
Di dalam penjara, Martha mendapatkan kabar buruk lainnya kalau suaminya Richard ternyata menceraikannya. Dan hal itu membuat emosinya semakin tak terkendali. Wanita itu pun marah besar dan berontak seperti orang gila membuat beberapa petugas harus mengikatnya agar tenang dan tak menyerang tahanan lain.
Bahkan melihat dari kondisinya yg mengerikan membuat mereka mengecek kejiwaan dari Martha dan menghubungi Richard. Richard pun terkejut dengan keadaan Martha dan menyetujui fasilitas untuknya jika memang harus dipindahkan ke rumah sakit jiwa.
Setelah putrinya Aini yg mengalami depresi berat, kini ibunya yg menjadi gila. Hal itu semakin membuat Richard terbebani. Ditambah lagi, kini Jakson sudah tak memberinya banyak tugas dan otomatis penghasilannya juga berkurang karena banyak hal yg tak boleh ia lakukan jika berhubungan dengan banyak orang.
Hal itu membuat Richard harus mengurangi gaya hidupnya yg mewah. Belum lagi dirinya dan Cindy harus terus melakukan pengobatan atas penyakit yg mereka idap.
Beban Richard bak sebuah dosa yg selama ini ia lakukan. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, akibat keserakahan dan keegoisannya. Mungkin juga karma atas semua perbuatannya pada Jeny dan berbanding terbalik dengan Jeny yg hidupnya semakin bahagia.
Dan Richard juga menyadari kalau Arne sudah membencinya saat ini karena perbuatannya yg memalukan. Cindy pun sudah menceritakan segalanya padanya karena memang hal itu harus ia beritahukan pada Richard.
"Kali ini aku akan benar-benar kehilangan putriku." ucap Richard.
"Aku tak bisa berkomentar lagi, aku pun turut andil dalam masalah ini." ucap Cindy.
"Kita tak bisa menikah secara resmi karena Martha psikologisnya bermasalah dan sedang dalam pemeriksaan." ucap Richard.
"Aku mengerti, inilah hukuman untuk wanita sepertiku." ucap Cindy.
Richard pun hanya terdiam dengan semua fakta yg ia dapatkan. Menikahi Martha adalah kebodohan terbesarnya, dan meninggalkan Jeny adalah kesalahan fatalnya yg harus ia tebus seumur hidup.
Kini Richard hanya tinggal menjalani sisa hidupnya. Memikirkan Jeny yg akan hidup bahagia dengan Sammy, dan Arne mungkin akan membencinya seumur hidupnya.
.
.
Sementara itu Martha pun dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa kejiwaannya. Dan Martha menunjukkan tanda-tanda kejiwaannya bermasalah. Hal itu membuat dirinya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa. Martha pun senang berada disana karena tak ada lagi penjagaan ketat.
Sehingga Martha bisa mencari kesempatan untuk melarikan diri dan membalas semua perbuatan Richard padanya. Dan memang faktanya kejiwaannya memang bermasalah. Tapi dirinya masih mengingat Richard dan Aini, lalu memiliki dendam pada suaminya tersebut.
Martha pun menjadi semakin kasar dan tak segan untuk melawan siapapun. Dan akan sangat berbahaya jika sampai melukai orang sekitarnya. Apalagi dimatanya ada dendam dan kemarahan. Martha juga sering memberontak dan marah-marah tak jelas, hingga terkadang dirinya diikat oleh petugas rumah sakit.
"Aku mau pulang..!! Suamiku sudah gila, dia saja yg disini..!!" teriak Martha.
"Iya nyonya.. Sekarang nyonya tenang dulu." ucap petugas.
"Tidak..!! Aku tidak bisa tenang, mungkin suamiku sedang berselingkuh saat ini.. Dan aku akan menghukumnya..!" teriak Martha sembari memberontak.
Beberapa petugas pun memeganginya dan seorang dokter datang membawakan obat penenang lalu menyuntikkannya pada Martha. Seketika wanita itu lemas dan tak sadarkan diri.
Semua petugas pun kewalahan jika Martha terus berontak dan mengamuk. Bahkan dokter merasa kejiwaannya benar-benar terganggu dan harus diisoalasi agar tak mengganggu yg lain.
__ADS_1
"Dokter bagaimana jika terus begini.??" tanya petugas.
"Kita harus menanganinya, dan kita akan menaruhnya di ruangan khusus sampai dia membaik." ucap sang dokter.
"Pastikan memberi obat secara teratur padanya." ucap dokter itu lagi.
"Baik dok."
