
Setelah Anderson mengumpulkan para saksi yg diberikan oleh Susi, dirinya langsung melapor ke Jakson dan Tony. Kedua orang yg memiliki kedudukan tinggi itupun tersenyum karena akhirnya sepak terjang kejahatan Rafli bisa terbongkar.
"Kerja bagus prof Anderson." ucap Tony.
"Tentu tuan, selain dendam pribadiku dia juga bisa merusak citra rumah sakit anda." ucap Anderson.
"Kau benar, aku akan mengurusnya segera." ucap Tony.
"Boby.." panggil Tony.
"Iya tuan.."
"Kau laporkan bukti-bukti ini pada pihak berwajib.. juga pastikan para korban yg bersaksi aman." ucap Tony.
"Siap tuan." ucap Boby.
"Baiklah, sisanya kuserahkan pada kalian." ucap Anderson.
"Ya.. kau tenang saja, dan untuk target Rafli berikutnya kau harus menjaganya." ucap Tony.
"Ya.. aku punya hutang budi pada kakeknya." ucap Anderson.
Anderson pun pergi meninggalkan tempat Tony. Dirinya berharap Rafli segera dihukum seberat-beratnya agar tak muncul lagi korban selanjutnya.
.
.
Sementara itu, pada malam hari Arne sedang bertugas bersama Kenzi dan prof Sammuel. Pada malam itu sedang santai dan tak ada aktivitas yg begitu mendesak atau padat. Mereka hanya bertugas merawat beberapa pasien yg dirawat inap di rumah sakit tersebut.
"Malam ini sedikit tenang." ucap Arne.
"Iya.. seandainya situasi ini sering terjadi." ucap Kenzi.
"Kau mau rumah sakit ini ditutup?" tanya Arne.
"Haha bukan begitu Arne.. kau serius sekali." balas Kenzi.
"Ya.. meski ada banyak kejadian tak menyenangkan tapi aku mendapatkan banyak pengalaman dan teman disini." ucap Arne.
"Kau benar, disini cukup menyenangkan." ucap Kenzi. "Kecuali satu orang yg ingin aku singkirkan.." gumam Kenzi dalam hati.
Sammy pun membagi tugas para dokter baru tersebut. Dan Arne mendapat permintaan khusus dari tamu VIP disana untuk menanganinya langsung. Bahkan Sammy tak mampu menolak permintaannya.
"Kau yakin tak apa sendirian?" tanya Sammy.
"Iya prof, aku akan baik-baik saja." balas Arne.
"Baiklah, kabari aku jika terjadi sesuatu." ucap Sammy.
"Siap prof.. ini pasien VIP pertamaku." ucap Arne senang.
Arne pun menuju ke kamar VIP tersebut dan berharap tak menemukan hal aneh disana. Arne jiga sedikit tidak yakin kalau dokter residen sepertinya dimintai untuk menangani pasien VIP. Dalam hatinya apa tak salah dirinya diminta langsung oleh orang kelas atas?? dan lagi Arne tak seterkenal itu untuk dipanggil secara pribadi.
Arne pun berjalan perlahan ke ruangan yg tampak sepi itu. Kemudian bertemu dengan beberapa pengawal disana dan dipersilahkan masuk.
"Permisi, aku dr.Arne.." ucapnya.
__ADS_1
"Silahkan.." ucap seseorang dari dalam.
Arne pun melangkah masuk ke dalam dan cukup terkejut dengan apa yg dilihatnya di dalam.
"Tuan Rafli?" tanya Arne melihat Rafli mengenakan pakaian pasien.
"Ya benar.. ini aku." balasnya.
"Tapi bukankah disini tertulis, tuan Luis?" tanya Arne.
"Itu aku.." ucap pengawal di dekat Rafli.
"Konspirasi apa ini tuan? apa anda benar-benar sakit?" tanya Arne.
"Konspirasi? berani sekali kau berkata begitu." ucap pengawal tersebut kesal.
"Biarkan aku saja yg menanganinya kau keluar." ucap Rafli.
Pengawal itupun keluar, dan Rafli tersenyum menatap Arne yg berdiri seorang diri dihadapannya.
"Ayo periksa aku dr.Arne?" pinta Rafli.
"Apa yg anda rasakan?" tanya Arne.
"Jantungku saat ini sedang berdegup kencang.. kepalaku sedikit pusing." ucap Rafli.
"Bukankah anda juga seorang dokter, kenapa anda tidak bisa memastikannya sendiri?" balas Arne.
"Kenapa ya?? aku juga tak mengerti." ucap Rafli.
"Tak ada salahnya bukan kau yg memeriksanya." ucap Rafli tersenyum.
"Lakukanlah tugasmu.. atau kau mau diadukan karena tak kompeten, lalu dipecat sebelum masa residenmu selesai." ancam Rafli.
Arne pun semakin merasa curiga dan ragu Rafli memintanya memeriksanya. Arne pun berpikir sejenak kemudian mengambil sesuatu di kantongnya dan ia sembunyikan di tangan kanannya.
