Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Usaha Satria


__ADS_3

"Baiklah, jika kamu masih kenyang, lebih baik istirahat saja! tapi nanti bantuin Mama buat rendang ya," sahut Mama Nia.


"Siapa Mama, aku pasti akan membantu Mama memasak," jawab Fatimah yang memang merasa senang saat dia bisa membantu sang Mama.


Fatimah yang memang merasa sangat lelah memilih untuk langsung tidur, dan hal itu berbanding terbalik dengan apa yang di lakukan oleh Satria, dia memang terobsesi mendapatkan gadis seperti Fatimah, karena itulah saat ini dia sedang berusaha untuk mendapatkannya.


Tanpa ada rasa ragu Satria datang ke rumah Faris, dengan dalih menawarkan kerjasama untuk membuka sebuah tokoh yang lebih mirip supermarket di pesantren, Satria datang dan berniat mendiskusikannya dengan Fariz.


"Assalamualaikum," Satria yang sebelumnya jarang sekali mengucapkan kalimat salam kini mulai membiasakan diri untuk mengucapkan salam setiap kali dia datang ke rumah Faris.


"Waalaikum salam, tunggu sebentar!"suara gadis incarannya yang memang sudah sangat familiar di telinga meski mereka hanya bertemu beberapa kali, tapi Satria yang memang cerdas bisa langsung tahu jika yang menyahuti salam nya adalah Zia, yang merupakan adik dari Faris.


'Ceklek'


Pintu rumah Paris perlahan terbuka dan tampaklah seorang bidadari yang kini tengah menjadi incaran juga tumpuan harapan masa depan bagi Satria, gadis yang diyakini masih belia itu telah mencuri hatinya, Satria yakin jika sifat dan sikap Zia sama dengan sifat dan sikap Fatimah.


"Hai Zia! Apa kabar?" Siapa Satria dengan senyum terbaik yang dia miliki yang kini terlihat jelas di wajahnya.


"Baik, apa kamu Kak Satria?" Sahut zia saat melihat laki-laki yang sedikit familiar dan pernah dia temui sebelumnya kini tengah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Ya, tepat sekali," sahut Satria dengan senyum yang semakin merekah karena gadis incarannya sudah mengenali dirinya.


"Ada apa? Apa Kak Satria menjadi Kak Faris?" tebak Zia.


"Cerdas sekali, sudah cantik cerdas pula, apa Kak farisnya ada?" Satria yang tidak ingin terlalu mengulur waktu kini langsung menanyakan orang yang menjadi tujuan utamanya datang ke tempat itu.


"Masuklah! Kak Faris kebetulan ada di kamarnya, biar aku panggilkan dulu." Jawab Zia yang langsung membuka lebar pintu rumahnya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah dan mencari sang kakak yang dia yakini ada di kamarnya setelah melihat Satria duduk manis di sofa ruang tamu.


Jika Zia berjalan masuk ke dalam rumah dan mencari sang kakak maka berbeda dengan Satria yang kini menatap lekat ke arah Zia yang terus menjauh dan menghilang di balik tembok.


'Gadis yang sempurna,' batin Satria memuji Zia yang baru saja masuk ke dalam rumah untuk memanggil sang kakak.


"Ada apa Zia?" Sahut Faris tanpa membuka pintu, dia yang baru saja merebahkan diri di atas kasur merasa terganggu dengan panggilan sang adik yang selalu saja mengganggunya setiap kali dia punya waktu di rumah.


"Kakak dicari sama Kak Faris, dia sedang menunggumu di ruang tamu," tutur Zia yang sangat mengerti jika saat ini sang kakak malas untuk membuka pintu karena takut diganggu olehnya.


Mendengar nama Satria disebut oleh Zia, Faris langsung duduk dan menetralkan segala rasa yang telah berkecambuk dalam dirinya, rasa kesal, rasa lelah mungkin di tengah menjadi satu.


