
Orang-orang pun panik berhamburan saat melihat api dan mendengar bunyi alarm. Semuanya pun langsung berlari keluar dan menunggu situasinya menjadi tenang untuk evakuasi.
Begitu juga dengan Arne dan Anderson yg ikut berlari keluar resto. Arne pun menyadari sudah ada jas Anderson di bahunya.
"Eh.. Terimakasih prof." ucap Arne.
"Hm.." balasnya.
"Kelihatannya apinya cukup besar." ucap Arne.
"Ya.. Kita sedang tak beruntung." ucap Anderson.
Untungnya dalam kejadian ini tak ada korban jiwa dan semua berhasil keluar dan menyelamatkan diri. Mobil pemadam kebakaran pun tiba di lokasi dan memadamkan api yg ada di dalam resto. Dan semua orang melakukan evakuasi. Setelah semuanya aman dan tak terdeteksi korban mereka pun diperbolehkan pulang.
Begitulah kencan kedua Arne, meski mereka sudah mulai akur tapi malah terjadi insiden kebakaran di resto tersebut. Dan baik Romeo ataupun Jakson sangat terkejut mendengar berita itu. Mereka berdua pun langsung menghubungi cucu-cucunya untuk memastikan keadaan mereka.
Setelah keduanya dipastikan aman, Anderson dan Arne pun diminta langsung pulang. Arne sedikit merasa kecewa karena tak menghabiskan semua pesanannya.
"Sayang sekali terjadi kebakaran." ucap Arne
"Benar, padahal resto itu cukup ramai dan populer." ucap Anderson.
"Aku tak perduli soal kepopulerannya, aku hanya menyayangkan makananku tadi." ucap Arne kecewa.
"Ck.. Ternyata kau itu hobi makan juga." ucap Anderson.
"Karena manusia selalu mengecewakan, lebih baik aku mencintai makanan." balas Arne.
"Cih, malah curhat." ucap Anderson.
"Prof, bisa kita mampir ke resto sushi Xx.." ucap Arne.
"Kau masih mau makan lagi?" tanya Anderson.
"Aku mau menikmati kencan ini dengan makan, kalau prof tak mau turunkan aku saja nanti aku pulang naik taksi." ucap Arne.
"Hhh.. baiklah." ucap Anderson kemudian menuju ke resto sushi yg diinginkan Arne.
Mereka pun berhenti disana dan Anderson ikut masuk ke dalam membuat Arne bingung.
"Mau ikut masuk juga?" tanya Arne.
"Ya.. Daripada aku diomeli kakek tua itu." ucap Anderson.
"Dasar cucu tak berakhlak." ucap Arne.
Anderson pun ikut masuk dan mereka mendapatkan tempat duduk. Lalu Arne memesan makanan disana dan menunggu beberapa lama. Hingga akhirnya makanan pun tiba dan Arne tersenyum menatapnya.
"Kau tak takut jadi gemuk?" tanya Anderson.
"Aku hanya tinggal berolahraga.." balas Arne asik memfotonya dan mengupload ke media sosialnya.
"Kau itu wanita yg aneh, kebanyakan wanita memilih diet untuk kurus, kau yg sudah kurus malah makan sepuasnya." ucap Anderson tak habis pikir.
"Haha.. Ya hidup hanya sekali harus dinikmati, apalagi kenyataan kadang tak semanis gulali." ucap Arne.
__ADS_1
Kata-kata Arne pun terdengar simple tapi punya makna yg cukup dalam. Kata-kata yg menggambarkan kesulitan dan kepahitan hidupnya beberapa bulan terakhir. Mulai dari pengkhianatan mantan kekasihnya sampai perceraian orang tuanya, lalu masa residen yg sangat berat baginya.
Anderson pun hanya melihat Arne menikmati makanannya, dirinya pun sudah cukup kenyang hanya dengan melihat Arne makan. Anderson hanya memesan minuman di resto sushi ini.
Setelah Arne selesai makan, dirinya pun nampak bahagia sekali. Dan Anderson jadi ikut senang melihatnya.
"Kau tersenyum?" tanya Arne.
"Tidak, kau yg salah lihat." ucap Anderson berbohong.
"Yah mungkin begitu." ucap Arne lalu memanggil pelayan untuk membayar tagihannya.
Tapi Anderason menyerobotnya dan membayar tagihan Arne. Nampak sekali Anderson mempertahankan harga dirinya sebagai laki-laki.
"Padahal kau tak perlu membayar ini semua prof." ucap Arne.
"Setidaknya aku harus mempertahankan harga diriku." balas Anderson.
"Ya, itu memang dirimu." ucap Arne.
Setelah itu Arne pun diantarkan pulang oleh Anderson. Dan hampir tak ada pembicaraan lain selain Arne mengucapkan terimakasih atas malam ini.
"Terimakasih prof, sampai jumpa di kencan berikutnya." ucap Arne.
