Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.66 Nasihat


__ADS_3

"Kenapa harus sampai seperti ini?" ucap Aini sambil menangis.


"Sudahlah, yang penting kau selamat." ucap Boy.


"Tapi aku tak bisa memiliki keturunan lagi.." ucap Aini.


"Aku takkan meninggalkanmu.. Aku janji." ucap Boy.


"Kau yakin tak masalah aku tak memiliki keturunan?" tanya Aini.


"Iya.. Yang terpenting kau baik-baik saja dan berhenti cari masalah dengan Arne atau siapapun." ucap Boy.


"Baiklah Boy, terimakasih." ucap Aini menangis.


"Sudah-sudah.. Biarkan semuanya berlalu." ucap Boy.


"Aku hanya merasa gagal sebagai wanita." ucap Aini.


"Aku tahu ini berat, tapi kita harus menghadapinya." ucap Boy.


Aini pun menangisi nasibnya yg sangat tidak beruntung. Bagaimana bisa dirinya kini tak punya rahim yg artinya dirinya takkan bisa memiliki keturunan lagi. Dan untungnya Boy mau menerimanya serta tak meninggalkannya karena tak bisa punya anak.


Leni sebagai ibu mertua pun cukup memperhatikan Aini dan mendukung rumah tangga putranya. Dan Boy harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Dan mungkin garis keturunan keluarganya akan berhenti di Boy dengan semua harta yg dimiliki mereka tanpa memiliki penerus.


.


.


Sementara Arne, dirinya diminta mengunjungi rumah Jakson bersama Anderson. Seketika perasaannya pun tak enak. Hal yg ia takutkan semoga saja tak terjadi, karena itu akan menimbulkan kekacauan nantinya.


"Prof, apa kau sudah dihubungi kakek?" tanya Arne.


"Iya, kita harus ke rumah kakekmu nanti." ucap Anderson.


"Ya.. Tapi perasaanku tak enak soal ini." ucap Arne.


"Sudahlah jangan berprasangka buruk." ucap Anderson.


"Pokoknya jika terjadi sesuatu karena ucapanmu kemarin, kau yang harus bertanggungjawab." ucap Arne.


"Sudah santai saja jangan dipikirkan." ucap Anderson.


Tapi Arne tetap merasa ada yg tak beres sampai mereka berdua dipanggil lagi tanpa adanya jadwal kencan selanjutnya.


Selesai bekerja mereka pun mendatangi rumah Jakson. Dengan santainya Anderson masuk ke dalam bersama Arne. Dan di dalam kakek mereka sudah menunggu keduanya datang.


Pelayan di rumah Jakson pun menuntun keduanya menuju ke ruang Jakson dan Romeo berada.


"Tuan, nona dan tuan Anderson sudah tiba." ucapnya.


"Suruh mereka masuk." ucap Jakson.


Keduanya pun dipersilahkan masuk ke dalam dan di sana sudah ada Romeo juga.


"Kakek.." ucap Anderson terkejut.

__ADS_1


"Woho.. Cucuku kau memang pandai berkata-kata." ucap Romeo.


"Cih, bisa tolong jelaskan keadaan ini?" tanya Anderson.


"Bukankah kau sudah menjelaskannya kemarin saat Arne hampir ditahan." ucap Romeo.


Arne pun langsung menyikut Anderson.


"Aw.." pekiknya.


"Arne, tak baik begitu pada calon suamimu." ucap Jakson.


Arne pun hanya tersenyum kaku.


"Kakek, bukankah kita harus kencan 3x lagi?" tanya Arne.


"Buat apa kalau kalian sudah mendeklarasikan hubungan kalian di tempat bekerja." ucap Jakson.


"Kek.. Aku belum memutuskan apapun." ucap Anderson pada Romeo.


"Ck.. Laki-laki itu yg dipegang ucapannya.. Bukankah kau bilang pada orang-orang kalau Arne tunanganmu." ucap Romeo.


"Aku hanya melindunginya." ucap Anderson.


"Oh melindungi ya, tandanya kau menyukainya?" goda Romeo.


"Kek.. kumohon jangan begini kami belum memutuskan akan bertunangan apalagi menikah. Aku berkata begitu agar tak ada yg menggangu Arne." ucap Anderson.


"Sudahlah, kalian itu duduk dulu.. Datang-datang langsung berdebat." ucap Jakson.


Akhirnya Arne dan Anderson pun duduk dan minum teh yg disajikan.


"Lakukanlah sesukamu." ucap Romeo mengalah.


"Arne, jadi apa keputusanmu? Kakek sudah mendengar rumor yg beredar di rumah sakit tempat kalian bekerja." ucap Jakson.


Arne pun menghela nafas kemudian menceritakan segalanya pada kakeknya. Meski Romeo sedikit kecewa, tapi pada akhirnya Arne lah yg menjelaskan semuanya.


"Jadi begitu.. Kalian hanya pura-pura untuk saling melindungi." ucap Jakson.


"Benar kek." ucap Anderson.


