
Setelah melalui hari yg melelahkan bertemu Aini dan Martha, kini Arne harus kembali melalui kencan bersama Anderson. Dan mau tak mau kali ini dirinya bersiap seperti kencan sungguhan. Gaun pun sudah dikirim ke apartemennya, dan kini Arne menatapnya dengan seksama.
"Kencan lagi ya.." gumamnya.
Ditatapnya gaun berwarna ungu tersebut. Warna yg tak biasa bagi Arne, tapi harus ia pakai demi menghargai kakek Anderson yg sudah mengirimkannya padanya. Dan Arne hanya berharap kalau gaunnya pas ditubuhnya.
Meski dirinya tak tahu kencan kali ini akan sukses atau akan berakhir seperti kemarin. Dan menyebalkannya Anderson pasti akan diam seribu bahasa dan bersikap dingin. Hingga Arne penasaran pada wanita yg ia tunggu tersebut.
"Baru kali ini aku melihat seorang pria menunggu wanita? Apa wanita itu sedang mengikuti pelatihan khusus? Atau sedang bekerja di luar negeri? Tapi rasanya aneh jika kakeknya sampai menjodohkannya." gumam Arne di kamarnya.
Dan Arne pun tak mau ambil pusing, toh bagi keduanya kencan ini hanyalah formalitas. Arne hanya akan berdandan sekedarnya yg sesuai dengan gaunnya. Lalu nanti mungkin mereka hanya akan bertemu, duduk di sebuah resto, menikmati makanan lalu pulang. Se-simple itu hubungan Arne dan Anderson.
Hari ini Arne pun sedang berlibur jadi dirinya akan bersantai di apartemen dan akan siap-siap kencan pada sore hari. Dan pagi ini ia mulai dengan berolahraga di gym biasanya.
Arne pun mengendarai mobilnya menuju ke tempat olahraga tersebut. Dengan pakaian yg yg masih terbilang sopan dan tertutup Arne memasuki gym tersebut. Beberapa pegawai pun menyapanya karena sudah jarang datang, dan Arne hanya tersenyum pada mereka.
Arne pun berolahraga seperti biasanya dan tanpa disadari Tony juga berada di tempat tersebut. Tony melihat Arne yg berolahraga sendirian, lalu terbersit dipikirannya untuk menyapanya.
"Arne.. kau kah itu?" tanya Tony.
"Eh.. Tuan Tony." ucap Arne.
"Yah ternyata benar kau. Aku sering kemari dan kebetulan jadwalku hari ini kosong." ucap Tony.
"Oh begitu, aku sudah jarang kemari sejak jadi residen." ucap Arne.
"Kebetulan sekali, tapi kau jangan merasa tak nyaman denganku santai saja.. Anggap saja yg telah terjadi dulu tak ada." ucap Tony.
"Syukurlah.. aku sebenarnya cukup kurang ajar menolak anda waktu itu, maaf tuan.." ucap Arne.
"Tak masalah, jangan dipikirkan toh kalau jodoh tak kemana." ucap Tony.
"Iya." balas Arne.
"Yasudah, silahkan dilanjutkan.. Aku juga masih mau lanjut." ucap Tony.
Tony melihat Arne nampak sangat canggung dan tak nyaman didekatnya, hal itu membuatnya tak bisa mendekati Arne karena takut malah memperburuk situasinya. Tony pun harus bersabar jika masih ingin mendekati Arne.
Dan Arne berolahraga seperti biasanya lalu pulang ke apartemen. Sebelum pulang, ibunya memintanya untuk berbelanja beberapa bahan makanan. Arne pun mampir ke supermarket sebentar.
Diluar dugaan, Arne bertemu dengan Leni ibu dari Boy.
"Arne.. " sapa Leni.
"Tante." balas Arne.
__ADS_1
"Kau berbelanja sendiri.?" tanya Leni.
"Ya benar." balas Arne.
"Maaf ya Arne, sepertinya Boy dan Aini banyak menyulitkanmu." ucap Leni.
"Iya, tak apa tante." ucap Arne.
"Semoga, kau mendapatkan jodoh yg terbaik.. Tante tahu kau gadis yg baik." ucap Leni.
"Terimakasih tante." ucap Arne.
Kemudian mereka pun berpisah dan Leni melihat Arne begitu mandiri dan tegar. Sikapnya jauh berbeda dengan Aini yg manja dan seperti bos besar. Bahkan Aini hampir tak melakukan apapun untuk Boy selama menikah. Semuanya dilakukan oleh pelayan untuk menyiapkan kebutuhan Boy.
"Andai saja Arne yg menikah dengan Boy.." gumam Leni dalam hati.
.
.
Arne pun pulang ke apartemen dan merapikan barang belanjaannya sesuai perintah Jeny. Lalu Arne bersantai dan menikmati makanan yg sudah ia siapkan.
Pertemuannya dengan Leni membuatnya sedikit termenung. Arne melihat Leni masih bersikap baik terhadapnya bahkan sampai meminta maaf atas perbuatan Boy dan Aini padanya. Sepertinya Leni sedikit berharap kalau Arne menjadi menantunya, tapi Boy lebih memilih Aini.
