Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.94 Tua-tua Keladi


__ADS_3

Setelah kejadian bertemu dengan Richard di resto tersebut, Jeny pun masih tak menyangka kalau mantan suaminya sampai segila itu. Jeny hanya berharap kalau Arne tak tahu apa yg sudah diperbuat oleh Richard ayah kandungnya. Atau Richard selamanya akan dibenci oleh Arne. Dan hal itu akan semakin merusak hubungan keduanya.


Untuk itu, Jeny akan terus merahasiakannya dari Arne. Bahkan Jeny sampai berpikir apa Richard sudah kehilangan akal sehatnya sampai harus seperti ini. Wajar saja jika dirinya kesepian karena Martha di penjara, tapi haruskah sampai seperti ini??


Memikirkannya pun membuat Jeny tak ingin membayangkan lebih jauh. Kini dirinya juga masih harus memikirkan dirinya sendiri yg hidup bersama Arne. Disisi lain, Sammy ternyata masih mencintainya dan menunggunya selama 20 tahun lebih.


Apakah semuanya akan sama seperti dulu?? Lalu apa pendapat orang lain soal hubungan mereka?? Apakah Arne akan merasa malu jika tahu kalau atasannya berhubungan dengan ibunya?? Pertanyaan-pertanyaan itu pun muncul dan memenuhi pikiran Jeny.


"Apa yg harus kulakukan??" gumamnya.


Sambil bercermin, Jeny pun melihat dirinya yg sudah tak muda lagi. Apakah masih pantas dirinya jatuh cinta dan merasakan dicintai?? Segala pikiran negatif pun menghampirinya, membuatnya takut memulai sebuah hubungan.


Sementara Arne, dirinya setuju saja jika ibunya punya kekasih dan menikah lagi. Tapi Jeny takut Arne jadi jauh dengannya. Dan Arne sudah kehilangan sosok ayahnya, Jeny lebih takut lagi kalau Arne kehilangan sosoknya sebagai seorang ibu.


Jika dipikirkan lagi, Jeny menjadi seorang yg overthinking. Dan Jeny pun memutuskan untuk berhenti berpikir yg tidak-tidak. Menjalani kehidupan yg seperti biasa saja sudah cukup baginya.


.


.


Hari pun berlalu, dan Arne tetap tak tahu apapun soal Richard yg berhubungan dengan gadis muda. Dan Jeny tetap diam sampai Arne mengetahuinya sendiri. Tapi suatu hari, datanglah seorang wanita muda memeriksakan dirinya ke rumah sakit tempat Arne bekerja. Dirinya mengeluhkan sakit di perutnya, hingga dilakukan pemeriksaan menyeluruh.


Arne pun melihat hasil pemeriksaannya dengan seksama, dan Arne tak percaya dengan hasilnya. Seniornya pun menanyai pendapatnya soal wamita tersebut.


"Arne bagaimana?" tanya Vivi atasan Arne.


"Tidak mungkin, dia hamil prof, dan juga dia mengidap AI** " ucap Arne.


"Kau benar, kau memang pintar seperti kata Anderson. Coba panggil walinya, atau suaminya." ucap Vivi.


"Baik prof." ucap Arne.


Arne pun menemui wanita muda bernama Cindy.


"Nona, apa nona punya wali atau suami?" tanya Arne.


"Maaf dok, orangtuaku ada di kampung. Dan aku belum menikah." ucap Cindy.


"Oh begitu, silahkan masuk profesor sudah menunggu." ucap Arne.


Cindy pun masuk ke ruangan dan mendapat penjelasan dari Vivi soal kehamilannya dan penyakitnya. Cindy pun terkejut soal kehamilannya dan tak terkejut soal penyakitnya. Penyakit yang ia derita karena menjalani kehidupan kotor selama ini.


"Begitu ya dok." ucap Cindy.


"Aku sarankan anda pergi ke bagian spesialis kandungan, disana akan lebih jelas lagi. Dan pengobatan sejak dini agar bayinya tidak terinfeksi." ucap Vivi.


"Baiklah dok, akan saya pertimbangkan lagi." ucap Cindy.


"Pertimbangkan? Itu berbahaya nona." ucap Vivi.


"Ya, tapi keadaanku saat ini belum menikah dan aku tak tahu harus berbuat apa pada anak ini." ucap Cindy.

__ADS_1


"Baiklah, aku juga tidak berani memberimu obat sembarangan sebelum berkonsultasi dengan spesialis kandungan.. Kau harus menjaga kesehatanmu dan segera memeriksakan diri lebih lanjut." ucap Vivi.


"Baik dok, terimakasih." ucap Cindy.


