
Setelah masalah yg terus menerpa Arne, kini dirinya merasa harus sedikit bersantai dari semua ketegangan yg terjadi. Dan hal ini membuat Arne baru teringat akan hari ulang tahun Jeny. Ditengah kesibukannya, Arne bahkan sampai melupakan hari ulang tahun mamanya.
Hadiah pun belum ia siapkan, bahkan mamanya tak mempersiapkan acara apapun karena memang seperti itulah Jeny, tak suka merayakan sesuatu. Arne pun harus melalui operasi yg sulit hari ini dan setelah itu memikirkan hadiah apa yg cocok untuk mamanya.
"Kenzi.. Apa yg harus kuberikan?" tanya Arne.
"Hal yg dibutuhkan ibumu saja." ucap Kenzi.
"Yang dia butuhkan? Apa ya?" ucap Arne berpikir.
"Biasanya wanita itu sukanya tas, atau yg berhubungan dengan hobinya." ucap Nino.
"Memang sih mama punya beberpa koleksi tas.. Lalu hobinya.." ucap Arne berpikir kalau ibunya selalu bekerja dan jarang melakukan hal lain.
"Apa hobinya?" tanya Kenzi.
"Ibuku suka berbisnis dan mengelola sesuatu." ucap Arne tersenyum.
"Nampak sekali sosok wanita karir yg mandiri dan tak butuh apapun." ucap Nino.
"Kau benar, sudahlah Arne berikan saja apa yg ia inginkan atau butuhkan saat ini." ucap Kenzi.
"Ya.. Aku masih memikirkannya." ucap Arne.
Sementara Arne masih bingung harus memberikan apa. Dan Sammy masuk ke dalam ruangan mereka untuk memberikan beberapa informasi. Setelah itu Arne dan yg lainnya pun melakukan tugas yg diberikan oleh Sammy.
Hingga akhirnya Arne bisa pulang, dirinya pun mampir sebentar ke mall untuk membeli sesuatu untuk ibunya. Kenzi pun ada jadwal lain, begitu juga dengan Nino yg tak bisa menemaninya membeli hadiah.
Alhasil, Arne pun pergi sendiri ke toko langganannya. Arne pun tiba di toko tersebut dan melihat-lihat beberapa barang.
"Silahkan nona, anda sedang mencari apa?" tanya pegawai tersebut dengan ramah apalagi telah mengenal Arne.
"Aku hanya sedang bingung mencari hadiah untuk ibuku." ucap Arne.
"Oh nyonya biasanya membeli tas atau pakaian.." ucap pegawai tersebut.
Arne pun ditunjukkan beberapa tas terbaru, dan melihat-lihat koleksi lainnya. Arne pun memilih dengan teliti apa yg jadi kesukaan ibunya tersebut. Walau Arne tahu ibunya itu sudah memiliki banyak tas. Tapi wanita tetap akan suka tas meski sudah memiliki banyak.
"Aku ingin yg ini." ucap Arne memberikannya pada pegawai toko.
"Baik nona."
"Langsung bayar ya mbak.. Ini kartunya." ucap Arne langsung ke kasir.
Lalu setelah membayar Arne pun pergi ke area pakaian karena mungkin masih ada beberapa barang yg bisa ia beli lagi. Di tempat yg sama, Aini juga mendatangi toko tersebut. Dirinya ingin membeli sesuatu untuk ibunya juga.
Aini pun melihat tas yg sedang dikemas oleh pegawai tersebut.
"Tas itu.. Apa masih ada lagi?" tanya Aini.
"Maaf nona, hanya ada satu barang."
__ADS_1
"Ck.. Aku tidak beruntung sekali." ucap Aini.
Kemudian Arne datang dan membawa beberapa item lagi untuk dibayar di kasir. Arne pun melihat Aini dan tampak seperti melihat orang asing. Aini juga terlalu malu untuk meminta maaf apalagi berterimakasih karena Arne sudah membantunya. Alhasil keduanya pun hanya saling diam tanpa bertegur sapa.
"Aku juga mau membayar ini." ucap Arne.
"Baik nona."
Setelah membayar semuanya, Arne pun pergi ke sebuah kedai kopi untuk bersantai sejenak. Lalu dirinya bertemu dengan Sammy disana.
"Profesor.." ucap Arne.
"Arne.. Kau sedang disini juga rupanya." ucap Sammy.
"Ya.. Begitulah aku habis membeli hadiah untuk mama." ucap Arne.
"Oh iya, sebentar lagi Jeny berulang tahun." ucap Sammy.
"Prof dan mama sedekat itu ya sampai tahu ulang tahunnya." ucap Arne.
"Ya kami cukup dekat dulu." ucap Sammy.
"Dekat saja, atau ada hubungan khusus?" tebak Arne.
