Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Jamur Kuping


__ADS_3

Sarapan pagi sudah siap untuk di hidangkan, ada beberapa makanan yang di buat di atas meja makan, hingga satu menu yang cukup asing bagi Fatimah tergeletak cantik di atas meja, penampilannya sangat menggoda siapapun yang ingin memakannya.


"Mas, makanannya sudah siap," ujar Fatimah sesaat setelah sampai di dalam kamar.


"Hm," sahut Satya singkat, dia yang sejak tadi fokus menatap layar ponsel dan laptop secara bergantian.


Satya menutup laptopnya dan berjalan mendekat ke arah Fatimah yang berdiri di ambang pintu. Tanpa aba-aba Satya menggandeng jemari Fatimah yang kini justru mengernyitkan dahi bingung melihat sikap Satya.


'Kenapa dia menggandeng tanganku tanpa aba-aba? dasar pria tak bisa di tebak,' batin Fatimah yang merasa jika suaminya itu laki-laki yang memang memiliki kepribadian yang sangat sulit di tebak.


Satya berjalan beriringan menuruni tangga, keduanya terlihat seperti pasangan suami istri yang tengah berbahagia, terlihat senyum Satya membuat siapapun yang melihatnya pasti menganggap jika Satya memiliki sifat ramah dan penuh cinta juga perhatian.


"Astaga, kalian ini, pergi ke dapur saja gandengan, udah kayak orang yang mau nyebrang aja," celetuk Mama Satya yang terlihat begitu bahagia melihat puteranya tersenyum bersama Fatimah yang kini berada di sampingnya sambil bergandengan tangan.


Satya tersenyum menanggapi ucapan sang Mama, hal itu sangat jauh berbeda dengan Fatimah yang justru sedang berusaha keras melepas gandengan tangan Satya karena saat ini Fatimah merasa malu dengan keadaan yang terjadi, tapi semakin kuat Fatimah berusaha melepaskan tangannya, maka semakin kuat pula Satya menggenggamnya.


"Bu, ini apa?" tanya Fatimah Saat melihat menu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


"Oh, itu oseng jamur kuping kesukaan Satya," bukan Ibu Fatimah yang menjawab, kali ini suara Mama Satya tang terdengar menjelaskan makanan yang memang asing untuk Fatimah.


"Jamur kuping, aku kok baru denger ya," seru Fatimah yang merasa asing dengan menu jamur kuping.


"Jamur kuping itu enak loh Fatimah, dan kamu bisa mencobanya, Satya bisa menghabiskan satu porsi penuh jamur kuping yang biasa Mama masak," ujar Mama Satya dengan penuh semangat.


"Apa segini cukup Mas?" tanya Fatimah sambil menunjukkan satu porsi nasi yang baru saja dia ambilkan.

__ADS_1


"Cukup, Sayang," jawab Satya yang kini terlihat jauh berbeda seratus delapan puluh derajat dari Satya yang tadi berada di kamar.


"Apa kamu mau mencoba jamur ini?" tawar Satya dengan senyum manis yang justru terlihat sangat aneh di mata Fatimah saat ini.


'Dasar aneh, sama seperti makanan yang di sukai aneh,' batin Fatimah mengkceh sedang bibirnya tertutup rapat tak mampu terbuka.


"Sayang!" suara Satya kembali terdengar dan Fatimah semakin bingung dengan sikap Satya.


"Eh, iya," sahut Fatimah.


Satya mengambilkan jamur kuping yang memang memiliki tekstur kenyal dan enak saat di makan, tapi bagi Fatimah yang baru saja mencobanya ada setitik keraguan yang terlihat, meski begitu Fatimah tetap memakan jamur yang sudah di ambilkan oleh Satya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Mama Satya yang terlihat begitu antusias menanti jawaban Fatimah.


"Enak, Ma," jawab Fatimah, senyum yang sejak tadi tidak nampak kini terlihat di wajah cantik Fatimah.


"Tidak ada Ibu, di pesantren mana ada makanan seperti ini, di sana hanya ada tahu, tempe, dan telor juga sayur sebagai pelengkap," jelas Fatimah.


