
Sampai saat ini Arne belum menemukan jawabannya atas perjodohannya dengan Anderson. Dan kini dirinya masih sibuk dengan bekerja. Bahkan Jakson pun angkat tangan soal ini. Arne tak ingin tertekan soal perjodohannya tapi disisi lain dirinya jadi pribadi yg egois dan tak jelas.
Dan lusa Anderson harus pergi menjadi dokter relawan di luar negeri. Pria itupun menjadi gundah karena Arne belum memberikan jawabannya juga. Tak mungkin pula Anderson memaksanya untuk menjawab.
"Apa yg kutunggu sekarang?" gumam Anderson dalam hati.
Tapi dalam kasusnya lebih baik menunggu Arne yg sudah jelas single daripada menunggu Maria yg ternyata istri ayahnya sendiri. Anderson pun terus bersabar hingga menjelang keberangkatannya.
"Arne, kau masih belum ada jawaban pasti?" tanya Anderson.
"Ya.. Belum." ucap Arne.
"Apa yg membuatmu bingung? Kau bisa menolakku, aku takkan marah." ucap Anderson.
"Pernikahan. Aku rasa belum siap untuk itu." ucap Arne.
"Intinya aku ditolak atau tidak, bukan menikah." ucap Anderson.
"Maaf aku belum bisa memutuskan." ucap Arne.
"Besok, ikut aku ke suatu tempat.. Aku menunggu jawabanmu, jika memang kau tak yakin lebih baik kau tolak aku malam itu juga." ucap Anderson.
"Prof.." ucap Arne.
"Periksa pasienmu saat ini.." perintah Anderson serius.
"Ah apa yg terjadi dengannya.?" gumam Arne.
Arne pun bekerja dan memikirkan perubahan sikap Anderson yg begitu terlihat. Pria itu nampak gelisah dan Arne sadar kalau lusa Anderson akan pergi dari negara ini.
"Astaga.." ucap Arne.
"Ada apa?" tanya Kenzi.
"Aku ingat sesuatu Kenzi." ucap Arne.
"Ingat apa?" tanya Kenzi.
"Besok prof akan pergi kan." ucap Arne.
"Jangan bilang kau baru sadar saat orangnya akan pergi." ucap Kenzi.
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya." ucap Arne.
"Arne, cinta itu bukan rumus matematika yg harus kau pecahkan dengan angka dan logika." ucap Kenzi.
"Lalu?"
"Kau harus merasakan dan menyadarinya. Baru kau bisa memahaminya." ucap Kenzi.
"Baiklah." ucap Arne.
"Jadi bagaimana perasaanmu?" tanya Kenzi.
"Tak menentu." balas Arne.
"Hee.. Kau baik-baik saja.?" tanya Kenzi.
"Entahlah." balas Arne.
"Pantas saja dia tegas begitu dan mengajakku pergi besok malam." gumam Arne dalam hati.
.
.
Dan akhirnya perlahan-lahan Arne menyadari ketidakpastiaannya. Tapi saat dirinya menyadarinya semuanya sudah terlambat karena penerbangan Anderson dipercepat karena ada suatu hal. Arne pun terkejut mendengar kalau Anderson langsung berangkat hari ini.
__ADS_1
"Arne, prof sudah berangkat hari ini." ucap Kenzi.
"Kau yakin?" tanya Arne.
"Aku yakin, tadi beberapa senior membicarakannya." ucap Nino.
"Apakah aku masih sempat mengejarnya?" tanya Arne.
"Ck, katanya pesawat akan terbang dua jam lagi.. Pergilah." ucap Nino.
"Baiklah, terimakasih Nino, Kenzi." ucap Arne.
Arne pun langsung menuju ke bandara sambil berlarian. Dirinya juga membawa mobilnya dengan kecepatan penuh yg masih aman digunakan. Tapi jalanan pun sedang tak bersahabat dan macet parah. Arne pun terjebak kemacetan dan tak tahu apakah bisa tiba tepat waktu.
"Apa yg terjadi disini." gumamnya.
Arne pun berusaha secepat mungkin untuk tiba di bandara. Meski nampaknya terlambat, karena Arne tiba saat pesawat hendak lepas landas. Arne pun hanya bisa terduduk lesu di kursi saat melihat jadwal penerbangan Anderson sudah berangkat.
"Bodoh.. Sudah mengejar pun masih saja gagal." gumam Arne menangis.
Arne pun jadi teringat kalau dirinya ijin hari ini, dan tak tahu apakah akan dihukum atau tidak. Namun, dirinya saat ini tak memedulikan hukumannya dan menangis karena menyesal.
Di sudut lain, Anderson melihat Arne sedang di bandara sambil menangis. Saat itu dirinya sedang memegang segelas kopi karena penerbangannya ditunda sementara. Anderson pun mendekatinya dan ingin bertanya apa yg terjadi karena harusnya Arne berada di rumah sakit saat ini.
"Arne.. Kaukah itu?" tanya Anderson.
