Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Gorengan Untuk Satya Dan Satria


__ADS_3

Fatimah kembali membuat gorengan yang menurutnya akan di sukai Satya dan Satria, hingga suara renyah sang Mama mengejutkan Fatimah yang tengah serius menggoreng.


"Kamu sedang buat apa, Fatimah?" tanya Mama Nia yang baru saja masuk ke dalam dapur setelah keluar dari kamar.


"Aku sedang membuat gorengan, Ma," jawab Fatimah dengan senyum yang merekah di bibirnya.


"Apa mama boleh membantumu?" tanya mama Nia yang terlihat tertarik dengan gorengan yang sedang dibuat oleh Fatimah.


"Tentu saja," jawab Fatimah dengan senyum yang merekah di wajahnya.


Mama Nia yang gini begitu bersemangat belajar memasak langsung mengambil alih sepatu lah yang tadi ada di tangan Fatimah dan mulai belajar memasak gorengan. Begitu juga dengan Fatimah yang kini memberitahu segala hal yang dia tahu dan mengajarkan semua ilmu memasak yang dia punya pada Mama Nia.


"Wah akhirnya matang semua," seru Mama Nia saat melihat semua adonan yang tadi dibuat telah matang.


"Alhamdulillah ya, Ma," sahut Fatimah merasa senang dengan apa yang sudah dia buat.


"Iya, Alhamdulillah, Mama jadi pengen nyobain," cicit Mama Nia yang langsung mencomot satu gorengan yang sedikit lebih dingin dari yang lain.


"Hmm, enak," ucap Mama Nia dengan penuh binar kebahagiaan Mama Nia terus mengunyah gorengan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Bik Mina mau nyoba?" Tawar Mama Nia yang melihat Bik Mina berdiri di dekatnya sambil menatap lekat ke arah Mama Nia yang terlihat begitu lahap menikmati gorengan di tangannya.


"Apa boleh Nyonya?" Bik Mina yang merasa sungkan untuk langsung mengambil bertanya lebih dulu apa dia diizinkan atau tidak mengambil gorengan yang baru saja ditawarkan oleh Mama Nia, pasalnya kedua putra Mama Nia belum mencicipi gorengan yang baru saja dibuat oleh keduanya.


"Tentu saja, Bibik boleh mau makannya, lagi pula gorengannya banyak kok, cukup untuk kita makan bersama," sahut Mama Nia dengan senyum yang merekah di wajahnya, Mama Nia biasanya lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah untuk berkumpul dengan teman-teman sosialitanya atau pergi keluar dari rumah untuk menghilangkan penat juga rasa sepi yang sering dia rasakan karena sang suami yang sering dinas di luar rumah dan kedua putranya yang sibuk bekerja.


"Kenapa kamu menyiapkan dua piring, Fatimah?"tanya Mama Nia yang melihat Fatimah menyiapkan dua piring yang dia tahu jika satu piring untuk Satya entah satu piringnya lagi untuk siapa?


"Satu piring untuk Mas Satya, dan satu piringnya lagi untuk Kak Satria," jawab Fatimah jujur, saat ini Fatimah memang tengah meletakkan beberapa gorengan di atas piring berwarna putih yang diletakkan di atas senapan beserta satu kopi susu yang Mama Nia tahu dengan pasti jika itu pasti untuk Satya, sedang Fatimah kembali meletakkan beberapa gorengan di atas satu piring dan di atas nampan tapi tidak dengan minuman.


"Apa Satria tadi meminta kamu untuk membuatkan gorengan juga?" Selidik mama Nia yang mengerti dengan pasti sifat Satria yang selalu saja senang memancing emosi Satya.


