
"Lihat saja dulu Aini, mungkin kau akan menyadari kebodohanmu." ucap Arne tersenyum.
"Ck.." ucap Aini lalu membuka pesan yg dikirimkan oleh Arne.
"Aa.. Ii-ini di-dia kan.." ucap Aini.
"Kau mengenalnya Aini?" tanya Richard.
"Dia sahabatku di kantor dulu." ucap Aini.
"Bagaimana rasanya pasanganmu berselingkuh dengan sahabatmu sendiri? Menyakitkan bukan? Aku sudah mengalaminya dulu." ucap Arne.
"Diam kau ja***ng..!" bentak Aini.
"Aini cukup..!! Berhenti mengatai Arne, dia juga putriku..!" balas Richard lebih keras lagi.
"Aduh, telingaku.. Harusnya aku sedang dalam suasana romantis malam ini tapi harus mendengar teriakan.." ucap Arne menutup telinganya.
"Itu terjadi beberapa minggu yg lalu.. " balas Anderson.
"Jadi selama ini Boy.." ucap Aini menangis.
"Kalau dia bisa selingkuh dariku, kenapa dia tak bisa melakukan itu padamu..?" balas Arne.
"Arne ini semua gara-gara kau..!" ucap Aini.
"Papa, nampaknya Aini harus dibawa ke psikiater, mentalnya bermasalah dan terus menyalahkan aku." ucap Arne.
"Kau berani sekali padaku.." ucap Aini.
"Yah kau sendiri selalu memfitnahku dan menyalahkanku tanpa adanya bukti." ucap Arne.
"Sudah hentikan.!" ucap Richard pusing.
"Sekarang kalian lihat kan aku bersama Anderson, dan tak ada hubungannya dengan rumah tangga Aini dan Boy. Jadi kami permisi." ucap Arne.
"Kedepannya kuharap kalian tak bisa seenaknya menuduh Arne." ucap Anderson.
"Baiklah." ucap Richard.
"Papa, kuharap papa bisa menjaga sikap Aini sebelum dirinya berakhir seperti ibunya di penjara. Ku lihat para pelayan terluka karena amukan Aini." ucap Arne.
"Apa.." ucap Richard terkejut.
"Aku tadi mengobati mereka, dan mereka tampak ketakutan." ucap Arne.
"Arne kau..!" ucap Aini.
Plaaakkk..
Sebuah tamparan pun mendarat di pipi Aini. Dan Richard yg melakukannya.
"Berani sekali kau memukul orang yg bekerja pada papa? Apa salah mereka?" tanya Richard emosi.
"Sudah ayo kita pergi." ucap Arne pada Anderson.
Aini pun berujung dimarahi habis-habisan oleh Richard karena sampai membuat pelayan terluka dan mengacak-acak isi rumahnya. Dan pendapat Arne soal psikologis Aini yg bermasalah nampaknya juga tidak salah. Hingga Richard mencari dokter psikolog untuk melakukan terapi pada Aini agar tak mengamuk dan melukai orang sekitarnya.
Aini pun dimarahi dan dikurung di kamarnya setiap hari. Dan Richard berupaya menghubungi Boy dan keluarganya. Tapi sayangnya keluarga Boy pun angkat tangan soal masalah ini. Dan pasrah pada pilihan Richard jika mereka harus berpisah.
__ADS_1
Sementara Boy, dirinya sangat sulit ditemui. Hingga Richard meminta Leni dan suaminya untuk menasehati Boy untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Aini.
Boy pun berakhir dengan dimarahi oleh kedua orangtuanya. Dan memintanya untuk berbaikan dengan Aini tapi jawaban Boy cukup membuat mereka terkejut.
"Aku memang berselingkuh tapi aku tak berniat meninggalkan Aini." ucap Boy.
"Apa maksudmu Boy?" tanya Leni.
"Aku hanya ingin keturunan, dan Aini takkan mampu memberikannya dengan kondisinya." ucap Boy.
"Lalu apa maumu?" tanya ayahnya.
"Aku ingin poligami, dan akan bicara terus terang pada Aini dan ayahnya." ucap Boy.
"Aku mengerti." balas ayahnya.
"Sayang apa yg kau pikirkan?" tanya Leni.
"Boy tidak salah, kita butuh penerus, dan tak mungkin semua yg kita upayakan berhenti di Boy."
"Jadi mom, aku akan menyelesaikannya kalau mereka tak terima kami baru akan bercerai." ucap Boy.
"Baiklah, lakukan sesukamu tapi jadilah pria yg bertanggungjawab." ucap Leni.
"Tentu." balas Boy santai.
