
Dengan berani Arne dan Anderson pun membicarakan rencana pernikahan mereka pada keluarga masing-masing. Dan jika berjalan sesuai rencana, persiapan akan memakan waktu 6 bulan. Arne dan Anderson pun sudah memutuskan semuanya.
"Jadi begitu.." ucap Jeny.
"Aku tak masalah untuk itu." ucap Sammy.
"Kau memang senior yg bisa kuandalkan." ucap Anderson.
"Bagaimana ma?" tanya Arne.
"Akupun tak masalah, asalkan kalian bahagia.. Terutama putriku." ucap Jeny tersenyum.
"Lalu kakek?" tanya Arne.
"Lakukanlah nak aku tahu kau bisa melakukannya." ucap Jakson.
"Hei pak tua jangan diam saja." ucap Anderson.
"Dasar cucu kurang ajar..! jika bukan karena Arne dan Jakson aku takkan membiarkanmu mengurus ini." ucap Romeo.
"Kalian tak pernah berubah." ucap Jakson.
"Mau bagaimana lagi kek.." ucap Arne tersenyum.
Dan mereka semua setuju akan rencana Arne dan Anderson yg ingin menyiapkan pernikahan mereka sendiri. Kini mereka hanya tinggal menyiapkan semuanya perlahan-lahan.
.
.
Namun semuanya tak berjalan dengan mulus karena perbedaan karakter keduanya. Arne pun ingin mengubah gaya berpakaian Anderson yg selalu menoton berwarna hitam. Tapi pria itu tak menyukainya. Dan saat sesi pemilihan gaun dan pakaian pernikahan untuk keduanya, mereka justru berdebat.
"Anderson .. Warna putih itu bagus.. Cerah.." ucap Arne.
"Jangan paksa aku memakaianya." ucap Anderson.
"Lalu mana ada wanita yg menikah memakai gaun hitam, ini bukan acara pemakaman." ucap Arne.
"Nona, tuan.. Sepertinya kalian harus memutuskan dengan kepala dingin." ucap sang desainer.
"Baiklah, ingat itu Anderson kepala dingin." ucap Arne.
"Arne, aku akan mengingatnya." ucap Anderson.
"Bagus." ucap keduanya lalu keluar dari butik tersebut.
Dan pemilik butik pun lega keduanya memutuskan untuk memikirkannya dengan matang daripada berdebat di tokonya.
Sepanjang jalan hampir tak ada pembicaraan antara keduanya. Dan Arne masih terdiam berusaha memikirkan solusinya. Dirinya ingin memakai pakaian yg cerah dihari bahagianya, sementara Anderson memginginkan pakaian hitam sesuai seleranya.
Anderson pun juga mersa egois karena menyukai pakaian serba hitam. Lalu menyadari kalau tak mungkin Arne mamakai pakaian hitam juga. Dan melihat sikap Arne yg masih kesal padanya.
"Arne, kurasa kita harus mencari minuman dingin." ucap Anderson.
"Ya.. Itu benar." ucap Arne.
"Nampaknya Arne masih kesal padaku." gumam Anderson dalam hati.
Tibalah mereka di sebuah cafe dan keduanya memesan minuman dingin serta camilannya. Arne pun masih terdiam, membuat Anderson tak tahu harus berkata apa.
"Anu.. Soal tadi.." ucap keduanya.
"Kau duluan." ucap Anderson.
"Kau saja." ucap Arne.
"Aku mengaku salah." ucap keduanya lagi.
"Kita akhirnya mengatakannya." ucap Anderson.
"Ya.. Itu karena keegoisanmu juga." ucap Arne.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Anderson.
"Mari susun ulang rencana kita." ucap Arne.
Arne pun mengeluarkan tablet miliknya dan mencari model pakaian pengantin. Lalu membiarkan Anderson melihat-lihat desainnya.
"Lebih baik lihat-lihat ini dulu." ucap Arne.
"Baiklah.. Idemu tidak buruk." ucap Anderson.
Keduanya pun melihat-lihat gambar tersebut dan Arne menunjukkan pakaian yg cocok dengan warna hitam kesukaan Anderson.
"Kurasa aku tak harus selalu berpakaian serba hitam." ucap Anderson.
"Akhirnya kau menyadarinya, kalau tidak dicoba tidak akan tahu hasilnya." ucap Arne.
"Baiklah kita akan kembali kesana besok." ucap Anderson.
"Kali ini coba dulu, jangan berkomentar." ucap Arne.
"Maaf jika aku egois, tapi aku akan mencoba berubah." ucap Anderson.
Begitulah mereka memikirkan semuanya kembali dengan kepala dingin. Terlebih waktu yg mereka punya tak banyak karena harus bekerja. Dan menahan ego keduanya tak mudah.
