
Setelah pernikahan Susi dan Boy dinyatakan gagal, pihak keluarga Boy dan Susi pun sangat malu. Dan keluarga Boy yg paling merasa malu dalam hal ini apalagi karena Boy yg bersalah dan akan memanfaatkan pernikahan ini demi berhubungan dengan wanita yg tak disukai oleh orangtuanya.
Hubungan Boy dan wanita pilihannya pun tak mendapatkan restu dari kedua orangtuanya karena latar belakang wanita tersebut. Ditambah lagi wanita itu punya riwayat menggunakan obat-obatan terlarang yg membuat Leni sangat tak setuju.
Dan untuk itulah Boy dijodohkan dengan Susi anak dari kenalan Leni. Tapi semuanya malah berujung memalukan karena Susi mengetahui segala keburukan Boy.
Tentunya Susi berhutang budi pada Arne yg memberitahunya soal Boy. Dan hal itu membuatnya terhindar dari pernikahan yg mengerikan. Hal itupun membuat orangtua Susi memintanya pulang ke kampung halamannya dan dijodohkan lagi dengan sepupu jauhnya.
Susi pun juga tak punya muka untuk berbaikan dengan Nino. Dan hanya akan berterimakasih pada Arne yg sudah memberitahukan segalanya padanya.
Susi meminta Arne bertemu di suatu tempat.
"Kak, maaf aku terlambat." ucap Arne.
"Tak apa, duduklah." ucap Susi.
"Kudengar pernikahannya dibatalkan, apa itu benar?" tanya Arne.
"Benar, perasaanku tak tenang setelah mengetahui ceritamu. Jadi aku menyelidikinya sendiri sesuai sesuai saranmu. Dan hasilnya mengejutkan." ucap Susi.
"Jadi benar, Boy berhubungan dengan wanita itu." ucap Arne.
"Iya, aku bersyukur kau memberitahuku.. Kalau tidak, aku hanyalah tameng bagi Boy untuk menutupi tindakan buruknya." ucap Susi.
"Baguslah, memang ini yg kuharapkan. Nino juga berharap begitu, Boy bukanlah pria yg baik." ucap Arne.
"Iya, terimakasih Arne. Berkatmu aku lolos dari pernikahan yg akan penuh derita itu." ucap Susi.
"Ya.. Sesama wanita harus saling membantu, lalu hubungan kakak dengan Nino bagaimana?" tanya Arne.
"Aku terlalu malu untuk kembali padanya.. aku sudah menyakitinya dan lagi orangtuaku mendesakku menikah dalam waktu dekat." ucap Susi.
"Apa secepat itu mereka mendapatkan jodohnya?" tanya Arne tak percaya.
"Ya, katanya aku dijodohkan dengan sepupu jauhku." ucap Susi.
"Ya, memang boleh sih menikahi sepupu.. Tapi bagaimana dengan perasaanmu?" tanya Arne.
"Aku memang masih mencintai Nino tapi, rasanya dia takkan sanggup menuruti orangtuaku. Dan mereka sudah menentukan jodohku, pastinya dia bukan pria buruk seperti Boy." ucap Susi.
"Yah, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi kak, kau harus mengatakan sesuatu pada Nino. Dia masih mengharapkanmu." ucap Arne.
"Tidak, aku takkan menemuinya agar dia melupakanku secepat mungkin. Aku hanya ingin menitipkan suratku padamu." ucap Susi.
"Surat?"
"Ya.. Tolong Arne berikan pada Nino, aku tak ingin dia berharap lagi, apalagi orangtuaku memintaku pindah ke daerah tanah kelahiranku." ucap Susi.
"Baiklah kak, apapun rencanamu, doaku yg terbaik untukmu." ucap Arne tersenyum menerima surat tersebut.
"Terimakasih Arne, kau sangat baik padaku. Kuharap suatu saat aku bisa membalasnya." ucap Susi.
"Aku permisi." ucap Susi.
"Eh, sudah mau pergi kak?" tanya Arne.
"Iya, mobilku sudah menunggu." ucap Susi.
__ADS_1
"Hati-hati dijalan." ucap Arne melambaikan tangan dan Susi hanya tersenyum.
Di dalam mobil, Susi pun menangis karena tak bisa memilih Nino. Mungkin ini adalah pilihan terbaiknya demi kebahagiaan orang tuanya. Dan Nino pastilah juga sangat terluka karena dirinya, Susi bahkan tak sanggup bertatap muka dengannya.
"Maafkan aku Nino.. Semoga kau bahagia dengan wanita yg mencintaimu." gumam Susi dalam hati.
Arne pun hanya melihat Susi mulai menjauhinya. Dan Arne merasa prihatin pada sahabatnya tersebut yg lagi-lagi ditinggal mantan kekasihnya menikah.
.
.
Arne pun kembali ke rumah sakit dan menemui Nino. Dirinya pun tak tega pada sahabatnya tersebut yg begitu berharap.
"Bagaimana Arne? Benarkan pernikahannya batal?" tanya Nino.
"Iya benar, kak Susi yg membatalkannya sendiri." ucap Arne.
