
Kenzi pun memulai hidup barunya setelah resmi menyandang status sebagai janda. Meski begitu tak mudah mengubah pandangan orang tentang janda apalagi diusianya yg masih muda. Dan Kenzi saat ini lebih dekat dengan Arne.
Apalagi Arne sedang hamil dan selalu sendirian di rumahnya. Meski Arne bekerja dari rumah tapi tetap saja sendirian di rumah juga membosankan. Arne masih trauma jika menerima ART baru. Takut kelakuan ART tersebut semakin aneh dari Mia.
Kenzi pun kerap mengunjungi Arne disela waktu luangnya. Kadang keduanya juga keluar jalan-jalan di mall atau sekedar makan di sebuah cafe.
"Arne, kau yakin tak masalah kita keluar?" tanya Kenzi.
"Ya.. Aku sudah ijin suamiku." ucap Arne.
"Baiklah, kita ke mall terdekat saja dan jangan terlalu jauh berjalan-jalan." ucap Kenzi.
"Oke." ucap Arne.
Keduanya pun berjalan menuju ke sebuah toko langganan mereka lalu Arne memilih beberapa pakaian begitu juga dengan Kenzi. Tanpa mereka sadari ada seorang pengawal yg mengawal keduanya dari kejauhan.
Selesai berbelanja, Kenzi memotong agenda Arne dengan langsung makan. Bukan tanpa alasan Kenzi takut sahabatnya kelelahan jika berjalan terlalu jauh. Lebih baik dirinya langsung mengajak Arne makan lalu pulang.
"Kita makan disana." ucap Kenzi.
"Tapi Ken.. Aku mah kesana." tunjuk Arne.
"Sudah kau niatnya dari hanya rumah mau ke toko itu saja kan..?" tanya Kenzi.
"Hehe.. Iya benar, tapi kan aku juga ingin cuci mata." ucap Arne.
"Jika kau tak sedang hamil aku tak akan masalah, tapi kau sedang hamil kau tak boleh terlalu lelah." ucap Kenzi.
"Baiklah." ucap Arne.
Mereka pun masuk ke sebuah tempat makan. Dan Kenzi mulai merasa kalau mereka diikuti dari awal masuk toko. Kenzi takut orang tersebut berniat untuk mencuri dan hal buruk lainnya. Hingga setelah makan, Kenzi pun pergi ke toilet.
"Arne aku ke toilet dulu ya." ucap Kenzi.
"Baiklah, jangan lama-lama ya." ucap Arne.
"Oke." balas Kenzi lalu berjalan.
Tapi Kenzi pun mendekati pria berbaju hitam yg selalu mengikuti mereka dari awal masuk mall. Kenzi pun duduk hadapan pria itu yg tampak mengawasi mereka di tempat makan lain tanpa ketahuan oleh Arne.
"Siapa kau? Apa maumu hingga mengikuti kami..?" tanya Kenzi.
"Aku hanya dibayar untuk menjaga nyonya Arne.." ucap pria itu datar.
"Benarkah? Siapa yg membayarmu?" tanya Kenzi.
"Tuan Anderson."
"Coba hubungi dia agar aku yakin, kau orang suruhannya." ucap Kenzi.
Pria itu pun menghubungi Anderson lalu memintanya bicara dengan Kenzi.
"Kenzi, maaf jika kau takut tapi pria itu adalah pengawal yg menjaga Arne." ucap Anderson.
__ADS_1
"Prof, kau membuatku takut saja.. Baiklah kalau begitu." ucap Kenzi.
"Ya.. Jika ada yg mencurigakan kalian langsung pulang saja ya." ucap Anderson.
"Baik aku mengerti." ucap Kenzi.
Kenzi pun mengembalikan ponsel pria itu lalu pergi.
"Baiklah, aku percaya kalau begitu." ucap Kenzi pergi dari tempat itu.
"Apa-apaan wanita itu, bahkan tidak meminta maaf." gumam pria itu dalam hati.
Tapi ini adalah tugasnya mengawasi nyonya Arne dan temannya yg sedang pergi ke Mall. Anderson pun tak ingin terjadi hal buruk, hingga meminta pengawal mengikuti istrinya untuk berjaga-jaga. Dan pria itu kini ditugaskan untuk menjaga istrinya. Pria bernama Axel itu pun disewa Anderson dari sebuah perusahaan yg mengelola pengawal pribadi.
Apalagi istrinya sedang hamil, dan jika yg mengikutinya lebih dari satu orang pasti akan mencurigakan. Lebih baik mempercayakannya pada agen yg terpercaya.
...
Kenzi pun kembali ke mejanya bersama Arne dan mereka memesan hidangan pencuci mulut disana. Arne pun seperti biasa sangat senang jika harus mencicipi makanan. Begitu juga dengan Kenzi, keduanya memiliki banyak kesamaan dalam hobi dan makanan.
"Arne sekarang kau makan lebih banyak ya.." ucap Kenzi.
"Iya.. Sepertinya mereka di dalam sangat lapar." ucap Arne.
