
Setelah insiden penyerangan tersebut, Arne pun mendapatkan penjagaan ketat dari kakeknya. Dan Arne diminta mengunjungi Richard, Jakson juga kebetulan sedang ada disana.
Richard yg baru sadarkan diri dari luka yg ia terima, melihat ayahnya dan Cindy sedang menjaganya.
"Ayah..Cindy.." ucap Richard.
"Akhirnya kau bangun juga, dasar sudah tua menyusahkan saja." ucap Jakson.
"Maaf ayah.." ucap Richard.
"Sebaiknya kau jangan banyak bergerak, karena beberapa hal lukamu butuh waktu lama untuk pulih." ucap Cindy.
"Jadi begitu ya.. Aku memang sudah tua dan penuh dengan dosa." ucap Richard.
"Cih, akhirnya kau sadarkan diri." balas Jakson.
"Maafkan aku ayah selalu merepotkanmu." ucap Richard.
"Kalau begitu diamlah.. Arne akan kemari sebentar lagi." ucap Jakson.
Arne pun tiba disana di antarkan oleh Anderson. Anderson pun akan menunggu diluar saja karena memang pengunjungnya dibatasi beberapa orang saja.
"Permisi." ucap Arne.
"Akhirnya kau datang juga." ucap Jakson.
"Ya.. dan papa akhirnya sadar juga." ucap Arne.
"Iya duduklah nak." ucap Richard.
"Aku sudah mendengarnya kalau Martha juga menyerangmu dan Boy." ucap Jakson.
"Apa??" ucap Richard terkejut.
"Itu benar, dan aku selamat berkat Anderson.. Tapi Boy juga sama seperti papa." ucap Arne.
"Martha mendendam pada kalian bertiga.. " ucap Jakson.
"Bahkan saat mentalnya tak stabil sekalipun ia masih sempat membenci orang lain." ucap Arne.
"Ini adalah kesalahanku.. Martha adalah kesalahan terbesarku." ucap Richard.
"Papa terlambat jika menyadarinya sekarang, saat ini wanita itu sedang jadi buronan." ucap Arne.
"Kau benar, aku memang akar permasalahan ini.. Jika saja aku tak berselingkuh dengannya keluarga kita akan baik-baik saja." ucap Richard.
"Baguslah jika kau sadar, meski sangat terlambat." ucap Jakson.
"Dan wanita itu sangat pandai melarikan diri. Membuatku gelisah saja." ucap Arne.
"Arne maafkan papa." ucap Richard.
"Ya." balas Arne dingin membuat Richard tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Saat ini, kau jangan berpergian sendirian." ucap Jakson.
"Ya tentu kek." ucap Arne.
"Anderson laki-laki yg bisa diandalkan, aku senang kalian bersama." ucap Jakson.
"Ya aku juga bersyukur." ucap Arne.
Sementara Cindy pun terdiam diruangan tersebut tanpa berani berbicara atau berkata-kata. Dirinya terlalu malu untuk bicara dan merasa tak pantas berada bersama mereka. Tapi dirinya juga tak bisa meninggalkan Richard.
__ADS_1
Saat itu, Cindy pun keluar untuk membeli makanan. Dan tinggallah disana Arne, Richard dan juga Jakson. Sementara Anderson dirinya bilang ada urusan sebentar dan akan kembali menjemput Arne.
Banyak hal yg dibicarakan antara Arne dan Jakson. Sementara Richard lebih banyak diam mendengarkan mereka bicara. Rasanya, Arne sudah banyak berubah padanya sejak Richard meninggalkan Jeny.
Arne hanya banyak bicara pada Jakson daripada dirinya yg hanya akan bicara dingin terhadapnya. Hal itu membuat Richard selalu frustasi menyadari semua kebodohannya. Dan Arne memang sangat terluka atas ulah Richard selama ini, hingga membuat sikapnya menjadi sangat dingin.
Ditengah pembicaraan mereka, diluar nampak Martha menyandera Cindy untuk membawanya menuju ke ruangan Richard. Orang-orang pun tak bisa membantunya karena Cindy berada dalam bahaya. Jika mereka nekat menyerang Martha maka Martha akan menancapkan pisau tajam ke leher Cindy.
"Kalian diam, jika kalian mendekat maka wanita ini akan mati..!" ucap Martha.
"Si-siapa kau..?" tanya Cindy.
"Oh jadi kau pelakornya?? Dasar wanita tak tahu diri.." ucap Martha.
"Jadi kau adalah.." ucap Cindy.
"Aku istri Richard. Dan kau adalah selingkuhannya dan penyebab dirinya ingin menceraikanku." ucap Martha kesal.
Martha pun dengan sengaja menggores sedikit leher Cindy hingga berdarah. Dan memaksa Cindy untuk menunjukkan ruangan Richard. Martha pun mendapat informasi dari seseorang kalau Richard akan menikahi seorang wanita muda, dan hal itu membuatnya tak terima. Sedangkan dirinya adalah buronan yg dikejar banyak polisi.
Pihak rumah sakit pun melaporkan hal ini pada kepolisian. Dan dengan cepat beberapa personil datang untuk mengamankan korban. Tapi saat ini korban sedang bersama pelaku dan menyanderanya.
Cindy pun mau tak mau membawa Martha ke ruangan Richard. Dan mereka nampak terkejut melihat Martha datang dengan menyandera Cindy. Terlebih leher Cindy sudah berdarah dan mulai mengotori pakaian Cindy.
"Maa-maaf.." ucap Cindy menangis.
"Hahahaa.. Kau menangis ja**ng..? Ini belum seberapa." ucap Martha.
