
Selama di resto keduanya pun banyak diam. Arne yg tak tahu harus membahas apa dengan pria dingin di hadapannya dan Anderson juga terlalu kaku untuk berbicara secara personal dengan Arne. Hingga keduanya hampir tak ada topik pembicaraan.
Arne yg lelah pun memulai sebuah topik umum.
"Prof, sampai kapan kita akan begini?" tanya Arne.
"Sampai kencan kita yg ke-5 lalu kita mengajukan penolakan." ucap Anderson.
"Ya.. itu benar, tapi suasananya suram sekali." ucap Arne.
"Apa restorannya jelek?" tanya Anderson.
"Bukan restorannya yg jelek, tapi kau yg seperti kulkas 10 pintu." umpat Arne dalam hati.
"Katakan apa yg kurang? biar aku protes ke manager restonya." ucap Anderson.
"Sudahlah, hanya masalah sepele." balas Arne.
"Apa kau tak pernah kencan dengan wanita?" tanya Arne.
"Tentu saja pernah, kau jangan mengejekku ya.." ucap Anderson.
"Aku hanya bertanya bukan mengejek." balas Arne.
"Sudah kuduga kita memang tak cocok." ucap Anderson.
"Bukan itu masalahnya.." ucap Arne.
"Lalu apa?" tanya Anderson tak mengerti.
"Prof, kau itu lebih tua dariku mengertilah sedikit.. kau itu terlalu kaku dan tidak peka.. kita makan malam di tempat sebagus ini tapi rasanya membosankan." balas Arne.
"Bukankah kita memang akan menolak perjodohan ini? atau kau sebenarnya menyukaiku?" tanya Anderson.
"Hhh.. kau memang tidak pekanya kelewatan." balas Arne.
"Maksudmu apa?" tanya Anderson kesal.
"Walaupun kita tidak berniat melanjutkan perjodohan ini, bisakah kau sedikit ramah dan tak terlalu kaku." ucap Arne.
"Ck.. aku memang sudah begini, kalau itu masalah buatmu bukan urusanku." ucap Anderson.
"Lalu kenapa sampai kakekmu menjodohkanmu? pasti ada yg salah dengan pemikiranmu." ucap Arne.
"Kau benar-benar membuatku kesal." ucap Anderson.
"Kau itu membuatku tak nyaman, kita datang kemari tapi hampir tak ada pembicaraan, selalu kaku bak senior dengan juniornya. Dan yg paling membuatku tak nyaman, orang-orang menatap aneh pada kita karena dengan semua hiasan ornamen romantis ini kita terlihat seperti pasangan yg sedang bertengkar." ucap Arne.
__ADS_1
"Mengapa kau pikirkan pandangan orang lain? apa gunanya semua itu?" tanya Anderson.
"Yasudahlah, kau memang tak peka.. mungkin gadis yg kau suka juga kesal karena kau tak peka." ucap Arne.
"Arne..!!" ucap Anderson kesal sampai semua orang menatap mereka berdua.
"Kencan macam apa ini.. menyebalkan." ucap Arne.
"Kau saja yg aneh.." ucap Anderson.
"Aku mau pulang." ucap Arne.
"Silahkan." balas Anderson.
Dan hubungan mereka pun semakin tak baik-baik saja. Anderson yg tak memahami Arne, dan Arne yg tak nyaman dengan sikap kaku Anderson. Meski begitu, Anderson tetap mengantarkan Arne pulang sesuai perintah kakeknya.
"Aku melakukan ini karena kakek.. ingat itu." balas Anderson.
"Ya.. memangnya aku juga menyukaimu? aku juga melakukan ini karena kakekku." balas Arne tak mau kalah.
Mereka pun terdiam di dalam mobil tanpa adanya pembicaraan. Arne yg bosan dengan kekakuan itupun membuka jendela mobil, tapi Anderson memarahinya.
"Tutup.. aku benci jika ada serangga apalagi nyamuk yg masuk nanti." ucap Anderson.
Arne pun langsung menutupnya, ditambah lagi jalanan sedang macet membuat Arne tak tahu harus berbuat apa. Arne pun malah tertidur di mobil karena kemacetan dan lelah menghadapi Anderson.
"Arne.. apa kau mengenal mobil dibelakang?" tanya Anderson.
"Kau menyukai mobilku? sampai tertidur lelap begini." ucap Anderson tersenyum.
Anderson pun menatap pada mobil belakang mereka lewat spion mobilnya. Lalu saat sempat dirinya memotret plat nomornya untuk diselidiki apakah ini orang suruhan Jakson untuk menjaganya atau bukan. Karena nampak sekali Anderson mengingat mereka mengikuti dari restoran.
