
Irina pun menjalankan apa yg diberitahu oleh Anderson. Dan ternyata benar, Thompson menjadi menurutinya karena kelemahan yg ia miliki. Lalu mudah saja bagi Irina untuk mengontrol Thompson dan Maria. Wanita penggoda itu pun diberi tempat tinggal dan diawasi hingga melahirkan.
Dan Maria harus bertanggungjawab atas anak tersebut sebagai anak dari Thompson. Maria pun semakin tak bisa mendekati Anderson karena harus merawat anaknya nanti. Meski diceraikan, statusnya sebagai ibu tetap ada dan wajib baginya untuk merawat anaknya sebagai keturunan Thompson.
"Maria, kuberi kau kesempatan untuk merawat anakmu.. Tapi jangan pernah tinggalkan negara ini." ucap Irina.
"Benarkah?" tanya Maria.
"Ya.. Syaratnya kau harus mendidik anakmu agar menjadi anak yg pantas menyandang predikat keluarga Thompson." ucap Irina.
"Kenapa aku tidak boleh meninggalkan negara ini?" tanya Maria.
"Karena itu hukumanmu sebagai gantinya aku tak jadi merawat anakmu." ucap Irina.
"Lalu statusku sebagai istri?" tanya Maria.
"Jangan bermimpi.. Istri sahnya tetap aku." ucap Irina.
"Irina kenapa kau jahat sekali padaku?" tanya Maria.
"Kau sendiri kenapa merayu suamiku?" balas Irina tajam hingga Maria tak mampu menjawabnya.
"Saat ini kau tak punya kekuatan menghadapiku, jalanilah hidupmu dengan tenang di rumah ini." ucap Irina.
Maria pun masih tak percaya kalau dirinya diperlakukan dengan tak adil. Memang dirinya sempat senang akhirnya bisa merawat anaknya, tapi sebagai gantinya kebebasannya direnggut. Dan tak bisa lagi mendekati Anderson. Pupus sudah harapan terakhirnya.
.
.
Sementara Anderson semakin sibuk setiap harinya. Perusahaan rintisannya pun berkembang pesat dan memiliki banyak pesanan produk buatannya dari berbagai negara. Hal itu bukanlah proses yg sebentar mengingat Anderson dahulu selalu berkeliling ke berbagai negara untuk mendapatkan informasi lewat kenalannya.
Bahkan Anderson harus mendapatkan ijin dari beberapa lembaga agar robot buatannya diakui dan layak untuk digunakan. Bahkan setelah mendapatkan ijin pun mereka tak langsung mendapatkan pesanan. Hingga Anderson harus kesana kemari menawarkan produknya.
Hingga akhirnya dirinya bertemu dengan Jakson yg mau membantu mendanai bisnisnya dan menawarkannya ke beberapa rumah sakit kenalannya. Dari sanalah bisnis Anderson mulai dikenal. Nampaknya memiliki kenalan pebisnis adalah jalan terbaik untuk memperbaiki bisnisnya yg sempat tersendat.
Semakin lama, produk buatannya pun dikenal luas dan memiliki banyak pesanan. Tapi hal itu membuatnya harus sering berpergian meninggalkan Arne.
Romeo pun senang melihat perkembangan Anderson dan bisnis kecilnya yg kini semakin besar. Siapa yg menyangka kalau sahabat baiknya Jakson akan bekerja sama dengan cucunya yg menolak menjadi penerusnya.
Sedangkan Arne, dirinya harus menyelesaikan masa residennya beberapa tahun lagi. Dan hari-hari beratnya kini sudah menjadi makanan sehari-harinya yg membuatnya terbiasa. Dan Arne semakin mahir dalam pekerjaannya berkat kerja kerasnya selama ini.
Tapi kesibukan Anderson akan bisnisnya membuatnya harus memilih tetap bekerja atau menjalani bisnisnya. Anderson pun sudah membicarakannya dengan Arne.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Anderson.
__ADS_1
"Apa yg menjadi prioritasmu saat ini dan jika ditinggalkan akan merugikanmu?" balas Arne.
"Dirimu." ucap Anderson.
Jawabannya pun seketika membuat pipi Arne memerah malu.
"Kurasa bukan itu yg sedang kita bicarakan. Ini tentang perkerjaanmu, antara menjadi dokter atau memilih perusahaan rintisanmu." ucap Arne.
"Kalau boleh jujur hanya dirimu prioritasku. Tapi kalau pekerjaan yg paling merugikan ya tentunya perusahaanku jika ditinggalkan." ucap Anderson.
"Yasudah kau harus melanjutkannya." ucap Arne.
"Perusahaan itu aku sudah merintisnya selama bertahun-tahun, dengan berbagai macam riset dan modal yg menghabiskan semua uang milikku dulu, bahkan sampai berhutang pada bank." ucap Anderson.
"Kau harus mempertahankannya." ucap Arne.
"Pihak rumah sakit sudah menegurku karena terlalu sering cuti." ucap Anderson.
"Mereka memintamu berhenti begitu?" tanya Arne.