"Hmm." balas Anderson.
.
.
Sementara itu, kedua kakek mereka sedang berdebat karena resto pilihan Romeo ternyata mengalami kebakaran. Dan Jakson marah padanya padahal itu bukan salah Romeo.
"Ck.. Pokoknya itu salahmu." ucap Jakson.
"Kau itu posesif sekali pada cucumu, mereka bilang mereka baik-baik saja.. Bahkan berita di tv juga mengabarkan tak ada korban jiwa." ucap Romeo.
"Tapi semua itu hampir saja membuat Arne dalam bahaya." ucap Jakson.
"Dan Jeny bilang mereka belum pulang, bagaimana aku tak panik." tambahnya.
"Anderson bilang cucumu ingin makan sushi." ucap Romeo.
"Sushi?" tanya Jakson.
"Ya.. dan saat ini mereka sedang ada disana, mungkin sebentar lagi pulang." ucap Romeo.
"Lain kali aku yg akan tentukan restorannya." ucap Jakson.
"Ya kawan, kau bebas menentukannya.. Maafkan aku." ucap Romeo mengalah.
"Huh.. Untung saja Arne-ku tak apa-apa." ucap Jakson.
Keduanya pun saling mengumpat dalam hati karena kencannya malam ini hampir gagal.
"*Dasar pria tua menyebalkan." umpat Romeo dalam hati.
__ADS_1
"Dasar Romeo sudah tua masih saja sok romantis padahal seleranya buruk." gumam Jakson dalam hati*.
Lalu Jakson pun memilih pulang setelah puas mengomeli Romeo sahabatnya sendiri. Dan Romeo merasa lega melihat sahabatnya tersebut sudah pulang. Walau jauh di dalam hatinya dirinya juga mengkhawatirkan Anderson cucunya.
.
.
Sementara Arne kembali menceritakan pengalaman kencan keduanya ini dengan Jeny. Dan Jeny pun hanya bisa tertawa mendengarnya.
"Mama jangan tertawa terus, lihatlah nasibku ini yg tak beruntung." ucap Arne.
"Habis, setiap kencan pasti selalu ada saja ceritanya.. Kemarin bertengkar, sekarang restonya kebakaran.. nanti apalagi yg akan terjadi?" ucap Jeny tak bisa menahan tawanya.
"Mungkin Anderson akan akrobat nanti." ucap Arne.
"Haha.. Itu pasti lucu sekali." ucap Jeny.
"Mama, dulu mama saat kencan bagaimana?" tanya Arne.
"Bagaimana ya? Kalau dengan papamu itu ya seperti kencan pada umumnya." ucap Jeny.
"Yang paling berkesan untuk mama, misalnya dengan pria lain selain papa." ucap Arne.
"Ada sih, dia mantan kekasih mama.. Orangnya baik, hangat dan sangat menghormati wanita.. Dia menyiapkan makan malam romantis di dekat pantai.. Lalu entah bagaimana tiba-tiba makanan datang dan kami sangat bahagia waktu itu." ucap Jeny mengenang kencannya dengan Sammy tanpa menyebut nama Sammy.
"Wah, siapa pria itu? Apa lebih tampan dari papa?" tanya Arne.
"Sejujurnya iya.. Tapi jika mama menikah dengannya kau takkan lahir kedunia ini, jadi mama tetap bersyukur pernah menikah dengan papamu." ucap Jeny.
"Lalu pria itu sekarang bagaimana?" tanya Arne.
"Dia sedang diluar negeri, mungkin sudah menikah." ucap Jeny berbohong.
"Oh, padahal jika masih single aku akan menjodohkan mama lagi dengannya." ucap Arne.
"Ck.. Dasar tak sopan, mama ini sudah tua bukan saatnya lagi cinta-cintaan." ucap Jeny mencubit pipi Arne.
"Aww.. Sakit ma.." protes Arne.
"Makanya, jangan jodoh-jodohkan mama.. Mama cukup bahagia hidup bersamamu." ucap Jeny.
"Kalau aku menikah, mama pasti sendirian." ucap Arne.
"Selagi mama bisa bekerja tak masalah, lalu jika mama sudah pensiun mama akan tinggal di luar negeri." ucap Jeny.
"Wah mama, selalu punya rencana luar biasa." ucap Arne.
"Kau juga harus memikirkannya, jangan hanya satu rencana saja." ucap Jeny.
"Ma.. Mama yakin tak mau menikah lagi?" tanya Arne.
"Tidak, menikah itu merepotkan. Lebih baik kau saja yg menikah." ucap Jeny.
"Aku bahkan belum menemukan jodohnya.. " ucap Arne.
__ADS_1
"Tapi yg paling penting daripada menikah adalah kebahagiaanmu, kau harus ingat itu Arne." ucap Jeny.
"Iya ma." ucap Arne.