"Ya pokoknya hanya dekat di masa lalu, sekarang kami punya kehidupan masing-masing." jawab Sammy gugup.
"Aku jadi curiga." ucap Arne.
"Curiga apa?" tanya Sammy semakin gugup.
Arne dan Sammy pun duduk dan berbicara santai di cafeshop tersebut. Mereka berdua nampak lelah setelah seharian bekerja. Dan Sammy terlihat begitu mengenal Jeny.
"Prof, dulu mama seperti apa?" tanya Arne.
"Dia pintar, cantik, dan juga beruntung." ucap Sammy.
"Prof begitu memujinya tanpa cela." ucap Arne.
"Aku cukup objektif." ucap Sammy.
"Lalu dulu mama suka apa saja prof atau hobynya?" tanya Arne.
"Jeny ya.. Dia suka jalan-jalan, lalu memasak, oh iya.. Jeny suka melukis." ucap Sammy.
"Prof yakin? aku bahkan tak pernah sekalipun melihat mama melukis." ucap Arne.
"Mungkin dia tak punya waktu untuk itu." ucap Sammy.
"Memangnya dulu mama melukis apa saja?" tanya Arne.
"Objek apa saja di sekitarnya.. kadang bunga, pemandangan, atau hanya secangkir teh di meja." ucap Sammy.
__ADS_1
"Nampaknya prof memang mengenal mama secara intens." ucap Arne setelah memancing Sammy.
"Tidak, bukan begitu.." balas Sammy.
"Lalu mama suka kemana saja prof?" tanya Arne.
"Jeny suka sekali pantai, dan dia suka makan malam di pinggir pantai." ucap Sammy.
"Oh begitu ya.." ucap Arne mengingat sesuatu.
"Aku tak mungkin mengajukan cuti untuk mengajaknya ke pantai." ucap Arne.
"Tentu saja tidak bisa." balas Sammy.
"Ya.. Mungkin beberapa alat lukis cukup bagus untuk tambahan hadiahnya." ucap Arne.
"Ya.. belikan saja pasti dia senang." ucap Sammy.
Setelah itu Arne pun pamit pulang lebih dahulu, dan Sammy juga jadi teringat ulang tahun Jeny dulu. Mereka begitu bahagia saat merayakan ulang tahun Jeny di pantai.
Sammy pun pulang ke rumahnya, lalu di pikirannya masih memikirkan Jeny. Sangat sulit baginya untuk melupakan cintanya. Dan kini bertemu dengan Arne membangkitkan memory lama bersama Jeny.
Setelah berpikir beberapa hari, Sammy pun pergi ke sebuah galery dan membeli suatu karya disana. Sammy berniat memberikan hadiah untuk Jeny karena terus teringat padanya.
Dan pada hari ulang tahun Jeny, Sammy mengirimkan hadiah tersebut ke rumah sakit tempat Jeny bekerja agar Arne tak tahu.
Sedangkan Arne mengatur acar makan malam berdua mamanya di sebuah resto. Jeny pun bahagia Arne begitu perhatian padanya dan mengingat ulang tahunnya. Jany sangat bahagia memiliki Arne di dihidupnya dan bersyukur pernah menikahi Richard.
Mereka berdua pun makan malam dan merayakan ulang tahun Jeny berdua saja. Keduanya bahagia meski hanya berdua dan tak mengeluhkan apapun lagi. Keduanya terlihat seperti wanita kuat yg mandiri. Bahkan Jeny tak menyangka kalau Arne sampai memberikan beberapa alat lukis untuknya. Hal itu membuat Jeny begitu bahagia dan mengingat kembali hobi yg sempat ia lupakan karena kesibukannya sebagai ibu dan juga pekerja.
.
.
Sementara Richard, dirinya mengingat jelas ulang tahun Jeny yg sudah ia tandai di ponselnya. Jika mereka tak berpisah, Richard berencana mengajak Arne dan Jeny liburan untuk merayakannya. Tapi semua hanyalah wacana dan kenyataannya mereka telah berpisah.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah kamar Boy dan Aini tengah berbicara serius.
"Aini, kau harus tahu hal ini.." ucap Boy.
"Ada apa lagi sayang?" tanya Aini.
"Kau baca surat ini.. Ini surat keterangan medis dari rumah sakit." ucap Boy menyerahkannya.
Aini pun menerima dan membuka suratnya. Disana ada benerapa kata yg tak bisa ia pahami maksudnya. Sampai Aini bertanya apakah surat ini asli atau tidak.
"Boy.. Ini tidak bercanda kan?" tanya Aini.
__ADS_1
"Maaf Aini, ini fakta.. Semua ini demi menyelamatkan nyawamu." ucap Boy.
"Bagaimana bisa?" tanya Aini menangis mengetahui fakta kalau dirinya sudah tak memiliki rahim lagi.