Baru saja Arne mendekat dan ingin memeriksa, Rafli sudah menarik tangannya dan membuat Arne berada di dalam jangkauannya.
"Ck.. anda sudah gila.." ucap Arne.
"Ya.. aku tergila-gila padamu Arne sayang.." ucap Rafli.
Arne pun memegang sesuatu yg ternyata alat kejut listrik, langsung saja Arne menyerang Rafli dengan alat tersebut. Seketika Rafli pun tersengat listrik lalu Arne mendorongnya. Meski Arne juga ikut terkena sedikit kejutannya tapi dirinya berhasil menendang Rafli dan bangkit dari tempat tidur tersebut.
"Dasar baj**n..!" umpat Arne.
Arne pun berusaha untuk kabur tapi pasti ketiga penjaga di depan akan sulit diatasi. Arne pun memutuskan untuk menghancurkan kaca jendela rumah sakit untuk meminta tolong. Arne memukulnya dengan keras menggunakan vas bunga.
Suara yg keras pun menimbulkan kepanikan.
"TOLONGG...!!! " teriak Arne sekuat tenaga.
"Arne.. apa yg kau lakukan..?" tanya Rafli.
Kemudian ketiga penjaga mengepungnya.
"Mundur atau kalian bertiga akan tersengat listrik..!" ancam Arne.
__ADS_1
Arne pun terpojok ke arah jendela oleh empat orang tersebut.
"Arne, kau takkan bisa kabur dariku." ucap Rafli.
"Apapun yg terjadi aku takkan menyerahkan diriku pada manusia hina sepertimu." ucap Arne.
Arne pun menendang alat vital Rafli hingga dirinya terjatuh. Kemudian Arne menyerang pengawal tersebut dengan alat kejut di tangannya. Walau hanya satu orang yg jatuh, tapi Arne punya kesempatan untuk kabur.
"Aaakkhh.."
"Rasakan itu.." ucap Arne segera berlari ke pintu.
Brakkk..
Pintu pun terbuka sendiri dan Sammy melihat apa yg terjadi.
"Proff.." ucap Arne ketakutan.
"Ck.. sehina inikah direktur rumah sakit ini?" tanya Sammy.
"Ini cuma salah paham, Sammuel kau sudah ditipu oleh wanita itu. " ucap Rafli.
"Benarkah? lalu kenapa anda pura-pura sebagai pasien disini?" tanya Sammy membuat Rafli terdiam.
"Dan juga kau sengaja membawa tiga orang pengawal agar Arne tak bisa kabur begitu?" tanya Sammy.
"Aku orang penting, akan berbahaya jika orang tahu aku sakit." ucap Rafli.
"Menurutku kau hanya pecundang.. dan lagi jika kau benar-benar sakit kau harusnya menghubungi dokter senior bukan Arne. Apalagi ingin merahasiakan penyakitmu." ucap Sammy.
Kegaduhan di ruang VIP tersebut pun membuat beberapa orang keamanan datang. Dan Kenzi yg sedang berada di sekitar berlari menuju ke tempat tersebut terlebih dirinya mendengar Arne berteriak meminta tolong.
"Arne.." ucap Kenzi.
"Kenzi.." ucap Arne menangis.
Arne pun merasa begitu lemas, bahkan lututnya terasa tak sanggup untuk berdiri. Dan orang-orang keamanan berdatangan ingin tahu apa yg terjadi.
"Rafli, kau ingin bicara baik-baik atau dengan cara kasar?" tanya Sammy.
"Ck.. aku ini atasanmu..!" bentak Rafli.
"Atasan sepertimu tak pantas dihormati.." ucap Kenzi.
"Kau..!! dokter baru tapi berani berkata begitu." ucap Rafli.
"Kau memang bej**t.. kau melecehkan banyak staf rumah sakit.. dan aku tahu semua kebusukanmu...!" ucap Kenzi kesal.
"Kenzi.. cukup, lebih baik bawa Arne ke tempat istirahat.. aku akan menanganinya disini." ucap Sammy.
"Baiklah prof." ucap Kenzi.
Kenzi pun membawa Arne ke tempat istirahat, dan dirinya meminta Arne untuk bercerita apa yg terjadi saat dirinya sudah lebih baik. Dan Sammy mengurus Rafli dan ketiga pengawal tersebut. Malam itu pun terasa begitu panjang dan melelahkan bagi Arne. Dan Sammy segera menghubungi Anderson tentang ini.
Lalu Sammy menghubungi Jeny, ibu dari Arne agar mengetahui semua yg terjadi. Sammy juga mendapati cctv di sekitar ruang VIP tersebut mati. Beberapa pihak pun langsung muncul terutama pihak berwajib dan Tony sebagai pemilik rumah sakit.
Setelah kondisinya lebih baik, Arne pun menceritakan semua kejadiannya dan Rafli beserta ketiga pengawalnya ditahan. Jeny pun datang dengan tergesa-gesa saat tahu Arne dalam masalah.
__ADS_1