
Arne pun mengikuti jadwal operasi yg diberikan oleh Anderson. Dan mereka baru saja menyelesaikannya. Beberapa dokter dan perawat juga keluar dari ruangan operasi.
Kebetulan saat itu Arne sedang berjalan bersama Anderson karena ada banyak penjelasan dari Anderson yg harus ia dengarkan. Tanpa sadar mereka pun bertemu dengan Tony yg sedang berkeliling.
"Arne." ucapnya.
Arne pun hanya membungkuk memberi salam.
"Tidak usah se-formal itu, santai saja." ucap Tony.
"Baiklah, kami harus memeriksa pasien tuan." ucap Arne.
"Tunggu.." ucap Tony sengaja dihadapan Anderson.
"Iya.."
"Apa kau menyukai hadiahnya?" tanya Tony.
"Maaf tuan, aku sudah memilikinya.. Jadi mungkin akan aku kembalikan sore ini pada anda." ucap Arne.
"Begitukah?" ucap Tony kecewa.
"Ada beberapa hal juga yg ingin aku sampaikan nanti." ucap Arne.
"Jika kau menolakku tapi belum memikirkan siapa yg akan kau terima, aku menolak bertemu." ucap Tony.
"Ck.." Anderson pun mulai kesal karena waktunya sudah banyak terbuang sia-sia mendengarkan Tony.
"Kau tak suka?" tanya Tony pada Anderson.
"Tentu, karena kami sedang bekerja dan kau mengganggu saja.. Satu detik bagi kami dan pasien itu berharga." ucap Anderson kesal.
"Kau lupa siapa aku?" tanya Tony.
"Maaf tuan, sebenarnya nanti aku ingin bilang kalau kami tidak akan membatalkan perjodohan kami. Mungkin pernikahan kami takkan langsung terjadi karena banyak hal, kuharap anda berhenti mencari masalah." ucap Arne tegas.
"Baiklah." ucap Tony terdiam lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah itu Arne menghela nafas karena situasi yg menegangkan tersebut. Dan Anderson menatapnya tajam.
"Kenapa menatap begitu?" tanya Arne.
"Kau yakin dengan ucapanmu tadi?" tanya Anderson.
"Itu hanya siasat, dan aku sedang memanfaatkanmu beserta perjodohan ini untuk menghindarinya." balas Arne.
"Baiklah, kau punya banyak waktu untuk berpikir." ucap Anderson lalu berjalan meninggalkan Arne.
"Tunggu prof." ucap Arne mengejarnya.
"Kita sudah membuang 3 menit berharga, ayo cepat." ucap Anderson.
Mereka pun pergi untuk memeriksa pasien. Dan Anderson tetap menerima keputusan Arne untuk memanfaatkannya. Meski jauh di dalam hatinya dirinya berharap kalau ucapan Arne tadi menjadi kenyataan.
__ADS_1
.
.
"Sialll..!!" umpat Tony di ruangannya.
"Bob siapkan mobil, aku mau pergi ke Xx.." ucap Tony.
"Baik tuan."
Tony pun pergi ke lapangan golf untuk melepas kekesalannya dengan memukul bola. Meski pukulannya jadi tidak beraturan dan kacau karena emosinya. Tony merasa tak terima akan keputusan Arne untuk memilih Anderson tiba-tiba. Merasa terus-menerus ditolak, Tony pun berniat memisahkan Anderson dan Arne. Mungkin dengan begitu hubungan mereka akan berakhir.
"Lihat saja kalian.." gumam Tony dalam hati.
Semua orang yg ia butuhkan pun dihubungi untuk melancarkan rencananya. Dan besok akan ada pengumuman kalau Anderson akan dikirim ke luar negeri untuk menjadi dokter sukarelawan di negara yg sedang berkonflik. Hal itu sengaja ia lakukan agar Anderason jauh dari Arne.
.
.
Sementara Arne pun sepulang kerja ditemani oleh Kenzi untuk mengembalikan hadiah dari Tony ke ruangannya. Tapi sayangnya ruangannya kosong dan Arne hanya meletakkan peperbag tersebut di mejanya.
Setelah itu, dirinya keluar bersama Kenzi karena memang Arne ingin jalan-jalan bersama Kenzi. Mereka pun makan di resto Xx dengan voucher hadiah tersebut. Dan Nino, mereka sudah jarang bermain bersama karena Nino sibuk berkencan dengan kekasihnya.
"Nino, jika sudah punya pacar melupakan kita." ucap Kenzi.
"Kau juga cari pacar dong, biar ga kesepian." ucap Arne.
"Seleraku cukup tinggi Arne.. Dan sulit didapatkan." ucap Kenzi.
