
Setelah mengunjungi Arne dan tak mendapatkan apapun, kini Boy dan Richard pun mengunjungi Jakson. Dan tentunya pria tua itu sudah tahu semuanya dari Arne. Jakson juga sudah menceritakan segalanya pada Arne dan takkan membebaskan Aini dengan mudah.
Tibalah mereka di kediaman Jakson dan mereka langsung masuk ke dalam karena Jakson sudah menunggu keduanya.
"Aku tak percaya kalian mendatangi Arne lebih dahulu." ucap Jakson.
"Ayah.. kumohon maafkan Aini, saat ini kondisinya buruk." ucap Richard.
"Kakek, kumohon maafkan Aini.. demi anakku yg ada di kandungannya.. saat ini Aini sedang menjalani perawatan di rumah sakit." ucap Boy berlutut.
"Kau tahu Boy kalau Arne dalam masalah jika aku taj bertindak sejauh ini?" tanya Jakson.
"Aku tahu istriku sangat posesif padaku, tapi kumohon maafkan dia karena kondisinya sangat lemah saat ini." ucap Boy.
"Apa kalian tak pernah memikirkan bagaimana jika aku tak menghentikan pria itu mengikuti Arne? bagaimana kalau Arne diculik lalu dilecehkan? siapa yg akan bertanggungjawab atas itu? haa?? bisa kalian jelaskan?? " tanya Jakson emosi.
"Ayah.. aku tahu kalau Aini sudah kelewatan.. kumohon maafkan dia.. dan lagi Arne tak mengalami hal buruk." ucap Richard.
"Itu karena aku berhasil mencegahnya.. !! kalau tidak siapa yg tahu pria itu akan berbuat apa padanya." balas Jakson.
"Kakek kumohon maafkan Aini.." ucap Boy.
"Apa Arne memaafkan Aini?" tanya Jakson.
"Iya.. dia memaafkan Aini." jawab Richard.
"Kau pombohong yg hebat.. bahkan Arne tak bisa bilang kalau sudah memaafkan Aini." balas Jakson.
"Kumohon ayah maafkan Aini dan cabut laporannya." ucap Richard ikut berlutut.
"Kakek, aku akan lakukan apapun demi anakku.. jadi kumohon bebaskan Aini." ucap Boy.
"Sungguh? kau mau melakukan apapun?" tanya Jakson.
"Ya.. tapi kumohon bebaskan ia, karna kondisi ini bisa berpengaruh pada janinnya." ucap Boy.
"Istrimu itu hebat ya, sudah berbuat jahat pada Arne tapi dia sendiri tak sanggup menanggung akibatnya." ucap Jakson.
"Kumohon kek." ucap Boy memohon.
"Richard jika kau ingin Aini dibebaskan, maka ada syarat yg harus kau penuhi." ucap Jakson.
"Katakanlah ayah." ucap Richard.
"Aku takkan pernah mewariskan apapun pada Aini.. semuanya akan kuberikan pada Arne, kejahatannya membuktikan kalau ia mampu melakukan apapun apalagi jika memiliki kekuatan." ucap Jakson.
"Baiklah jika itu mau ayah." ucap Richard.
"Dan satu lagi, aku takkan mengganggapnya cucuku lagi.." ucap Jakson.
"Asalkan ayah mencabut gugatannya." ucap Richard.
"Aku akan memikirkannya dan membicarakannya dengan Arne.. kalian pergilah, lebih baik mengurus Aini." ucap Jakson.
"Boy ayo bangun dan kembali ke rumah sakit." ucap Richard.
__ADS_1
Mereka berdua pun bangkit dan pergi dari kediaman Jakson. Jakson pun sudah menekankan dua hal itu pada Richard agar dirinya sadar kalau Aini sudah kelewatan pada Arne. Dan Jakson dari awal memang tak menganggap Aini cucunya karena sikapnya yg sangat memalukan.
"Setidaknya aku berhasil menekan Richard." gumam Jakson dalam hati.
Sementara Boy, dirinya hanya terdiam setelah dari rumah Jakson. Dalam pikirannya ada benarnya juga ucapan Jakson, jika Aini memiliki kedudukan atau kekuasaan bukan tak mungkin Aini akan berbuat hal yg lebih buruk dari ini. Dan Boy semakin menyesal menikahi Aini. Bahkan dirinya rela berlutut demi Aini bisa bebas dan demi calon anaknya juga.
Sesampainya di rumah sakit, Martha menunggu jawaban dari Richard dan Boy.
"Bagaimana?" tanya Martha.
"Ayah akan memikirkannya dan bicara dengan Arne." ucap Richard.
"Apa?? apa dia tak khawatir pada kondisi Aini, Aini juga cucunya." ucap Martha kesal.
"Tapi Aini sudah buruk di mata ayah, maka sulit bagi Aini untuk diterima kembali olehnya." ucap Richard.
"Ck.. dasar pria tua menyebalkan.. padahal Arne tidak kenapa-kenapa." ucap Martha.
Richard dan Martha pun berdebat untuk hal ini, tapi Richard memang tak bisa mengubah keputusan ayahnya itu. Terlebih semua buktinya tak bisa dibantah lagi. Dan Richard meminta Martha tetap diam agar Jakson mengampuni Aini. Serta Richard juga mengatakan kalau Aini sudah dicoret dari daftar penerima warisan Jakson serta kakek tua itu takkan mengganggap Aini cucunya lagi.