"Apa ini nyata, bahkan aku mulai berhalusinasi." ucap Arne.
Tap.. Anderson pun menepuk bahunya.
"Apa maksudmu? Kau sakit, kenapa ada disini?" tanya Anderson.
"Ini benar kau prof?" balas Arne dengan pertanyaan.
"Hh.. Iya, memangnya aku hantu?" balas Anderson.
"Bukan, itu bukan pesawatku.. Jadwalku ditunda 2 jam lagi." ucap Anderson.
"Kok bisa?"
"Kau pasti berpikir aku pergi ke negara X.." ucap Anderson.
"Bukankah kau yg bilang sendiri?" balas Arne.
"Ada sedikit perubahan, aku terbang hari ini karena negara C lebih butuh bantuan dan disana cukup aman dibanding negara X." ucap Anderson.
"Lalu kenapa kau tak memberitahuku? Kau bilang nanti malam akan bicara?" tanya Arne.
"Itu semua terjadi mendadak, aku tak sempat menghubungimu." ucap Anderson.
"Begitu rupanya." ucap Arne.
"Tapi kau tadi menangis kenapa? Bukan karenaku kan?" tanya Anderson.
"Itu karena kau, semuanya salahmu.."
"Salahku?" tanya Anderson.
"Ya.. Kau pergi tanpa berpamitan." ucap Arne.
"Tapi haruskah sampai menangis?"
"Ck.. Pokoknya.." ucap Arne dan mulutnya langsung dimasukkan roti oleh Anderson.
"Cukup Arne, sekarang katakan kenapa kau berada disini? Kau seharusnya bekerja kan?" tanya Anderson.
"Itu karena aku pikir ingin bicara denganmu sebelum kau pergi." ucap Arne.
__ADS_1
"Soal apa? Sampai kau berani bolos kerja?" tanya Anderson tegas.
"Soal keputusanku." ucap Arne.
"Keputusan? Kau itu dokter jangan macam-macam dan seenaknya." ucap Anderson malah memarahinya.
"Padahal aku berniat menerimamu tapi malah dimarahi dan diceramahi, yasudah aku mau pulang..!" ucap Arne.
"Menerimaku? Menerima perjodohan maksudnya?" tanya Anderson tersenyum.
"Sudah terlambat." balas Arne.
"Baiklah, sana pulang sebentar lagi aku akan berangkat. Mungkin aku akan bertemu wanita seksi disana." ucap Anderson.
"Dasar mesum." ucap Arne tak terima.
"hahaha.. jadi kau yakin mau menolakku?" tanya Anderson.
"Iya.. Bye..!" ucap Arne bangkit dari duduknya.
Anderson pun bangkit dari kursinya dan menarik tangan Arne dan membawanya ke pelukannya.
"Lepaskan.." ucap Arne.
"Diamlah sebelum kau dilihat oleh orang-orang." ucap Anderson.
"Ck.."
"Terimakasih sudah jauh-jauh kemari, maaf kmsudah mengomelimu." ucap Anderson.
Arne pun hanya terdiam, sangat jarang Anderson berkata lembut begitu.
"Kau yakin pada ucapanmu tadi?" tanya Anderson melepaskan pelukannya.
"Iya." balas Arne malu.
"Rasanya ingin kubatalkan perjalanan ini.." ucap Anderson.
"Pergilah, katanya mau pergi." ucap Arne.
"Masih ada waktu dua jam, mau pergi dengan apa?" balas Anderson.
"Kau sendiri bagaimana?" balas Anderson.
"Paling aku dimarahi dan dihukum." ucap Arne.
"Anak nakal." ucap Anderson.
"Memangnya ini gara-gara siapa?" tanya Arne.
"Makanya aku tak mengabarimu agar kau bekerja, eh malah muncul sambil menangis. Mana mungkin aku setega itu." ucap Anderson.
"Dan kau akan pergi begitu saja, begitu maksudmu?" tanya Arne.
"Aku akan menghubungimu nanti saat sudah tiba." ucap Anderson.
"Dan aku akan menyesal karena terlambat menyadarinya." ucap Arne.
"Kau sadar di menit-menit akhir, rupanya kau cukup dramatis." ucap Anderson.
Sementara Arne manatapnya tajam.
"Ya kau mau lanjut bolos 2 jam kedepan atau pulang, aku takkan memaksa." ucap Anderson.
"Aku sudah terlanjur disini.. Jadi tak ada salahnya menunggu sampai kau pergi." ucap Arne.
"Baiklah, lebih baik kita mencari tempat makan." ucap Anderson.
__ADS_1
Anderson pun mengajak Arne ke tempar makan karena tak mungkin mereka menunggu dua jam kedepan. Dan dua jam terasa sangat cepat bagi keduanya. Saat Anderson harus pergi rasanya begitu berat meninggalkan Arne, tapi semua tanggungjawab harus ia jalani. Dan Arne pun harus melepas kepergian Anderson selama tiga bulan lamanya.