Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Pamit Dari Pesantren


__ADS_3

Cukup lama Zia masuk ke dalam rumah untuk memanggil sang Ummah hingga dia keluar bersama dengan seorang wanita paruh baya yang terlihat bersahaja dan penuh kedamaian dengan gurat penuaan yang terlihat jelas di wajahnya.


"Siang, Ummah," ucap Ibu Halimah yang kini ikut berdiri dan mencium punggung tangan Ummah yang memiliki umur lebih tua darinya.


"Fatimah," panggil Ummah memastikan jika Fatimah adalah gadis yang sama dengan gadis yang terlintas di fikirannya, maklum saja jumlah santri di pesantren ini memang cukup banyak, maka wajar saja jika para pengasuh butuh tenaga ekstra untuk mengingat setiap nama santri yang ada di sana.


"Iya, Ummah ini saya Fatimah," sahut Fatimah dengan senyuman yang di buat semanis mungkin.


"Ada apa, Nak?" tanya Ummah dengan nada lembut menenangkan jiwa.


"Begini Ummah, saya Ibu dari Fatimah meminta izin untuk memboyong Fatimah dari pesantren," Ibu Halah mengutarakan niatnya.


"Loh, kenapa tiba-tiba mau boyong, Nak?" tanya Ummah yang kini justru terlihat terkejut dengan ucapan Ibu Halimah.


"Fatimah akan menikah Umma," sahut Ibu Halimah, wajahnya terlihat begitu cerah dan di penuhi binar kebahagiaan.


"Menikah? dengan siapa, Nak?" Umma terlihat begitu terkejut mendengar jawaban Ibu Halimah, pasalnya kemarin Fatimah berpamitan pulang untuk menjenguk sang Ibu yang tengah sakit, tapi sekarang Fatimah kembali dan mengutarakan kalau dia akan menikah.


"Apa? menikah? siapa yang mau menikah?" suara Zia tak kalah mengejutkan Fatimah dan Ibunya.


"Iya, Fatimah saya jodohkan dengan Satya, putera dari rekan bisnis saya," Ibu Halimah menjelaskan apa sebenarnya terjadi.


"Apa Mbak Fatimah menerima perjodohan itu?" kalian ini Zia yang bertanya.


"Mbak menerimanya, Zia, " jawab Fatimah dengan kepala menunduk menatap ke arah lantai.


"Kenapa Mbak Terima semudah itu?" tanya Dia, gadis yang beranjak dewasa itu memang selalu mengungkapkan semua yang dia rasakan langsung tanpa ada yang di tutup-tutupi.


"Zia, jangan di teruskan!" titah sang Umma.


"Maaf Umma," sahut Zia dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa Umma," kali ini Ibu Halimah yang menyahuti ucapan Umma, bagaimanapun Zia memang masih remaja dan sangat wajar baginya untuk menanyakan hal yang baru saja di tanyakan.


"Fatimah menerimanya karena dia ingin berbakti padaku, Neng," Ibu Halimah yang mengetahui alasan puterinya menerima perjodohan yang dia atur memilih untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Puteri pengaruh sekaligus pemilik pesantren.

__ADS_1


Sejenak suasana rumah menjadi hening seperti tidak berpenghuni hingga, Umma berbicara memecahkan keheningan.


"Baiklah, jika memang ini sudah menjadi keputusan Fatimah, saya sebagai pengasuh hanya bisa mendo'akan saja, semoga rumah tangga Fatimah bisa langgeng dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah," sahut Umma dengan senyum yang mengembang di pipinya, hal itu sangat berbanding terbalik dengan ekspresi wajah Zia, dia terlihat sedih dan kecewa.


"Kalau begitu saya pamit mah mengemas barang-barang milik Fatimah." Pamit Ibu Halimah.


"Iya, Bu, Hati-hati!" sahut Umma.


"Mohon do'a nya, Umma," pinta Fatimah sebelum dia pergi meninggalkan ruang tamu.


"Do'a Umma selalu menyertaimu, semoga kamu bisa bahagia dengan kehidupan baru yang akan kau jalani," ujar Umma.


"Amin," sahut Fatimah dan Ibu Halimah bersamaan.


"Mbak Fatimah tunggu!" suara Zia terdengar mengejutkan Fatimah dan sang Ibu yang tengah berjalan menuju asrama.


"Iya, Neng, ada apa?" tanya Fatimah merasa bingung dengan panggilan tiba-tiba yang di lakukan oleh Zia.


"Bisakah aku membantumu berkemas?" tanya Zia dengan ekspresi wajah penuh rasa penasaran.


"Tentu saja, Neng," jawab Fatimah dengan senyuman yang sering sekali terlihat di wajah Fatimah yang cantik.


"Baiklah, Ibu tunggu di mobil saja, jangan terburu-buru mengemasnya!" ujar Ibu yang mengerti jika Fatimah pasti ingin menghabiskan sisa waktu bersama temannya.


"Neng, aku akan mengantar Ibu ke mobil terlebih dahulu, Neng Zia mau ikut atau tidak?" tanya Fatimah yang merasa tidak enak hati jika meninggalkan Neng Zia yang ingin membantunya berkemas.


