
Boy dan Arne pun duduk di taman karena Boy ingin menyampaikan sesuatu pada Arne. Dan Arne berusaha mendengarkannya serta menghargainya. Meski dalam hatinya dirinya curiga akan apa yg akan Boy bicarakan.
"Silahkan.. Ada apa Boy?" tanya Arne.
"Arne, maafkan semua kejahatan Aini padamu.. Dia mungkin terlalu mencintaiku." ucap Boy.
"Aku paham perasaannya, tapi sulit bagiku memaafkan semua perbuatannya.. Padahal aku tak pernah membalas semua perbuatannya." ucap Arne.
"Aku mengerti kau pasti kesal dan kecewa padanya, beberapa dokter bilang kalau wanita hamil cenderung dipengaruhi oleh faktor hormon." ucap Boy.
"Kuharap juga begitu, aku akan berusaha memaafkan karena aku tak mengalami hal buruk." ucap Arne.
"Terimakasih.. Dan juga aku meminta maaf atas kesalahanku di masa lalu.." ucap Boy.
"Jika tentang masa lalu rasanya tak perlu kita bahas, karena hanya akan menimbulkan masalah." balas Arne berdiri.
"Aku mengakui kesalahanku yg berselingkuh dengan Aini.. Dan membenarkan semua tindakan kami." ucap Boy.
"Ya.. Aku tahu itu." balas Arne.
"Dan aku menyesal sudah menyakitimu. Jadi maaf juga untuk hal itu." ucap Boy.
"Iya, semua sudah usai.. Kurasa tak ada lagi perlu dibahas." ucap Arne.
"Sungguh?? Kau tak marah?" tanya Boy.
"Untuk apa Boy? Marah pun tak mengubah keadaan, dan lagi kau itu suami Aini, kuharap kita saling membatasi diri satu sama lain." ucap Arne.
"Terkadang aku menyesali perbuatanku di masa lalu, dan aku menyesal kenapa meninggalkanmu untuk memilih Aini." ucap Boy.
"Hei.. Hei, hentikan cerita seperti itu, aku tak mau mendengarnya." balas Arne lalu berdiri.
"Arne, aku ingin kau mendengarkan pendapatku.. Kumohon." ucap Boy.
"Jika soal rumah tangga, jangan tanya padaku aku kan belum menikah." ucap Arne.
"Kau sudah tahu semua tentang Aini, jadi aku ingin kau mendengar pendapatku." ucap Boy.
"Yasudah katakanlah." balas Arne.
"Aku menyesal menikahi Aini.. Entah mengapa dia mulai menyebalkan, boros, dan tak bisa merawat dirinya dengan baik. Dia juga sampai sejauh ini padamu padahal kau sudah tak peduli pada masa lalu kita." ucap Boy.
Arne pun menghela nafasnya..
"Hhh.. Boy, apa semua manusia diciptakan sama?" tanya Arne.
"Tidak." ucap Boy.
__ADS_1
"Begitulah pernikahan, menyatukan dua orang yg berbeda, butuh waktu bagi kalian untuk saling memahami.. jika tidak akan berakhir seperti orang tuaku.. Kau tahu kan maksudku?" tanya Arne.
"Jadi aku harus berusaha memahaminya.? Begitu?" tanya Boy.
"Bukan hanya kau tapi juga Aini, kalian harus saling mengenal dan memahami karakter masing-masing." ucap Arne.
"Sudah kan? Aku harus bekerja.. Semoga berhasil." ucap Arne.
"Iya, terimakasih." ucap Boy.
Sementara Arne hanya melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Boy. Arne tak menyangka kalau Boy yg terlihat begitu mencintai Aini justru menyesal menikahinya karena mengetahui semua sikap buruknya.
Sementara Boy, dirinya lebih tak menyangka kalau Arne tak begitu peduli pada masalalu yg pernah terjadi diantara mereka. Meski luka yg ditorehkan dirinya dan Aini pasti cukup sakit bagi Arne tapi Arne masih bisa bicara dengannya. Bahkan Arne bisa memberinya sedikit saran. Seandainya saja, Boy dulu bersabar dan tak terlalu menanggapi Aini pasti mereka masih bersama.
"Tak kusangka Arne akan berpikiran sedewasa ini.. Aku sudah terlanjur melangkah jauh sampai disini kuharap aku mampu menyelesaikan semua yg sudah kumulai." gumam Boy dalam hati.
.
.
Sementara itu di sudut lain ada Anderson yg melihat Arne dan Boy bicara. Pria dingin itupun khawatir kalau Boy kembali mendekati Arne dan membuat masalah di hidupnya lagi. Ditambah istrinya sangat posesif dan sangat tidak menyukai Arne. Terutana Martha yg sering membuat masalah pada Arne.
Anderson pun jadi memerhatikan mereka, meski tak bisa mendengar percakapan mereka. Dirinya berharap Arne tak tergoda oleh rayuan pria baj**an itu. Lalu Arne terlihat pergi meninggalkan Boy sendirian di taman. Dan Anderson merasa sedikit lega, karena mungkin Arne tak terpengaruh olehnya.
Kemudian Anderson melihat Arne masuk ke dalam dan kembali bekerja. Dirinya pun ikut masuk ke dalam setelah memastikan tak ada yg salah dengan Boy. Tapi baru saja dirinya masuk ke dalam, tiba-tiba Martha sedang melabrak Arne dihadapan banyak orang.