Cindy pun keluar dari ruangan tersebut. Langkahnya terasa sangat berat karena jalan hidup yg telah ia pilih. Rasanya hidupnya tak pernah beruntung selama ini. Dan lagi kekasihnya hanyalah om-om beristri yg mustahil akan menikahinya. Dirinya menjalin hubungan dengan pria itu karena uang saja.


Arne pun beristirahat setelah itu, dirinya berjalan di sekitar taman dan menemukan pasien bernama Cindy tadi.


"Anda masih disini rupanya." ucap Arne.


"Dokter." ucap Cindy menghapus air matanya.


"Kau pasti tidak baik-baik saja." ucap Arne lalu memberinya tisu.


"Terimakasih dok." ucap Cindy.


"Maaf jika aku lancang, tapi apa ayah dari janin itu tidak mau bertanggungjawab?" tanya Arne.


"Kurasa sulit baginya bertanggungjawab.." ucap Cindy.


"Begitu ya.. Tapi mengenai kesehatanmu, itu juga buruk nona." ucap Arne.


"Benarkah? Ya biarlah, aku memang sudah salah mengambil jalan." ucap Cindy.


"Belum terlambat jika kau ingin kembali ke jalan yg benar." ucap Arne.


"Begitukah? Tapi sulit bagiku." ucap Cindy.


"Terimakasih dok." ucap Cindy.


Arne pun merasa simpati pada wanita tersebut. Dirinya jauh dari orangtua dan hamil tanpa memiliki suami. Entah apa yg dilakukannya bahkan sampai punya penyakit mengerikan tersebut. Arne pun menebak kalau wanita itu terjebak di dunia malam dan kini dirinya mulai menuai akibat perbuatannya.


"Kasihan sekali wanita itu." gumam Arne.


"Siapa yg kasihan?" tanya Kenzi.


"Pasienku." ucap Arne.


"Oo.. Ya namanya juga pasien, kemari pasti karena sakit. " ucap Kenzi.


"Kau benar." ucap Arne.


"Lalu kapan profesor akan pulang ?" tanya Kenzi.


"Sepertinya dua minggu lagi." ucap Arne.


"Apa kau merindukannya?" goda Kenzi.


"Menurutmu?" balas Arne.


"Pastinya, meski dia akan terus mengomel jika kita bergosip begini." ucap Kenzi.

__ADS_1


.


.


Cindy pun pulang ke apartemennya, dan menghubungi Richard. Richard pun ke apartemennya sepulang bekerja. Dan dirinya penasaran kenapa Cindy sampai memintanya ke apartemennya.


"Cindy.. Aku datang, apa kau ingin menggodaku?" ucap Richard.


"Masuklah sayang." ucap Cindy.


"Ada apa? Kau merindukanku?" tanya Richard.


Cindy pun hanya menghela nafas berat. Berat rasanya mengatakan hal ini pada Richard.


"Ada apa?" tanyanya.


"Aku tadi ke rumah sakit, dan ini hasil pemeriksaannya." ucap Cindy.


"Baiklah, aku penasaran." ucap Richard menerima secarik kertas tersebut.


Richard pun terkejut saat membacanya. Bagaimana bisa Cindy hamil dan juga mengidap penyakit berbahaya itu. Dan kemungkinan dirinya juga bisa tertular.


"Apa maksudnya ini?" tanya Richard.


"Aku hamil dan menderita AI*** .. Aku selalu rutin memeriksakan hal itu, dan kali ini aku positif." ucap Cindy.


"Apa? Sejak kapan kau mengidap Ai**??"


"Aku tidak tahu, bulan lalu aku mengeceknya dan masih aman." ucap Cindy lalu mengeluarkan hasil pengecekan bulan lalu.


"Oh tidak, kau benar." jawab Richard.


"Pertanyaanku, kau habis jajan dimana?? Sampai aku bisa tertular juga?" tanya Cindy serius.


"Aku memang pernah melakukannya saat kau berhalangan, dan hanya sekali." ucap Richard.


"Richard, saat ini aku juga sedang hamil, apa kau mau bertanggungjawab?" tanya Cindy.


"Cindy itu tidak mungkin, kita gugurkan saja." ucap Richard.


"Tak kusangka orang tua sepertimu akan berkata begitu." ucap Cindy.


"Kita belum menikah, dan lagi kau harus fokus pada kesehatanmu." ucap Richard.


"Kesehatanku?" tanya Cindy.


"Ini salahku, kita akan mencari pengobatan terbaik.. Kasihan juga anak itu jika tertular jadi lebih baik dia kita gugurkan dan fokus pada penyembuhan. Aku juga akan memeriksakan diri." ucap Richard.


"Kau benar-benar.." ucap Cindy kecewa.


"Maaf itu jalan terbaik untuk kita." ucap Richard.

__ADS_1


Begitulah akhirnya, Richard yg bodoh perlahan-lahan mulai menuai hasil perbuatannya.


__ADS_2