
"Satya," lirih Fatimah menatap ke arah Satya yang berdiri di belakangnya dengan tatapan penuh keterkejutan.
'Sejak kapan dia ada di sini? bukankah tadi dia tidak peduli bahkan tidak tertarik untuk pergi ke tokoh buku ini?' batin Fatimah terus bertanya-tanya.
"Biar aku yang membayarkan semuanya." Sekali lagi Satya berucap, tapi kali ini Satya langsung meraih buku yang ada di tangan Fariz kemudian berjalan mendekat ke arah kasih untuk membayar, dan sialnya Satya membayar buku yabg tadi di ambil dengan uang cash.
'Katanya tidak punya uang cash, tapi kenapa sekarang bayar pakai uang cash?' batin Fatimah kembali berucap, dia hanya mampu membatin tanpa bisa mengeluarkan kata-kata.
"Dia siapa Ze?" bisik Fariz sambil menatap aneh ke arah Satya yang kini membayar semua bukunya.
"Perkenaalkan, aku Satya suami dari Fatimah, dan aku membayar semua ini sebagai hadiah perkenalan kita," sela Satya, dia yang mendengar bisikan Fariz langsung menjawabnya secara terang-terangan, tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Fariz yang melihat sikap tengil Satya hanya bisa diam, dia mengerti mungkin saat ini Satya kurang menyukai kehadiran dirinya, karena jika Fariz berada di posisi Satya juga akan melakukan hal yang sama.
"Apa setelah ini kalian ada rencana?" sambung Satya.
"Rencana apa maksudmu?" Fariz menjawab pertanyaan Satya dengan pertanyaan.
"Makan atau sekedar ngopi di cafe," jelas Satya.
"Tidak, aku kurang suka berada di tempat umum terlalu lama, jadi aku ingin pulang saja." Bukan Fariz yang menjawab, tapi jawaban kali ini keluar dari bibir Fatimah.
"Neng Zia, Mas Fariz, saya permisi dulu, maaf jika ada sesuatu yang kurang berkenan," pamit Fatimah setelah mendapat tiga buku yang tadi sudah dia pilih, melihat kedatangan Satya yang tiba-tiba dan tengil membuatnya malas untuk tetap berada di tempat yang sama, karena itulah Fatimah memutuskan untuk segera pergi.
"Fatimah, tunggu!" panggil Satya saat melihat Fatimah hendak pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Ya," sahut Fatimah menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah Satya yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
"Pulang bersamaku!" titah Satya tak terbantahkan, dia yangs selalu bersikap manis di depan orang kini berjalan sambil menggandeng tangan Fatimah dan melangkah keluar dari tokoh buku tanpa memperdulikan kedua manusia yang sejak tadi menemani Fatimah.
'Kamu tidak akan bisa bahagia atau tersenyum Fatimah, melihat tatapan matamu ke arah laki-laki itu membuatku yakin jika dia adalah laki-laki yang kamu idamkan dan aku akan memisahkanmu dengannya, kamu tidak akan bahagia Fatimah,' batin Satya mengungkapkan betapa jahatnya dirinya.
"Ngapain kamu naik motor itu?" tanya Satya saat melihat Fatimah duduk di atas motor dan hendak mengendarainya.
"Hah?" desis Fatimah merasa bingung dengan ucapan Satya saat melihat dirinya duduk di atas sepeda motor.
"Turun!" titah Satya yang semakin membuat Fatimaj bingung.
"Jika aku turun mau naik apa? bukankah tadi aku datang naik sepeda motor ini?" sahut Fatimah yang tak tahan menyimpan rasa bingung di dalam hatinya.
"Terus motor ini siapa yang akan bawa pulang?" Fatimah kembali bertanya.
"Biarkan saja! nanti orang suruhanku yang akan membawanya pulang," Satya kembali menjawab pertanyaan Fatimah.
"Baiklah," ujar Fatimah yang kini turun dari atas jok sepeda motor dan berjalan mendekat ke arah Satya yang sedang berdiri tak jaih dati tempat sepeda motor Fatimah yang terparkir.
