
Susi pun marah pada suaminya karena dirinya melahirkan sendirian tanpa adanya yg menemani. Bahkan ibu mertuanya saja belum mengunjunginya. Dan Susi merasa tak ada yg memedulikannya. Suaminya pun datang lalu pergi lagi untuk menemui bayinya.
"Semua orang tak memedulikanku.." gumam Susi dalam hati.
Sementara Nino mengunjungi bayi mungil yg ia kira putrinya. Bayi cantik itupun tertidur dengan tenang setelah dimandikan. Nino pun menggendongnya seperti seorang ayah pada umumnya. Meski ada keganjilan karena lahirnya terlalu cepat, tapi bayi tersebut normal secara fisik dan bobot tubuhnya. Meski begitu, Nino berusaha berpikir positif pada putri kecilnya tersebut.
Susi pun dirawat selama beberapa hari dirumah sakit, sebelum akhirnya diperbolehkan pulang. Dan tak ada satupun keluarga Susi yg peduli padanya, sampai Diana merasa miris pada wanita itu.
"Susi kenapa keluargamu tak datang?" tanya Diana.
"Mereka kurang menyukaiku bu.. Jadi pasti takkan datang." ucap Susi.
"Apa karena kau meninggalkan mantan suamimu yg jahat padamu itu?" tanya Diana.
"Benar, mereka membenarkan kejahatan tersebut." ucap Susi.
"Semoga kau sanggup melewati ini." ucap Diana.
Diana pun juga sudah tak muda lagi dan tak sanggup membantu Susi merawat bayi. Dan keluarga Susi juga tak ada yg membantunya. Kemungkinan besar Nino akan menyewa ART, untuk mengurus pekerjaan rumah dan pengasuh untuk membantu Susi.
Dan masa penyembuhan Susi sangat lambat sehingha aktifitasnya terbatas. Untungnya pengasuh bayi datang dengan cepat. Tapi saat bayinya berusia satu minggu terjadi keanehan. Bayi tersebut demam tinggi dan selalu menangis.
Susi pun membawanya ke rumah sakit bersama Nino. Karena kondisinya terus memburuk, bayi tersebut harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Dilakukan berbagai tes, hingga didapatkan sebuah hasil kalau sang bayi mengalami masalah karena sang ibu pernah mengkonsumsi obat penggugur kandungan.
"Tidak mungkin..!" ucap Susi membantah.
"Maaf ibu, tapi inilah hasil yg kami dapatkan." ucap dr.Rudi.
"Dokter, apa kalian tidak salah mengeceknya atau mungkin tertukar dengan pasien lain?" tanya Nino.
"Mana mungkin begitu, kau tahu kan setiap detil di rumah sakit ini harus teliti dan tidak boleh ada kesalahan." ucap dr.Rudi.
"Lalu apa yg harus kami lakukan?" tanya Nino.
Kemudian dr.Rudi pun menjelaskan pengobatan yg akan dijalani oleh putri kecil mereka. Dan Nino mendengarkan dengan seksama. Lalu bayinya akan menjalani serangkaian tes lagi dan transfusi darah.
Nino dan Susi pun menjalani pengecekan darah, untuk melakukan transfusi darah. Dan setelahnya Nino pun berbicara serius pada Susi di ruangan bayinya.
"Apa kau pernah mengonsumsi obat itu??" tanya Nino.
__ADS_1
"Tidak, mana mungkin." ucap Susi membantah.
"Lalu kenapa hasilnya begitu, kau itu seorang perawat tahu beberapa jenis obat." ucap Nino.
"Tapi, aku tak melakukannya." ucap Susi menangis.
Nino pun ingin memarahi istrinya yg ceroboh dan jelas membohonginya tersebut, tapi disisi lain Susi baru saja melahirkan dan masih masa penyembuhan. Hingga Nino harus bersabar sampai istrinya berkata jujur.
Mereka berdua pun menunggu hasilnya untuk menunggu transfusi darah. Dan hasilnya tak ada dari keduanya yg cocok.
"Bagaimana bisa? Aku ayahnya tak cocok, lalu ibunya pun tak cocok.. Ada apa ini??" ucap Nino kesal.
"Maaf dokter, tapi hasilnya seperti ini." ucap perawat.
"Susi..!" ucap Nino.
Susi pun ketakutan, dan merinding setelah mendengar fakta ini. Susi pun tak mampu menjawab suaminya. Hingga Nino mengajaknya ke dalam kamar anak mereka.
"Susi, apa-apaan ini? Apa itu sungguh anakku?" tanya Nino.
"Dia tentunya anakmu." ucap Susi menangis.
