Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.103 Badai telah berlalu


__ADS_3

Esok harinya, pemakaman Richard dan Martha pun diadakan. Dan keduanya meninggal di hari yg sama. Tapi hanya Richard yg masih banyak mendoakannya. Sementara Martha, tak ada satupun yg datang untuk mendoakannya. Bahkan Aini pun masih jauh dari kata normal untuk mencerna kenyataan ini. Meski sudah diberitahu pun Aini tetap tak merespon dan selalu diam.


Arne dan Jeny pun tetap datang ke pemakaman Richard dan Martha. Meski kedua orang itu menyakiti mereka berdua tapi tetap saja, Richard adalah ayah kandung Arne. Dan Jeny pun akan menghormati keduanya.


Jakson pun datang bersama Anderson, mereka berdua menyaksikan meski Richard dan Martha sudah menyakiti Arne dan Jeny tapi keduanya tetap memberi penghormatan terakhir di depan liang lahat keduanya.


Setelah pemakaman ini selesai, semuanya pun kembali pulang. Tapi Arne masih merasa sedih karena kehilangan ayahnya. Air matanya pun tak berhenti mengalir di pipinya mengingat masa-masa indah yg ia alami di masa lalu bersama Richard.


Meski ada banyak luka juga, tapi hanya masa-masa indah mereka yg dikenang oleh Arne. Begitu juga dengan Jeny, yg merasa sedih karena Richard meninggal dengan cara tak biasa. Richard meninggal di tangan wanita yg ia cintai sendiri, sungguh menyedihkan nasibnya.


"Arne.. Sudahlah." ucap Jeny.


"Iya ma.." ucap Arne menghapus air matanya.


"Sekarang, kalian kembalilah ke rumah lama.." ucap Jakson.


"Aku akan memikirkannya ayah.. dan rasanya tak pantas aku tinggal disana." ucap Jeny.


"Kenapa?" tanya Jakson.


"Aku menemukan orang baru di hidupku." ucap Jeny.


"Jadi begitu. " ucap Jakson.


"Lalu Arne?" tanya Jakson.


"Aku juga lebih nyaman tinggal di apartemen." ucap Arne.


"Rumah itu punya banyak kenangan, tapi aku tak mau tinggal disana lagi." ucap Jeny.


"Baiklah jika itu keputusan kalian." ucap Jakson.


"Kakek, lalu Cindy bagaimana?" tanya Arne.


"Dia akan menjalani hukuman, aku sudah mencoba meringankan hukumannya." ucap Jakson.


"Jadi begitu, padahal dia berniat menolong kita." ucap Arne.


"Mau bagaimana lagi, hukum disini sudah begitu." ucap Jakson.


"Dan Martha, dia bisa beristirahat dengan tenang." ucap Jeny.


"Lalu soal Aini?" tanya Arne.


"Aku akan mengurusnya.. Kalian tenang saja." ucap Jakson.


"Baiklah, karena selama ini papa yg mengurus dirinya." ucap Arne.


"Arne, kau baik-baik saja?" tanya Anderson mendekat.


"Ya.. Hanya saja aku merasa sedikit kehilangan." ucap Arne.

__ADS_1


"Kalian, lebih baik bertunangan saja secara resmi." ucap Jakson.


"Aku tak keberatan, tapi keputusan Arne juga penting." ucap Anderson.


"Secepat itu?" tanya Arne.


"Ya lebih baik kalian meresmikannya, lalu menikah setelah kalian siap." ucap Jakson.


"Baiklah." ucap Arne.


Anderson pun senang mendengar ucapan Arne, dirinya berharap segala badai di kehidupan Arne berakhir dan hari-hari yg cerah datang padanya. Tak masalah meski dirinya harus menunggu Arne beberapa tahun, asalkan keduanya tetap memegang janji masing-masing.


.


.


Sementara Jeny, hubungannya dengan Sammy baik-baik saja. Keduanya pun senang kalau Anderson dan Arne resmi bertunangan. Itu lebih baik agar keduanya bisa saling memercayai.


Dan Sammy berencana melamar Jeny dalam waktu dekat. Sammy tak ingin membuang-buang waktu percuma dan belajar dari masa lalunya. Sebelumnya Sammy pun sudah bicara pada Arne dan Jakson tentang maksud tujuannya. Keduanya pun menyetujui dan tak mempermasalahkannya. Dan Arne sangat setuju jika itu terjadi.


"Aku setuju.. " ucap Arne.


"Kau yakin tak perlu memikirkannya?" tanya Sammy.


"Tentu prof." ucap Arne.


"Kalau begitu boleh aku minta bantuanmu?" pinta Sammy.


"Kau anak yg baik." ucap Sammy tersenyum.


