Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.107 Pengganggu


__ADS_3

Setelah pertunangan tak ada yg berbeda, mereka masih tetap bekerja dan bersikap seperti biasanya. Dan Arne masih disibukkan dengan pekerjaannya. Bekerja siang dan malam tanpa kenal waktu, karena itu memang bagian dari pekerjaannya. Dan Anderson juga begitu, apalagi kini perusahaan kecilnya bertambah besar dan mempunyai banyak pesanan.


Sudah saatnya pula Anderson memperkenalkan Arne pada perusahaan rintisannya. Pada saat mereka libur, Arne diajak untuk ke sebuah ruang kerjanya di apartemennya. Awalnya Arne bingung kenapa harus ke apartemennya.


"Ck.. Jangan takut, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu." ucap Anderson.


"Ya siapa yg takut, aku hanya tinggal memukul kepalamu saja kan." ucap Arne.


"Dengar ya, aku bukan manusia mesum saat ini." ucap Anderson.


"Saat ini?" tanya Arne curiga.


"Ya, saat ini.. Jadi kau tenang saja." ucap Anderson meminta Arne masuk.


Akhirnya Arne pun memberanikan diri masuk dan ditunjukkan area kerja Anderson. Arne pun melihat beberapa replika robot.


"Ini ruangan kerjamu?" tanya Arne.


"Iya benar, dan sebenarnya aku punya pekerjaan sampingan." ucap Anderson.


"Pekerjaan sampingan?" tanya Arne bingung.


"Aku mendirikan perusahaan robot kesehatan bersama beberapa orang ahli. Dan semuanya berada di luar negeri, aku hanya tinggal mengelolanya dari jauh." ucap Anderson.


"Mendirikan perusahaan kau sebut pekerjaan sampingan.. Kau memang luar biasa Anderson." ucap Arne tersenyum kaku.


"Ya pekerjaan utamaku kan seorang dokter.. " ucap Anderson.


"Ya ya.. Kau hebat." ucap Arne.


"Akhirnya kau mengakui kemampuanku." ucap Anderson bangga.


"Lalu, kau ingin aku tahu kan pekerjaan ini." ucap Arne.


"Ya.. Aku sudah bilang tak ada rahasia diantara kita." ucap Anderson.


"Oke.. Aku sudah tahu, lalu apalagi?" ucap Arne.


"Mungkin aku terkadang akan sangat sibuk dan sering keluar negeri untuk mengecek pabrik pembuatan robotnya." ucap Anderson.


"Oh begitu, kau yakin bisa melakukan keduanya sekaligus.?" tanya Arne.


"Untuk saat ini aku bisa mengatasinya, tapi tidak tahu nanti.. Kuharap aku juga masih mampu." ucap Anderson.


"Ya.. Baguslah, setidaknya kau cukup kaya tanpa kakekmu." ucap Arne.


"Tentu saja, kakek tua itu sangat pelit padaku dan keras dalam mendidikku." ucap Anderson.


"Hasilnya kau jadi berusaha keras untuk sampai di tahap ini. Berbeda denganku, aku bahkan belum menghasilkan apa-apa." ucap Arne.


"Karena kau lebih senang berbelanja daripada berbisnis." ucap Anderson membuat Arne tertohok.


"Meski kata-katamu kejam, tapi itu benar." ucap Arne.


"Makanya, mulailah untuk membatasi diri jika kau ingin berubah." ucap Anderson.


"Aku akan mencobanya, meski mungkin berat." ucap Arne.


"Wanita memang sulit dimengerti." ucap Anderson.


"Yasudah, habis ini kita mau kemana?" tanya Arne.

__ADS_1


"Kita cari tempat makan saja." ucap Anderson.


Arne pun berjalan dan tak sengaja melihat kamar Anderson.


"Jangan dilihat, nanti aku tarik kesana kau akan menyesal." ancam Anderson.


"Dasar mesum." ucap Arne.


"Sudah lurus, dan keluar pintu." ucap Anderson.


Setelah itu mereka pun keluar dan mencari tempat makan. Arne pun menikmati saat-saat ini, dan mereka hampir jarang menghabiskan waktu berdua diluar. Biasanya mereka hanya sibuk bekerja.


Tapi saat ini, nampaknya kebahagiaan mereka takkan berjalan dengan mulus. Tampak Thompson bersama Maria datang ke Indonesia setelah mendengar kabar Anderson bertunangan tanpa mengundangnya.


Thompson, pun menghubungi Anderson yg sedang bersama Arne.


"Ck.. Orang tua tak berguna ini menghubungi lagi." ucap Anderson.


"Siapa?" tanya Arne.


"Thompson." ucap Anderson lalu mengangkatnya.


Di telepon, Anderson pun berbicara pada ayah kandungnya tersebut.


"Ada apa?" tanya Anderson.


"Ada apa?? Kau ini dasar anak durhaka." ucap Thompson.


