
"Hati-hati, Mas!" pesan Fatimah setelah dia mencium punggung tangan Satya untuk yang kedua kalinya. Tapi hal yang tidak terduga terlihat, Satya yang biasanya acuh kini mencium dahi Fatimah, hal yang tidak pernah di bayangkan olehnya.
'Deg'
Jantung Fatimah seolah terhenti saat merasakan sentuhan hangat benda kenyal di dahinya, Fatimah yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa kini langsung membuka mata lebar mendapat sentuhan tiba-tiba dari sang suami, bagaimana tidak? Satya tanpa di duga langsung mendaratkan ci**an manis di dahi sesaat setelah Fatimah mencium punggung tangannya.
Sejenak Fatimah mematung karena terkejut dengan apa yang baru saja dia dapatkan, jangankan berharap membayangkannya saja Fatimah tidak pernah berani.
"Kamu juga hati-hati di rumah!" sahut Satya terdengar begitu manis di telinga siapapun yang mendengarnya, tidak terkecuali di telinga Satria yang memang berada tidak jauh dari tempat Satya dan Fatimah berada.
"Iya, mas," sahut Fatimah yang hanya bisa mengikuti alur cerita yang di buat oleh Satya saat ini, Fatimah hanya bisa pasrah menjalankan cerita hidupnya yang tertulis bahkan sebelum dia di lahirkan.
"Aku berangkat!" sekali lagi, Satya berpamitan sambil melenggang pergi meninggalkan Fatimah yang masih berdiri mematung di depan rumah melihat sikap Satya yang benar-benar berbeda dari biasanya itu, dan Fatimah hanya mengangguk sambil tersenyum melihat kepergian Fatimah.
'Dasar manusia aneh, dia bisa berubah secepat kilat, seperti bunglon yang berpindah tempat, dia akan berubah warna untuk menyamarkan diri,' batin Fatimah mengkritik sikap sang suami yang menurutnya aneh.
"Astaghfirullah," lirihnya sambil mengusap dada lembut menyadari jika apa yang baru saja dia fikirkan tentang suaminya bukanlah hal yang baik.
"Fatimah tunggu!" cegah Satria saat melihat Fatimah hendak masuk ke dalam rumah.
"Kak Satria," sahut Fatimah saat melihat Satria berdiri tidak jauh dari tempatnya berada, sejak tadi Fatimah serius memikirkan perubahan sikap Satya hingga tidak menyadari jika Satria berada tidak jauh darinya.
"Ada apa?" sahut Fatimah yang langsung menghentikan langkahnya ketika Satria memanggilnya.
__ADS_1
"Apa kamu pernah menjadi santri di tempat Fariz?" pertanyaan yang kembali mengejutkan Fatimah terdengar.
"Loh, kok Kak Satria tahu?" sahut Fatimah yang terlihat terkejut dengan apa yang baru saja di tanyakan oleh Satria.
"Aku hanya menebaknya saja," jawab Satria.
"Apa Kak Satria mengenal Mas Fariz?" Fatimah balik bertanya setelah Satria bertanya.
"Iya, dia temanku," jawab Satria yang langsung meninggalkan Fatimah dan berangkat bekerja tanpa ada kata lagi.
"Keluarga ini benar-benar, penuh kejutan," gumam Fatimah sambil menggelengkan kepala melihat apa saja yang telah terjadi di hadapannya pagi ini, sejak Fatimah berada di rumah sang Mama mertua, ada banyak hal yang mengejutkan dirinya di sini, mulai dari sikap Satya yang terkadang berubah seratus delapan puluh derajat, hingga sang Mama mertua yang tidak bisa masak dan meminta dirinya untuk mengajarinya masak hingga Satria yang ternyata mengenal Mas Fariz, orang yang kurang di sukai Saya kehadirannya.
"Fatimah!" panggil Mama Nia saat sang menantu baru saja masuk ke dalam rumah.
"Nanti sebelum jam makan siang, kamu antar makanan untuk Satya, kasihan dia belum sarapan," tutur Mama Nia.
"Fatimah mau-mau saja, tapi Fatimah tidak tahu di mana tempat Mas Satya bekerja, Ma," sahut Fatimah yang memang tidak pernah tahu di mana suaminya itu bekerja.
