
Arne dan Anderson pun berdansa diiringi lagu yg sedang diputar. Mereka berdansa bersama pasangan lainnya yg sedang berada disana. Thompson pun mulai kelelahan karena usianya dan memilih untuk duduk bersama istrinya. Maria pun menatap iri pada Arne yg bersama Anderson sementara dirinya hanya bersama pria tua yg hanya hartanya saja yg bisa dibanggakan.
Kemudian Aini sudah duduk di kursi sejak tadi karena Boy tak ingin Aini memaksakan diri dan berakhir di rumah sakit.
"Sayang.. Aku mau pesan ini." ucap Aini sementara Boy hanya memainkan ponselnya.
"Iya, pesan saja." ucap Boy santai.
"Tapi kau bantu habiskan ya." ucap Aini.
"Ya.. Pesan saja jika kau mau." ucap Boy terus menatap ponselnya.
Aini pun terus bersabar dengan Boy yg kerap bermain ponsel. Hingga Aini memesan makanan sendiri dan tak habis karena porsinya terlal banyak. Boy pun juga sudah kenyang jadi makanan itu dibiarkan tak habis.
Sementara Arne, dirinya baru saja selesai berdansa dengan Anderson dan mendapat banyak perhatian dari banyak orang. Mereka dipuji sebagai pasangan serasi pada pesta dansa ini, dan mendapatkan vocher makan gratis.
Arne pun senang karena bisa kembali kamari apalagi gratis tanpa harus mengeluarkan uang. Dan Anderson pun bangga karena dipuji oleh banyak orang serta membuktikan dirinya dan Arne sebagai pasangan pada Thompson dan istrinya.
Anderson pun tersenyum saat melewati meja Thompson dan memandang wajah kesal ayah kandungnya tersebut.
"Sayang kau senang sekali malam ini.." ucap Arne.
"Tentu Honey, apalagi si tua bangka itu terlihat iri karena usianya yg tak mampu menandingiku." ucap Anderson.
"Kalian itu ayah dan anak selalu bersaing.." ucap Arne.
"Itu adalah kesenanganku, dan berkatku juga kau bisa dapat vocher makan itu." ucap Anderson.
"Mau datang bersamaku?" tanya Arne.
"Tentu saja, kan aku juga yg memenangkannya." balas Anderson.
"Kukira kau bakal menolaknya." ucap Arne tersenyum.
"Yah, aku sudah lelah berdansa sudah seharusnya aku mendapatkan hadiahnya." balas Anderson berbohong karena takut Arne mengajak pria lain.
"Oke, nanti kita bahas jika ingin kemari lagi." ucap Arne.
"Selanjutnya makanan penutup.." ucap Arne.
"Kau bahkan masih bisa makan lagi." ucap Anderson.
"Kita sudah membuang kalori dengan berdansa, sekarang harus diisi kembali." ucap Arne.
Keduanya pun hanya tersenyum dan mulai memahami satu sama lain. Arne yg sudah memahami arti ucapan Anderson yg kadang artinya berkebalikan dengan ucapannya. Sementara Anderson mulai memahami kebiasan Arne yg begitu menikmati hidupnya.
Setelah itu, Anderson pun pergi ke toilet dan Arne sendirian di mejanya sambil menikmati hidangan penutup.
"Nona Arne." ucap Thompson.
"Tuan Thompson, ada apa ?" tanya Arne.
"Kulihat kalian begitu mesra malam ini." ucap Thompson.
"Jadi anda sudah percaya tentang hubungan kami?" balas Arne.
"Ya.. Dan kau yakin Anderson mencintaimu? dia itu begitu mencintai istriku." ucap Thompson.
"Jadi kau mau aku meninggalkannya?" tanya Arne.
__ADS_1
"Tak ada gunanya kau bersama pria yg mencintai wanita lain,." ucap Thompson.
"Kau nampaknya terlalu percaya diri tuan.. Kalau pun benar begitu, bukankah itu bukan masalah besar karena istrimu sudah menjadi milikmu?" balas Arne.
"Kau tidak takut?" tanya Thompson.
"Bukankah kau yg sebenarnya harus takut kalau istrimu dekat dengan putramu? Mereka punya history di masa lalu bukan?" balas Arne.
"Ck.. Kau sangat pandai membalas ucapanku." ucap Thompson.
"Kakekku dan ibuku yg mengajarinya. Sudah tahu bukan siapa kakekku?" balas Arne.
"Aku tahu, tapi apa kau yakin Anderson takkan meninggalkanmu?" tanya Thompson.
"Bagaimana ya? Bukan hal sulit bagiku mencari penggantinya, kau lihat kan aku masih muda dan cantik." ucap Arne.
"Kalau kau ingin bicara soal putraku kau bisa menghubungiku." ucap Thompson memberi kartu namanya.
