
Jakson pun langsung membuat laporan ke pihak berwajib beserta sederet bukti dari ponsel pelaku. Dan juga pelaku tersebut ikut terseret kasus ini serta masuk penjara. Pihak berwajib juga dengan cepat memproses surat penangkapan dan akan menangkap Aini secepatnya.
Sementara Aini, dirinya habis ikut kelas parenting. Tapi karena bosan, dirinya hanya tertidur selama kelas berlangsung. Lalu dibangunkan saat kelas hampir selesai. Hidupnya pun sangat tak menyenangkan saat ini, hingga Aini mengadu pada Richard kalau tidak bisa berbelanja lagi.
Richard pun paham alasan Boy melakukan hal ini, tapi bagaimanapun Aini juga putrinya. Dan Richard mentransfer sejumlah uang untuk Aini bersenang-senang. Tentunya Aini sangat senang mendapat kiriman uang dari Richard.
Selesai kelasnya, Aini pun langsung ke Mall untuk sedikit berbelanja menghilangkan penatnya. Dan wanita itu begitu bahagia bisa kembali melihat-lihat barang-barang bagus di toko langganannya.
"Wah akhirnya aku punya kesempatan melihat barang baru ini.." gumamnya.
Aini pun dengan cepat mengambil barang incarannya dan membayarnya di kasir. Lalu tiba-tiba beberapa orang mendekatinya.
"Nona Aini.." ucap salah seorang.
"Ya, saya sendiri.. ada apa?" tanya Aini tegas dan tak suka.
"Anda ikut kami.."
"Apa salahku? siapa kalian?" tanya Aini berontak.
"Kami pihak berwajib, ini surat penangkapannya." ucapnya menyerahkan surat tersebut.
"A-apa.." ucapnya.
"Sudah ikuti saja.. nanti anda bisa sewa pengacara." ucap petugas.
Aini pun digiring ke kantor polisi dan diintrogasi. Aini merasa ketakutan dan meminta untuk menghubungi keluarga serta suaminya. Dirinya tak menyangka akan dilaporkan oleh kakeknya sendiri. Tapi dari awal memang Jakson kurang menyukainya, ditambah lagi kejahatannya terungkap dan orang suruhannya sudah ditahan terlebih dahulu.
"Dasar bodoh, pasti orang itu sudah mengakui semuanya.. apa yg akan terjadi denganku?? aku tak mau dipenjara." gumam Aini dalam hati.
Saat diintrogasi Aini pun hanya menangis dan bilang tak tahu apa-apa. Lalu dirinya yg mulai tertekan merasakan sakit pada perutnya. Mau tak mau pihak berwajib memberinya waktu sejenak sambil menunggu pihak keluarga, dan jika bertambah parah mungkin Aini akan dibawa ke rumah sakit.
Richard dan Martha pun tiba lebih dahulu di kantor polisi. Mereka langsung menemui Aini dan beebicara pada pihak berwajib soal kasus yg menimpa Aini. Richard pun terkejut saat tahu kalau ayahnya sendiri yg melaporkan tindakan Aini beserta sejumlah bukti kuat lainnya. Richard pun tak bisa berbuat banyak untuk menangani kasus ini selain meminta ampunan Jakson dan Arne.
"Aini putriku.." ucap Martha menangis.
"Mama.. aku tak mau disini.. disini menakutkan." ucap Aini menangis.
"Ya.. kau akan segera bebas nak." ucap Martha.
"Syukurlah ma." ucap Aini senang.
Kemudian Boy datang dengan panik dan bertanya pada Martha.
"Apa yg terjadi ma?" tanya Boy.
"Kau ini suami macam apa? sampai baru datang sekarang? lihat Aini dia ketakutan berada disini." ucap Martha.
"Aku tadi banyak kerjaan di kantor dan tak mengecek ponsel." ucap Boy.
"Alasan saja, lihat sekarang Aini bisa terkena masalah." ucap Martha.
"Aini apa yg kau lakukan?" tanya Boy.
"Apa maksudmu berkata begitu pada putriku?" tanya Martha.
"Tak mungkin ada asap tanpa ada api.. pasti ada alasannya." ucap Boy.
__ADS_1
"Cukup..!" ucap Richard.
"Papa.. apa yg terjadi?" tanya Boy.
"Aini bisa kau jelaskan kenapa kau sampai menyewa orang untuk mengikuti Arne?" tanya Richard.
"Papa.. aku.." ucap Aini mulai menangis.
"Menangis takkan membuatmu keluar dari sini." ucap Richard.
"Richard, pelan sedikitlah dia putrimu dan sedang mengandung." ucap Martha.
"Ck.. aku mau tahu alasannya, memangnya apa salah Arne padanya?" tanya Richard.
"Karna Arne akan merebut Boy dariku." ucap Aini.
"Aini apa-apan kau ini? hanya demi alasan konyol itu kau melakukan semua ini ha..? kau sudah gila?" tanya Boy kesal.
"Kau yang mulai berubah, kau yg lebih banyak diam dan jarang ada di rumah.. mana kutahu kau menemui Arne diluaran sana." ucap Aini menangis.
