Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.105 Pernikahan Jeny dan Sammy


__ADS_3

Tak berapa lama setelah Sammy melamar Jeny, mereka pun langsung menikah. Dan dengan acara yg sederhana mereka pun merayakan pernikahan mereka. Usia yg tak lagi muda membuat mereka lebih menghargai banyak hal.


Mereka lebih memilih mendonasikan beberapa kekayaan mereka untuk amal daripada untuk merayakan pesta pernikahan yg meriah. Arne pun tak banyak membantu karena memang itu permintaan Jeny. Jeny tak ingin Arne kerepotan membantunya karena sebagai dokter residen, dirinya sudah cukup lelah.


Sementara Anderson, belum sempat mengadakan acara pertunangannya dengan Arne karena kesibukan masing-masing. Untuk itulah, keduanya menundanya lagi. Dan pernikahan Jeny dan Sammy membuat mereka berdua semakin dikenal banyak orang sebagai pasangan.


Jakson pun mendukung keputusan Jeny untuk menikah lagi. Terlebih putranya dahulu menyia-nyiakannya dan menyakitinya. Jakson pun mendukungnya dengan sepenuh hati karena Jeny sudah seperti putrinya sendiri.


"Selamat untuk kalian berdua." ucap Jakson.


"Terimakasih ayah." ucap Jeny.


"Terimakasih tuan Jakson." ucap Sammy.


"Semoga hidup kalian bahagia selalu." ucap Jakson.


"Ya ayah." ucap Jeny.


Lalu Jakson pun melihat Arne dan Anderson yg selalu bersama. Dan keduanya nampak selalu berdebat karena perbedaan banyak hal dari keduanya. Terutama Anderson yg selalu kaku dan dingin.


"Bisa tidak kau itu jangan pakai baju hitam melulu." ucap Arne.


"Aku lebih suka hitam." ucap Anderson.


"Tapi ini acara pernikahan bukan pemakaman." ucap Arne.


"Hahahaha.. Tuh kan dengar sekarang bahkan Arne mengomentari gaya busanamu." sindir Romeo sambil tertawa.


"Benar kek, lihatlah dia selalu pakai baju hitam. Untung cocok kalau tidak sudah ku usir dari acara ini." ucap Arne.


"Arne kau tega sekali padaku." ucap Anderson.


"Makanya kau itu sesekali pakailah pakaian yg berwarna lain." ucap Arne.


"Baiklah." ucap Anderson.


Begitulah keduanya, selain beda usia, perbedaan selera juga kadang membuat keduanya kerap berdebat. Tapi untuk masalah pekerjaan keduanya selalu kompak. Jakson pun hanya tersenyum melihat perdebatan keduanya.


"Yang satu ceria yg satu pendiam, sungguh perpaduan sempurna." gumam Jakson.


"Kau benar." ucap Romeo.


"Kau itu tiba-tiba muncul seperti hantu." ucap Jakson.


"Ck, sekarang semuanya akan baik-baik saja.. Dan kita tinggal menyiapkan pertunangan keduanya." ucap Romeo.


"Kau benar." ucap Jakson.


Pernikahan Jeny dan Sammy pun hanya dihadiri beberapa orang terdekat saja. Dan setelah menikah mereka akan melakukan honeymoon, itupun didukung penuh oleh Arne. Dan dengan sedikit paksaan Jeny pun menurutinya.


Arne pun tinggal sendirian di apartemennya, dan Arne sudah terbiasa hidup mandiri bersama Jeny selama ini. Apalagi dirinya menjadi dokter residen yg super sibuk, Arne sudah terbiasa menyiapkan segalanya sendiri.


Sebelum pergi, Arne pun mengantar Jeny ke bandara ditemani Anderson.


"Mama semoga liburannya menyenangkan." ucap Arne.


"Arne kau harus hati-hati selama mama tidak ada.." ucap Jeny.


"Tentu ma, ada Anderson dan juga kakek." ucap Arne.

__ADS_1


"Lalu Anderson, jangan macam-macam jika ke apartemen kami." ucap Jeny.


"Tentu.. Aku bukan orang mesum." ucap Anderson.


"Sudahlah sayang, Anderson tak mungkin begitu." ucap Sammy.


"Baiklah, Arne kau jaga diri baik-baik." ucap Jeny.


"Tentu ma, aku bukan anak kecil lagi.. Sudah pergi dan liburanlah dengan tenang." ucap Arne.


"Baiklah.. Anderson jaga Arne." ucap Jeny.


"Tentu.. Semoga perjalanan kalian menyenangkan." ucap Anderson.


"Kami berangkat dulu ya.." ucap Sammy.


"Ya.. Hati-hati." ucap Arne.


Jeny dan Sammy pun masuk ke dalam bandara, dan Arne serta Anderson memilih pulang.


"Akhirnya mereka pergi liburan juga." ucap Arne.


"Kau mau liburan kemana?" tanya Anderson.


"Eh.. Maksudnya?" tanya Arne.


"Jika kita liburan kau mau kemana?" tanya Anderson.


"Banyak tempat indah yg ingin kukunjungi." ucap Arne.


"Benarkah.. Bagus kalau begitu." ucap Anderson.