"Sudah, jangan ributkan Ibu! lebih baik kamu langsung pergi ke kamar saja! Ibu bisa pergi sendiri," Ibu Halimah tidak ingin merepotkan Fatimah ataupun Zia yang pasti membutuhkan waktu untuk mengucapkan kata perpisahan.


"Apa Ibu benar-benar tidak apa-apa pergi ke mobil sendirian?" Fatimah terlihat tidan yakin dengan apa yang baru saja di katakan oleh Ibunya.


"Kita antar Ibu dulu. Setelah itu baru berkemas," sela Zia yang mengerti jika keributan yang terjadi juga karena keberadaan dirinya.


"Tidak usah Neng Zia! Ibu bisa pergi sendiri," tolak Ibu Halimah yang merasa sungkan jika di antar oleh Zia.


"Tidak apa-apa Bu, biar Zia ikut antar Ibu ke mobil," jawab Zia yang mengerti dengan perasaan Ibu Halimah saat ini.

__ADS_1


Ketiganya berjalan menuju mobil mengantar Ibu Halimah untuk beristirahat.


"Bu, Fatimah ke kamar dulu ya." Pamit Fatimah sebelum dia pergi meninggalkan sang Ibu di mobil.


"Iya, jangan khawatirkan Ibu! berpamitan dengan baik sama teman-teman sekamarmu," pesan Ibu sebelum pergi meninggalkan sang Ibu yang kini tersenyum ke arah sang Ibu.


"Saya pergi dulu Bu," Zia yang berdiri di samping Fatimah juga ikut berpamitan.


Fatimah dan Zia berjalan beriringan masuk kembali ke dalam pesantren, "Fat, bagaimana kamu bisa menerima perjodohan itu? bukankah aku pernah bilang mau mengenalkanmu dengan Kakakku," ucapan Zia mengingatkan Fatimah pada ucapan Zia waktu itu.


Zia dan Fatimah memang snagat dekat, mereka sering sekali menghabiskan waktu bersama, meski terkadang ada bibir santri yang mengadu domba karena iri, keduanya tetap bersama dan saling percaya, keduanya menjadi sahabat hingga saat ini, Zia yang menyukai sifat sabar, mengalah, cerdas dan pengertian juga taat membuat Zia menyukai pribadi Fatimah karena itulah Zia berfikir untuk mengenalkan Fatimah dengan kakak laki-lakinya yang pernah menikah namun gagal karena istrinya pergi memilih hidup bersama dengan laki-laki lain.


"Maaf, Neng Zia, aku harus berbakti pada Ibu, karena itulah aku menerima perjodohan yang sudah di rencanakan olehnya, Ibu sedang sakit Neng dan aku tidak mau menecewakannya," jelas Fatimah.


Sejenak Zia diam tanpa kata, mungkin Fatimah memang bukan jodoh kakaknya, karena itulah dia berada di situasi yang memang tak mungkin untuk di hindari.


"Baiklah, aku mengerti, maaf ya, aku sempat kecewa dan merasa ingin marah padamu," sahut Zia yang kini tersenyum ke arah Fatimah.


"Terima kasih, Neng Zia sudah mengerti posisiku, maafkan aku juga karena tidak bisa memenuhi janji yang pernah kita ucap bersama," ujar Fatimah.


"Ngomong-ngomong kapan kamu akan menikah?" Zia kembali bertanya.


"Lusa, aku akan menikah lusa," jawab Fatimah lesu.


"Hah? apa? lusa? kok cepat sekali?" spontan Zia yang merasa jika pernikahan Fatimah terdengar begitu cepat.


"Aku sendiri juga merasa begitu Neng, tapi mau bagaimana lagi? semuanya sudah terjadi dan aku harus mengikutinya," Fatimah kembali menjelaskan apa yang dia rasakan.


"Apa tanggal pernikahannya Ibu kamu juga yang ngatur?" Zia terus bertanya dan Fatimah hanya menganggu sebagai jawabannya.


"Iya, Neng," kali ini Fatimah menjawab pertanyaan Zia dengan kata-kata.


"Apa kamu pernah bertemu atau minimal melihat orang yang akan menjadi suamimu itu seperti apa?" Zia semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Fatimah.


"Tidak, aku tidak pernah tahu siapa dan seperti apa calon suamiku itu, aku hanya menerima perjodohan tanpa banyak bertanya atau meminta," jujur Fatimah.

__ADS_1


Zia terdiam mematung merasa terkejut dengan apa yang terjadi pada Fatimah sang sahabat, Zia tak menyangka jika sahabatnya itu bisa setaat itu.


"Aku sungguh kagum melihat apa yang kamu lakukan Fatimah, di zaman sekarang kamu masih bisa menerima semuanya demi kata bakti yang terkadang tak pernah di gubris oleh kebanyakan gadis, tapi kamu tetap menerima semuanya demi kata bakti, aku sungguh merasa bangga menjadi sahabat kamu," puji Zia sambil memeluk Fatimah dari samping.


__ADS_2