"Apa-apaan kakek tua itu.. dia itu sudah pilih kasih pada Arne sejak awal." ucap Martha tak terima.
"Kalau mau protes, coba katakan pada ayah langsung jika kau berani." ucap Richard.
"Kau.. benar-benar tak berguna..!" ucap Martha.
"Kalau aku saja tak berguna, bagaimana denganmu yg tak bisa apa-apa." balas Richard.
Keduanya pun malah terus berdebat sampai diusir oleh Boy agar tak mengganggu Aini.
"Jika kalian terus berdebat lebih baik lakukan dirumah jangan disini, lihat anak kalian sedang isturahat." ucap Boy.
Keduanya pun langsung diam.
.
.
Sementara itu, setelah kondisi Arne agak baikan dirinya pun bertemu dengan kakeknya untuk membicarakan hal ini. Bagaimana pun ini akan mengganggunya bekerja, terlebih Aini dirawat di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Bagaimana ini kek?" tanya Arne.
"Apa kau memafkan Aini?" tanya Jakson.
"Sulit memaafkan tindakannya, tapi kalau dibiarkan bisa jadi masalah.. ibunya akan melabrakku di rumah sakit, lalu menyalahkanku atas kondisi putrinya." ucap Arne.
"Kau lebih memikirkan Martha yg akan mengganggu kenyamananmu bekerja rupanya." ucap Jakson.
"Tentu saja, apalagi Aini sedang mengandung kalau sampai dirawat artinya kondisinya serius." ucap Arne.
"Aku juga sedikit memikirkan hal itu, jika terus ditekan kau yg akan disalahkan nantinya." ucap Jakson.
"Lalu apa tindakan kakek?" tanya Arne.
"Aku berniat membebaskannya tapi dengan beberapa syarat." ucap Jakson.
__ADS_1
"Apa syaratnya?" tanya Arne.
"Yang jelas dirinya takkan berani mendekatimu lagi." ucap Jakson tersenyum.
"Baiklah, lakukan dengan baik kek, aku yakin keputusan kakek yg terbaik." ucap Arne.
"Ayo kita ke rumah sakit dan menjenguk Aini." ucap Jakson.
"Oke." balas Arne.
Jakson dan Arne pun ke rumah sakit bersama sekalian Arne pergi bekerja. Dan Arne menghubungi dokter kandungan yg menangani Aini. Kondisi Aini memang cukup parah karena stres yg ia derita ditambah lagi dengan laporan yg ditujukan untuknya. Beberapa jam di penjara saja sudah membuatnya lemah, yg pasti Aini takkan mampu bertahan di penjara dalam kondisinya saat ini.
"Kondisi Aini cukup parah, sepertinya dia stres." ucap Arne.
"Itu karena ulahnya sendiri.. dia merebut Boy darimu jadi hidupnya tak tenang meski sudah jadi istrinya." ucap Jakson.
"Kakek benar soal itu." ucap Arne.
Akhirnya tibalah Arne dan Jakson di rumah sakit. Dan mereka menuju ke ruangan Aini. Nampak Martha, Richard serta Boy ada disana.
"Jadi begini kondisinya setelah berbuat keonaran.?" ucap Jakson.
"Ayah.." ucap Richard sementara Martha kesal setengah mati.
"Bagaimana Aini? kau masih ingin berbuat jahat pada Arne?" tanya Jakson.
"Maafkan aku kek, maafkan aku Arne.. aku khilaf." ucap Aini menangis.
"Ya.. kalau sudah begini hanya itu yg akan keluar dari mulutmu." ucap Arne.
"Aku sudah mencabut gugatannya, kuharap nanti Richard akan menjelaskan semuanya saat kau sudah lebih baik." ucap Jakson.
"Terimakasih kek." ucap Aini menangis.
"Oh iya, jangan berani menyentuh Arne atau Jeny jika kalian masih ingin hidup tenang." ucap Jakson.
"Kuharap kau jera Aini setelah ini." ucap Arne.
"Kami permisi, kami hanya akan mengatakan hal itu." ucap Jakson.
Arne dan Jakson pun pergi dari ruangan Aini setelah mengatakan hal itu. Sementara Martha kesal bukan main.
"Sombong sekali Arne tadi.. awas saja nanti jika berani berkata seperti itu lagi." ucap Martha.
"Cukup Martha." ucap Richard.
"Martha.. Aini.. kuharap kalian belajar dari kejadian ini, hentikan perbuatan buruk kalian pada Arne jika tak ingin mendapatkan hukuman dari ayahku." ucap Richard memberi peringatan.
"Aini, kali ini kau selamat.. jika kau berulah lagi aku takkan membantumu." ucap Boy lalu keluar dari ruangan Aini.
"Kau dengar kan? Boy sampai berlutut pada kakekmu agar kau dimaafkan." ucap Richard.
Aini pun terdiam, begitu juga dengan Martha. Sementara Boy keluar ruangan dan melihat Arne habis mengantar Jakson pulang. Boy pun menghampiri Arne untuk meminta maaf atas perbuatannya terdahulu dengan perbuatan Aini.
"Arne, apa kau ada waktu?" tanya Boy.
__ADS_1
"Kurasa 5 menit lagi.. cukup kan?" balas Arne.
"Ya.. tak apa, hanya sebentar." ucap Boy.