Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.82 Drop


__ADS_3

Hari kedua pun berlangsung, dan semuanya masih berjaga di pos yg sudah disediakan. Semua orang pun antusias untuk memeriksakan diri terlebih ini gratis tanpa dipungut biaya apapun.


Tapi Arne dibuat kerepotan oleh tindakan Tony yg menugaskannya mengerjakan banyak laporan sendirian. Bahkan Tony tak ingin yg lain mengerjakannya. Hingga Arne harus bekerja lebih keras dari yg kemarin setelah dirinya selesai menjadi relawan.


"Arne kau baik-baik saja?" tanya Kenzi.


"Ya.. Aku cukup lelah." balas Arne.


"Dia sudah kelewatan." ucap Nino.


"Kau tumben peduli pada kami." ejek Kenzi.


"Maaf jika aku sibuk belakangan ini, tapi Ken dia itu memang sengaja melakukan ini pada Arne." ucap Nino.


"Itu benar." ucap Arne.


"Jadi ini efek dari penolakan itu? Payah sekali." ucap Kenzi.


"Dia memang pecundang." ucap Nino.


"Bagaimana pun aku harus melewati masa sulit ini dan menyelesaikan masa residenku." ucap Arne.


"Tapi jangan memaksakan diri." ucap Kenzi.


"Aku mengerti, tapi aku harus membuat si tuan penguasa ini diam." ucap Arne.


"Kau pasti bisa.. Aku akan membantumu." ucap Kenzi.


"Aku juga bisa membantumu Arne." ucap Nino.


"Terimakasih teman-teman." ucap Arne.


Arne pun melakukan pekerjaan sukarelawannya kemudian membuat semua laporan di hari ketiga. Tubuhnya sudah sangat lelah, karena setiap malam mengerjakan semua laporannya. Dan Tony benar-benar menyiksanya melebihi Anderson. Pria itu berharap dengan hukuman ini Arne akan tunduk padanya.


Tapi Arne bukan tipe orang yg akan tunduk pada siapapun. Dirinya terbiasa berada di tempat yg tinggi dan bisa meraih segalanya dengan kedua tangannya. Arne pun akan membuktikannya kalau dirinya tak mau menyerah pada hukuman Tony dan memilih menjalaninya.


Tepat di hari terakhir acara sukarelawan tersebut, Arne pun diminta memberikan dokumennya langsung pada Tony. Dan Arne mau tak mau mengerjakannya secepat mungkin. Padahal biasanya laporan itu bisa dikumpulkan esok harinya. Tapi karena Tony begitu ingin menundukkan Arne, dirinya tega membuat Arne tersiksa karena tekanan pekerjaan ini.


Malam itu, Arne pun menyerahkan laporannya pada Tony. Dan dirinya ditemani oleh Kenzi beserta Nino. Mereka melihat Arne mulai kelelahan, hingga khawatir meninggalkannya sendiri mengantarkan laporan tersebut kepada Tony.


"Permisi." ucap Arne.


"Silahkan. Akhirnya kau sudah menyelesaikannya." ucap Tony.


"Tentu tuan." ucap Arne.


"Kau terlihat lelah." ucap Tony.


"Semua orang juga terlihat lelah hari ini." balas Arne.


"Mau kuantar pulang?" tanya Tony.


"Tidak, aku masih sanggup pulang sendiri. Terimakasih." ucap Arne.


"Kau masih saja keras kepala." ucap Tony.


"Dan anda masih saja seperti ini.. Apa anda tidak lelah?" tanya Arne.


"Aku juga lelah jadi ayo hentikan dan terima aku." ucap Tony.


"Teruslah bermimpi tuan, selamat malam." ucap Arne keluar dari ruangan Tony.

__ADS_1


Arne pun berjalan keluar dan menemui teman-temannya yg masih menunggunya. Dan mereka mendapati Arne yg kelelahan sampai pingsan saat keluar dari ruangan Tony.


Arne nampaknya terlalu memaksakan diri, sampai tubuhnya tak kuat lagi. Kenzi dan Nino pun segera mengurusnya. Arne langsung dibawa ke ruang perawatan dan mendapatkan penanganan.


Jeny pun dihubungi oleh Kenzi dan langsung tiba di rumah sakit. Dirinya sangat cemas mendengar kabar Arne yg pingsan. Jeny pun menjaganya semalaman, dan menyuruh kedua temannya pulang. Sementara Tony tak tahu soal kejadian ini, dirinya masih kesal karena terus menerus ditolak.


.


.


Pagi harinya Arne pun terbangun dan sudah berada di ranjangnya. Di sampingnya masih ada ibunya yg menjaganya semalaman.


"Arne, kau sudah sadar." ucap Jeny senang.


"Iya ma, mama kenapa disini? Harusnya mama tinggalkan aku saja." ucap Arne.


"Sudah diam, mana bisa mama tidur nyenyak jika kau sakit." ucap Jeny.


"Mama selalu berlebihan, aku hanya kelelahan." ucap Arne menyadari dirinya tak sadarkan diri setelah menemui Tony.


"Apa kau tertekan bekerja disini?" tanya Jeny.


"Bukankah itu biasa ma jika sedang menjalani masa residen?" balas Arne.


"Kau benar, kau harus bertahan sayang.." ucap Jeny.


"Mama, pulanglah ini sudah jam segini.." ucap Arne.


"Mama bisa ijin hari ini." ucap Jeny.