"Mau apa baj***an ini pada Arne..?? kuharap mereka orang-orang suruhan Jakson." gumam Anderson dalam hati.
Begitu tiba di apartemen, mau tak mau Anderson membangunkan Arne.
"Hei Arne bangun.." ucap Anderson.
"Arne.. bangunlah sudah sampai." ucap Anderson.
"Ck.. haruskah pakai kekerasan?" gumamnya.
Anderson pun memegang bahu Arne untuk membangunkannya. Tapi justru Arne yg terkejut.
"Arne bangun sudah sampai.." ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Arne.
"Akhh.. apa yg kau lakukan?." ucap Arne mendorong tubuh Anderson.
__ADS_1
"Ck... tak sopan sekali kau ini." ucap Anderson.
"Maaf aku kaget.." ucap Arne dengan nafas terengah-engah.
"Kau kira aku apa? hantu?" tanya Anderson lalu memberi Arne air.
"Maaf, aku terkejut kau langsung muncul di hadapanku." ucap Arne.
"Terimakasih airnya." ucap Arne langsung meminumnya.
Setelah agak baikan, Arne pun turun dari dalam mobil.
"Prof, maaf malam ini aku kelewat batas." ucap Arne.
"Akhirnya kau mengakuinya juga." balas Anderson.
"Aku tak banyak berharap, tapi kuharap kita bisa melewati empat kencan berikutnya dengan lebih nyaman." ucap Arne sebelum turun.
"Maaf jika aku membuatmu tak nyaman, tapi satu hal yg harus kau tahu.. aku sudah mencintai seorang wanita dan akan terus menunggunya." ucap Anderson.
"Ya.. aku akan mengingatnya.. Terimakasih untuk hari ini." balas Arne lalu turun dari mobilnya dan masuk ke dalam.
Sementara Anderson lupa bertanya soal mobil yg mengikuti mereka dari arah resto tadi. Hingga Anderson menghubungi Jakson dan Romeo untuk bertanya apakah mereka mengirim orang-orang tersebut.
Tapi mereka tak mengirimnya dan membuat Anderson bingung. Siapa yg mereka incar saat ini?? Mungkinkah Arne? atau justru dirinya sendiri.
Dan Anderson ke rumah kakeknya untuk membahas hal ini.
"Mana mungkin aku menyuruh seseorang mengikuti kalian kencan ada-ada saja." balas Romeo.
"Jika bukan kakek dan tuan Jakson, lalu siapa mereka?" ucap Anderson.
"Kau mengkhawatirkan Arne?" tanya Romeo.
"Ya sedikit, dia kan wanita dan hanya tinggal dengan ibunya tanpa ada orang lain yg menjaga mereka." ucap Anderson.
"Aku akan bicarakan masalah ini dengan Jakson dan secepatnya akan menanganinya.. Kau jika memungkinkan ikuti Arne setiap pulang bekerja." ucap Romeo.
"Kenapa aku? kan kakek punya banyak pengawal." ucap Anderson.
"Sudah turuti saja, kalau kau yg bergerak takkan dicurigai." balas Romeo.
"Baiklah, jika aku sempat ya." balas Anderson menurut.
Dalam waktu singkat Romeo pun menyusun strategi dari kejadian malam ini. Romeo ingin agar Anderson punya kepedulian pada Arne. Dan mungkin berawal dari kepedulian itu akan berakhir dengan rasa cinta dan kasih sayang.
Karena Romeo sangat tak setuju jika Anderson terus menunggu Maria mantan kekasihnya yg sudah menikahi pria lain dan sedang hamil. Sekalipun Maria suatu hari akan bercerai, Romeo takkan merestuinya dengan Anderson cucunya.
__ADS_1
Baginya, Anderson harus mendapatkan wanita yg lebih baik lagi dari Maria. Karena pria yg dinikahi Maria adalah ayah Anderson sendiri. Dan Anderson tak tahu apa-apa soal itu karena tak peduli dengan ayah ataupun ibunya. Apalagi Maria adalah istri kedua ayahnya yg dirahasiakan. Pastilah Anderson akan sangat terluka jika mengetahui hal itu.
Untuk itulah, sebelum Anderson terluka karena fakta kekasih hatinya menikahi ayah kandungnya sendiri, Romeo ingin Anderson membuka matanya lebar-lebar dan menyadari masih banyak wanita yg baik di dunia ini. Dan wanita itu salah satunya adalah Arne.