Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.78 Kesungguhan


__ADS_3

Arne pun terkejut dengan apa yg ia dengar dari Anderson. Arne sampai mencubit tangannya dan menyadari kalau ini nyata bukanlah mimpi.


"Apa yg kau lakukan?" tanya Anderson.


"Kukira ini mimpi.. Prof jangan bercanda, ini bukan momen yg tepat." ucap Arne.


"Sudah kubilang berhenti memanggilku itu jika diluar." ucap Anderson.


"Maaf.. Tapi apa yg membuatmu berubah pikiran?" tanya Arne.


"Karena kau membuka mata dan pikiranku." ucap Anderson.


"Tunggu Anderson, dari awal kau ingin agar perjodohan kita batal kan?" tanya Arne.


"Itu dulu, sekarang aku berubah pikiran." ucap Anderson.


"Kalau aku tak mau..?"


"Aku akan berlutut dan membuatmu malu di hadapan banyak orang." ancam Anderson.


"Hh.. Kau itu suka sekali mengancam." ucap Arne.


"Pokoknya aku tak mau membatalkan perjodohan. Titik." ucap Anderson.


"Dasar tidak konsisten." ucap Arne.


"Lalu apa maumu?" tanya Anderson.


"Aku mau menyelesaikan residen baru memikirkan hal itu. Dengar ya aku tak mau terburu-buru memutuskan." ucap Arne.


"Kita bisa bertunangan dulu, lalu menikah saat kau siap." ucap Anderson.


"Kalau aku tetap menolak?" tanya Arne.


"Kakekmu akan mencarikan jodoh lain, dan aku tahu siapa orangnya." ucap Anderson.


"Memangnya siapa? Sampai kau tahu spoilernya segala." ucap Arne.


"Tuan Tony, kau mau dijodohkan dengannya?" tanya Anderson.


"Tak adakah pilihan yg lebih baik?" balas Arne.


"Jangan tanya aku, tanya kakekmu.. " balas Anderson.


"Aku tak bisa memutuskan saat ini, aku harus memikirkannya. Dan lagi tuan Tony itu terus mendekatiku." ucap Arne.


"Dia bukan pilihan yg tepat Arne.. Kau harus bijak." balas Anderson.


"Kau juga belum tentu yg terbaik." ucap Arne.


"Tapi aku bisa membuatmu bahagia." ucap Anderson.


"Masa? Belum juga dijalani kau terlalu percaya diri." ucap Arne.


"Buktinya, kau sangat bahagia saat makan bersamaku." balas Anderson.


"Itu karena aku menyukai makanannya." ucap Arne.


"Itu juga karena kau nyaman makan bersama orang tersebut." balas Anderson.


"Aku butuh waktu berpikir." ucap Arne.


"Take your time." ucap Anderson.


Setelah itu Anderson mengantarkan Arne pulang dengan selamat meski hampir tak ada pembicaraan lagi. Dan Anderson membuat Arne terdiam setelah mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


"Arne.. " ucap Anderson saat mereka sudah ada di depan apartemen.


"Hmm.."


"Santai saja, aku takkan memaksamu.. Aku juga sudah memberitahumu soal penggantiku jika hubungan kita gagal, semua agar kau punya strategi menghadapinya." ucap Anderson.


"Iya. Akan kupikirkan. " ucap Arne.


"Istirahatlah, aku tahu kau lelah.. Jangan pikirkan apapun." ucap Anderson.


"Ya.." balas Arne lalu masuk ke dalam.


Anderson merasa sedikit bersalah karena membuat Arne tertekan makanya dirinya ingin agar Arne tak terlalu memikirkannya. Dan hal itu membuat Anderson menyesali kata-katanya yg terkesan memaksa.


"Apakah aku mengatakan hal yg salah?" gumamnya dalam hati.


Sementara Arne memikirkan bagaimana jika Tony yg menggantikan Anderson. Dirinya akan merasa sangat canggung jika bertemu dan bekerja di tempat yg sama. Lalu jika Anderson ditolak, dirinya juga belum bisa memutuskan langkah apa kedepannya.


Jika tak memilih, Arne akan terus disalahkan dan dituduh merebut Boy dari Aini. Hal itu membuat Arne pusing memikirkannya.


"Siapa yg harus aku pilih.. ??Jika Anderson, mungkin akan baik-baik saja tapi aku belum mempercayainya.. Jika Tony dia sangat misterius, bahkan Anderson sekalipun tak tahu apa-apa tentangnya. Lalu jika menolak keduanya, Aini akan terus mengawasiku karena menganggapku ancaman rumah tangganya." gumam Arne dalam hati.


"Akh aku harus bagaimana??" gumamnya.


Arne pun tak tahu harus apa dan memilih tiduragar melupakannya. Lalu esok paginya, dirinya harus kembali bekerja seperti biasanya. Arne pun tak mau memikirkan pilihannya lagi, dan memutuskan untuk fokus menjalani residennya.


"Aku akan fokus pada masa residen dulu." gumam Arne.


.


.


Begitu Arne sampai di rumah sakit, Arne pun duduk di kursinya dan tak memedulikan paper bag di mejanya. Arne hanya menggesernya dan tak memedulikan apa isinya.


