Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.46 Renggang


__ADS_3

Hubungan antara Boy dan Aini pun semakin merenggang karena sikap Aini yg sulit diatur. Belum lagi dengan Aini yg selalu tak ingin tersaingi oleh Arne. Setiap kali Arne memiliki barang baru, pastilah Aini juga menginginkan barang yg lebih mahal.


Dan itu terjadi saat ini, dimana Arne dan Kenzi sedang jalan-jalan dan membeli beberapa barang di mall. Mereka pun melihat beberapa model tas dan pakaian terbaru. Lalu Aini juga datang, dan mereka berpapasan.


"Cih, kau masih sanggup kemari rupanya.." ucap Aini dengan sombongnya.


Tapi Arne tak menanggapinya dan terus berjalan menuju ke arah tas-tas bersama Kenzi. Sementara Kenzi gemas ingin menjambak rambut Aini.


"Arne.. haruskah kita diam saja?" bisik Kenzi.


"Iya, lihatlah dia terlihat lemah dengan kehamilannya.. salah sedikit dia bisa playing victim." ucap Arne.


"Wanita yg sangat berbahaya." ucap Kenzi.


"Makanya, jangan terlalu ditanggapi." ucap Arne.


Kemudian, Arne pun memilih tas bersama Kenzi. Mereka membeli model tas yg sama agar kembaran. Lalu tertawa saat membayangkan jika Nino juga ikut memakai tas yg sama.


"Haha.. cucok deh kalau Nino memakainya.." ucap Kenzi.


"Kau benar, tapi dia akhir-akhir ini sibuk.. apa dia punya kekasih?" tanya Arne.


"Sepertinya begitu, sudahlah biarkan jiwa mudanya menikmati hidup." ucap Kenzi.


"Aku pilih yg hitam.." ucap Arne.


"Aku yg biru." tambah Kenzi.


"Akhirnya kita punya tas yg sama." ucap Arne kemudian memeriksa tas tersebut sebelum ke kasir.


Kemudian Aini datang juga ke tempat mereka dengan nada yg menyindir, Aini pun meminta pegawai toko membawakan tas paling mahal.


"Pelayan tolong ya, aku mau cari tas yg paling mahal.. kalau yg murah-murah cuma jadi pajangan saja di rumah." ucap Aini.


Lalu, Arne dan Kenzi pun sudah selesai mengecek tas mereka dan pergi ke kasir. Sementara Aini merasa diabaikan pun kesal. Aini pun memilih tas-tas mahal yg ditawarkan secara asal lalu ikut membayarnya. Dan Aini menyerobot antrian Arne dan Kenzi.


"Minggir.. aku mau bayar." ucap Aini mendorong Arne dan Kenzi.


"Aduh, seenaknya main dorong-dorong, belanja elit etika sulit..!" ucap Kenzi menyindir Aini.


"Kalian itu cuma beli barang murah, lebih baik minggir." ucap Aini.


"Sudahlah, biarkan dia bayar duluan.." ucap Arne mengalah.


"Mbak, kita titip barang disini ya.. kita mau lihat pakaian di sebelah sana." ucap Arne.


"Baik nona."

__ADS_1


"Nona??" ucap Aini heran.


"Dia pelanggan VIP kami. Jadi kami memanggilnya nona." ucap pegawai toko.


"Ck.. padahal dia sudah bukan apa-apa, bisa-bisanya masih jadi pelanggan VIP." ucap Aini tapi pegawai disana pun hanya diam dan tak menanggapi.


Nampaknya pegawai disana sudah tahu kalau Aini dan ibunya adalah pelanggan menyebalkan jadi lebih memilih diam dan melayani apa yg mereka butuhkan.


Lalu, kasir pun melakukan transaksi pada barang belanjaan Aini. Dan Aini menyerahkan kartu kredit pemberian suaminya.


"Aku bayar pakai ini." ucap Aini.


Kasir pun menggesek kartu tersebut, tapi transaksinya gagal karena limitnya tak cukup untuk membayar tas tersebut.


"Maaf nona tidak bisa, apakah ada kartu lain?" tanya kasir tersebut.


"Ck.. coba lagi mungkin mesinnya rusak." ucap Aini.


Kasir pun mencobanya beberapa kali tapi tetap tak bisa. Hingga akhirnya, Aini pun membayar menggunakan kartu pemberian Richard. Untungnya kartu tersebut masih bisa digunakan, hingga Aini tak harus menahan malu.


Kemudian, Aini pun pergi dari toko tersebut dan langsung pulang kerumah beserta sopirnya. Dan Arne langsung ke kasir begitu Aini pergi. Arne pun membayar belanjaanya, begitu juga dengan Kenzi. Tapi pegawai toko tersebut sedang tertawa membicarakan Aini.


"Maaf nona, kami teringat pembeli tadi." ucap kasir tersebut.


"Memangnya ada apa mbak?" tanya Kenzi.