"Sudah cukup pak tua bicaranya.." ucap Anderson mengambil kartu nama itu lalu merobeknya.
"Kau lihat kan? Dia marah.. Bagaimana dia bisa meninggalkanku?" ucap Arne tersenyum.
"Kurasa aku yg harus berhati-hati lagi agar kali ini kekasihku tak kau rebut." ucap Anderson.
"Honey, ayo bangun kita pulang." ucap Anderson menarik tangan Arne.
"Kau lihat bukan tuan, dia sangat posesif dan cemburu." tambah Arne membuat Thompson semakin kesal.
Arne pun bangkit dan berjalan bersama Anderson sambil bergandengan tangan. Dan Arne tersenyum melihat wajah Anderson yg begitu kesal.
"Kenapa tersenyum? Kau suka orang tua itu?" tanya Anderson.
"Memangnya seleraku seburuk itu? Aku hanya lucu saja melihat ekspresimu." ucap Arne.
"Apa kau sudah merasa benar-benar cemburu pada ayahmu?" tanya Arne.
"Hanya karena kita berdansa bukan berarti aku menyukaimu." ucap Anderson.
"Aku tahu kau akan berkata begitu, tapi baru kali ini aku menikmati pesta dansa." ucap Arne tersenyum.
"Berhenti tersenyum.. bagiku itu biasa saja." ucap Anderson.
"Ini kan mulutku, suka-suka aku." ucap Arne.
"Yah, pokoknya kau jangan bertemu pria tua bangka itu.." ucap Anderson.
"Ya ampun, yg benar saja kalau aku harus bertemu ayahmu." ucap Arne.
"Tapi tak ada yg mendekatimu lagi kan selain Thompson?" tanya Anderson.
Arne pun hanya menunjuk Anderson.
"Ini.." ucap Arne.
"Aku?"
"Iya, kau kan pria juga." balas Arne.
"Maksudku pria lain."
__ADS_1
"Tidak ada. Aku hanya fokus makan." ucap Arne.
"Kau serius? Kakekmu bilang aku harus menjagamu." ucap Anderson bohong.
"Kau mulai posesif, apa kau mulai terbawa akting kita malam ini?" tanya Arne.
"Tidak, yg benar saja, itu hanya dansa biasa." ucap Anderson.
"Kalau begitu, belikan aku es krim." pinta Arne.
"Kau itu bukan anak kecil lagi." ucap Anderson.
"Memangnya yg membeli es krim hanya anak-anak?" tanya Arne.
"Ya tidak juga." ucap Anderson mengalah.
Anderson pun membelikan Arne es krim dan mereka menikmatinya di sebuah cafe.
"Kau itu tidak pernah kenyang kah?" tanya Anderson.
"Coba buka mulutmu.." ucap Arne.
"Untuk apa?"
"Buka saja." pinta Arne lalu menyendokkan es krim ke mulut Anderson.
"Bagaimana enak kan? Dinginkan dulu pikiranmu itu.. Mengomel terus dari tadi, lama-lama kau mirip ibuku." ucap Arne.
Anderson pun terdiam karena malam ini dirinya jadi cerewet karena ulah Thompson. Dan Anderson sangat takut kalau Arne tergoda oleh pria tua tersebut dan berakhir seperti Maria. Anderson takkan rela jika Arne sampai terjebak dengan ayah kandungnya. Cukup Maria saja yg menikahi ayahnya dan terjebak dalam hubungan yg rumit.
Setelah puas, Anderson pun mengantarkan Arne pulang.
"Terimakasih sayang makan malam dan pesta dansanya." goda Arne.
"Arne, sudah aktingnya." ucap Anderson malu.
"Akhirnya aku bisa melihat ekspresimu yg tersembunyi ini." goda Arne.
"Diam..!" ucap Anderson.
"Huhu.. Tidak mau.." tambah Arne.
Anderson pun mendekatkan tubuhnya dan mengunci Arne agar tak bergerak dari kursi di mobilnya. Bahkan kini wajah mereka saling berdekatan.
"Kau mau apa?" tanya Arne.
"Ingin tahu?" tanya Anderson sengaja melakukan hal itu.
CTIKK..
Bunyi seatbelt milik Arne yg dilepaskan Anderson, lalu Anderson membuka pintu mobilnya.
"Sekarang silahkan keluar honey.." ucap Anderson.
"Apa begini caramu mengusir wanita.?" ucap Arne.
"Ya.. Ini sudah malam, kau harus segera tidur." ucap Anderson.
"Oke.. Bye." balas Arne.
__ADS_1
Sikap Arne yg berubah dingin pun membuat Anderson kecewa padahal dirinya ingin dipanggil sayang lagi oleh Arne.
"Cih.. Apa yg kuharapkan." umpat Anderson dalam mobilnya.