"Aku sedang bingung.." ucap Arne.


"Bingung? Ada apa?" tanya Kenzi.


"Ya kau tahu kan Anderson dijodohkan denganku, lalu tiba-tiba tuan Tony mendekatiku dan dia bahkan meminta kakekku untuk menjodohkanku jika dengan Anderson gagal." ucap Arne.


"Aku tahu, karena dia juga dijodohkan denganku, tapi kami sepakat untuk menolaknya." ucap Kenzi.


"Apa?? " ucap Arne terkejut.


"Jangan terkejut begitu, dia bahkan sampai memintaku untuk mendekatkannya padamu."


"Hhh.. Kenn aku harus bagaimana?" tanya Arne.


"Apa kau tak menyukai profesor?" tanya Kenzi.


"Aku tidak tahu, bagiku dia hanyalah seniorku yg selalu ada untukku." ucap Arne.


"Hhh.. Jadi begitu." ucap Kenzi.


"Dan profesor sampai memberikan voucher makan ini padaku jika aku ingin makan denganmu." ucap Arne.


"Wah.. Dia tipikal pria dengan harga diri yg tinggi.." ucap Kenzi.


"Begitulah, niatnya tadi malam kami ingin makan disana, tapi justru dia mereservasinya dan memberiku ini." ucap Arne sambil menunjuk liontin pemberian Anderson.


"Cantik sekali, dan kau menerimanya." ucap Kenzi tersenyum.


"Aku menyukainya makanya menerimanya." ucap Arne.


"Benarkah? Bukan menyukai profesor?" goda Kenzi.

__ADS_1


"Aku juga tak tahu.. Aku tak bisa menolak pemberiannya. Dia juga tak memaksa untuk menerimanya." ucap Arne lalu menceritakan segalanya pada Kenzi.


"Yasudah jangan terlalu dipikirkan, jalani saja dan fokus pada residen ini. Lalu kita makan ke resto Xx tersebut." ucap Kenzi.


"Ide bagus." ucap Arne.


Tak lama kemudian Anderson pun memanggil para residen untuk mengikutinya memeriksa pasien dan mengajari banyak hal. Mereka juga diberi tugas masing-masing dan Anderson tak membahas apapun. Dirinya bersikap normal seperti biasanya.


Kemudian pada jam istirahat, Anderson memanggilnya di taman.


"Ada apa prof?" tanya Arne.


"Makanlah ini, dan jangan stres.." ucap Anderson memberikan kue coklat pada Arne.


"Terimakasih prof." ucap Arne lalu Anderson hanya melambaikan tangannya.


Arne pun tersenyum menatap pada kue coklat di tangannya. Pas sekali kue coklat tersebut untuk menghilangkan stressnya. Dan Anderson menunjukkan ketulusannya tanpa harus memaksa. Dirinya hanya ingin Arne menjalani kesehariannya dengan tenang seperti biasanya.


Arne pun berniat memakannya dengan Kenzi, tapi justru berpapasan dengan Tony.


"Arne, bisa kita bicara?" tanya Tony.


"Baik tuan." ucap Arne.


Arne pun bicara di taman dengan Tony dan pria itu menatap pada box kue coklat pemberian Anderson.


"Bagaimana dengan hadiahku?" tanya Tony.


"Hadiah? Hadiah apa tuan?" tanya Arne.


"Paper bag yg kutinggalkan di mejamu." ucap Tony.


"Oh itu dari tuan, aku bahkan tak tahu dan belum melihatnya." ucap Arne.


"Bukalah, itu untukmu." ucap Tony lalu menatap pada kue coklat pemberian Anderson.


"Ada apa tuan dengan kue ini?" tanya Arne.


"Kau selalu menerima apapun yg ia berikan, tapi mengabaikanku terus menerus. Aku hanya iri." ucap Tony lalu pergi.


Arne pun tak mau ambil pusing dan memilih pergi ke ruangannya untuk makan kue bersama Kenzi. Arne dan Kenzi pun melihat hadiah pemberian Tony.


"Waah.. Ini harganya cukup mahal." ucap Kenzi.


"Sayangnya aku sudah punya." ucap Arne.


"Benarkah? Kau itu membuatku iri saja." ucap Kenzi.


"Aku punya dengan warna lain, ini warna terbarunya rupanya." ucap Arne.


"Kau mau menerimanya?" tanya Kenzi.


"Tidak, lebih baik kukembalikan apalagi aku sudah memilikinya." ucap Arne.


"Oo.. Kau mau menolaknya langsung." ucap Kenzi.


"Lebih baik begitu daripada dia terus berharap." ucap Arne.


"Tapi semua pemberian profesor kau terima termasuk kue coklat tadi." goda Kenzi.


"Itu karena aku menyukai pemberiannya." balas Arne.


"Kukira kau menyukai orang yg memberinya." tambah Kenzi.


Di depan pintu Anderson pun melihat Arne dan Kenzi membuka hadiah dari Tony berupa tas. Tapi sayangnya tas tersebut Arne sudah memilikinya, dan berniat untuk mengembalikannya. Anderson pun tersenyum mengetahui hal itu.

__ADS_1


__ADS_2