"Dia memilih salah satu tas mahal tapi kartunya sudah limit dan tak bisa digunakan.. bahkan sampai berkata kalau mesin kami rusak." ucapnya.


"Dia masih punya kartu lain nona, dan untungnya bisa digunakan.." ucap kasir tersebut.


"Baguslah.. bagaimanapun dia membantu penjualan kalian." ucap Kenzi tersenyum.


"Nona benar."


Arne dan Kenzi pun hanya tersenyum mendengar penjelasan pegawai toko tersebut. Dan saran Arne untuk mengalah dan menghindari Aini sudah tepat. Apalagi Aini tukang drama yg bisa membuat Arne atau Kenzi dalam masalah. Belum lagi Aini sedang hamil, pastilah orang-orang yg tak melihatnya akan menyalahkan Arne dan Kenzi dengan kondisi Aini.


.


.


Lalu di mobilnya, Aini pun menghubungi suaminya Boy. Dirinya bertanya kenapa kartunya limitnya berkurang. Tapi jawabannya membuat Aini kesal.


"Apa?? aku boros?" tanya Aini di telepon.


"Ya.. kau itu sangat boros. Kau selalu belanja barang mahal, dan jarang digunakan." ucap Boy.


"Hei Boy, papaku saja sanggup membiayaiku.." ucap Aini.

__ADS_1


"Yasudah kau pulang saja ke rumah orangtuamu.." ucap Boy kesal ditelepon saat jam kerja.


"Bilang saja kau itu pelit.." ucap Aini.


"Aini setiap bulan kau itu berbelanja ratusan juta, belum lagi ke salon dan jalan-jalannya.. kau pikir uang itu jatuh dari langit??" tanya Boy kesal.


"Boy.. kau saja yg tak mampu." ucap Aini tak kalah kesal.


"Ya.. anggap saja aku tak mampu, jika ingin marah aku tak peduli.. aku harus bekerja.." ucap Boy lalu menutup teleponnya.


Boy pun kesal melihat gaya hidup Aini yg sangat boros dan suka menghambur-hamburkan uang demi kesenangannya pada barang mahal. Bukannya dirinya tak mampu membelikan Aini barang mahal tersebut, tapi kebiasaan Aini sangat buruk jika dibiarkan.


Boy bahkan sampai tak perduli jika Aini mengadu pada Richard atau Martha. Karena dirinya sudah melihat tagihan kartu milik Aini yg membengkak karena ulah Aini yg suka berbalanja.


Sementara Aini dirinya pun benar-benar pulang ke rumah orangtuanya. Disana hanya ada Martha dan Aini pun bercerita soal rumah tangganya. Masalah hubungannya dengan Boy yg semakin merenggang. Apalagi sampai kartu milik Aini dibatasi pemakaiannya.


"Mama.. Boy jahat.." ucap Aini.


"Ck.. suamimu itu pelit sekali hanya memberimu limit kartu segitu." ucap Martha.


"Jadi tadi aku pakai kartu pemberian papa." ucap Aini.


"Bagus Aini, jadi kau tidak dipermalukan di hadapan Arne." ucap Martha.


"Nanti mama akan bicara pada Boy.. kalau perlu Leni ibu mertuamu." ucap Martha.


"Terimakasih ma.." ucap Aini.


Martha pun bisa bicara begitu, padahal nasibnya juga sama dimana Richard juga memblokir kartu kreditnya dan hanya memberi satu kartu dengan limit terbatas.


.


.


Malam harinya Boy pun pulang ke rumah dan melihat Aini yg masih marah padanya. Tapi Boy sudah tak memedulikan amarah Aini. Boy ingin Aini belajar untuk menghargai uang yg ia hasilkan bukan menghambur-hamburkannya. Dan Boy tak begitu menanggapi Aini.


"Boy.. kau mengabaikanku?" tanya Aini.


"Aku sudah tahu kau pasti kesal soal kartu kreditmu.. dan aku takkan mengabulkan keinginanmu." ucap Boy.


"Tapi apa salahku?" tanya Aini.


"Lebih baik introspeksi diri.. dan belajarlah dewasa." ucap Boy.


"Boy aku belum selesai bicara..!" ucap Aini.


"Ya terserah.." ucap Boy mengabaikan Aini dan memilih pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Aini pun kesal karena merasa diabaikan oleh Boy. Dan akhir-akhir ini hubungan mereka merenggang. Boy juga semakin cuek padanya dan selalu memarahinya. Aini selalu dibilang pemalas, boros, dan jelek karena tak merawat dirinya sejak hamil.


Sementara Boy, dirinya sudah pasrah akan sifat istrinya yg nampaknya sulit berubah. Tak ada cara lain mengajari Aini selain keras padanya, dan jika ini memang efek hormon kehamilan, Boy berharap Aini berubah saat anak mereka lahir.


__ADS_2