"Apa Satya belum pernah mengajakmu ke kantornya?" tanya Mama Nia yang terlihat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.
Fatimah hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan sang Mama yang memang benar adanya.
"Astaga, dasar keterlaluan bocah satu ini," gerutu Mama Nia yang merasa jika sikap Satya benar-benar tidak bisa di benarkan.
__ADS_1
"Memangnya kenapa, Ma?" tanya Fatimah yang merasa aneh dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Seharusnya dia itu ngajak kamu ke tempatnya bekerja, setidaknya sekali saja setelah menikah, ini sudah berbulan-bulan menikah tapi Satya masih saja tidak mengajakmu ke sana," gerutu Sang Mama yang cukup membuat Fatimah merasa lega, setidaknya masih ada yang membelanya saat ini, dan mengerti apa yang dia rasakan.
"Tidak apa-apa, Ma, lagi pula Fatimah merasa tidak ada masalah jika Mas Satya tidak mengajakku ke tempat dia bekerja, jika dia mengajakku ke sana, aku justru merasa khawatir," jujur Fatimah.
"Khawatir kenapa? bukankah seharusnya kamu memang harus ikut! setidaknya kamu tahu ke mana setiap hari suamimu bekerja," jelas Mama Nia yang merasa jika Fatimah harus tahu ke mana sang suami berangkat setiap harinya.
"Kalau Mas Satya mengajakku pergi ke tempatnya bekerja, aku malah khawatir mengganggu pekerjaannya Ma, lagi pula di aku tidak pernah berada di tempat kerja, nanti kalau aku maksain ke sana, bukannya bikin seneng, Mas Satya justru malu melihat kedatanganku," Fatimah kembali berkata jujur pada Sang Mama.
"Malu kenapa? kamu cantik, baik,sopan pula, terus Satya harus malu kenapa?" sahut Sang Mama mertua yang begitu gemas melihat tingkah Fatimah saat ini.
"Aku dan gayaku sangat kuno Ma, aku tidak modis seperti kebanyakan gadis yang lain," jelas Fatimah.
Selama ini dia memang sering mendapat Bulian dari teman-temannya dari luar pesantren, setiap kali dia pulang dari pesantren Fatah selalu mengurung diri di rumah, semua itu dia lakukan karena dia merasa sudah tidak cocok dengan teman-temannya di rah, bukan karena Fatimah sok suci ataupun sok alim, tapi teman-teman di kompleknya sering membuli dirinya karena penampilan Fatimah yang tertutup, baju yang selalu terlihat kedodoran menghiasi badannya, berbeda dengan teman-temannya yang lain, modis dan keren ala pemuda-pemudi zaman now.
"Siapa bilang penampilanmu kuno? justru kamu itu istimewa Fatimah," sahut Sang Mama mertua yang tidak terima jika sang menantu di bilang kuno.
"Aku sering di buli dulu,a, hampir semua teman-temanku bilang kalau aku itu kolot dan gak modis juga ketinggalan zaman, karena itulah aku jarang sekali bermain keluar rumah, karena aku merasa tidak percaya diri," jelas Fatimah.
Mama Nia merasa sangat terkejut mendengar penjelasan Fatimah yang menurutnya tidak masuk akal itu.
"Jangan pernah dengarkan omongan orang yang menurut Mama sama sekali tidak benar, mereka itu iri padamu, karena itulah mereka mengatakan hal itu," ujar Mama Nia.
__ADS_1
"Kamu itu seperti Mutiara yang masih berada di dalam cangkang, murni tanpa polesan dan keindahan yang ada pada dirimu pun juga begitu, karena itulah mereka tidak menyukaimu atau bahkan membulimu, tapi satu hal yang harus kamu tahu Fatimah! kamu adalah gadis paling baik dan hampir mendekati sempurna yang pernah Mama temui, karena tak ada yang sempurna di dunia ini, di banding dengan gadis lain yang tidak ada apa-apanya denganmu, kamu yang terbaik dan Mama bersyukur Satya mendapatkan pasangan hidup seperti dirimu," tutur Mama Satya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.