Fatimah berjalan mengikuti langkah Satya masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Satya.
"Jalan Pak! kita langsung pulang!" Satya kembali memberi perintah pada sopir yang sejak tadi ada di tempat kemudi.
"Siap, Tuan," sahut sang sopir.
__ADS_1
Mobil kembali melaju membelah jalan raya menuju rumah Fatimah yang cukup memakan waktu, rasanya sangat sulit di mengerti dengan apa yang terjadi.
"Kenapa Mas Satya bisa ada di tokoh buku?" tanya Fatimah memecahkan keheningan yang terjadi, sejak berada di mobil baik Satya ataupun Fatimah tidak ada yang membuka suara, semuanya diam tanpa kata hingga Fatimah tak mampu lagi menahan rasa penasaran yang sejak tadi menguasai dirinya.
"Aku tidak sengaja lewat di sini dan melihat motormu, karena penasaran aku masuk, dan aku lihat kamu minta-minta sama laki-laki lain, baru juga menikah sehari sudah melakukan hal memalukan seperti itu," jawaban yang cukup menusuk hati Fatimah.
"Jangan sembarangan bicara Mas! aku tidak pernah me minta-minta pada siapapun, terutama pada laki-laki lain," elak Fatimah yang merasa jika dirinya memang tidak meminta pada siapapun.
"Jangan mengelak! tadi aku lihat sendiri kalau kamu minta di bayarin sama laki-laki yang ikut bersamamu," ujar Satya seolah tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Fatimah.
"Tadi Neng Zia yang meminta Abangnya membayar buku yang kami pilih, aku bukan gadis murahan yang akan meminta-minta pada laki-laki lain, jangan kan pada orang, padamu yang sekarang jadi suamiku saja aku tidak meminta," ucap Fatimah yang kini menuduk merasakan sakit di ujung hatinya yang paling dalam, sungguh selemah itu hati Fatimah hingga tetesan air mata keluar tanpa bisa dia tahan, sedang Satya yang melihat Fatimah menangis justru tersenyum merasa senang dengan apa yang dia lihat, air mata Fatimah adalah kebahagiaan bagi Satya.
'Aku lebih senang melihatmu menangis seperti ini dari pada melihatmu tersenyum dan tertawa seperti tadi, kamu harus rasakan bagaimana sakitnya hatiku saat kau menolak ku dulu,' batin Satya sambil mrlitik ke arah Fatimah yang tetap menunduk dengan air mata yang mengalir.
Suasana kembali hening, tak ada yang berbicara, hanya sesekali suara isakan Fatimah yang coba menahan tangisnya terdengar,
"Hentikan tangisanmu dan hapus air mata itu! sebentar lagi kita akan sampai," ucap Satya, dia terdengar tak memiliki empati sedikitpun pada Fatimah yang tengah merasa sakit hati karena ucapannya.
"Berhenti di taman depan!" titah Satya saat melihat Fatimah masih saja tak bisa berhenti menangis.
"Baik, Tuan," sahut sangat sopir yang langsung menghentikan laju mobilnya tepat di tepi jalan dekat taman.
"Selesaikan tangismu! aku akan pergi dulu." Ujar Satya yang langsung turun dari dalam mobil dan berjalan keluar dari dalam mobil.
Fatimah tak pernah bisa mengerti dengan sikap dan sifat Satya, mereka memang baru bertemu tapi sikap Satya seprti seseorang yang membenci dirinya, bahkan Satya tak memiliki rasa kasih sedikitpun pada Fatimah yang sejak tadi menangis karena dirinya, dan karena itulah tangis Fatimah semakin menjadi-jadi, rasanya ingin dia lari dan pergi menjauh meninggalkan pernikahan yang tak pernah bisa membuatnya bahagia, suami yang dia idam-idamkan sangat jauh dengan kenyataan yang harus dia hadapi saat ini, tapi Fatimah tak punya keberanian untuk itu, dan pada akhirnya dia cuma bisa menangis tanpa bisa berbuat banyak.
__ADS_1