"Tapi itu memang anakmu." ucap Susi terus berkilah.
"Baiklah, aku akan melakukan tes DNA jika kau tak mau mengakuinya." ucap Nino pergi menemui perawat.
"Nino, tunggu." ucap Susi berusaha menahan Nino tapi Nino tak mendengarkannya.
Nino pun sampai nekat melakukan tes DNA pada bayi tersebut setelah tahu fakta yg janggal ini. Dimulai dari kelahiran yg sangat cepat, kebohongan Susi, hingga saat ini tak ada dari keduanya yg darahnya cocok untuk bayi mereka. Normalnya, seorang anak pasti akan menuruni ayah atau ibunya.
Dalam kasus ini tak ada jalan lain selain melakukan tes DNA. Ini juga menyangkut nyawa bayi tersebut yg membutuhkan darah tambahan untuk operasi nanti. Dan karena darah yg dibutuhkan tak ada, bayi mungil tersebut harus menunggu hingga mendapatkan beberapa kantong darah.
.....
Susi pun terdiam di kamar bayinya. Dirinya mulai ketakutan karena kebohongan yg disembunyikannya mulai ketahuan. Apalagi bayinya butuh darah untuk melakukan operasi dan harus menundanya. Susi pun bingung apa yg harus ia lakukan.
Jika Susi meminta bantuan mantan suaminya, kebohongannya selama ini akan terbongkar dan suaminya akan mengambil bayinya. Tapi jika Susi terus diam bayinya dalam kondisi bahaya, dan cepat atau lambat Nino akan tahu hasil yg sebenarnya.
Susi pun terdiam, dan bingung apa yg harus dilakukannya demi bayi yg baru berusia beberapa hari ia lahirkan. Tak tega dan sakit hatinya melihat putrinya kesakitan. Tapi situasi Susi takkan bagus juga jika semuanya terungkap. Pastinya Nino akan meninggalkannya karena merasa dibohongi.
__ADS_1
"Apa yg harus kulakukan??" gumamnya.
"Tak ada, diamlah jika kau tak mau mengakuinya dan lihat bayi kita sekarat." ucap Nino.
"Nino kau tega sekali mengatakannya." ucap Susi.
"Tega? Setelah kau berbohong padaku?" tanya Nino kesal lalu meninggalkannya.
Susi pun menangis sekencang-kencangnya tanpa adanya yg mengerti dirinya. Jauh dari keluarga dan tak ada yg memahaminya. Membuat Susi tak mampu berpikir dengan jernih.
Hingga akhirnya kondisi bayinya kritis, dan dokter yg menanganinya pun memintanya untuk mempercepat operasi demi menyelamatkannya. Kondisi ini membuat Nino semakin kesal dan marah pada Susi.
"Susi..! Katakan apa ini bukan anakku?" tanya Nini kesal.
Susi pun hanya menangis.
"Kau mau melihat bayimu mati?? Hah???" tanya Nino semakin geram.
"Maafkan aku Nino." ucap Susi.
"Maaf? Untuk apa? Katakan yg sebenarnya?" tanya Nino.
"Kau bukan ayah dari bayiku." ucap Susi menangis.
"Lalu siapa ayahnya?" tanya Nino emosi mendengarnya.
"Mantan suamiku." ucap Susi menangis.
"Cepat hubungi dia, bayi itu sekarat.. Sadarlah..!!!" ucap Nino.
"Iya.." ucap Susi.
Susi pun menghubungi mantan suaminya dan tak lama pria kejam itupun datang dengan emosi yg memuncak. Kenapa Susi membohonginya dan saat bayinya dalam kondisi kritis barulah Susi meminta bantuannya dan mengatakan yg sejujurnya.
"Dasar wanita gila..!" ucap pria bernama Choki.
"Kita selesaikan masalah ini nanti, sekarang kau harus melakukan tes dan menyelamatkan anakmu." ucap Nino menenangkan pria itu padahal dirinya juga tak kalah kesal dan emosi pada Susi.
Tapi sebagai seorang dokter, prioritasnya adalah menyelamatkan nyawa seseorang. Dan tak mungkin Nino membiarkan bayi tak berdosa itu menderita. Nino meminta Choki berdamai hingga kondisi bayi tersebut membaik barulah mereka akan menyelesaikan masalah ini.
__ADS_1
Nino pun tak mampu berkata-kata lagi pada Susi. Bahkan Choki yg selalu memukuli Susi pun tak tega melihat kondisi bayinya dan melakukan segala yg bisa ia lakukan. Kini ketiganya pun menunggu operasi bayi mereka.