Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Terima kasih


__ADS_3

Grep ....


Satya yang sejak tadi diam menatap sang istri langsung memeluknya dari belakang ketika melihat sang istri berdiri di balkon.


"Kamu sedang apa?" bisik Satya tepat di telinga Fatimah yang tentu saja terkejut dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Satya.


Fatimah mematung tak bergerak sedikitpun mendapat pelukan tiba-tiba dari belakang oleh sang suami, sesuatu yang sama sekali tidak pernah terjadi, bahkan tidak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Fatimah akan terjadi.


"Kenapa diam?" Satya kembali bertanya saat dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Fatimah.


"Aku tengah menikmati indahnya malam dan mensyukur segala nikmat yang telah diberikan tuhan kepadaku," jawab Fatimah dengan tubuh yang masih kaku seperti patung karena saatnya masih saja memeluknya dengan erat.


"Terima kasih," ujar Satya tersenyum manis mengingat segala kebaikan yang sudah dilakukan oleh Fatimah untuknya.


Bukan hanya sebuah senyuman yang Satya berikan, dia juga memberikan kecu**n manis yang mendarat sempurna di pelipis Fatimah, sungguh sikap Satya saat ini membuat Fatimah semakin bingung dan entah apa yang membuat Satya bisa tiba-tiba bersikap manis seperti itu.


"Terima kasih untuk apa, Mas?" tanya Fatimah yang memang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Untuk segalanya," jawab Satya sambil tersenyum manis ke arah Fatimah yang masih saja bengong dengan ekspresi wajah terkejut melihat sikap tak biasa Satya padanya saat ini.


"Sudah jangan banyak berfikir! lebih baik sekarang kita tidur," ujar Satya sambil menarik tangan Fatimah agar dia bisa mengikuti langkahnya, kemudian mengajaknya tidur di kasur empuk yang biasa mereka tempati.


"Tidurlah!" sekali lagi Satya menyuruh Fatimah tidur, ketika melihat Fatimah justru membuka mata dan bengong saat mendapat perlakuan manis dari Satya yang saat ini tengah memeluknya di dari belakang.


Gumam Fatimah saat dia mulai terbangun dari tidur lelapnya.


Perlahan Fatimah mencoba merubah posisinya, sejak tadi siang Fatimah tidur miring menghadap ke arah kanan tanpa bisa bergerak karena Satya memeluk Fatimah dengan erat.


"Astaghfirullah," seru Fatimah saat melihat jam di dinding menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit, berarti Fatimah sudah telat bangun dan terlewat waktu sholat subuh.

__ADS_1


Melihay jam dinding Fatimah langsung terbangun sambil menyingkirkan tangan Satya yang sejak tadi berada di atas perutnya.


"Aku harus segera sholat," ujar Fatimah hendak berdiri meninggalkan tempat tidur, tapi langkah Fatimah terhenti karena tangan Satya yang terbangun karena gerakan Fatimah yang tiba-tiba juga suara dia yang mengusik ketenangan Satya saat tidur.


"Ada apa?" tanya Satya dengan mata yang masih sayup-sayup karena baru bangun tidur, kesadarannya memang belum kembali secara sempurna, karena itulah Satya tidak mendengar Fatimah berteriak karena bangun terlalu siang.


"Sudah jam lima lebih dan aku baru bangun, aku mau ke kamar mandi sebelum waktu sholat subuh benar-benar habis Mas," jawab Fatimah dwngan ekspresi wajah bingung yang terlihat jelasdi wajahnya.


"Oh," satu kata singkat menjadi jawaban dari Satya yang kembali memejamkan mata setelah melepas cekalan tangannya yang menahan langkah Fatimah.


Fatimah yang merasa memiliki kesempatan langsung lari dan masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Satya kembali memejamkan mata mencoba untuk tidur kembali, tapi satu menit kemudian Satya baru ingat dan sadar dengan perkataan Fatimah yang baru saja dia dengar.


"Astaga, aku kesiangan belum sholat subuh," seru Satya yang langsung duduk kemudian berlari ke arah kamar mandi tanpa dia sadari jika di dalam kamar mandi masih ada Fatimah yang sedang mengambil air wudhu'.


"Mas Satya!!" teriak Fatimah, dia begitu terkejut melihat Satya yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengetuk pintu.


"Berisik!" sahut Satya berjalan santai masuk je dalam kamar mandi menyikat gigi dengan santai meski dia tahu jika di dalam kamar mandi ity ada Fatimah yang sedang berdiri mematung di dekatnya.


Gumam Fatimah saat dia mulai terbangun dari tidur lelapnya.


Perlahan Fatimah mencoba merubah posisinya, sejak tadi siang Fatimah tidur miring menghadap ke arah kanan tanpa bisa bergerak karena Satya memeluk Fatimah dengan erat.


"Astaghfirullah," seru Fatimah saat melihat jam di dinding menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit, berarti Fatimah sudah telat bangun dan terlewat waktu sholat subuh.


Melihay jam dinding Fatimah langsung terbangun sambil menyingkirkan tangan Satya yang sejak tadi berada di atas perutnya.