.
.
.
Ada banyak hal tak terduga di sekitar mereka, terutama Nino dan Kenzi. Mereka yg dijodohkan secara tak sengaja memutuskan menikah.
"He.. Kenapa kalian baru bilang?" tanya Arne.
"Sulit menjelaskannya Arne, situasi kami tak bagus." ucap Kenzi.
"Siapa yg menduganya kalau keluarga Kenzi mengenal ibuku." ucap Nino.
"Lantas kalian setuju begitu saja?" tanya Arne.
"Iya, meski agak aneh menikahi rekan sendiri. " ucap Nino.
"Ya.. nasib percintaan kami tak semulus dirimu." ucap Kenzi.
__ADS_1
"Tapi kalian takkan berniat bercerai kan setelahnya?" tanya Arne.
"Ya itu bisa saja terjadi, aku tak menampiknya." ucap Kenzi.
"Ya.. Kami tak berjanji soal itu." ucap Nino.
"Harusnya kalian tak memaksakan pernikahan kalau begitu." ucap Arne.
"Orang tua kami memaksa, kami tak bisa berkutik." ucap Kenzi.
"Dan mamaku selalu mengungkit penyakitnya, lalu selalu berkata dia tak bisa mati dengan tenang jika aku tak menikah." ucap Nino.
"Itulah alasannya kami sulit menolak.. Kau mengerti kan Arne." ucap Kenzi.
"Ya.. Semoga kalian jatuh cinta betulan, biar kalian tak bercerai." ucap Arne.
"Aku tak yakin." ucap Nino.
"Aku juga tak yakin bisa tahan dengan pria yg tak punya motivasi begini." ucap Kenzi.
"Ck.. Ken kita sudah membahasnya.." ucap Nino.
"Oh iya, maaf aku terbawa suasana." ucap Kenzi.
"Yasudah, yg terpenting kalian harus selalu akur.." ucap Arne menyerah menasehati keduanya.
"Akan kucoba." ucap Nino.
"Ya.. " balas Kenzi.
Tak lama setelahnya Kenzi dan Nino pun melangsungkan pernikahan lebih awal dari Arne dan Anderson. Keduanya bahkan tak percaya akan menikah secepat ini. Sampai Arne dan Anderson yg menyiapkan pernikahan lebih dahulu terkejut.
"Siapa yg menyangka keduanya akan dijodohkan.." ucap Anderson.
"Dan lagi mereka menikah lebih cepat dari kita yg menyiapkannya sejak awal." ucap Arne.
.
.
Hari pernikahan Nino dan Kenzi pun tiba, keduanya memasang senyuman terbaiknya. Meski dibaliknya mereka tak tahu harus berbuat apa karena terpaksa dijodohkan.
Arne dan Anderson pun datang kesana dan melihat kalau keduanya tersenyum. Meski tak tahu isi hatinya seperti apa. Dan keduanya hanya mengucapkan selamat seperti tamu undangan lainnya.
Arne dan Anderson pun pergi dari acara tersebut setelah menyalaminya. Dan keduanya masih tak percaya kalau keduanya benar-benar menikah meski tanpa cinta.
Kemudian mereka pun melanjutkan persiapan pernikahan keduanya. Melihat dari Kenzi dan Nino yg berani menikah tanpa cinta, membuat keduanya malu karena mempermasalahkan hal sepele seperti pakaian dan kebiasan mereka.
"Aku jadi malu melihat mereka saja bisa menikah tanpa saling mencintai." ucap Arne.
"Ya.. atau bisa dibilang mereka nekat karena terpaksa." ucap Anderson.
"Kali ini kita tak boleh gagal lagi Anderson, karena pembuatan pakaiannya cukup memakan waktu." ucap Arne.
"Baiklah aku mengerti." ucap Anderson.
Mereka pun melangkahkkan kaki menuju ke butik kemarin. Dan akhirnya tanpa banyak berdebat mereka pun menentukan gaun yg akan mereka pakai pada pernikahannya nanti. Dengan mendengarkan banyak saran dari desainer mereka. Akhirnya satu tugas mereka selesai juga.
Meski masih banyak list yg harus mereka lakukan selain pakaian pernikahan.
"Selanjutnya ada cincin, tempat resepsi, catering makanan, dekorasi dll." ucap Arne.
"Apa kau punya kenalan yg bisa dipercaya?" tanya Arne.
"Tidak juga." ucap Anderson.
"Hh.. Baiklah, kita tanyakan pada yg lainnya saja." ucap Arne menghela nafas.
Arne pun mencari informasi ke beberapa kenalannya, mulai dari Jeny sampai teman-temannya. Dan akhirnya Jeny yg mencarikan jasa EO untuk keduanya.
