan Arne saja dia tak bisa berkata manis, bagaimana jika dihadapan banyak orang?? Anderson pun cemas akan melakukan kesalahan.
Hingga Sammy menasehatinya.
"Aku gugup.. Aku harus bicara apa nanti?" tanyanya.
__ADS_1
"Ck.. Tenanglah, anggap saja pertunanganmu itu di ruang operasi yg harus fokus." ucap Sammy.
"Dihadapan Arne saja aku tak bisa berkata-kata bagaimana di hadapan banyak orang??" tanya Anderson frustasi.
"Tenanglah, kau hanya butuh ketenangan. Aku akan mengurus teks yg akan kau baca nanti.. Pokoknya kau hanya tinggal menghafal atau membacanya." ucap Sammy.
"Kau memang senior yg aku banggakan." ucap Anderson.
"Ck.. Ya.. Tunggulah menantuku." ucap Sammy.
"Menantu?" ucap Anderson menyadari kalau Sammy juga nantinya akan menjadi calon ayah mertuanya.
"Sial.. Sammy sekarang calon ayah mertuaku.." umpat Anderson dalam hati.
.
Tak berapa lama, Sammy pun datang dengan secarik kertas berisi kata-kata yg akan ia ucapkan nanti. Anderson pun senang menerimanya dan hanya tinggal menghafalkannya saja. Itupun semoga dirinya tak gugup dan membuyarkan hafalannya.
Beberapa jam terakhir Anderson pun berlatih di depan cermin. Hingga Sammy tersenyum-senyum melihat wajah kakunya berusaha berkata manis.
"Ck.. Jangan mengejekku.." ucap Anderson.
"Baru pertunangan belum pernikahan, kau sudah sepanik ini." ucap Sammy.
"Memangnya kau tidak gugup.?" tanya Anderson.
"Gugup sih, tapi kau tahu kan aku orang yg selalu tenang jadi semuanya akan berjalan lancar." ucap Sammy menyombongkan diri.
"Cih.. Kau itu tukang pamer.!" umpat Anderson.
"Sudah hafalkan saja, jangan banyak bicara yg tidak-tidak." ucap Sammy.
Begitulah Anderson pun menghafalkannya di depan cermin. Meski Sammy tetap merasa lucu melihatnya berjam-jam. Hingga akhirnya acaranya pun dimulai dan Anderson diminta untuk keluar dari ruangan.
"Kau sudah siap?" tanya Sammy.
"Siap tak siap aku harus siap." ucap Anderson.
"Mana sikap sombongmu itu? Jangan bilang menciut karena takut." sindir Sammy.
"Ck.. lihat saja nanti.." ucap Anderson.
Arne pun sudah tiba diantarkan oleh Jeny dan Kenzi. Dan Anderson tiba bersama Sammy. Acara utama pun dimulai dan diakhiri dengan pemasangan cincin di jari manis masing-masing.
Semua orang pun bertepuk tangan meriah. Termasuk Boy dan orangtuanya yg ikur hadir dalam undangan. Meski tamunya terbatas tapi itu cukup untuk memeriahkan acara yg dibuat cukup mewah tersebut.
Acara pun berlangsung dengan lancar dan Anderson benar-benar menganggap pertunangan tersebut seperti berada di ruang operasi agar tetap fokus pada tujuannya. Sampai Arne pun tak percaya orang sekaku Anderson bisa mengatakan hal manis begitu tanpa membaca teksnya.
"Kau hebat, pasti kau sudah berlatih cukup lama." bisik Arne.
"Tidak juga, aku hanya berlatih sebelum kemari." balas Anderson.
"Tidak mungkin." ucap Arne tersenyum.
Dan acara pun berlangsung dengan tertib. Acara yg dibuat meriah dan mewah itupun sesuai dengan gaya Jakson dan selera Romeo yg menyukai musik klasik. Keduanya pun saling membanggakan selera masing-masing.
__ADS_1
Tak ketinggalan Arne dan Anderson pun mendapat banyak ucapan selamat dari teman, rekan bisnis dan orang terdekat mereka.