Leni pun hanya bisa terdiam melihat tingkah Boy. Dan menyadari memang selama ini Aini juga selalu seenaknya bahkan sampai tak bisa menjaga diri dengan baik. Wajar kalau Boy tak puas pada Aini, terlebih saat ini Aini tak bisa mengandung lagi setelah rahimnya diangkat. Bahkan sesama perempuan saja Leni sulit menasehati Aini.
.
.
Boy pun mendatangi rumah Richard seorang diri dan dipersilahkan masuk oleh para pelayan karena Richard dan Aini sudah menunggunya.
"Permisi tuan, tamu anda sudah datang." ucap pelayan.
"Akhirnya kau datang juga boy.. Selamat datang.." ucap Richard menyambutnya.
"Terimakasih pa.." ucap Boy tersenyum tapi langsung mendapatkan bogem mentah dari Richard.
Bughh..Bughh.
"Aaaa.. Papa hentikan." ucap Aini.
"Dia sudah berani berselingkuh darimu." ucap Richard.
"Bukankah, kita berkumpul untuk bicara?" tanya Boy yg merasa kesakitan.
"Cih.. Duduklah.. Itu hukumanmu." ucap Richard.
"Boy.. Kau baik-baik saja?" tanya Aini.
"Ini bukan pertama kalinya aku dipukul papamu." ucap Boy.
"Sudah, jangan banyak protes, duduk dan jelaskan maksudmu selama ini.." ucap Richard emosi.
"Baiklah, jadi aku akan langsung saja." ucap Boy.
"Aini aku pernah bilang kan takkan meninggalkanmu.?" tanya Boy.
__ADS_1
"Iya, tapi lihat sekarang." ucap Aini.
"Meski aku berselingkuh aku tak meninggalkanmu kan?? Itu buktinya, dan aku hanya butuh keturunan makanya melakukan ini." ucap Boy.
"Apa kau bilang??" tanya Richard semakin kesal.
"Anda tahu sebuah fakta lain soal penyerangan Aini di rumah sakit?" tanya Boy.
"Fakta apa? Aini ada apa ini? Coba kalian jelaskan?" tanya Richard.
"Seorang pria bernama Ben yg membuat Aini keguguran bahkan sampai tak bisa punya anak lagi. Tapi fakta mengejutkannya adalah itu ulah Aini sendiri." ucap Boy.
"Apa maksudmu?" tanya Richard.
"Papa anda benar-benar tak tahu apapun soal putri anda." ucap Boy.
"Jelaskan maksud ucapanmu.." pinta Richard.
"Ya, masih ingat kan tragedi stalker pada Arne dan Aini yg membayar orang tersebut?" tanya Boy.
"Ya.. Bukan kah pelakunya tertangkap.?" ucap Richard.
"Boy.. Hentikan." ucap Aini.
"Tidak Aini, papa harus tahu kalau bosnya yg bernama Ben itu datang dan memerasku..!!" ucap Boy.
"Apa?? Bagaimana bisa??" tanya Aini.
"Itu karena kebodohanmu, dan dia menceritakan segala tujuan jahatmu pada Arne.. Lalu dia juga mengakui kalau tak sengaja mendorongmu di tangga darurat." ucap Boy.
"Kenapa kau tak menangkapnya?" tanya Aini.
"Kau mau kejahatanmu yg lain terbongkar? Kau berniat membuat Arne dilecehkan kan?" tanya Boy.
"Aini, apa itu benar?" tanya Richard.
"Papa, itu tidak benar." ucap Aini.
"Kalau tidak benar, mengapa penjahat itu sampai memerasku.?" tanya Boy.
"Aku sudah cukup berdiam diri dan membayarnya mahal untuk tutup mulut melindungi harga dirimu. Aku juga tidak menceraikanmu meski kau tak bisa memberiku keturunan, jadi aku memutuskan untuk menikah lagi.. Jika kau tak setuju kita bisa bercerai." ucap Boy.
"Apa?? Berani sekali kau baj**an..!" ucap Richard.
"Aku memang baj***an.. Tapi aku tak sampai berbuat jahat seperti putrimu." ucap Boy.
"Jika tak ada jawaban, pikirkanlah ucapanku.. " ucap Boy.
"Kau pikir aku akan menerimanya?" tanya Richard.
"Itu urusan anda dengan putri anda, jika ingin bercerai pengadilan masih dibuka." ucap Boy.
"Ck.. Kurang ajar." ucap Richard.
"Itu keputusan final dariku, terima dipoligami atau bercerai." ucap Boy.
"Aini, tak ada untungnya jika kau tetap bersama Boy, kau akan terus menderita." ucap Richard.
"Pikirkanlah, aku harus kembali bekerja." ucap Boy lalu pergi.
__ADS_1
Sementara Aini terdiam dan tak merespon apapun. Lalu pingsan dan membuat Richard panik. Aini pun langsung dibawa ke rumah sakit dan Boy tak peduli sedikitpun.