Arne dan Anderson pun yg menentukan semuanya mulai dari konsep, makanan, dan dekorasinya agar semuanya berjalan sesuai rencananya. Bahkan band pengiring musik pun mereka mencari yg terbaik agar bisa menghibur tamu undangan. Dan Romeo mengusulkan musik klasik lagi seperti pada pertunangan kemarin.
"Kakek, kemarin sudah begitu saat pertunangan, jadi kali ini harus berbeda." ucap Anderson.
"Cih, aku ingin tahu seleramu sebaik apa." ucap Romeo.
"Ya lihat saja nanti." ucap Anderson.
.
.
Berbagai persiapan pun satu persatu dilakukan keduanya. Bahkan Arne sampai kelelahan dan jatuh sakit. Arne pun punya banyak rencana yg harus ia lakukan tapi fisiknya nampaknya tak kuat jika melakukan semuanya sendirian.
Arne pun istirahat di rumahnya, dan sampai ijin tak masuk kerja. Sementara Anderson sedang di luar negeri untuk seminar peluncuran produk terbarunya. Dirinya tak tahu kalau Arne sakit.
Sementara itu, Kenzi pun datang mengunjungi Arne untuk menjenguknya.
"Nona ada tamu.." ucap pelayan di rumahnya.
"Siapa mbak?" tanya Arne.
"Namanya nona Kenzi."
"Suruh masuk saja." ucap Arne.
Kenzi pun masuk ke kamar Arne dan melihat sahabatnya itu terbaring di tempat tidur.
"Kau itu dokter, masa sakit." ucap Kenzi.
"Aku juga manusia Ken." ucap Arne.
"Ya sih benar juga." ucap Kenzi.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Kenzi.
"Aku hanya lelah dan pusing." ucap Arne.
"Itu karena kau terlalu memaksakan diri.. Sudahlah Arne kau kan menyewa jasa EO, harusnya kau menyerahkannya saja pada mereka." ucap Kenzi.
"Mungkin harusnya begitu." ucap Arne.
"Aku saja terima jadi saat acara kemarin." ucap Kenzi.
"Benarkah? Padahal acaranya sebagus itu." ucap Arne.
__ADS_1
"Orangtuaku yg mengatur segalanya.." ucap Kenzi.
"Harusnya aku begitu juga." ucap Arne.
"Lalu profesor kudengar dia sedang diluar negeri." ucap Kenzi.
"Iya, dia sedang ada peluncuran produk barunya." ucap Arne.
"Tapi Kenzi, bagaimana pernikahanmu dengan Nino?" tanya Arne.
"Bagaimana ya? Kami hanya menjalaninya seperti sebuah pertemanan." ucap Kenzi.
"Tapi kalian akur kan?" tanya Arne.
"Ya.. Bisa dibilang begitu.. Kau tenang saja." ucap Kenzi.
"Syukurlah." ucap Arne.
"Ini bukan saatnya memikirkan aku dan Nino." ucap Kenzi.
Kenzi pun menasehati Arne agar santai saja dan menyerahkan semuanya pada EO yg sudah ia sewa. Dan setelah mendengarkannya Arne pun menyadari kesalahannya yg menginginkan setiap hal yg sempurna pada pernikahannya.
Anderson yg mendengar Arne sakit pun langsung kembali. Dirinya terkejut mendengar Arne yg sakit karena kelelahan. Bahkan saat baru datang, Anderson pun mengeluarkan jurus andalannya berupa kata-kata kejam agar Arne diam dan tak memikirkan hal kecil.
"Pokoknya kau harus istirahat dan jangan berbuat macam-macam." pinta Anderson.
"Oke." ucap Arne.
"Bagus. Diam saja dan makan buah-buahan ini." ucap Anderson.
"Baiklah." ucap Arne.
.
Sejak saat itulah Arne pun mempercayai jasa EO yang sudah ia bayar mahal untuk kesuksesan acaranya. Dan perlahan-lahan semuanya selesai tepat waktu. Bahkan cincin pesanan mereka pun telah jadi sesuai keinginan keduanya. Dan pakaian pernikahan mereka juga telah selesai. Hasilnya pun mengalahkan ekspektasi mereka.
Saat fitting terakhir baju pengantin, keduanya pun puas akan hasilnya. Mereka tinggal menunggu hari H yg telah dinanti-nanti. Semuanya pun berjalan dengan lancar, dengan segala macam persoalan yg datang silih berganti.
..
Akhirnya acara yg dinantikan oleh kedua keluarga besar itupun terlaksana. Dan hari ini mereka akan melakukan janji suci pernikahan. Arne pun gugup, begitu juga dengan Anderson.