"Jadi kau menyuruh orang itu untuk mengikuti Arne untuk menakut-nakutinya, mengancamnya, bahkan kalau bisa menculiknya? begitu?" tanya Richard kesal.
"Kenapa papa marah padaku?" tanya Aini.
"Arne juga putriku.. kau tahu aku mengabaikannya demi dirimu..!" ucap Richard kesal.
"Bahkan saat ini pun papa lebih memikirkan Arne." ucap Aini.
"Saat ini papa tak bisa berbuat apa-apa, karena semua bukti yg dimiliki kakekmu tak bisa dibantah lagi." ucap Richard.
"Jadi aku tak bisa bebas?" tanya Aini syok.
Bughh..
"Diam kau bre**kk..!" ucap Richard memukul Boy karena kesal dengan ucapannya.
"Kita harus meminta Jakson mencabut gugatannya.. jika perlu berlutut padanya dan Arne.." ucap Richard.
"Tidak mungkin.." ucap Martha.
"Papa.. kumohon bebaskan aku.. kumohon minta kakek dan Arne mancabut gugatannya." ucap Aini.
"Boy, kau juga harus melakukan sesuatu." ucap Aini.
"Tenanglah sayang, kau pasti bebas." ucap Martha.
"Akhh perutku sakit.." ucap Aini.
"Apa yg terjadi sayang?" tanya Martha.
"Sakit ma.." ucap Aini.
"Aini.. kau baik-baik saja? apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Boy ikutan panik.
Dengan meminta ijin pihak berwajib, mereka pun membawa Aini ke rumah sakit. Aini pun merasa stres yg mengakibatkan perutnya sakit serta ada sedikit pendarahan. Kini Aini dirawat di rumah sakit.
Sementara Martha tak terima akan perlakuan Arne dan Jakson pada putrinya. Dirinya mencari Arne di rumah sakit tapi tak menemukannya. Kemudian Boy menenangkannya dan mengajaknya ke apartemen Arne. Tapi Richard tahu kalau Martha hanya akan mengacau, hingga Martha diminta untuk menjaga Aini dan dirinya beserta Boy yg akan menemui Arne.
__ADS_1
.
.
Di apartemen Arne, nampak sepi karena hanya ada Arne dan mamanya masih bekerja. Bel pun ditekan berkali-kali dan Arne sedang tertidur pulas karena habis jaga malam. Tapi setelah berbunyi berkali-kali, akhirnya Arne pun terbangun.
"Siapa sih berisik sekali.. tak mungkin mama karena mama tahu paswordnya.. apa paket ya?" gumam Arne kemudian membuka matanya.
Arne pun berjalan perlahan menuju ke pintu masuk dan melihat layar dimana ada Richard dan Boy di depan pintu. Perasaannya pun mulai tak enak.
"Mau apa mereka berdua kemari.?" gumamnya.
Arne pun membuka pintunya dan melihat kedua pria itu dihadapannya.
"Papa.. Boy.. ada apa ini?" tanya Arne.
"Arne bisa kita masuk?" tanya Richard.
"Baiklah, kuberi waktu 10 menit karena aku butuh istirahat." ucap Arne yg masih lelah.
"Jelaskan ada apa ini?" tanya Arne setelah mereka duduk.
"Arne, bisakah kau mencabut laporan terhadap Aini?" tanya Boy.
"Laporan? laporan apa? aku saja baru pulang pagi ini.." ucap Arne bingung.
"Kau sama sekali tak tahu kalau Aini ditahan hari ini?" tanya Richard dan Arne hanya menggeleng.
"Aku tak punya waktu mengurusi putri kesayangan ayah, dan istrimu itu Boy." balas Arne kesal.
"Kau sungguh-sungguh tak tahu apapun?" tanya Boy lagi.
"Waktu tidurku saja kurang, bagaimana aku mengurusi istrimu." balas Arne.
"Cukup Boy.. " ucap Richard.
"Jadi ini ulah kakekmu." ucap Richard.
"Tapi, kakek tak mungkin sampai melaporkan Aini tanpa adanya masalah dan bukti. Jelaskan ada apa?" tanya Arne.
"Jadi, Aini mengirim orang untuk mengikutimu karena takut kau dan Boy bertemu secara diam-diam." ucap Richard.
"Astaga.. dia kira aku pelakor? lihat kan ulah putri kesayangan ayah sampai melakukan hal sejauh itu padaku." ucap Arne kesal.
"Maaf Arne.. kumohon maafkan Aini." ucap Richard.
"Arne, aku juga memohon maafkan Aini.. bebaskan ia karena saat ini dia sedang dirumah sakit.. aku mohon demi anakku." ucap Boy memohon.
"Kalaupun aku maafkan, yg membuat laporannya kakek.. jadi tak ada gunanya memohon padaku." ucap Arne.
"Kau benar." ucap Richard.
"Lebih baik temui kakek, jangan bicara denganku, aku bahkan tak tahu apa-apa." balas Arne.
"Baiklah, maaf mengganggu waktu istirahatmu." ucap Richard.
"Ya.. semoga beruntung dengan kakek." ucap Arne.
__ADS_1
Setelah Richard dan Boy pulang, Arne pun menghubungi kakeknya dan meminta penjelasan soal kasus Aini. Jakson pun akhirnya menceritakan segalanya.