
Setelah Arne pergi meninggalkan Tony, Anderson pun menghampiri meja pria tersebut. Dan Tony cukup terkejut melihat Anderson di hadapannya.
"Kau.." ucap Tony.
"Kenapa? Kau terkejut.. Kurasa aku hanya akan memanggilmu tuan hanya di tempat kerja saja." ucap Anderson.
"Terserah.. Apa maumu?" tanya Tony.
"Harusnya aku yg bertanya, apa maumu? Kenapa mendekati Arne saat aku masih memiliki hubungan dengannya??" tanya Anderson.
Tony pun tersenyum mendengar jawaban Anderson.
"Tidak ada yg lucu." ucap Anderson.
"Aku hanya mencoba peruntunganku." ucap Tony.
"Kau hanya boleh mendekatinya jika perjodohanku dengan Arne batal sesuai perjanjian." ucap Anderson.
"Cih, dari mana kau tahu hal itu?" tanya Tony kesal.
"Tentu saja dari Jakson, bahkan dia memintaku secara langsung menjaga cucunya." ucap Anderson bangga karena selangkah lebih maju dari Tony.
"Memangnya aku tak bisa melakukannya?" tanya Tony.
"Mana ku tahu kau itu berniat melindungi atau sebaliknya, makanya aku berada disini mengawasi." ucap Anderson.
"Jika kau cemburu katakan saja, dan kita mulai pertarungan ini secara adil." ucap Tony.
"Memangnya Arne sebuah piala, jangan mimpi." ucap Anderson.
"Lalu, untuk apa kau disini jika tidak cemburu padanya? Atau kau tak masalah Arne bersamaku?" tanya Tony.
"Kau yakin mampu menaklukannya? Pria kaya sepertimu hanya mengingatkannya pada si bre***k Richard." ucap Anderson.
"Mungkin benar, tapi aku Anthony bukan Richard, pasti Arne lebih pandai memilih." ucap Tony.
"Kita lihat saja nanti, siapa yg akan dipilih oleh Arne." ucap Anderson.
"Jadi kau sudah mengakui kalau kau tertarik pada Arne?" tanya Tony.
"Kalau iya memangnya kenapa? Lebih baik daripada dia bersama pria misterius sepertimu." ucap Anderson.
"Kau yakin sudah melupakan Maria?? Oh kudengar wanita itu sekarang ibu tirimu." ucap Tony tersenyum.
"Masalalu takkan mampu mengubah masa depan, kau camkan itu." ucap Anderson.
"Dan lagi, jika kau berani macam-macam pada Arne aku takkan tinggal diam..!" ancam Anderson.
"Kau mengancam atasanmu?" tanya Tony tersenyum.
"Memangnya kenapa? Kau itu atasanku di rumah sakit, saat ini kau hanyalah pria biasa di luar rumah sakit." ucap Anderson.
"Baiklah, mari kita mulai pertarungan ini.." ucap Tony.
"Sudah kubilang, Arne bukanlah sebuah piala..!" ucap Anderson tegas.
__ADS_1
"Ya.. Mari kita berusaha dan melihat siapa yg akan ia terima cintanya, aku sebagai atasannya, atau kau sebagai seniornya.?" ucap Tony percaya diri.
"Dan sedikit informasi, tadi Arne bilang akan memilih karir daripada cinta. Bukankah artinya nasib kita masih belum jelas?" balas Tony.
"Kita lihat saja nanti, yg kutahu Arne bukanlah wanita bodoh yg mudah percaya pada rayuan gombal pria sepertimu." ucap Anderson lalu berdiri dan meninggalkannya.
"Baik, aku akan mulai serius mendekatinya sekarang." ucap Tony.
Anderson pun hanya berhenti sejenak mendengarkan ucapan Tony lalu pergi dari tempat tersebut. Sementara Tony, dirinya tak mau kalah dari Anderson meski Arne terlihat sangat hati-hati serta memberi jarak padanya.
Sementara Anderson mulai menyadari isi hatinya yg sebenarnya. Selama ini hatinya selalu tertutup karena Maria dan Maria. Tapi kini, Anderson sudah melupakan wanita itu dan bisa melihat ke arah Arne yg selalu ceria dan positif.
.
.
Arne pun pulang ke apartemennya dan mendapati ibunya bersama ayahnya tengah berada di ruang tamu dan sedang berbicara.
"Ada apa ini?" tanya Arne.
"Arne kau sudah pulang." ucap Richard.
"Iya seperti yg papa lihat." ucap Arne.
"Arne, lebih baik kau duduk. Ada yg ingin papamu bicarakan." ucap Jeny.
Arne pun duduk dan Richard menatap serius pada Arne.
"Katakan pa, ada apa?" tanya Arne.
"Itu urusanku, sejak kapan papa mulai peduli padaku?" tanya Arne.