Ibu Halimah terdiam mendengar penjelasan putrinya, perasaan nya begitu campur aduk, sungguh dia Ibu yang tak perhatian sama puterinya, bagaimana bisa Fatimah tam tahu makanan sesederhana itu, hanya jamur kuping yang tak terlalu mahal, tapi puteri nya tak tahu apa itu jamur kuping dan tak pernah merasakannya.


"Maafkan Ibu, Nak," lirih Ibu Halimah dengan wajah penuh penyesalan dia berucap.


"Maaf untuk apa, Bu?" tanya Fatimah, dirinya kembali di buat bingung dengan kata maaf yang terucap dari bibir sang Ibu.


"Maaf karena Ibu, kamu tidak pernah makan jamur kuping, maaf Ibu sudah gagal jadi Ibu yang baik untukmu," ujar Ibu.

__ADS_1


"Ibu jangan bicara seperti itu! aku bahagia dan bangga jadi puteri Ibu, kalau soal makanan di pesantren Ibu jangan merasa bersalah, karena di sana memang di terapkan belajar hidup sederhana dan menikmati setiap rezeki yang di berikan, dan aku tidak masalah dengan semua itu, aku tetap bahagia Ibu," ujar Fatimah yang tak ingin melihat Ibunya merasa bersalah seperti saat ini.


Semua orang yang ada di meja makan tersenyum menanggapi ucapan Fatimah, kehangatan dan keharmonisan terlihat di meja makan itu.


*******


"Abang!" panggil Zia seraya memasang wajah penuh emosi.


"Apa lagi Ze?" sahut Fariz yang justru memasang wajah jengah menatap sang adik yang berdiri tegak di hadapannya.


"Bukankah hari ini Abang janji mau mengajakku pergi ke tokoh buku, kenapa malah mau pergi lagi?" ujar Zia.


"Ze, aku harus menggantikan Fatih beberapa jam ke depan," jelas Fariz.


"Kenapa Abang selalu saja menggantikan Fatih? bukankah hari ini Abang libur," oceh Zia.


Fariz memang selalu sibuk, dia sering sekali menggantikan jam kerja Fatih sebagai rekan kerjanya, padahal sebenarnya Fariz bisa menolak permintaan Fatih yang sering sekali meminta izin dengan alasan ada keperluan keluarga, padahal sebenarnya Fatih sedang dalam misi mengejar cintanya.


"Fatih tiba-tiba telfon kalu kekasihnya sedang dalam masalah, karena itulah aku harus menggantikan tugasnya," jelas Fariz.


"Ahhh sudahlah, Abang memang selalu seperti itu, percuma kerja di rumah sakit milik sendiri kalau jam kerjanya ngalahin kerja di tempat orang," keluh Zia.


Rumah sakit tempat Fariz bekerja merupakan rumah sakit keluarga yang didirikan oleh sang Buya, tapi Fariz merahasiakan identitasnya sebagai pemilik rumah sakit, semua itu di lakukan agar Fariz tahu mana yang jujur dan tidak, mana yang benar-benar serius melaksanakan tugasnya dan mana yang lalai, bagi Fariz bekerja seperti ini jauh lebih menyenangkan dari pada harus bekerja dengan status pemilik rumah sakit, selain dirinya bisa bebas berteman dengan rekan kerjanya, Fariz juga bisa lihat mana yang tulus dan mana yang pura-pura baik, semuanya bisa terlihat jika dia merahasiakan identitasnya.


"Maafkan aku Ze, tiga jam lagi Abang pulang, tunggu Abang! kali ini Abang janji akan mengantarmu dan Abang tidak akan mengingkarinya," Fariz yang mengerti dengan perasaan sang Adik memilih untuk memberi janji agar dia tidak marah padanya.

__ADS_1


"Baiklah, aku pegang janji Abang," sahut Zia yang sangat mengerti jika sang Kakak tidak akan pernah ingkar janji.


"Bagus, Abang berangkat dulu. jaga diri baik-baik dan tunggu Abang pulang!" pesan Fariz sebelum akhirnya dia melangkah meninggalkan Zia yang kini melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah Zia.


__ADS_2