Arne pun akan membantu Sammy mempersiapkan lamarannya dengan Jeny. Dan Anderson pun dilibatkan dalam rencana mereka. Arne memintanya untuk membantunya.


Dan Sammy sudah merencanakan segalanya dengan matang. Sammy berencana melamar Jeny di pinggir pantai dengan suasana yg romantis. Meski tak lagi muda tapi tetap saja lamaran harus berlangsung secara romantis agar pasangan menerimanya.


Pantai adalah tempat favorit Jeny, untuk itulah Sammy akan melamarnya disana. Dan Sammy tak ingin membuang-buang waktu serta kesempatan yg ada. Kini tak ada lagi pengganggu di hubungannya dengan Jeny. Hal itupun membuatnya yakin kalau mereka bisa hidup bersama di kesempatan kedua kali ini.


Semua persiapan pun dilakukan dengan baik dan matang oleh mereka. Arne dan Anderson pun sudah menyiapkan lokasi untuk Sammy dan Jeny. Pantai yg indah dan cantik. Ditambah pasir yg putih bersih, menambah indahnya pantai disana.


Sesuai rencana mereka berempat akan melakukan liburan bersama. Dan Jeny sama sekali tak sadar kalau liburan itu bertujuan untuk melamarnya. Anderson pun merasa iri pada seniornya yg bergerak cepat melamar sang pujaan hati. Tak mau kalah, Anderson juga ikut membeli cincin saat menemani Sammy.


Sammy pun sampai meledeknya, tapi Anderson justru mengancamnya jika sampai informasi ini bocor ke Arne.


"Kau membeli cincin juga?" tanya Sammy.


"Tentu saja, memangnya kau saja yg bisa." balas Anderson.


"Tapi untuk Arne kan bukan untuk wanita lain.?" goda Sammy.


"Ck, tentu saja.. Tapi awas kalau sampai kau membocorkannya." ucap Anderson.


"Awas kenapa?" balas Sammy.

__ADS_1


"Mau aku bocorkan juga rahasia ini pada Jeny?" balas Anderson.


"Baiklah, mari kita saling menjaga rahasia.. Kau juniorku yg bisa diandalkan kan?" ucap Sammy.


"Tentu, kau juga kan senior?" balas Anderson.


Begitulah drama yg terjadi saat Sammy meminta Anderson menemaninya mengambil pesanan cincin untuk Jeny. Bahkan Sammy sampai meminta bantuan Arne untuk ukuran cincin Jeny dan desain yg sesuai seleranya.


.


.


Hari liburan mereka pun tiba dan mereka berempat berangkat menuju ke lokasi yg berada di Bali untuk melakukan rencananya. Tempat pun sudah disewa oleh Sammy. Arne serta Anderson bertugas mendekorasinya bersama beberapa orang yg sudah mereka sewa. Dengan dalih berkencan, keduanya pun menyelesaikan tempat yg akan jadi lokasi lemaran Sammy.


"Mama adalah wanita yg beruntung." ucap Arne.


"Ya.. Kau iri?" tanya Anderson.


"Sedikit dan kau pasti keberatan melakukannya." ucap Arne saat melihat semua persiapannya sudah selesai.


"Kalau begitu." ucap Anderson berlutut di hadapan Arne.


"Hei, kau mau apa? Mau latihan dulu." ucap Arne tersenyum.


Tiba-tiba sekotak cincin pun keluar dari sakunya. Dan kebetulan semua orang yg mendesain tempat itu sedang beristirahat dan meninggalkan keduanya.


"Maukah kau.." ucap Anderson kaku.


"Aku ulang lagi." tambah Anderson.


"Maukah kau mee.. Akhh.. Sulit sekali." ucap Anderson yg tanpa basa basi langsung memakaikan cincin tersebut ke jari manis Arne.


"Eh, aku belum menjawab." ucap Arne.


"Tidak ada waktu bicara, perbuatan lebih penting daripada ucapan." ucap Anderson.


"Ini sih namanya pemaksaan." protes Arne.


"Tidak ada penolakan." ucap Anderson.


"Tidak ada romantisnya sama sekali." ucap Arne.


"Tempatnya sudah bagus, dengan dekorasi bunga dan lain-lain." ucap Anderson.


"Ya sudah, kau memang sudah begini dari asalnya." ucap Arne.


"Kalau kecewa kembalikan.." ucap Anderson.


"Tidak mau." ucap Arne.


Begitulah, lamaran aneh dan kaku yg dilakukan oleh Anderson. Anderson yg tak mau kalah dan tersaingi oleh Sammy pun melakukannya, meski dengan caranya yg kaku dan sedikit memaksa.

__ADS_1


__ADS_2