"Aku harus segera sholat," ujar Fatimah hendak berdiri meninggalkan tempat tidur, tapi langkah Fatimah terhenti karena tangan Satya yang terbangun karena gerakan Fatimah yang tiba-tiba juga suara dia yang mengusik ketenangan Satya saat tidur.


"Ada apa?" tanya Satya dengan mata yang masih sayup-sayup karena baru bangun tidur, kesadarannya memang belum kembali secara sempurna, karena itulah Satya tidak mendengar Fatimah berteriak karena bangun terlalu siang.

__ADS_1


"Sudah jam lima lebih dan aku baru bangun, aku mau ke kamar mandi sebelum waktu sholat subuh benar-benar habis Mas," jawab Fatimah dwngan ekspresi wajah bingung yang terlihat jelasdi wajahnya.


"Oh," satu kata singkat menjadi jawaban dari Satya yang kembali memejamkan mata setelah melepas cekalan tangannya yang menahan langkah Fatimah.


Fatimah yang merasa memiliki kesempatan langsung lari dan masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Satya kembali memejamkan mata mencoba untuk tidur kembali, tapi satu menit kemudian Satya baru ingat dan sadar dengan perkataan Fatimah yang baru saja dia dengar.


"Astaga, aku kesiangan belum sholat subuh," seru Satya yang langsung duduk kemudian berlari ke arah kamar mandi tanpa dia sadari jika di dalam kamar mandi masih ada Fatimah yang sedang mengambil air wudhu'.


"Mas Satya!!" teriak Fatimah, dia begitu terkejut melihat Satya yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengetuk pintu.


"Berisik!" sahut Satya berjalan santai masuk je dalam kamar mandi menyikat gigi dengan santai meski dia tahu jika di dalam kamar mandi ity ada Fatimah yang sedang berdiri mematung di dekatnya.


"Lah, Mas Satya malah asyik gosok gigi," ujar Fatimah saat melihat Satya sama sekali tidak terganggu dengan apa yang sedang dia lakukan saat ini, padahal keduanya berada di kamar mandi yang sama.


"Kenapa kamu hanya diam? ayo cepat ambil wudhu' dan segera sholat sebelum waktunya benar-benar habis!" seru Satya saat dia sudah selesai dengan urusannya dan melihat Fatimah justru diam mematung menatapnya dengan tatapan yang terlihat begitu aneh.


"Eh iya," sahut Fatimah yang kini baru mengingat jika waktu sholat akan benar-benar habis jika dia tetap diam di sana.


Hari yang terasa begitu aneh dan tidak seperti biasa bagi Fatimah, hari yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh Fatimah sebelumnya, Satya akan bersikap baik padanya apalagi semalam Satya memeluknya penuh rasa Sayang, sesuatu yang sebelumnya menjadi sesuatu yang mustahil kini terjadi dan Fatimah sangat bersyukur dengan apa yang baru saja dia rasakan.


"Jangan terlalu banyak melamun di pagi hari! tidak akan baik untuk kesehatanmu," seru Satya saat melihat Fatimah diam mematung menatap langit yang terlihat begitu cerah pagi ini, meski masih sangat pagi tapi mentari sudah mulai terlihat cerah dengan awan putih yang menghiasinya.


"Mas Satya," lirih Fatimah saat melihat Satya berdiri tidak jauh dari tempat Fatimah berdiri.


"Dari pada melamun lebih baik kamu buatkan aku kopi susu seperti biasanya," titah Satya.


"Maaf, aku lupa Mas," ujar Fatimah yang langsung berjalan keluar dari kamar menuju dapur untuk membuat kopi susu yang biasa di minum oleh Satya.


Satya hanya menggelengan kepala saat melihat sikap Fatimah yang memang terlihat begitu aneh dan lucu saat ini, rasa dendam yang dulu pernah dirasakan Satya ingin perlahan mulai menghilang, kesabaran dan kebaikan Fatimah dan pujian yang sering diberikan oleh orang-orang di sekeliling Satya menyadarkan dirinya sadar jika saat ini saat dia sudah mempunyai istri yang hampir mendekati sempurna dan karena itulah Satya berusaha untuk melupakan semua rasa dendam yang pernah dia rasakan dan menumbuhkan kembali cinta yang pernah dia coba hilangkan.

__ADS_1


Pagi ini Satya dan keluarganya sarapan dengan penuh rasa syukur dan sedikit tawa yang terkadang terdengar, semuanya terlihat begitu bahagia dengan kehidupan masing-masing, Mama Nia Mbak terlihat bahagia karena Papa telah pulang, Satria juga merasa bahagia karena dia berpikir sudah mendapatkan lampu hijau dari Faris untuk mendekati Zia gadis impiannya, sedang Satya terlihat bahagia karena dia sadar jika saat ini dia sudah punya istri yang hampir mendekati sempurna dan Satya berjanji pada dirinya sendiri jika dia tidak akan pernah berpikir untuk membalaskan dendamnya dan akan membuat hidup Fatimah bahagia di sisinya.


__ADS_2