"Ya.. Setelah menikah.. Kalau sekarang yg ada ibumu akan memenggal kepalaku." ucap Anderson.


"Hahaha.. Ibuku memang begitu, yasudah berarti masih lama." ucap Arne tertawa.


Anderson pun mengantarkan Arne pulang ke apartemen. Kemudian, dirinya kembali ke apartemen miliknya. Meski sendirian, Arne pun sudah terbiasa dengan kondisi itu.


.


.


Seminggu kemudian, Jeny dan Sammy pun kembali dari honeymoon mereka. Dan keduanya tampak begitu bahagia. Saat pulang mereka pun sedikit bingung karena memiliki tempat tinggal masing-masing.


Jeny ingin tinggal di apartemen miliknya, begitu juga dengan Sammy. Arne pun memberi solusi untuk keduanya.


"Bagaimana kalau mama tinggal dengan papa saja, aku tak masalah ada disini. Dan kalian bisa menginap kapan saja." ucap Arne.


"Arne, mama tak ingin egois padamu." ucap Jeny.


"Tidak, tak apa ma, kalian harus banyak menghabiskan waktu berdua, dan aku sudah cukup dewasa." ucap Arne.


"Arne aku merasa tak keberatan tinggal disini." ucap Sammy.


"Ya.. Kalau begitu tinggal disini sementara lalu kalian bisa pindah kapan saja." ucap Arne.


"Arne, kau tumbuh dewasa dengan baik." ucap Jeny.


"Tentu ma, aku bukan anak kecil lagi. Jangan pikirkan aku." ucap Arne.

__ADS_1


Sammy pun menyadari kalau Arne anak yg baik. Bahkan dirinya tak masalah tinggal sendirian. Hingga Sammy memutuskan mencari tempat tinggal untuk ketiganya agar mereka bisa hidup bersama. Sammy pun menghubungi beberapa kenalannya untuk mencari tempat tinggal yg layak untuk keluarga kecilnya.


Dan setelah satu bulan pencarian, Sammy pun menemukan tempat tinggal yg bagus. Dirinya berharap Jeny dan Arne nyaman tinggal disana. Dengan begitu pula, dirinya dan Jeny tak perlu berpindah-pindah tempat tinggal.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Sammy pada Anderson.


"Bagus, apakah lokasinya aman?" tanya Anderson.


"Ya.. disini cukup aman, dan tak sembarang orang bisa masuk." ucap Sammy.


"Baguslah, berarti Arne akan aman jika tinggal disini." ucap Anderson.


"Lalu apakah masih ada unit yg kosong?" tanya Anderson.


"Kau mau membelinya?" tanya Sammy.


"Ya.. Karena pernikahan kami masih lama, lebih baik aku mencicil rumahnya dulu." ucap Anderson.


"Kau lebih dewasa dari perkiraanku, dasar pria kaku." ucap Sammy.


"Memangnya kau yg tak mempersiapkan segalanya dengan matang." sindir Anderson.


"Ck.. Aku hanya melihat peluang yg ada.. Hidup butuh peluang, ingat itu juniorku." ucap Sammy.


"Aku akan mengingatnya seniorku, jadi masih ada unit yg kosong atau tidak?" tanya Anderson.


"Kau hubungi, Pak Slamet saja, nanti dia akan mencarikanmu unit yg sesuai keinginanmu." ucap Sammy.


"Oke.. Terimakasih." ucap Anderson.


Begitulah Anderson yg terpikir sebuah rumah untuk dirinya dan Arne di masa depan. Meski pernikahan mereka masih terbilang lama, tapi mempersiapkannya dari sekarang tidaklah buruk. Mengingat besarnya biaya pernikahan untuk melamar cucu kesayangan Jakson pengusaha tersohor negeri ini.


Mau taruh dimana wajahnya jika Jakson membantu pernikahan mereka. Dan lagi, Anderson punya harga diri yg sangat tinggi sebagai laki-laki.


.


.


Setelah melihat-lihat rumah, Anderson pun mengajak Arne kencan. Mereka pun makan malam di sebuah resto.


"Arne, rasanya kita harus membahas ini." ucap Anderson.


"Ya katakanlah." ucap Arne.


"Kapan kita akan bertunangan.. Para kakek tua itu sungguh berisik." ucap Anderson.


"Bagaimana kalau kita bicarakan langsung pada mereka dan juga orangtuaku." ucap Arne.


"Baiklah, jika begitu." ucap Anderson.


"Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama?" tanya Arne.


"Sejujurnya iya, tapi tak masalah asalkan kita konsisten." ucap Anderson.


"Tentu saja, kita bertemu setiap hari bukan, bekerja di tempat yg sama, kita bahkan hampir selalu bersama." ucap Arne.


"Tapi, kau jangan membohongiku." ucap Arne.


"Iya aku mengerti, aku akan selalu jujur padamu." ucap Anderson memegang tangan Arne lalu menciumnya.

__ADS_1


Hubungan mereka pun berjalan lancar, dan Arne mulai membahas masalah pertunangannya dengan Jeny dan Sammy. Kemudian mereka akan membahasnya dengan Romeo dan Jakson.


__ADS_2