"Kurang lebih, meski Sammy masih berbaik hati padaku." ucap Anderson.
"Apa Tony yg melakukan ini?" tanya Arne.
"Aku juga memikirkannya.. Mungkin aku akan berhenti jika terus-terusan ditegur." ucap Anderson.
"Artinya kita akan jarang bertemu." ucap Anderson.
"Selama kau tak melirik yg lain, terutama Maria." ucap Arne.
"Tentu aku takkan melirik wanita manapun." ucap Anderson.
"Ya.. Lakukanlah, atau pikirkan sekali lagi." ucap Arne.
Anderson pun memikirkan ulang soal tindakannya. Dan tentunya dirinya sadar kalau ini adalah taktik Tony untuk menjauhkannya dari Arne. Meski terlihat diam, Tony sebenarnya menunggu kesempatan yg tepat untuk mendekati Arne lagi.
Hingga akhirnya Anderson pun dipanggil ke ruangannya. Dan Anderson dengan berani menemuinya.
"Anderson haruskah kupanggil tuan Anderson?" tanya Tony.
"Panggil saja seperti biasa." ucap Anderson.
"Baiklah, kau pasti paham tujuanku memanggilmu." ucap Tony.
"Aku tahu kesalahanku, aku juga berniat berhenti." ucap Anderson.
__ADS_1
"Berhenti bekerja disini atau berhenti apa?" tanya Tony.
"Aku akan berhenti bekerja di rumah sakit ini karena sudah sering kali absen dan cuti. Aku menyadari kesalahanku." ucap Anderson.
"Baguslah, jika kau menyadarinya." ucap Tony.
"Tapi jangan harap dengan kepergianku kau bisa mendekati tunanganku." ucap Anderson.
"Kalau aku bisa kau mau bicara apa?" tanya Tony.
"Berhentilah bermimpi tuan Tony, Arne sudah tahu siapa dirimu." ucap Anderson.
"Apa maksudmu?" tanya Tony.
"Kami berdua tahu apa yg menyebabkanmu jarang muncul dihadapan publik dan memilih untuk bersembunyi." ucap Anderson.
"Memangnya apa?" tantang Tony.
"Oh kau yakin tak masalah jika aku membicarakannya.?" tanya Anderson.
"Katakanlah." ucap Tony entengnya.
"Kau punya penyakit yg berhubungan dengan emosimu. Benar kan? Lalu setiap penyakitmu mulai kambuh kau harus diberi suntikan penenang." ucap Anderson.
"Kau tahu darimana?" tanya Tony tersenyum menyembunyikan rasa paniknya.
"Arne yg menemukan jarum suntik milikmu di ruangan ini. Dan aku yg mengujinya di lab." ucap Anderson.
Seketika raut wajah Tony pun berubah. Dan dirinya mulai kelihatan kesal.
"Jadi benar kan?" tanya Anderson.
"Iya, sebaiknya kau cepat meninggalkan rumah sakit ini. Aku takkan menyentuh Arne asalkan informasi itu tak bocor." ucap Tony.
"Baiklah, tentu tuan Tony. Aku tetap akan berusaha membantu pemesanan robot untuk rumah sakitmu secepat yg kubisa." ucap Anderson tersenyum.
Anderson pun menyerahkan surat pengunduran diri dan akhirnya meninggalkan rumah sakit tersebut. Arne pun merasa sangat kehilangan tapi ini bukan waktunya untuk bersedih karena Anderson akan terus menemuinya.
Anderson pun bekerja keras untuk mengembangkan perusahannya agar dirinya kelak bisa kembali bekerja di rumah sakit. Atau minimal bisa segera menikahi Arne agar hidupnya tenang.
Arne juga melalui hari-harinya dengan kesibukan seperti biasanya tanpa gangguan Tony. Tampak pria itu tahu kelemahan yg akan menghancurkan image rumah sakitnya hingga harus berhenti mendekati Arne selamanya.
Hari demi hari, bulan dan tahun pun kini berganti. Masa residen Arne pun telah usai, dan Arne tengah menjajaki dunia baru sebagai spesialis bedah. Dan Anderson lelaki yg sudah menunggunya selama ini tetap ada disampingnya.
Meski sejujurnya mereka sangat jarang bertemu, tapi keduanya menepati janjinya masing-masing. Dan cincin tunangan mereka adalah pengikat yg menjadikan mereka kuat setiap kali menemui masalah.
__ADS_1
Anderson pun kini menjadi pebisnis yg sukses, dengan peralatan canggihnya. Dan namanya serta perusahaannya dikenal luas di berbagai negara. Anderson pun sangat sukses saat ini berkat kerja kerasnya dan juga orang-orang yg tak kenal lelah berjuang di perusahaannya.
Arne pun sudah melewati masa residennya dan telah menjadi dokter spesialis. Hingga akhirnya mereka memutuskan telah siap menikah dan sedang merencanakannya. Orangtua keduanya pun setuju, dan kedua kakek mereka sangat mendukungnya dengan penuh semangat.