
Tibalah akhirnya dimana kedua jadwal Arne dan Anderson kosong. Mereka pun harus kembali berkencan untuk menyelesaikan 5 kencan mereka sebelum memutuskan akan menikah atau tidak. Tentunya baik Romeo ataupun Jakson pun bersemangat menyiapkan segalanya.
Arne diminta pergi ke salon untuk perawatan dan sebagainya. Dan Anderson dikirimi pakaian baru yg akan dipakai untuknya berkencan.
Saat pakaian itu tiba, Anderson pun melihatnya apakah sesuai dengan seleranya atau tidak. Dan bagi Anderson pilihan Romeo sangatlah bukan seleranya. Hingga Anderson mengembalikan pakaian yg dikirimkan oleh Romeo.
"Ck, norak sekali pilihannya.." ucap Anderson melihat sepasang jas berwarna pink tersebut.
Anderson pun harus membeli pakaian baru yg akan ia kenakan nanti saat kencan agar tak dikirimi pakaian yg tak disukai olehnya.
Sedangkan Arne, dirinya baru terbangun dan melihat ponselnya berbunyi dengan panggilan Jakson. Jakson pun memintanya segera ke salon untuk perawatan.
"Arne.. Kau kemana saja dari tadi pagi.?" tanya Jakson.
"Kek.. Aku habis shift malam dan pagi ini baru pulang aku mengantuk makanya tidur." ucap Arne.
"Maaf sayang.. Kakek tak tahu, kau sekarng pergi ke salon ya. Nanti alamatnya kakek kirim." ucap Jakson.
"Astaga kek, aku lapar dan bahkan belum mandi." ucap Arne .
"Sudahlah, kau cepat mandi, makan lalu pergi ke salon." ucap Jakson.
"Memangnya ada acara apa sih sampai harus ke salon segala.?" tanya Arne.
"Kau lupa hari ini kencanmu dengan Anderson yg ketiga??" tanya Jakson.
Seketika mata Arne pun terbuka lebar mendengar kencan tersebut. Jangan sampai dirinya membuat kesalahan yg akan memperpanjang kencannya.
"Baiklah kek, aku akan segera mandi dan makan.." ucap Arne lalu menutup teleponnya.
Sementara Jakson pun merasa kasihan pada Arne yg mungkin belum cukup waktu isturahatnya.
"Dia pasti kesulitan dengan jadwalnya." gumam Jakson dalam hati.
Segeralah Arne bersiap untuk mandi dan menyiapkan makanan. Tak ada waktu lagi bagi Arne untuk menundanya agar perjodohan ini cepat selesai setelah kencan mereka yg kelima. Dirinya harus fokus pada residennya lalu barulah memikirkan kehidupan percintaannya.
Arne pun langsung pergi ke salon setelah semuanya beres. Dan dirinya juga memang sudah lama tak perawatan, jadi rasanya seperti menyelam minum air.
Arne dilayan dengan baik di salon tersebut, bahkan sudah disiapkan pakain khusus untuknya. Arne pun hanya menikmati perawatannya dan merias diri sesekali karena terlalu sibuk bekerja.
Tak terasa waktu pun sudah sore, waktunya Arne bersiap untuk kencannya. Dirinya pun dirias secantik mungkin sesuai dengan keinginan kakeknya. Lalu memakai gaun yg cantik agar kelihatan elegan dan berkelas. Dan semuanya sudah disiapkan oleh Jakson, mulai dari ujung kepala hingga kaki. Dan Arne tak perlu memikirkan apapun lagi. Semua sudah dipersiapkan oleh sekertaris Jakson.
Arne pun memakai gaun yg pas ditubuhnya. Dan tentunya membuatnya semakin cantik dengan riasan dan aksesorisnya.
"Sekarang anda sangat menawan nona."
"Terimakasih." balas Arne.
__ADS_1
"Calon suami anda takkan bisa menolak anda jika begini." ucapnya lagi.
"Ya.. Semoga saja." balas Arne.
"Jika secantik ini bagaimana aku bisa wisata kuliner malam ini.. Dan temanya adalah makanan eropa." gumam Arne dalam hati.
Arne pun hanya mengkhawatirkan wisata kulinernya bukan kencannya. Karena memakai pakaian yg sangat anggun. Tapi demi suksesnya kencan tersebut, Arne harus melakukannya agar semuanya cepat selesai.
Tapi begitu terkejutnya Arne saat tahu mobilnya sudah menghilang. Dan hal itu digantikan dengan Anderson yg menunggunya di depan salon dengan memakai pakaian rapi. Arne pun mengakui ketampanan seniornya yg terkenal galak tersebut.
"Tak biasanya kau seperti ini prof.." ucap Arne.
"Kenapa?? Aku tampan? Itu sudah jelas." ucap Anderson bertanya sendiri dan menjawabnya sendiri.
"Ya.. Pasti mobilku sudah ditangani oleh kakek, makanya kau yg menjemputku." ucap Arne.