"Martha kau..!" ucap Richard kesakitan.
"Kenapa?? Kau saja berselingkuh dariku.." ucap Martha.
"Apa maumu.." ucap Arne melindungi Jakson.
"Kenapa kita tidak mati bertiga saja?" balas Arne.
"Arne.." ucap Jakson.
"Martha, kau bunuh aku saja jangan Arne." ucap Richard.
"No.. putrimu ini adalah penyebab Aini putriku kondisinya menyedihkan seperti sekarang.." ucap Martha.
"Martha, Cindy dan Arne tak bersalah.. Akulah yg salah." ucap Richard.
"Hahahahahahaa... Apa ini? Kau memintaku mencabut nyawamu?? apa aku sekarang jadi malaikat maut??" ucap Martha tertawa.
"Tante Martha, lepaskan Cindy.. Bawa saja aku.." ucap Arne.
"Jangan.. Kau bunuh aku saja." ucap Cindy.
"Tenang kalian semua akan mati." ucap Martha.
Situasi pun semakin tegang sementara Anderson belum juga kembali. Petugas juga menunggu diluar dan tak berani bertindak karena Martha membawa sandera.
"Ayolah tante, lepaskan Cindy.." ucap Arne.
"Tidak, jangan.." ucap Cindy.
"Oh dramatis sekali kalian, ibu tiri dan anak tiri saling melindungi. Hahahahahaha.." ucap Martha tertawa.
"Tante.. Lepaskan dia, kau bawa aku saja." ucap Arne.
"Arne jangan.." ucap Jakson.
__ADS_1
"Kek.. Saat ada kesempatan keluarlah dari sini." ucap Arne.
"Mana bisa begitu.." ucap Jakson.
"Baiklah aku akan melepaskan ja***ang ini.." ucap Martha mendorong Cindy sekuat tenaga hingga tersungkur.
Brukk..
"Akh.." ucap Cindy.
"Kakek.. Pergilah.." ucap Arne.
"Tidak.. Aku akan melindungimu." ucap Jakson.
"Ck.. Yasudah mati saja kalian berdua..!" ucap Martha menyerang Arne dan Jakson.
Saat itu, Richard pun bergerak sekuat tenaga untuk menghalangi Martha. Dan pisau tersebut kembali menancap di tubuhnya.
"Papa..!" teriak Arne.
"Richard.." ucap Jakson langsung menangkap tubuhnya yg jatuh.
"Hahahahaa... Aku berhasil membunuh satu.. yes.. Yes..!" ucap Martha kegirangan.
Cindy pun mengambil sebuah vas bunga dan memukulkannya ke kepala Martha.
Praaaannkkkk..!!
"Argggh...!" teriak Martha kesakitan.
"Petugas keamanan, siapapun masuklah..!" teriak Cindy.
Mereka pun masuk setelah mendapatkan aba-aba, dan mereka menangkap Martha. Martha pun kini dalam kondisi terluka parah di bagian kepalanya karena pukulan vas bunga. Begitu juga dengan Richard yg berusaha melindungi Arne dan Jakson. Richard pun kembali mendapatkan penanganan. Dan Arne sebagai seorang dokter pun memberi pertolongan pertama hingga akhirnya dokter rumah sakit tersebut datang dan mengambil alih.
Saat Anderson tiba di rumah sakit, disana pun sudah ramai dan Anderson mendapat info kalau Martha mendatangi rumah sakit tersebut dengan menyamar. Anderson pun berlari ke ruangan Richard dan menemukan banyak darah disana. Anderson yg panik pun bertanya pada petugas yg ada di ruangan tersebut.
Setelah itu, Anderson menuju ke ruang operasi dan melihat Arne sedang menangis dengan banyak darah di tangannya.
"Arne.." ucap Anderson.
"Anderson.. Papa diserang Martha lagi." ucap Arne.
"Jadi ini bukan darahmu kan?" tanyanya.
"Iya, tapi papa terluka karena melindungiku." ucap Arne.
"Arne, Richard melakukan ini karena dia menyayangimu dan menyesali peebuatannya." ucap Jakson.
Mereka pun menunggu di ruang operasi. Dan Anderson mengajak Arne untuk membersihkan tangannya dari darah Richard. Sementara Cindy dirinya masih syok dengan apa yg terjadi. Tapi berkat keberaniannya, Martha pun berhasil ditangkap.
Tapi situasi tak membaik begitu saja, dokter pun keluar dari ruang operasi dan meminta maaf karena gagal menyelamatkan Richard. Mereka sampai menundukkan kepala. Dan Arne yg emosional pun memaksa masuk ke ruang operasi untuk mengeceknya sendiri.
Di dalam, Arne pun berhasil masuk dan Anderson juga ikut masuk untuk mengawasi.
"Arne mereka juga dokter sama sepertimu." ucap Anderson.
"Tapi.. Aku ingin memastikan." ucap Arne.
"Arne, kau lihat kan layar ini? Kau bahkan denyut nadinya sudah tidak ada.. Jangan permalukan dirimu sebagai seorang dokter, ayo keluar." ucap Anderson menarik Arne keluar.
Situasi pun menjadi haru karena Richard dinyatakan meninggal. Begitu juga dengan Martha yg kondisinya kritis. Pukulan vas bunga itu mengenai beberapa bagian vitalnya. Dan Martha pun tak lama kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Cindy pun bersiap menerima hukumannya karena tak sengaja membunuh seseorang. Meski tindakannya untuk melindungi semua orang tapi hukum tetap harus berlanjut. Jakson pun akan berusaha membantu meringankan hukumannya dan itu cukup membantunya.
__ADS_1