"Dan kami belum memutuskan apapun.. Jadi kumohon jangan buru-buru memutuskan." ucap Arne.


"Romeo kau dengar kan.. Cucuku belum memutuskan apapun." ucap Jakson.


"Ya.. Baiklah, tapi kalian tetap lanjutkan kencan sisanya kan?" balas Romeo.


"Tentu.. Setelah itu barulah kita memutuskan." ucap Anderson.


"Dan aku masih sibuk dengan residenku jadi jangan buru-buru memutuskan pernikahan kek." ucap Arne.


"Tentu saja sayang.. mana mungkin kakek sejahat itu, kakek tahu kau ingin menjadi dokter."ucap Jakson.


Begitulah Jakson pun luluh hanya dengan kata-kata Arne. Dan Anderson yg tadi dengan percaya diri berkata semua akan baik-baik saja malah berdebat dengan Romeo.

__ADS_1


Setelah itu, Jakson pun membahas kencan ketiga mereka. Dan tempatnya sudah diatur oleh Jakson, hanya tinggal menentukan waktu yg tepat saja.


"Baiklah, kabari aku jika jadwal kalian sama." ucap Jakson.


"Tentu kek." ucap Arne.


"Aku pasti akan mengabarimu kek." ucap Anderson.


"Ingat Romeo, jangan paksakan keadaan jika cucuku menolak." ucap Jakson.


"Iya aku paham." balas Romeo.


Arne dan Anderson pun diminta untuk makan malam bersama mereka baru diperbolehkan pulang. Suasananya pun mulai samtai dan tak terlalu tegang karena Jakson yg mengontrol semuanya. Kini mereka hanya makan dan mengobrol santai tak ada bahasan mengenai perjodohan.


Setelah itu, Anderson diminta oleh Jakson untuk bicara empat mata dengannya. Dan Arne sudah diperbolehkan pulang.


"Ada apa kek?" tanya Anderson saat mereka sedang berdua.


"Kau sekarang sudah lebih santai padaku.. Aku hanya ingin membahas sesuatu denganmu." ucap Jakson.


"Mengenai perjodohan?" tanya Anderson.


"Benar.. Aku tak ingin Arne salah memilih pasangan hidupnya.. dan tentunya tak ingin memiliki suami seperti putraku yg ternyata berselingkuh." ucap Jakson.


"Lalu? Apa yg ingin anda ketahui dariku?" tanya Anderson.


"Kau cukup paham rupanya.. Jadi apa kau sudah ada gambaran akan bersama dengan cucuku atau tidak?" tanya Jakson.


"Sejujurnya Arne adalah wanita yg baik, dia juga pintar dan tak suka mengeluh.. Tapi masih ada hal mengganjal di hidupku, dan hal itu membuatku tak bisa menerima siapapun." ucap Anderson.


"Romeo sudah cerita tentang kisahmu dengan wanita bernama Maria.. Apa kau yakin akan menunggunya padahal tahu dia sudah menikah?" tanya Jakson.


"Ya.. Aku akan tetap menunggunya." ucap Anderson.


"Anderson kau masih muda, jangan buang waktumu untuk menunggu hal yg belum pasti. Meski bukan bersama cucuku Arne, kau juga harus pintar memilih." ucap Jakson.


"Maksud kakek? Aku harus melepaskannya?" tanya Anderson.


"Tidak, aku tidak menyuruhmu melepaskannya.. tapi kau harus memastikannya apakah dia layak untuk kau tunggu atau tidak." ucap Jakson.


Anderson pun terdiam dengan nasihat dari Jakson. Dirinya mulai berpikir sampai kapan akan menunggu Maria? Apakah Maria masih mencintainya atau justru sudah hidup bahagia.??


"Jangan melamun, pikirkan dan cari tahu sebelum memutuskan. Dan satu lagi, aku punya kandidat bagus untuk Arne jika kalian gagal." ucap Jakson.


"Kandidat?? Siapa kek?" tanya Anderson penasaran.


"Kalian sudah mengenalnya juga." ucap Jakson tersenyum.


"Benarkah? Siapa orangnya?" tanya Anderson.


"Anthony pemilik rumah sakit tempat kalian bekerja, dia secara terang-terang bilang kalau menyukai cucuku.." ucap Jakson.


"Baiklah aku permisi." ucap Anderson.


"Ya.. Kau pikirkan baik-baik ya.." ucap Jakson.

__ADS_1


Jakson pun berharap nasihatnya bisa masuk ke dalam pikiran Anderson dan mampu membuatnya berpikir realistis. Apalagi setelah Jakson tahu kalau wanita bernama Maria tersebut adalah istri kedua ayah Anderson. Dan Jakson memanas-manasi Anderson dengan berkata kalau ada penggantinya jika hubungan Anderson dan Arne gagal, yakni Tony.


"Semoga ucapanku mampu mensugestinya.. Kasihan juga kalau dia tahu apa yg terjadi pada Maria dan ayahnya." gumam Jakson dalam hati.


__ADS_2