"Lebih durhaka mana dengan anda yg meninggalkanku? Tanpa merawatku sejak kecil?" balas Anderson.


"Ck.." ucap Thompson tak mampu menjawab.


"Katakan ada apa?" tanya Anderson.


"Oh, akhirnya kau mengakui statusmu pak tua.. Selama ini kan kau selalu mengaku kalau kau pria lajang tanpa anak." ucap Anderson.


"Katakan dimana kau berada? Mari kita bertemu." ucap Thompson.


"Saat ini aku sedang sibuk lain kali saja." ucap Anderson lalu menutup teleponnya.


"Ck.. Anak kurang ajar." ucap Thompson


Maria pun menguping pembicaraan Thompson dan Anderson. Dan wanita itu kini statusnya tak jelas, dirinya bertahan hanya demi janin yg ada di kandungannya. Setelah anak itu lahir, Thompson sudah berjanji pada istrinya untuk meninggalkan Maria.


Sungguh miris nasibnya Maria, tapi itulah akibat jika menggoda suami orang. Jangankan nama baik, harga diri pun ikutan rusak.


Sementara Anderson tak mau ambil pusing dengan tingkah ayahnya. Dirinya lebih memilih bersama Arne.


"Ayahmu?" tanya Arne.


"Iya, pria itu nampaknya ada di negara ini." ucap Anderson.


"Mau apa dia?" tanya Arne.


"Mau mengomel karena tak diundang di acara kita." ucap Anderson enteng.


"Jadi kau benar-benar tak mengundangnya?" tanya Arne.


"Ya.. Orang tua itu hanya akan mengacaukannya, terutama istrinya." ucap Anderson.


"Untuk istrinya aku paham, dan aku setuju." ucap Arne.

__ADS_1


Dan tanpa sengaja, saat Arne dan Anderson hendak keluar resto, Thompson dan Maria datang. Mereka pun berpapasan dan wajah Anderson nampak tak suka.


"Ck.. Sial sekali hari ini." ucap Anderson.


"Ayo kita bicara." ucap Thompson.


"Arne tunggu di meja itu.. Aku akan cepat kembali." ucap Anderson.


"Baiklah." ucap Arne.


Arne pun duduk di meja tersebut dan Maria mengikutinya. Nampak wanita itu ingin mengajaknya bicara.


"Katakanlah, jangan mengumpat dalam hati." ucap Arne.


"Kau senang bisa bertunangan dengan Anderson.?" tanya Maria.


"Tentu saja, lalu ibu tiri sepertimu apa hubungannya?" balas Arne.


"Kau yakin Anderson akan bersamamu.?" ucap Maria percaya diri.


"Lalu kau sendiri yakin tuan Thompson akan terus bersamamu? Aku lihat sendiri kok istrinya tak terima." balas Arne.


"Kau.." ucap Maria.


"Maria, kau itu masih muda tapi terlalu bodoh.. Sekalipun kau dan tuan Thompson berpisah, Anderson akan tetap memilihku, dan ibu tiri tak mungkin menikahi anak tirinya." ucap Arne tersenyum.


"Kau terlalu percaya diri." ucap Maria.


"Lalu anakmu akan menggil Anderson apa? lucu sekali." ucap Arne.


"Kita lihat saja nanti." ucap Maria.


"Seorang yg tak setia sepertimu takkan pernah bersama orang yg benar-benar mencintaimu." ucap Arne tersenyum.


"Ck.. Dasar bocah." ucap Maria.


"Tapi bocah ini calon istri Anderson.." ucap Arne memamerkan cincin tunangan mereka.


"Kau lihat kan ini buktinya.." ucap Arne.


"Sebentar lagi Anderson akan meninggalkanmu dan kembali padaku." ucap Maria.


"Sepertinya sebentar lagi kau yg akan ditinggalkan baik itu tuan Thompson ataupun Anderson." balas Arne.


Tak lama kemudian, Thompson pun keluar dengan Anderson.


"Arne, maaf aku lama." ucap Anderson.


"Ya tak apa sayang, ayo kita pergi.. aku bosan ditempat ini." ucap Arne menggandeng tangan Anderson dan menariknya.


Maria pun iri pada Arne, dirinya bahkan dilamar dan akan segera menikah sementara Maria akan segera dibuang oleh Thompson.


"Ada apa ini? Apa Maria mencari masalah?" tanya Anderson.


"Dia bilang kalau kau akan meninggalkanku dan hidup bersamanya." ucap Arne emosi.


"Wanita itu sudah frustasi rupanya.. Ayahku bilang dia akan meninggalkannya setelah anaknya lahir." ucap Anderson.


"Bagus.." ucap Arne jahat.


"Dan kita akan menikah, jadi jangan pikirkan ucapan Maria." ucap Anderson.

__ADS_1


"Untung dia hamil, kalau tidak sudah ku jambak rambutnya." ucap Arne.


"Ya.. Kau tenang saja." ucap Anderson tersenyum.


__ADS_2