"Ya.. Itu bagus, daripada tidak mau makan sama sekali." ucap Kenzi tersenyum.
"Iya.. Awal-awal kehamilan memang rasanya mual, tapi lama kelamaan hilang dengan sendirinya." ucap Arne.
"Itu bagus." ucap Kenzi.
"Oh iya, disana menyenangkan, orang-orangnya ramah dan tentunya tempatnya sangat nyaman." ucap Kenzi.
"Aku jadi ingin kembali bekerja menjadi dokter." ucap Arne.
"Sepertinya itu akan lama sekali ya, mengingat mereka hadir di kehidupanmu." ucap Kenzi.
"Kau benar juga.. Aku takkan tega meninggalkan mereka di tangan pengasuh." ucap Arne.
"Lalu setelah melahirkan, kau yakin tak butuh ART??" tanya Kenzi.
"Sejujurnya aku sangat butuh, bahkan saat ini saja aku mulai kerepotan." ucap Arne.
"Bagaimana jika kau mencari ART yg sudah ibu-ibu saja, sudah tua juga tak apa.. Biasanya kalau orang tua itu lebih bagus kerjanya dan sabar." ucap Kenzi.
"Kau benar juga.." ucap Arne.
"Sudah nanti sampaikan pada suamimu, cari yg sudah berpengalaman dan ibu-ibu paruh baya." ucap Kenzi.
"Ide bagus Ken.. Terimakasih." ucap Arne.
"Sama-sama." ucap Kenzi.
Lalu mereka pun keluar dari tempat makan dan berjalan menuju ke parkiran. Di tengah jalan, ada pria yg berjalan di belakang Arne dan menjambret tasnya. Kenzi pun menangkap Arne yg hampir terjatuh lalu mengejar penjambret tersebut. Kenzi pun melempar sepatunya dan tepat mengenai kepala pria tersebut.
__ADS_1
Penjambret itupun terjatuh, dan Kenzi berhasil mendapatkan kembali tas Arne.
"Rasakan itu..!" ucap Kenzi.
Lalu pria pengawal itu muncul dan membantu menangkap penjambret itu.
"Ow.. Kau lagi." ucap Kenzi.
"Nona, urus saja nyonya Arne, aku akan mengurus pria ini." ucapnya.
"Terimakasih atas bantuannya." ucap Kenzi lalu kembali.
Kenzi pun tersenyum menemui Arne dan mengembalikan tasnya yg di ambil tadi.
"Tasmu aman, untung ada Mas-mas yg membantu menangkapnya tadi." ucap Kenzi.
"Terimakasih Kenzi, kau benar-benar punya banyak stamina untuk mengejarnya." ucap Arne.
"Tentu saja." ucap Kenzi. "Jika pengawalmu tak muncul aku akan menghajarnya." gumam Kenzi dalam hati.
Kenzi pun mengantar Arne pulang ke rumahnya, dan Kenzi menunggu sampai Anderson pulang barulah dirinya pulang. Tak lupa Anderson berterimakasih pada Kenzi karena sudah menemani istrinya seharian ini. Dan Kenzi justru senang karena dirinya memang butuh teman saat ini.
....
Kenzi pun kembali ke apartemennya. Dan di depan pintunya terdapat undangan pernikahan yg tak lain dari Nino dan Susi. Keduanya nampak sekali ingin memamerkan kebahagiannya.
Kenzi pun hanya menaruhnya di meja dan tak tertarik membacanya. Dirinya justru membongkar belanjaannya hari ini.
Saat sedang asik melihat-lihat pakaiannya, bel apartemennya pun berbunyi dan dirinya mendapatkan sebuah paket di depan pintu. Di paket itu tertera sebuah nama Axel bukan dirinya dan lagi nomor apartmen mereka berbeda.
"Duh paket tetangga pake nyasar segala lagi." gumam Kenzi.
Mau tak mau Kenzi pun pergi ke tetangga sebelahnya untuk mengembalikan paket yg nyasar ke depan apartemennya.
Tingtong..
Setelah menekan bel beberapa kali, pintu pun dibukakan. Dan seorang pria tampan keluar dari unitnya.
"Maaf ada apa?" tanyanya.
Kenzi pun terdiam sesaat sampai Axel menjentikkan tangannya di hadapan Kenzi.
"Oh, maaf aku melamun tadi.. Apa kau bernama Axel?" tanya Kenzi.
"Iya.. Lalu ada apa?" tanyanya to the point dan tegas.
"Paketmu nyasar ke depan unit milikku.. Silahkan, dan aku permisi." ucap Kenzi malu.
"Iya, terimakasih." ucap Axel.
Axel pun menyadari kalau Kenzi adalah wanita yg bersama nyonya Arne hari ini. Tapi Kenzi tak menyadarinya karena Axel sedang menyamar dan memakai kacamata hari ini.
"Sepertinya wanita itu tak mengenaliku." gumam Axel.
__ADS_1
"Bodoh.. Kenapa malah melamun, bikin malu saja." gumam Kenzi dalam hati.