"Terus awasi dan pantau dengan cctv." ucap dokter itu lagi.
Begitulah akhirnya Martha berakhir di rumah sakit jiwa. Dan tujuan serta dendamnya masih ada sampai membuatnya terus berupaya kabur. Berkali-kali dirinya mencoba kabur tapi selalu tertangkap.
Hal itu membuat Martha mendapatkan banyak pengetahuan soal rumah sakit jiwa tersebut. Dengan banyaknya pengalaman gagal, membuat Martha selalu mencoba hal baru. Hingga akhirnya dirinya berhasil mengelabui petugas dan ditaruh di ruang yg minim pengawasan.
Saat itulah, Martha kabur dari sana. Dirinya berhasil kabur dan membuat petugas kebingungan mencarinya. Dirinya pun menyelinap di mobil seseorang dan kabur setelah itu.
Martha yg tak punya apa-apa, harus berjuang menuju ke rumahnya. Dirinya memanggil taksi untuk menuju ke rumah. Sesampainya dirumah, dirinya turun dan meminta sopir menunggunya.
"Pak tunggulah nanti argonya saya bayar, saya mau ambil uang dulu." ucap Martha.
"Baik bu."
Martha pun masuk dan para pelayan beserta penjaga gerbang depan terkejut melihatnya. Mereka pun langsung menghubungi tuannya untuk megetahui hal ini.
"Siap nyonya.."
"Oh iya, bayarkan ongkos taksiku." ucap Martha lalu melenggang masuk.
Para penjaga pun hanya bisa menggaruk kepalanya. Lalu para pelayan terdiam, terlebih tuan mereka tak ada di rumah. Dan Richard lebih banyak tinggal di apartemen bersama Cindy.
"Pelayan..! Kalian dimana??" panggil Martha.
"I-iya nyonya.." ucap mereka takut-takut.
"Siapkan makanan, aku lapar.. Dan aku mau mandi dulu di kamar." perintah Martha.
"Baik nyonya." ucap mereka.
Menurut info yg mereka dapatkan harusnya saat ini nyonya mereka ada di rumah sakit jiwa. Tapi kenapa malah pulang ke rumah?? Apa dia kabur atau bagaimana??
Tapi tak ada cara lain selain menuruti keinginannya dan mereka semua takut pada Martha. Dan petugas penjaga gerbang pun sudah mengabari tuannya. Kini Richard sedang menuju ke rumah dan menghubungi pihak rumah sakit.
"Huh, kita sial sekali bertemu nyonya dan membayar ongkos taksinya."
__ADS_1
"Benar, mau dilawan tapi masih nyonya meski dia gila."
"Namanya juga orang gila, pastinya tidak waras tingkahnya.."
Begitulah mereka harus bersabar dan menahan Martha hingga petugas dan tuan mereka tiba.
.
.
Sementara Richard, dirinya terkejut setelah dihubungi pihak rumah sakit jiwa dan juga penjaga di rumahnya. Langsung saja Richard mengabari kalau istrinya saat ini pulang ke rumah pada petugas rumah sakit. Dan mereka langsung menuju ke rumah tersebut untuk mengamankannya.
"Gawat, Martha kabur dan pulang ke rumah." ucap Richard.
"Apa?? Tapi apakah dia sangat berbahaya?" tanya Cindy.
"Menurut laporannya begitu, kau disini saja dan jangan bukakan pintu kecuali aku yg datang." ucap Richard.
"Baiklah, hati-hati." ucap Cindy.
Richard pun pulang ke rumahnya dan menemui istrinya yg tidak waras tersebut. Didapatinya Martha sedang makan di meja makan dengan begitu rakusnya. Nampaknya memang akal sehatnya sudah hilang, hingga makan seperti orang kalap.
"Sayang, kau kembali." ucap Richard.
"Jangan berlagak lembut, aku tahu kau akan meninggalkanku." ucap Martha.
"Tidak, aku berubah pikiran." ucap Richard.
"Dimana putriku?" tanyanya.
"Dia ada di salah satu villa milikku." ucap Richard.
"Bawa aku kesana setelah aku puas makan." ucap Martha.
"Iya baiklah." ucap Richard.
"Apa kau punya wanita lain?" tanya Martha.
"Mana mungkin, aku sangat mencintaimu." ucap Richard.
"Bagus."
"I-iya, makanlah sepuasmu." ucap Richard.
__ADS_1
Begitulah Richard menghadapi Martha dengan baik agar dia menurut. Dan petugas sudah bersiap di depan rumah mereka.