"Mama, aku baik-baik saja, mama pulanglah istirahat jika hari ini ijin." ucap Arne.


"Dasar kau ini keras kepala.. Baiklah mama pulang, lagipula mama tidak bisa meninggalkan pekerjaan mama." ucap Jeny.


"Kau ini memang benar-benar keras kepala." ucap Jeny.


"Aku sudah baik-baik saja ma." balas Arne.


"Oke.. Awas kalau kau sampai pingsan lagi." ancam Jeny.


Jeny pun dengan berat hati meninggalkan rumah sakit, dan sebelumnya dirinya sudah meminta bantuan Anderson untuk menjaga Arne. Jeny juga sudah menghubungi Kenzi untuk mengawasi Arne. Jeny berharap Arne baik-baik saja, dan istirahat hari ini, tapi jika dirinya keras kepala akan sulit menasehatinya.


"Semoga Arne tidak memaksakan diri." gumam Jeny dalam hati.


Jeny pun sudah mengadukan tindakan Tony pada Sammy, tapi nampaknya Sammy pun tak punya kuasa penuh karena Tony adalah atasannya. Meski begitu, Jeny menitipkan putrinya pada mantan kekasihnya tersebut.


Anderson yg baru tiba pun mendatangi ruangan Arne. Dirinya melihat Arne yg masih terbaring lemah di tempat tidur.


"Hh.. Apa-apaan ini? Kau itu dokter bukan pasien.." ucap Anderson menghela nafas.


"Maaf prof.. Aku hanya sedikit drop kemarin." ucap Arne.


"Hari ini jangan bekerja." ucap Anderson.


"Tidak mau, kasihan yg lain jika aku ijin." ucap Arne.


"Dasar keras kepala, kau itu masih butuh istirahat." ucap Anderson.


"Tapi prof.." ucap Arne.


"Tapi apa? mau kusiksa sampai pingsan?" tanya Anderson.

__ADS_1


"Aku pasti baik-baik saja." ucap Arne.


"Cih, kita lihat saja nanti." ucap Anderson.


"Ya.. Aku pasti akan bekerja." balas Arne.


Tak lama berselang, Kenzi pun datang dirinya membawakan Arne sarapan dan obat. Tak lama setelah Arne minum obat tersebut, dirinya tertidur lelap. Anderson sengaja memberinya obat yg mempunyai efek mengantuk agar Arne, bisa istirahat dan pulih sepenuhnya.


.


.


Sementara itu, Anderson meminta agar teman-teman Arne mengawasinya setiap jam dan melaporkan jika Arne nekat bekerja saat bangun. Tapi yg datang ke ruangan Arne bukanlah teman-temannya, tapi Tony.


Pria itu pun mendapat kabar kalau Arne pingsan setelah memberikan laporan tadi malam. Dan pria itu merasa sedikit bersalah karena membuat Arne sampai jatuh sakit.


Tony pun mendatangi ruangan Arne dan melihat kondisinya. Saat itu Arne masih tertidur karena efek obat yg diberikan.


"Apa yg terjadi? Apa sakitnya parah?" tanya Tony pada Boby.


"Menurut laporan dia hanya kelelahan dan butuh istirahat." ucap Boby asistennya.


"Ck.. Harusnya dia mendengarkanku dan mengikuti ucapanku." ucap Tony.


Tony pun mendekat ke tempat tidur Arne. Pria itupun melihat wajah Arne dengan seksama, nampak sudah tak sepucat tadi malam. Dan dirinya berniat mengecek suhu tubuh Arne dengan tangannya. Tapi Arne yg merasa kedatangan seseorang pun terbangun dari tidurnya.


Plakk..


Arne pun menepis tangan Tony.


"Apa yg anda lakukan disini?" tanya Arne terkejut.


"Arne, aku hanya ingin mengecek suhu tubuhmu." ucap Tony.


"Baiklah, maaf aku hanya terkejut. Terlebih anda masih orang asing dimataku." ucap Arne.


"Ck, harusnya kau mendengarkanku dan kau tak perlu sampai berakhir begini." ucap Tony.


"Maaf tuan, aku takkan menarik ucapanku.. Aku menolakmu dan kuharap anda menerimanya dengan ikhlas." ucap Arne.


"Sampai kapan kau akan begini? Kau hanya akan menyiksa tubuhmu." ucap Tony.


"Jika lelah aku hanya akan istirahat, jika sakit aku akan minum obat, jika kau menggangguku aku akan membalasmu." ucap Arne.


"Kau sangat yakin." ucap Tony.


"Ehmm.." ucap Anderson.


"Aku hanya mengunjungi stafku." ucap Tony.


"Aku tahu.. Tapi aku akan memeriksa kondisinya." ucap Anderson.


"Wah, infusmu sudah habis rupanya." ucap Anderson.


"Prof, bisakah aku keluar dari ruangan yg sesak ini?" tanya Arne.


"Tentu, kau boleh pulang." ucap Anderson.


"Aku hanya ingin cari angin, lalu kembali bekerja." ucap Arne.


"Baiklah." ucap Anderson kemudian melepas jarum infus di tangan Arne.

__ADS_1


Tony pun pergi bersama asistennya, dan dirinya selalu dibuat kesal oleh Arne dan Anderson.


"Sampai kapan wanita itu sadar, kalau aku akan membuatnya bertekuk lutut." gumam Tony.


__ADS_2