"Arne, jika semuanya lancar.. Aku mau pindah ke korea saja dan mencari oppa-oppa yg mau menikah denganku." ucap Kenzi.
"Oke.. Semangatlah Kenzi selesaikan residen ini." ucap Arne.
"Terimakasih kawan, hanya kau yg bisa mengerti aku." ucap Kenzi.
"Tentu." balas Arne.
Mereka pun makan di resto tersebut dan saling bertukar cerita. Arne dengan kegalauannya dan Kenzi dengan kesepiannya. Keduanya pun punya masalah masing-masing. Dan hari ini mereka berbagi cerita sembari menikmati makanan lezat. Bagi keduanya tak perlu alkohol untuk menumpahkan keluh kesah, hanya dengan duduk santai sambil makan makanan enak mereka mampu berbagi cerita.
"Makanan memang yg terbaik." ucap Kenzi.
"Kau benar, apa itu alkohol..?? Alkohol hanya berguna untuk pengobatan." ucap Arne.
"Kau benar.." ucap Kenzi.
Begitulah keduanya menghabiskan waktunya. Dan pulang sebelum larut agar bisa beristirahat cukup. Semua penat dan beban di hati mereka pun terangkat setelah bercerita. Semua tergantikan dengan tawa dan senyuman.
.
.
Esok harinya, Anderson pun menemui Sammy di ruangannya. Keduanya pun terkejut atas info yg mereka terima kali ini. Dan Anderson pun tahu alasan kenapa dirinya dikirim sebagai dokter sukarelawan.
__ADS_1
"Aku mengerti kenapa aku yg dikirim." ucap Anderson.
"Kau punya masalah dengan tuan Tony?" tanya Sammy.
"Ya.. Dia adalah pecundang yg membawa urusan pribadi menjadi urusan pekerjaan." ucap Anderson.
"Lalu apa yg akan kau lakukan?" tanya Sammy.
"Apa lagi? Aku akan menghadapinya, aku siap dikirim kesana." ucap Anderson.
"Baiklah, kau memang punya kemampuan dan nyali tinggi." ucap Sammy.
"Tentu saja, senior kau paling tahu aku kan selama kita di luar negeri." ucap Anderson.
"Ya.. Lakukanlah yg terbaik dan buat atasan kita tak mampu menatapmu." ucap Sammy.
"Tentu saja, aku takkan mati sekalipun ada di medan pertempuran." ucap Anderson.
"Aku akan mengurus semuanya, kau siapkan apa yg dibutuhkan." ucap Sammy.
"Oke.. Nanti aku kabari." ucap Anderson.
Anderson pun keluar dari ruangan Sammy dan berpapasan dengan Tony. Nampak pria itu tersenyum setelah melihat Anderson keluar dari ruangan Sammy.
Setelah itu, Anderson bekerja seperti biasa sebelum dirinya dikirim ke luar negeri. Arne maupun residen lainnya belum mengetahui berita tersebut. Dan Arne juga merasa sangat lega setelah mengembalikan tas tersebut ke ruangan Tony.
Dan sebelum pergi meninggalkan negara ini untuk sementara, Anderson memanfaatkan waktunya yg tersisa untuk bersama Arne. Walau mungkin juga dirinya akan ditolak nanti, tapi Anderson pun tetap mengutarakan ketulusannya pada Arne.
Anderson pun kerap membelikannya makanan, atau camilan berupa coklat dan sebagainya. Anderson juga dekat dengan para residen yg membuatnya bisa dekat dengan Arne. Hingga semua residen hormat dan patuh padanya, karena Anderson selalu menjawab pertanyaan mereka.
"Akhir-akhir ini prof jadi dekat dengan kami residen." ucap Arne.
"Iya, bukankah tugasku membimbing kalian?" tanya Anderson.
"Iya, sepertinya kau sedikit berubah." ucap Arne.
"Benarkah? Kau lebih suka aku galak seperti dulu?" tanya Anderson.
"Tidak, saat ini kau sudah lebih baik." ucap Arne tak ingin disiksa lagi seperti dulu.
"Baguslah, aku hanya ingin melakukan sesuatu yg baru." ucap Anderson.
"Kencan selanjutnya?" tanya Arne.
"Belum ada informasi lagi. Tunggulah, nanti aku akan mengurusnya." ucap Anderson.
"Setelah kencan kelima, aku harus memutuskan." ucap Arne.
"Bisa dibilang begitu, tapi kau harus menyiapkan segala strategi jika menolakku." ucap Anderson.
"Iya.. Kau baik sekali padaku, memperingati sampai seperti ini." ucap Arne.
"Kebahagiaanmu yg paling utama." ucap Anderson lalu berjalan meninggalkan Arne.
__ADS_1
"He.. Apa dia sudah mulai puitis?" gumam Arne.