Jakson selaku kakeknya Arne pun menggantikan posisi Richard yg telah tiada. Mereka mengucapkan ijab yg disaksikan oleh saksi dan keluarga mereka. Kenzi dan Nino pun hadir disana sebagai teman yg selalu ada untuk Arne.
Ucapan selamat serta doa terbaik pun banyak mereka dapatkan hari ini. Berbagai macam hadiah pernikahan dan juga tamu undangan yg berasal dari berbagai negara pun hadir sebagai rekan Anderson. Mereka mengucapkan selamat pada keduanya.
Jakson dan Romeo pun terharu dan menangis dipojokan acara. Mereka masih tak menyangka perjodohan konyol yg mereka rencanakan sejak muda bisa terlaksana hari ini. Dan kedua cucu mereka tampak bahagia.
"Kau lihat cucuku sangat tampan dan bahagia." ucap Romeo.
"Begitu juga dengan Arne cucuku, dia cantik dan selalu tersenyum dengan ramah pada setiap tamu undangan." ucap Jakson.
"Lalu Anderson mengundang rekan-rekannya dari berbagai negara, acara ini sungguh luar biasa." ucap Romeo.
"Dan semua desain menarik ini pasti adalah Arne yg menyarankannya pada tim EO tersebut. Bahkan cucuku sampai sakit memikirkan konsep ini." ucap Jakson.
Begitulah keduanya selalu bersaing dengan kemampuan cucu mereka. Padahal kedua cucunya sama-sama hebat dan bekerja sama dengan baik.
...
Lalu datanglah Thompson ayah dari Anderson bersama Irina ibu tirinya. Mereka pun mengucapkan selamat pada keduanya. Dan Irina berhutang pada Anderson, karena sudah membuat Thompson bertobat.
"Anderson terimakasih sekali lagi, idemu luar biasa." ucap Irina.
"Tentu nyonya Irina." ucap Anderson.
"Pokoknya selamat putraku, kau mendapatkan istri yg cantik dan pintar. Kalian layak hidup bahagia." ucap Thompson.
"Terimakasih pak tua." ucap Anderson lalu disenggol oleh Arne.
"Terimakasih ayah." ucap Arne tersenyum.
"Kau itu memang anak kurang ajar, bahkan menantuku saja tahu cara memanggilku dengan benar." ucap Thompson.
"Mana bisa aku memanggilmu begitu, setelah semuanya." ucap Anderson.
"Sudahlah Anderson." ucap Arne.
"Ya.. Untuk hari ini aku akan menahan diri." ucap Anderson.
"Aku juga." ucap Thompson yg ditatap tajam oleh Irina.
Semua orang yg hadir pun turut bahagia atas pernikahan keduanya, termasuk Kenzi dan Nino. Meski pernikahan mereka sebatas menikah karena demi mendapatkan keuntungan masing-masing.
Boy pun turut hadir dan mengucapkan selamat pada Arne. Kini hidupnya pun tak sebaik dulu, dirinya harus meniti karir dari nol lagi setelah banyak hal yg terjadi.
Tapi kebahagiaan keduanya pun membuat semua orang yg hadir disana bahagia. Acara yg meriah itupun diakui oleh semua rekan Anderson karena mereka mengaku dijamu dengan luar biasa.
..
Hingga acara akhirnya berakhir, baik Anderson maupun Arne pun kelelahan di kamar hotel yg sudah mereka sewa.
"Aku lelah." ucap Arne.
"Mandilah dahulu.." ucap Anderson.
"Ya.. Aku duluan." ucap Arne.
"Aku tak diajak?" tanya Anderson malu-malu.
"Tidak." jawab Arne malu lalu masuk ke kamar mandi.
Arne pun keluar dari kamar mandi dengan panik dan membuat Anderson terkejut.
"Anderson ada yg gawat." ucap Arne.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku tak punya pembalut dan saat ini aku sedang datang bulan." ucap Arne.
"Apaa??" ucap Anderson yg seketika lemas karena malam pertamanya akan gagal total.
Bukan hanya gagal total, bahkan Anderson pun harus membelikan pembalut ke mini market terdekat. Dengan malu-malu, Anderson pun mengambil banyak pilihan karena sangat malu bertanya pada pegawai mini market. Bayangkan saja orang sekaku dan sedingin Anderson datang membeli pembalut ke mini market. Sampai ibu-ibu pun menegurnya karena membeli banyak pembalut wanita.
"Nak kau itu suami yg baik.. Tapi jangan membeli terlalu banyak."
__ADS_1
"Iya." ucap Anderson malu sekali.
Tapi demi seorang istri Anderson rela melakukan hal memalukan tersebut pertama kalinya.