"Arne, Anderson itu dia masih mencintai mantan kekasihnya bernama Maria dan akan menunggunya. Kau takkan bahagia bila bersamanya." ucap Richard.
Arne pun tersenyum dengan lelucon ayahnya yg terlambat mendapat kabar terbaru Anderson.
"Apa papa pikir aku benar-benar tak tahu apapun?" tanya Arne tersenyum.
"Jadi kau sudah tahu dan tetap ingin bersamanya? Jangan konyol." ucap Richard.
"Apa papa pikir aku bodoh?"
"Papa, aku sudah tahu semuanya. Dan masalah itu sudah selesai, tak ada yg perlu aku khawatirkan." ucap Arne.
"Apa? apa maksudmu? Apa yg kau tahu darinya?" tanya Richard dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Anderson sudah tahu kalau mantan kekasihnya telah menikah dan hidup bahagia, dia juga menyadari kalau dirinya harus menatap ke depan dan tak terpaku pada masalalu. Hubungan mereka sepenuhnya sudah berakhir, bahkan di depan mataku." ucap Arne.
"Kau yakin?" tanya Richard.
"Kalau papa tak percaya, papa tahu tuan Romeo? Dia kakeknya Anderson dan tahu segalanya." ucap Arne.
"Baiklah, tapi kau jangan menyesal Arne jika sampai menikah dengannya." ucap Richard.
"Tentu saja, dan papa hanya khawatir kan kalau aku akan merusak rumah tangga putri kesayangan papa, makanya bertindak sejauh ini." balas Arne.
__ADS_1
"Arne, papa juga menyayangimu dan khawatir padamu." ucap Richard.
"Benarkah? tapi aku tak terlalu peduli karena sudah terlanjur kecewa pada papa." ucap Arne membuat Richard tak bisa berkata-kata lagi.
"Baiklah, papa permisi." ucap Richard.
"Ya.. Semoga hari-hari papa tidak terlalu kesepian karena aku sangat tegas pada istri papa." ucap Arne.
Richard pun pulang ke rumahnya setelah mendapat jawaban dari Arne. Dirinya paham kalau Arne merasa kecewa padanya, tapi sikap Arne semakin hari semakin berani padanya. Mungkin Arne sudah terlalu banyak menyimpan rasa sakit selama ini hingga akhirnya tak tahan lagi pada sikapnya.
Sementara itu, Jeny pun menanyakan soal Anderson padanya.
"Jadi masalah Anderson kau yakin sudah beres?" tanya Jeny.
"Sudah ma, mama tenang saja lagipula kami sepakat untuk membatalkannya setelah kencan kelima." ucap Arne santai.
"Kau yakin? Kalian tak saling menyukai atau ada perasaan sedikitpun?" tanya Jeny.
"Ya ma, kami sudah memutuskan akan seperti itu." ucap Arne.
"Lalu kau bilang tadi atasanmu mengajakmu makan malam? Apa dia punya tujuan terselubung?" tanya Jeny penasaran.
"Tadi dia bilang menyukaiku, dan aku menolaknya. Meski sudah kutolak dua kali dia tetap akan terus menunggu." ucap Arne.
"Wow, kau didekati dua pria hebat dan kau masih belum menentukan pilihan." ucap Jeny.
"Memang Anderson masuk hitungan ma?"
"Ya.. Siapa yg tahu sayang." ucap Jeny.
"Kurasa tidak, dia itu selalu menganggapku gadis kecil." ucap Arne.
"Yasudah, lagipula kau masih muda dan perjalananmu masih panjang." ucap Jeny.
"Benar, tapi ma lukisan ini membuat suasana apartemen jadi lebih baik." ucap Arne.
"Ya.. Ini rekomendasi teman mama." ucap Jeny berbohong.
"Harusnya mama tak perlu menahan diri akan hobi mama." ucap Arne.
"Kau benar, mulai sekarang mama takkan menahan diri, kau juga sudah besar dan tak perlu dikhawatirkan." ucap Jeny.
"Ya.. Mama juga harus bahagia, aku akan selalu mendukung mama." ucap Arne.
"Terimakasih sayang." ucap Jeny.
.
.
Semmentara itu, pertarungan antara Anderson dan Tony dimulai. Keduanya tengah menyiapkan hadiah untuk Arne, dan berharap Arne akan terkesan dengan hadiah mereka.
Anderson pun memikirkan sebuah perhiasan yg mungkin akan bagus jika dipakai Arne. Sementara Tony tak tahu Arne menyukai apa, dirinya pun hanya terpikir sebuah tas mahal yg mungkin membuat wanita itu menyukainya.
"Tak ada wanita yg tak menyukai tas mahal.." gumam Tony melihat-lihat gambar tas di ponselnya.
__ADS_1
"Wanita manapun pasti akan menyukainya.." gumam Anderson melihat gambar perhiasan di ponselnya.