"Bagus, yeaah.." ucapnya senang.
"Tapi, dia memberimu surat ini. Kak Susi bilang dia mau pulang ke daerah kelahirannya." ucap Arne.
"Surat?" tanya Nino terdiam menerimanya.
"Kau bacalah di tempat yg tenang, aku tak tahu apa isinya.. Dia memintamu membacanya sampai habis." ucap Arne tak tega.
"Hah.. Surat, dia pasti merindukanku." ucap Nino lalu pergi ke taman dan melewati Kenzi dihadapannya.
"Ck, sombong sekali anak itu." ucap Kenzi.
Di taman, Nino pun membaca surat tersebut perlahan. Dan kata demi kata membuatnya menangis. Susi lagi dan lagi tak memilihnya demi kebahagiaan keluarganya. Dan Nino pun tanpa sadar terus menitihkan air matanya sampai seorang anak mengejeknya.
"Om.. Masa udah gede masih nangis..!" celetuknya.
Nino pun menghapus air matanya.
"Tidak kok, om tidak nangis hanya ada debu yg masuk ke mata." balas Nino.
"Ck.. Kau ini tidak boleh berkata begitu, cepat minta maaf sama om dokternya." ucap orangtua si anak.
"Maaf ya om.. Lain kali jangan nangis sendirian." ucapnya lagi.
"Hei kau ini..!"
"Dokter maafkan anakku ya.. Dia memang suka ceplas-ceplos kalau ngomong." ucap orangtuanya dan Nino hanya tersenyum.
Dalam hatinya Nino pun berkata "Memalukan..!"
Kemudian Nino pun masuk ke dalam dan menemui Arne. Dirinya pun menerima semua keputusan Susi. Dan Kenzi sedikit tak tega dan bingung kenapa mereka harus berpisah seperti ini tanpa mau memperjuangkannya.
"Kenapa kalian tak mau berjuang?" tanya Kenzi.
"Sudahlah Ken. Kak Susi tahu aku belum siap menikah." ucap Nino.
"Aku mengerti, dan tahu sekali pemikiran sebagian orang di daerah yg begitu mementingkan pernikahan di usia muda." ucap Arne.
"Ya masih banyak orang yg di daerah berpikir kalau menikah muda itu lebih baik." ucap Kenzi.
__ADS_1
"Sudahlah, ikan di laut masih banyak kan Ken?" tanya Nino.
"Ya kalau begitu gunakan kail, umpan dan pancingmu.. Dapatkan ikan yg paling cantik." ucap Kenzi.
"Ya, dan selesaikan residen ini dengan nilai baik." ucap Arne.
"Siap komandan.!" ucap Kenzi dan Nino.
"Apa-apaan kalian ini." ucap Arne.
"Ya, kami kan jomblo, dan kau punya kekasih pun jauh di mata. Jadi tak ada salahnya kan kita bersenang-senang bersama?" tanya Kenzi.
"Baiklah.. Seperti biasa kan?" balas Arne.
"Ya.. Tentu, tanpa alkohol." ucap Nino.
Mereka semua pun tersenyum dan menikmati masa-masa muda dengan keceriaan. Kesibukan yg tiada henti pun tak mematahkan semangat mereka semua untuk menjadi dokter yg hebat di masa depan.
.
.
Sementara itu, Sammy pun tak mau menyerah soal cintanya pada Jeny. Meski terlambat, dirinya akan mencobanya lagi. Dan mungkin kali ini Jeny akan berubah pikiran dengan keadaannya yg single saat ini.
Sammy pun beberapa kali mengajak Jeny pergi keluar dan berbincang banyak hal. Kadang untuk mencari topik menarik, Sammy membicarakan soal Arne. Kadang juga mereka membahas isu yg terjadi di dunia kesehatan dan berbagi informasi.
Tapi alasan sesungguhnya adalah Sammy ingin dirinya bisa kembali bersama Jeny, meskipun saat ini mereka tak lagi muda. Dan disinilah mereka di sebuah coffeeshop, dimana mereka sering berbagi informasi dan bertemu secara tak sengaja.
"Maaf aku terlambat." ucap Jeny.
"Ya, silahkan duduklah." ucap Sammy.
"Kau bawa yg aku butuhkan?" tanya Jeny.
"Ini bukan?" ucap Sammy memberikan sesuatu.
"Oke, benar. Terimakasih Sammy." ucap Jeny.
"Tapi tidak gratis." ucap Sammy menyambarnya lagi.
"Lalu kau mau apa?" tanya Jeny.
"Kencan denganku malam ini?" tanya Sammy tersenyum.
"Jangan bercanda, kita sudah tidak muda lagi. Aku malu jika Arne melihatnya." ucap Jeny.
"Yasudah aku tak jadi memberikannya." ucap Sammy.
"Sammy aku membutuhkannya." ucap Jeny memohon.
"Ayolah hanya dinner." ucap Sammy.
"Baiklah, tapi jangan sampai Arne tahu." ucap Jeny.
"Oke.. Tapi penuhi janjimu." ucap Sammy.
"Baiklah." balas Jeny.
__ADS_1