"Ck.. Apa-apaan ini? Kenapa menyerangku.." ucap Arne.
"Gara-gara kau putriku menderita dan tak dianggap lagi oleh kakeknya." ucap Martha.
"Apa anda sudah mendidiknya dengan benar? Atau haruskah aku lanjutkan laporan atas perbuatan putrimu?" balas Arne membuat Martha terdiam.
"Kalau masih mau lanjut katakan saja, aku dengan senang hati meladeninya.. " ucap Arne.
"Cih.. Kau jadi sombong gara-gara kakekmu mewariskan semua kekayaannya padamu." ucap Martha.
"Apa urusannya denganmu? Itu kan harta kakek, mau diberikan padaku atau disumbangkan ya suka-suka dia." ucap Arne.
"Ja**ng kurang ajar..!" ucap Martha hendak menampar Arne tapi sebuah tangan besar menangkap tangan Martha.
"Haruskah tindakan anda ini kami laporkan? Ini bukan yg pertama kali kan?" balas Anderson.
"Cih, apa urusanmu? Dia ini berniat merebut suami putriku..!" ucap Martha keras-keras agar didengar semua orang.
"Oh ya? Apa buktinya?" tanya Arne.
"Bahkan putri anda yg menyuruh orang untuk mengikutiku kemanapun tak mendapatkan bukti apapun.." balas Arne tersenyum.
__ADS_1
"Dan satu lagi, aku calon tunangannya.. Jadi tak mungkin Arne akan memilih suami putrimu yg tidak ada apa-apaannya itu." balas Anderson membuat Arne menatapnya tajam.
Dan orang-orang sekitar juga mendengar pernyataan Anderson membuat mereka terkejut.
"Oh jadi kau calon tunangannya, baguslah kuharap kau menjaga calon tunanganmu itu agar tak macam-macam pada suami orang." ucap Martha.
"Hahaha.. " Arne pun tertawa membuat semua orang bingung.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Martha.
"Anda pasti mengatakannya karena pernah menggoda suami orang, benar begitu kan nyonya Martha. Ku yakin anda pasti takut putri anda kena karmanya." balas Arne membuat Martha semakin kesal.
"Kau.. Memang anak kurang ajar..!" ucap Martha lalu menyerang Arne.
Anderson pun menarik Arne dan menjauh, sementara Richard pun sampai berlari menarik istrinya tersebut. Kejadian itupun cukup heboh karena Martha yg memulainya. Dan Arne takkan tinggal diam karena selalu diserang.
Hingga Sammy harus turun tangan menyelesaikan masalah ini. Dan Richard mengenali Sammy yg merupakan mantan kekasih Jeny.
"Nyonya Martha, anda sudah lebih dari sekali menyerang dr.Arne.. Apakah anda tak merasa bersalah?" tanya Sammy.
"Itu karena dia selalu mengganggu keluargaku, dia juga tadi menghinaku." ucap Martha.
"Benarkah Arne?" tanya Sammy.
"Aku tidak menghinanya, karena semuanya fakta.. Dia menuduhku menggoda suami putrinya, padahal dia sendiri yg menggoda suami orang." balas Arne.
"Arne.." ucap Richard.
"Jika papa malu, harusnya hentikan istri papa itu. Karena dia yg memulainya, atau haruskah kulanjutkan proses hukum Aini dan ditambah dengan penyerangan nyonya Martha?" balas Arne.
"Jadi apa kalian akan melanjutkannya lewat jalur hukum atau musyawarah?" tanya Sammy.
"Karena aku punya semua bukti cctv rumah sakit ini.. Aku hanya tinggal menyerahkannya bukan ke penyidik." ucap Sammy.
"Tu-tunggu, to-tolong jangan bawa-bawa pihak berwajib tuan." ucap Martha.
"Bagaimana Arne? Mau dilanjutkan atau musyawarah?" tanya Sammy.
"Nampaknya pelaku sudah ketakutan begitu mendengar kata penyidik, aku bisa memaafkannya tapi jika sekali lagi menyerangku aku bisa minta bukti cctv rumah sakit kan prof?" tanya Arne.
"Tentu saja, kami akan melindungi semua staf yg bekerja disini dengan catatan dia tak berbuat salah." ucap Sammy.
"Baiklah, ayo kita buat surat perjanjian." ucap Arne tersenyum.
Akhirnya, Martha pun menandatangani surat perjanjiannya dengan terpaksa. Dan Arne tersenyum puas karena Sammy selaku direktur rumah sakit mendukungnya. Dan Anderson juga menyelamatkannya dari amukan Martha. Martha pun terdiam setelah tak mampu membalas Arne.
Richard pun mamarahinya habis-habisan setelah keluar dari ruangan direktur. Dan Richard takkan segan-segan memberinya hukuman jika sampai menyerang Arne lagi. Bahkan Richard takkan membantunya jika Martha terlibat masalah hukum karena menyerang Arne.
__ADS_1
Arne pun berterimakasih pada Sammy dan Anderson karena telah membantunya. Dan mereka berharap dengan ini baik Martha maupun Aini jera dan tak lagi menyerang Arne.