Kemudian Arne pun memilih untuk menonton tv dan bersantai. Kencan dengan Anderson pun baginya hanyalah wisata kuliner dimana dirinya hanya menikmati makanan di resto.
"Argghhh.. Kenapa aku bisa tertidur pulas sekali..!!" umpatnya.
Arne pun mandi dan langsung bersiap. Dirinya hanya memakai riasan seadanya yg penting cocok dengan gaun yg ia pakai. Lalu Arne melihat ke arah cermin dan tampilannya sudah cukup rapi. Arne pun menghela nafas lega karena persiapannya cukup. Kini tinggal dirinya pergi ke resto tempat yg sudah ditentukan.
Tapi tiba-tiba sebuah bel berbunyi dan membuat Arne mendekati pintu. Dilihatnya di layar ada Anderson yg tengah menunggunya di depan pintu. Arne pun membuka pintu tersebut.
"Padahal kau tak perlu sampai menjemputku prof." ucap Arne.
"Mau bagaimana lagi kalau kakek tua itu yg sudah berkata." ucap Anderson.
"Duduklah, aku sebentar lagi siap." ucap Arne.
Arne pun ke kamarnya dan mengambil tasnya lalu dirinya keluar apartemen bersama Anderson. Mereka berjalan tak beriringan, Anderson di depan dan Arne di belakangnya. Sungguh bukan pemandangan sepasang kekasih.
Sepanjang perjalanan menuju ke arah resto pun mereka tak banyak berbicara. Dan Arne sudah tahu akan seperti ini. Lalu mereka turun dan bahkan mereka kembali seperti senior dan junior, dimana Anderson di depan dan Arne di belakang. Kencan mereka pun jauh dari kata romantis. Ya apalagi tanpa adanya cinta diantara mereka.
Tibalah mereka di tempat yg sudah dipesan dan Arne langsung melihat buku menu.
"Resto ini paling terkenal di daerah ini." ucap Anderson.
__ADS_1
"Pasti karena makanannya yg lezat." balas Arne.
Arne pun memesan banyak menu karena niatnya memang bukan kencan tapi wisata kuliner. Apalagi yg membayar tagihannya adalah kakek mereka.
"Kau yakin mampu menghabiskan semuanya.?" tanya Anderson.
"Kalau tak habis kan ada kau prof." balas Arne tersenyum.
"Ck.. Dasar lapar mata." balas Anderson.
"Yah, tujuanku kemari juga bukan untuk kencan tapi wisata kuliner." ucap Arne.
"Tujuan yg bagus." balas Anderson.
Tak berapa lama, hidangan pun tiba dan Arne begitu senang melihat hidangan yg ditata dengan rapi dan cantik.
"Tunggu.. Aku mau foto untuk kenang-kenangan." ucap Arne.
"Ck.. Kau kan kesini untuk wisata kuliner ya nikmati saja jangan foto-foto aku juga." ucap Anderson.
"Siapa juga yg mau memfoto profesor, aku mau foto makanannya." balas Arne.
Anderson pun terdiam malu. Dan Arne memfoto makanan pesanannya, lalu barulah mereka menikmatinya. Arne pun terlihat bahagia menikmati beragam makanan tersebut. Sampai Anderson terdiam melihat Arne makan semua yg ia pesan.
"Padahal badanmu kurus, tapi makanmu banyak juga." sindir Anderson.
"Semua wanita maunya juga begitu prof, tapi tidak semua sih hampir." ucap Arne.
"Tapi aku termasuk jarang makan sebanyak ini, dan karena tujuanku kencan untuk makan jadi aku harus menikmatinya dari pada harus puas dengan sikap dinginmu." balas Arne.
"Ya motivasi yg bagus Arnetha." balas Anderson kesal tersindir.
"Lagipula, tak ada yg bisa diharapkan darimu." ucap Arne.
"Apa maksudmu?" tanya Anderson.
"Selain sikap dinginmu, kita juga sudah sepakat untuk menolak perjodohan ini bukan?? Jadi nikmati saja makanannya." balas Arne.
Anderson pun terdiam dengan kata-kata Arne yg memang benar begitu adanya. Dan Arne memilih untuk menikmati makanan daripada menikmati kencan yg sudah jelas akhirnya.
Di tengah mereka yg masih menikmati makanan, terjadi kehebohan di dapur. Sebuah kepulan asap pun keluar dan memenuhi area dapur. Lalu koki dan pelayan pun beberapa meninggalkan dapur. Mereka mencari alat pemadam dan mencoba mematikan api, tapi nampaknya api sulit dipadamkan dan alarm kebakaran pun menyala.
"Alarm ini.." ucap Arne.
"Cepat kita keluar dari resto." ucap Anderson.
__ADS_1
"Iya, asapnya juga sudah kemana-mana." ucap Arne.
Arne pun langsung bangkit dan keluar dari resto bersama Anderson. Anderson pun sampai melepas jasnya dan melindungi Arne dari kepulan asap dan api. Arne pun tak sadar akan hal itu dan ketika tiba di luar, barulah dirinya tersadar kalau Anderson sudah berusaha melindunginya.