"Iya, tadi waktu aku keluar dari kamar dan turun dari tangga tidak sengaja bertemu dengan Kak Satria yang tengah membawa kopi, awalnya Kak Satria menghentikan langkahku dan bertanya apa aku bisa membuat gorengan, karena aku bisa membuatnya jadi aku jawab saja kalau aku bisa, terus Kak Satya bilang dia minta dibuatkan beberapa camilan padaku, dan aku menawarkan gorengan untuknya," Fatimah menjelaskan semua yang telah terjadi sejelas-jelasnya pada Mama Nia, dia tidak ingin Mama Nia salah paham atas apa yang sudah terjadi.


"Maaf jika aku salah, Ma," Fatimah yang merasa bersalah karena sudah menerima permintaan Satria mencoba meminta maaf kepada sang mama.


"Sudah, kamu tidak tahu apa-apa, lebih baik kamu antarkan gorengan dan kopi susu itu untuk Satya! biar mama yang mengantar gorengan untuk Satria." titah Mama Nia yang tidak ingun mendengar keributan di pagi hari.


Meski Fatimah tidak tahu dengan jelas apa yang dimaksud oleh sang mama, dia tetap mengikuti perintah sang Mama tanpa membantah atau pun banyak bertanya.

__ADS_1


"Kalau begitu aku permisi ke kamar dulu ya, Ma, Bik," pamit Fatimah jangan pergi meninggalkan kedua orang yang tengah berdiri di belakangnya menuju kamar dengan satu nampan berisi camilan dan kopi susu khusus untuk Satya.


"Mas, ini kopi susu dan sedikit camilan untukmu." Fatimah meletakkan secangkir kopi susu dan gorengan sebagai camilannya di atas meja kecil yang berada di depan sofa besar yang biasa digunakan Satya untuk tidur.


"Untung saja kamu membawa kopi dan camilan ini, hari ini aku ada pertemuan penting di pagi hari, aku tidak akan sempat untuk sarapan," seru Satya, merasa bersyukur dengan apa dia dapatkan pagi ini, tanpa perlu diperintah Fatimah sudah mengerti dengan apa yang dia inginkan dan hal itu cukup membuat Satya ucapkan rasa syukur tiada henti karena anugerah yang telah di berikan padanya.


"Loh, kenapa Mas Satya tidak bilang sejak kemarin?" spontan Fatimah merasa terkejut mendengar Satya harus berangkat pagi dan tidak bisa sarapan.


"Untuk apa mengatakan semuanya padamu? apa ada pengaruhnya?" sahut Satya yang terdengar cukup menyayat hati Fatimah.


"Setidaknya aku bisa membuatkan sarapan lebih pagi jika Mas Satya mengatakannya kemarin," jawab Fatimah, meski hatinya sedikit sakit mendengar jawaban Satya Yang memang tidak enak di dengar, tapi Fatimah tetap berusaha untuk tetap berbicara dan bersikap baik pada Satya.


"Lain kali aku akan mengatakannya padamu," ujar Satya tanpa rasa bersalah sedikitpun dia berucap seenaknya.


Fatimah hanya diam seribu bahasa tanpa ada yang bisa dia katakan lagi, bagi Fatimah kata-kata sedikit menyakitkan hati sudah menjadi makanannya sehari-hari, karena itulah Fatimah tidak begitu memperdulikan kata-kata Satya, di memilih acuh dan terus melakukan kewajibannya dengan sepenuh hati.


Satya benar-benar menikmati camilan yang telah di buatkan oleh Fatimah, rasanya terasa begitu enak, apa lagi di makan saat pagi hari seperti saat ini, rasanya jauh lebih nikmat, di tambah kopi susu yang emmang menjafi minuman favorit bagi Satya, semua terasa begitu nikmat.


"Aku berangkat dulu." Pamit Satya.

__ADS_1


Fatimah yang mendengar Satya akan pergi lamgsung berdiri dan mendekat ke arahnya, kemudian meraih tangan Satya dan mencium punggung tangannya.


"Antar aku ke depan!" titah Satya yang cukup membuat Fatimah terkejut karenanya, bini pertama kalinya Satya meminta Fatimah mengantarkannya sampai di depan pintu, biasanya Satya acuh dan tidak perduli masalah itu.


__ADS_2