"Buatkan minum untuk Satria!" titah Faris sebelum dia pergi meninggalkan Zia yang kini justru jengkel karena harus membuatkan minum untuk Satria yang merupakan tamu dari Faris.

__ADS_1


"Kenapa harus aku yang membuatkan minum?" gumam Zia yang merasa jika saat ini dia terganggu karena saat ini Zia sedang belajar untuk mempersiapkan ujian akhir sekolah yang akan diselenggarakan sebentar lagi.


Meskipun Zia terlihat mengeluh karena perintah yang diberikan oleh Faris, Zia tetap membuatkan minum untuk sang kakak dan tamunya.


"Apa kedatanganku mengganggumu, Faris?" tanya Satria sesaat setelah dia melihat Faris masuk ke ruang tamu.


"Tidak juga, aku sedang nyantai kok, lagi pula kita kan sudah janjian seminggu sebelumnya, jadi untuk apa aku merasa terganggu, justru kedatanganmu memang sedang aku tunggu," jawab Faris yang memang sudah menunggu kedatangan Satria sejak tadi pagi.


Faris merasa jika pesantrennya akan semakin maju jika dia bisa membangun sebuah supermarket di tepi jalan, di mana setiap wali murid bisa membeli perlengkapan para santri di sana dan Faris bisa menjual berbagai keperluan rumah tangga dengan harga yang sedikit lebih murah agar orang-orang yang berada di wilayah tersebut tidak lagi kesulitan mencari barang atau bahan untuk memasak, biasanya orang-orang di sekitar pesantren dan wali santri akan membeli kebutuhan para santri ataupun kebutuhan dapur di tempat yang sedikit lebih jauh dari pesantren karena di sana memang masih jarang supermarket yang menjual kebutuhan rumah tangga, karena itulah Faris merasa jika ide dari Satria yang akan menanam saham dan mengajak kerjasama dengan perjanjian bagi hasil dengan Faris merupakan ide yang cemerlang dan bagus juga patut untuk diapresiasikan.


"Bagaimana dengan rencana kita yang akan membangun supermarket di pesantren? Apa Buya dan umma mu setuju dengan rencana yang pernah aku katakan padamu dulu?" Tanya Satria dengan hati berharap cemas mau dengar jawaban yang akan diberikan oleh Faris, dia memang sudah bekerja sama dan setuju juga sepakat dengan Faris untuk membuka supermarket di dekat pesantren tapi rencananya itu masih belum mendapat Restu ataupun izin dari Buya dan Ummah yang merupakan pemilik pesantren ini, karena istilah Satria kembali datang ke pesantren itu dan menemui Faris untuk menanyakan persetujuan kedua orang tua Faris akan rencana yang pernah dia katakan.


" Umma Dan Buya sudah setuju dengan apa yang kita rencanakan, mereka bilang apa yang kita rencanakan memang sangat bagus, karena itulah aku mengharapkanmu datang untuk membicarakan kapan kita bisa mulai membangun supermarket itu?" Faris yang memang tidak suka bertele-tele dan selalu membahas sesuatu langsung pada intinya, kini langsung bertanya kapan mereka bisa mulai membangun supermarket itu.


"Kalau aku akan ikut apa katamu, diskusikan saja dengan arsitek yang akan membangun supermarket itu dan kamu hanya perlu mengatakan berapa biaya pembangunannya, biar aku yang membayar setengahnya dan kamu bisa membayar setengahnya lagi," jawab Satria memang sudah menyiapkan dana cukup besar untuk ide membangun supermarket yang muncul karena dia ingin mendekati Zia.


"Permisi, kakak-kakak yang tampan maaf ya Zia mengganggu, ini minuman dan sedikit cemilan untuk kalian," sela Zia berjalan masuk ke dalam ruang tamu dengan satu nampan berisi teh hangat dan dua toples camilan yang memang sengaja disediakan oleh Zia.


"Terima kasih, Zia," jawab Satria sambil menatap lekat ke arah Zia yang kini tersenyum sambil mengangguk kepala ke arah Satria.

__ADS_1


__ADS_2