"Begitulah, tak kusangka kau juga akan mempersiapkan diri sampai begini." ucap Anderson menatap Arne yg tampil cantik tak seperti biasanya.
"Ini semua ulah kakek, jadi kalau kau berubah pikiran jangan salahkan aku." ucap Arne.
"Harusnya aku yg berkata begitu.. Mana ada wanita yg akan menolakku kalau begini." ucap Anderson.
"Aku juga menerimamu karena terpaksa." balas Arne.
"Ck.. Jujurlah kau pasti dalam hati memujiku tampan dan tak mau menolakku." ucap Anderson.
Mereka pun berangkat ke sebuah resto masakan eropa dan mengikuti kencan yg diadakan oleh kakeknya.
Dan setibanya disana, entah bagaiman resto tersebut sedang ada event menarik karena resto tersebut sedang berulangtahun. Disan juga mereka menggelar pesta dansa yg bisa diikuti oleh semua pengunjung yg hadir. Ditambah lagi yg datang adalah pengunjung VIP yg sudah membooking tempat tersebut. Hal itu membuat resto tersebut mengistimewakan pengunjung yg hadir.
"Wow.. Apakah kita sedang beruntung datang kemari?" ucap Arne.
"Aku tak berniat untuk berdansa denganmu, jadi jangan terlalu percaya diri." ucap Anderson.
"Ya pasti karena dirimu terlalu kaku." balas Arne.
"Lupakan soal dansa, bukankah kau kencan biasanya untuk makan?" tanya Anderson.
"Nampaknya tak bisa dengan gaun seketat ini." ucap Arne.
"Wanita memang merepotkan." ucap Anderson.
"Jika aku bisa memilih, aku ingin kemari memakai piyama agar setelah puas makan bisa tidur. " ucap Arne.
"Kau wanita yg aneh." balas Anderson.
Tibalah mereka di meja yg sudah dipesan Jakson. Dan memang Jakson tak pernah salah dalam memilih tempat serta makanan. Pelayan pun langsung memberi mereka makanan pembuka.
__ADS_1
"Aku suka tempat ini, pelayanannya luar biasa." ucap Arne mendapat banyak makanan pembuka.
"Ya kalau begitu kita nikmati saja bukan." ucap Anderson.
Mereka pun makan semua yg disediakan resto. Lalu acara pesta dansa pun dimulai. Tanpa disadari oleh mereka disana ada Thompson dan Maria, serta Aini dan Boy. Keduanya pun mau tak mau harus tampil romantis.
Dan Aini pun mendekati meja Arne bersama Boy.
"Jadi kalian berkencan bukan hanya rumor belaka, baguslah jadi aku tak perlu khawatir." ucap Aini.
"Aini sudahlah, sudah kubilang berhenti kan." ucap Boy.
"Maaf Arne, silahkan kalian menikmati acara kalian." ucap Boy membawa Aini pergi.
Lalu Thompson dan Maria pun juga menghampiri meja mereka.
"Ternyata kalian benar-benar berkencan.. " ucap Thompson.
"Ayo sayang kita dansa." ucap Maria pada Thompson.
"Prof, apa kau memahami isi kepalaku.?" tanya Arne.
"Sepertinya begitu, tapi bukankah lebih baik kalau kau sedikit berakting.?" pinta Anderson.
"Bukankah aku sedang melakukannya.?" tanya Arne.
"Berhenti memanggilku Anderson, panggil aku mesra seperti waktu itu di resto." ucap Anderson.
"Oke sayang." balas Arne membuat Anderson terdiam dan memalingkan wajahnya yg memerah malu.
"Jangan malu-malu begitu, bukankah kau tadi bilang kau pandai berdansa." ucap Arne.
"Ck.. Mari kita tunjukkan sebaik apa kemampuan kita pada dua pasangan menyebalkan itu." ucap Anderson.
Anderson pun meraih tangan Arne, dan mereka berjalan menuju ke area dansa untuk berdansa. Keduanya tak mau kalah dengan kedua pasangan menyebalkan tersebut. Diluar dugaan keduanya sungguh hebat berdansa dan tubuh mereka tidaklah kaku. Berbeda dengan Maria yg sedang hamil dan hanya bisa berdasa santai, begitu juga dengan Aini yg masih peoses penyembuhan pasca operasi.
"Ck.. Apa Arne sedang pamer?" tanya Aini.
"Sudahlah, biarkan saja." ucap Boy yg menatap ke segala arah.
Sementara Maria, dirinya begitu iri melihat Arne dan Anderson tapi tak mampu menandinginya karena kondisinya.
Diluar dugaan, pasangan Arne dan Anderson menikmati pesta dansa tersebut. Keduanya pun saling pandang dan saling terhipnotis satu sama lain hingga melupakan tujuan utamanya membuat kedua pasangan menyebalkan itu kesal.
"*Haruskah aku mengakuinya kalau Arne sangat cantik malam ini?" gumam Anderson dalam hati.
"Apa-apaan pria dingin ini? Apa dia sedang menggodaku dengan wajah tampannya?" gumam Arne dalam hati*.
__ADS_1